Khawarij dan Pembunuhan Khalifah Ali bin Abi Thalib : Sejarah, Latar Belakang dan Pelajarannya

Khawarij merupakan salah satu kelompok paling penting dalam sejarah politik dan pemikiran Islam awal. Kemunculannya tidak dapat dipisahkan dari konflik politik yang terjadi setelah wafatnya Khalifah Utsman bin Affan, Perang Shiffin antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan, serta peristiwa tahkim atau arbitrase.

Dari kelompok yang awalnya berada di barisan pendukung Ali, sebagian kemudian memisahkan diri dan menentang Ali. Konflik tersebut berkembang menjadi pemberontakan bersenjata, Perang Nahrawan, dan pada akhirnya berujung pada pembunuhan Khalifah Ali bin Abi Thalib oleh seorang anggota kelompok Khawarij, yaitu Abdurrahman bin Muljam.


1. Apa Itu Khawarij?

Secara bahasa, Khawarij (الخوارج) merupakan bentuk jamak dari kharij, yang secara umum berkaitan dengan makna “keluar” atau “menyimpang dari barisan”. Dalam konteks sejarah Islam, istilah ini terutama digunakan untuk kelompok yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib setelah peristiwa tahkim dalam Perang Shiffin.

Sebagian kelompok tersebut awalnya merupakan pendukung Ali. Namun, ketika Ali menyetujui proses arbitrase dengan pihak Muawiyah, mereka menganggap keputusan tersebut sebagai kesalahan besar. Mereka kemudian mengangkat slogan:

“Lā ḥukma illā lillāh”
“Tidak ada hukum kecuali milik Allah.”

Bagi mereka, menerima arbitrase manusia dalam konflik yang menurut mereka telah memiliki hukum Allah merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Mereka kemudian memisahkan diri dari Ali dan berkembang menjadi kelompok politik-keagamaan tersendiri.


2. Latar Belakang Munculnya Khawarij

Untuk memahami munculnya Khawarij, kita perlu melihat kondisi politik umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ.

Setelah Nabi wafat pada 632 M, umat Islam mengalami proses pergantian kepemimpinan melalui masa Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan kemudian Ali bin Abi Thalib.

Pada masa pemerintahan Utsman, muncul berbagai ketegangan politik dan kritik terhadap pemerintahan. Situasi tersebut akhirnya berkembang menjadi pemberontakan yang berujung pada terbunuhnya Utsman pada tahun 35 H/656 M.

Setelah itu, Ali bin Abi Thalib dibaiat sebagai khalifah.

Namun, pembunuhan Utsman menciptakan persoalan besar: siapa yang harus bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut dan kapan para pelakunya harus dihukum?

Perselisihan mengenai persoalan inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor utama munculnya konflik politik di masa Ali.


3. Perang Jamal dan Perang Shiffin

Pada masa pemerintahan Ali terjadi beberapa konflik besar.

Salah satunya adalah Perang Jamal pada tahun 36 H/656 M, yang mempertemukan pasukan Ali dengan kelompok yang terkait dengan Aisyah, Thalhah, dan Zubair.

Setelah itu, muncul konflik yang jauh lebih besar antara Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyan, gubernur wilayah Syam.

Konflik tersebut mencapai puncaknya dalam Perang Shiffin pada tahun 37 H/657 M.

Perang Shiffin sangat penting dalam sejarah Khawarij karena dari sinilah muncul persoalan tahkim yang menjadi titik balik hubungan Ali dengan sebagian pendukungnya.


4. Peristiwa Tahkim: Awal Perpecahan

Ketika Perang Shiffin berlangsung, terjadi situasi yang mendorong kedua pihak untuk menghentikan pertempuran dan menyelesaikan perselisihan melalui arbitrase atau tahkim.

Ali pada akhirnya menerima proses tersebut setelah mendapat tekanan dari sebagian pendukungnya.

Namun, sebagian pendukung Ali kemudian justru menyesali keputusan tersebut.

Mereka berpendapat bahwa:

“Lā ḥukma illā lillāh” — Tidak ada hukum kecuali milik Allah.

Mereka menganggap bahwa keputusan untuk menyerahkan penyelesaian konflik kepada manusia merupakan kesalahan.

Di sinilah terjadi perubahan besar.

Orang-orang yang sebelumnya berada di barisan Ali kemudian keluar dari kelompoknya. Mereka menentang Ali dan juga menolak Muawiyah.

Dengan demikian, Khawarij menjadi kelompok yang secara politik mengambil posisi berseberangan dengan kedua kubu.

Menurut sebagian besar sejarawan, inilah titik yang secara umum dianggap sebagai kelahiran Khawarij sebagai kelompok politik-keagamaan yang terorganisasi.


5. Pemikiran dan Karakteristik Khawarij

Khawarij bukan hanya kelompok politik, tetapi juga berkembang menjadi aliran pemikiran yang memiliki karakteristik tertentu.

Beberapa ciri yang sering dikaitkan dengan Khawarij awal antara lain:

A. Sikap sangat literal terhadap teks agama

Mereka memiliki kecenderungan memahami teks agama secara ketat dan literal, dengan penekanan kuat pada penerapan hukum Allah.

B. Mudah melakukan takfir

Salah satu karakteristik yang paling terkenal adalah kecenderungan menganggap Muslim lain yang melakukan dosa besar atau mengambil keputusan yang mereka anggap bertentangan dengan agama sebagai kafir.

Dalam konteks politik masa itu, mereka menganggap Ali, Muawiyah, dan pihak-pihak yang menerima tahkim telah melakukan kesalahan serius.

C. Menolak kepemimpinan yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip mereka

Menurut pemikiran Khawarij, seorang pemimpin tidak otomatis harus ditaati apabila dianggap menyimpang dari hukum Allah.

Dalam perkembangannya, sebagian kelompok Khawarij memiliki pandangan bahwa siapa pun dapat menjadi pemimpin umat selama memenuhi kriteria keagamaan dan keadilan yang mereka tetapkan.

D. Fanatisme terhadap kelompok sendiri

Dalam beberapa perkembangan sejarahnya, sikap eksklusif ini menyebabkan Khawarij tidak hanya berkonflik dengan kelompok lain, tetapi juga mengalami perpecahan internal.

Menariknya, kelompok yang awalnya sangat menekankan kemurnian ajaran justru kemudian terpecah menjadi berbagai faksi.


6. Perang Nahrawan

Ali bin Abi Thalib pada awalnya tidak langsung mengambil jalan perang terhadap seluruh kelompok Khawarij.

Namun, situasi kemudian semakin memburuk.

Ketegangan antara Ali dan kelompok Khawarij berkembang menjadi konflik bersenjata. Peristiwa ini mencapai puncaknya dalam Perang Nahrawan pada tahun 38 H/658 M.

Pasukan Ali berhasil mengalahkan kelompok Khawarij dalam pertempuran tersebut.

Bagi Khawarij, kekalahan ini menjadi tragedi besar. Banyak anggota mereka terbunuh.

Peristiwa Nahrawan kemudian menjadi salah satu faktor penting yang membentuk kebencian sebagian Khawarij terhadap Ali bin Abi Thalib.

Dari sinilah muncul rencana untuk membunuh tokoh-tokoh yang mereka anggap sebagai sumber konflik politik umat Islam.


7. Rencana Pembunuhan Ali, Muawiyah, dan Amr bin al-Ash

Dalam sejumlah sumber sejarah klasik yang dikutip oleh sejarawan Muslim kemudian, disebutkan bahwa setelah Perang Nahrawan, beberapa anggota Khawarij merencanakan pembunuhan terhadap tiga tokoh penting:

  1. Ali bin Abi Thalib
  2. Muawiyah bin Abi Sufyan
  3. Amr bin al-Ash

Rencana tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa ketiga tokoh itu dianggap bertanggung jawab atas konflik dan perpecahan umat.

Dalam riwayat yang populer, tiga orang ditugaskan untuk melakukan pembunuhan:

  • Abdurrahman bin Muljam untuk membunuh Ali.
  • Al-Burak bin Abdillah untuk membunuh Muawiyah.
  • Amr bin Bakr untuk membunuh Amr bin al-Ash.

Namun, rencana tersebut tidak berjalan sepenuhnya.

Serangan terhadap Muawiyah tidak berhasil membunuhnya, sementara serangan terhadap Amr bin al-Ash juga tidak mengenai sasaran sebagaimana direncanakan.

Hanya serangan terhadap Ali yang berhasil menyebabkan kematian.


8. Pembunuhan Khalifah Ali bin Abi Thalib

Peristiwa pembunuhan Ali terjadi pada tahun 40 H/661 M.

Dalam riwayat sejarah yang paling masyhur, Abdurrahman bin Muljam menyerang Ali dengan pedang beracun ketika Ali menuju atau berada di Masjid Kufah untuk melaksanakan salat Subuh.

Ali mengalami luka parah.

Ia kemudian dirawat selama beberapa waktu, tetapi akhirnya meninggal dunia akibat luka tersebut.

Dengan wafatnya Ali, berakhirlah masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin menurut kronologi Sunni yang umum digunakan.

Peristiwa tersebut merupakan salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Islam awal.

Ali bukan hanya seorang khalifah, tetapi juga sepupu dan menantu Nabi Muhammad ﷺ, serta salah satu sahabat utama dalam sejarah Islam.

Pembunuhannya menunjukkan betapa dalamnya konflik politik dan keagamaan yang berkembang setelah masa Nabi.


9. Siapa Abdurrahman bin Muljam?

Abdurrahman bin Muljam dikenal dalam tradisi sejarah Islam sebagai anggota Khawarij yang melakukan serangan terhadap Ali bin Abi Thalib.

Dalam berbagai sumber sejarah, ia digambarkan sebagai seseorang yang memiliki kehidupan religius dan dikenal tekun beribadah. Hal ini menjadi salah satu pelajaran penting dari kisah tersebut: kesalehan lahiriah dan banyaknya ibadah tidak selalu menjamin seseorang terbebas dari kesalahan pemahaman atau tindakan ekstrem.

Dalam perspektif mayoritas ulama Sunni, tindakan membunuh Ali merupakan kejahatan besar dan Abdurrahman bin Muljam dipandang sebagai pelaku pembunuhan terhadap seorang khalifah yang sah.

Namun, terdapat perbedaan penilaian di antara berbagai tradisi keagamaan mengenai status Abdurrahman bin Muljam dan penilaian teologis terhadap Khawarij secara keseluruhan.

Karena itu, pembahasan mengenai dirinya sebaiknya dibedakan antara fakta sejarah, penilaian teologis, dan tradisi masing-masing kelompok.


10. Mengapa Ali Dibunuh?

Jika diringkas, terdapat beberapa faktor utama yang mendorong pembunuhan Ali:

1. Konflik setelah Perang Shiffin

Ali menerima tahkim sebagai jalan penyelesaian konflik, tetapi sebagian pendukungnya menganggapnya sebagai kesalahan.

2. Munculnya paham takfir

Sebagian Khawarij menilai bahwa pihak-pihak yang menerima tahkim telah keluar dari kebenaran, bahkan dianggap kafir.

3. Perang Nahrawan

Kekalahan Khawarij di Nahrawan menyebabkan banyak anggota kelompok tersebut terbunuh.

4. Motif balas dendam

Kematian anggota Khawarij dalam Perang Nahrawan menjadi salah satu alasan munculnya keinginan membalas dendam.

5. Keyakinan ekstrem

Pelaku pembunuhan meyakini bahwa membunuh Ali merupakan tindakan yang dibenarkan demi tujuan keagamaan dan politik mereka.

Inilah salah satu ciri paling berbahaya dari ekstremisme: tindakan kekerasan dapat dibungkus dengan bahasa agama sehingga pelaku merasa sedang menjalankan sebuah misi suci.


11. Apakah Semua Khawarij Terlibat dalam Pembunuhan Ali?

Tidak.

Ini merupakan hal penting yang harus dipahami.

Tidak semua orang yang dikategorikan sebagai Khawarij terlibat langsung dalam pembunuhan Ali.

Abdurrahman bin Muljam adalah pelaku pembunuhan Ali, sedangkan rencana pembunuhan terhadap Muawiyah dan Amr bin al-Ash juga dilakukan oleh individu tertentu.

Kelompok Khawarij sendiri kemudian berkembang menjadi berbagai cabang dan faksi.

Sebagian kelompok memiliki pandangan yang lebih moderat dibandingkan kelompok ekstrem lainnya.

Karena itu, secara historis, tidak tepat jika semua kelompok yang memiliki hubungan dengan Khawarij dianggap memiliki tingkat ekstremisme dan pandangan yang sama. Sejarah Khawarij sendiri menunjukkan adanya perpecahan internal dan perbedaan pemikiran di antara mereka.


12. Dampak Pembunuhan Ali bin Abi Thalib

Wafatnya Ali membawa perubahan besar bagi dunia Islam.

Setelah Ali wafat, putranya, Hasan bin Ali, sempat menjadi khalifah di Kufah.

Namun, Hasan kemudian berdamai dengan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Peristiwa ini kemudian mengantarkan dunia Islam ke dalam fase politik baru yang dikenal sebagai Dinasti Umayyah.

Dengan demikian, pembunuhan Ali bukan sekadar pembunuhan seorang pemimpin.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik balik sejarah Islam:

Pembunuhan Utsman → Perang Jamal → Perang Shiffin → Tahkim → Munculnya Khawarij → Perang Nahrawan → Pembunuhan Ali → Berdirinya pemerintahan Umayyah.

Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan bagaimana konflik politik yang tidak terselesaikan dapat berkembang menjadi konflik militer, perpecahan ideologis, dan bahkan pembunuhan politik.


13. Pelajaran dari Sejarah Khawarij

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat diambil.

Pertama: Pemahaman agama tanpa kebijaksanaan dapat berbahaya

Seseorang bisa memiliki semangat agama yang tinggi, tetapi jika pemahamannya sempit dan tidak disertai ilmu yang mendalam, ia dapat mengambil kesimpulan yang keliru.

Kedua: Tidak mudah mengafirkan orang lain

Sejarah Khawarij menjadi contoh penting tentang bahaya takfir, yaitu mudah mengeluarkan seseorang dari Islam hanya karena perbedaan pendapat atau kesalahan politik.

Ketiga: Fanatisme dapat menghancurkan persatuan

Ketika seseorang menganggap hanya kelompoknya yang benar dan semua orang lain sesat, ruang dialog menjadi semakin sempit.

Keempat: Konflik politik yang bercampur dengan agama sangat kompleks

Peristiwa Ali dan Khawarij tidak dapat dipahami hanya sebagai konflik “orang baik melawan orang jahat”.

Di dalamnya terdapat persoalan politik, kekuasaan, hukum, tafsir agama, loyalitas kelompok, dendam, dan perebutan legitimasi.

Kelima: Kesalehan harus disertai pemahaman yang benar

Kisah Abdurrahman bin Muljam menjadi salah satu contoh paling tragis dalam sejarah Islam tentang bagaimana seseorang yang diyakini memiliki semangat keagamaan dapat melakukan tindakan yang sangat kejam ketika pemahaman agama telah bercampur dengan fanatisme dan ekstremisme.


# Kesimpulan

Khawarij muncul dalam situasi krisis politik umat Islam pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib. Peristiwa Perang Shiffin dan tahkim menjadi titik penting yang menyebabkan sebagian pendukung Ali keluar dari barisannya.

Mereka kemudian berkembang menjadi kelompok yang menentang Ali dan Muawiyah. Konflik tersebut akhirnya berujung pada Perang Nahrawan.

Setelah kekalahan di Nahrawan, sebagian anggota Khawarij merencanakan pembunuhan terhadap beberapa tokoh politik utama. Abdurrahman bin Muljam kemudian melakukan serangan terhadap Ali bin Abi Thalib pada tahun 40 H/661 M, yang menyebabkan wafatnya sang khalifah.

Tragedi ini menjadi salah satu peristiwa paling menyedihkan dalam sejarah Islam awal.

Pelajaran terbesar dari sejarah tersebut adalah bahwa fanatisme, takfir, kebencian politik, dan kekerasan yang diberi legitimasi agama dapat menghasilkan tragedi yang sangat besar. Sejarah Khawarij karena itu bukan hanya penting untuk dipelajari sebagai bagian dari masa lalu, tetapi juga sebagai bahan refleksi tentang bahaya ekstremisme dan pentingnya ilmu, kebijaksanaan, dialog, serta kehati-hatian dalam memahami agama.

# Sumber rujukan

  1. Ibn Kathir, Al-Bidayah wa al-Nihayah — salah satu karya sejarah Islam klasik yang membahas periode Ali bin Abi Thalib dan peristiwa pembunuhannya.
  2. Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk — sumber penting untuk menelusuri kronologi konflik politik pada masa awal Islam.
  3. Al-Shahrastani, Al-Milal wa al-Nihal — membahas berbagai kelompok teologi dan sekte dalam Islam, termasuk Khawarij.
  4. W. Montgomery Watt, The Formative Period of Islamic Thought — kajian akademik mengenai perkembangan pemikiran Islam pada masa awal.
  5. Hannah-Lena Hagemann, The Kharijites in Early Islamic Historical Tradition: Heroes and Villains — kajian akademik modern mengenai bagaimana Khawarij digambarkan dalam tradisi historiografi Islam.

— Arya Wiranegara 

Sejarah Islam 

Sumber : https://adajuga.com/khawarij/

.