Husain bin Ali Cucu Rasulullah SAW Wafat dalam Tragedi Karbala, Dipenggal dan Kepalanya Diserahkan kepada Khalifah Yazid bin Mu’awiyah

Husain bin Ali bin Abi Thalib RA (4 H–61 H/626–680 M) adalah putra Ali bin Abi Thalib RA dan Fatimah az-Zahra RA, sekaligus cucu Rasulullah SAW. Beliau merupakan salah seorang pemimpin Ahlul Bait yang sangat dihormati oleh seluruh kaum Muslimin.

Husain wafat pada 10 Muharram 61 H (10 Oktober 680 M) dalam Perang Karbala, sebuah peristiwa yang menjadi salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Islam. Berdasarkan sumber-sumber sejarah klasik, penyebab wafatnya Husain adalah karena terbunuh dalam pertempuran setelah rombongannya dikepung oleh pasukan yang dikirim oleh pemerintahan Umayyah di bawah Khalifah Yazid bin Muawiyah.

Info Belanja 100 Produk Terlaris di Shopee Minggu Ini


# Biografi Singkat Husain bin Ali
  • Nama lengkap: Husain bin Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib
  • Ayah: Ali bin Abi Thalib RA
  • Ibu: Fatimah az-Zahra RA
  • Kakek: Nabi Muhammad SAW
  • Lahir: Madinah, 4 H (626 M)
  • Wafat: Karbala, Irak, 10 Muharram 61 H (680 M)

Rasulullah SAW sangat mencintai Hasan dan Husain. Dalam hadis riwayat at-Tirmidzi beliau bersabda:

“Husain berasal dariku dan aku berasal dari Husain.”

Hadis ini juga diriwayatkan dalam Musnad Ahmad dan kitab-kitab hadis lainnya.


# Latar Belakang Penyebab Terjadinya Tragedi Karbala
1. Pergantian Kekhalifahan

Pada tahun 60 H, Muawiyah bin Abi Sufyan wafat.

Sebelum meninggal, ia menunjuk putranya, Yazid bin Muawiyah, sebagai khalifah berikutnya. Penunjukan ini menjadi kontroversi karena banyak tokoh Muslim berpendapat bahwa jabatan khalifah seharusnya tidak diwariskan secara turun-temurun.


2. Penolakan Husain Memberikan Baiat

Yazid meminta para tokoh Madinah berbaiat kepadanya.

Husain memilih tidak memberikan baiat. Penolakannya bukan berarti mengangkat senjata saat itu, melainkan karena ia memandang persoalan kepemimpinan umat harus diselesaikan berdasarkan prinsip yang benar menurut keyakinannya.


3. Surat-Surat dari Kufah

Penduduk Kufah mengirim banyak surat kepada Husain.

Mereka berjanji akan:

  • mendukung beliau,
  • melindunginya,
  • mengangkatnya sebagai pemimpin.

Untuk memastikan keadaan, Husain mengirim sepupunya Muslim bin Aqil ke Kufah.

Pada awalnya Muslim memperoleh dukungan luas, tetapi setelah gubernur Kufah, Ubaidullah bin Ziyad, mengambil tindakan tegas, situasi berubah. Muslim bin Aqil akhirnya ditangkap dan dihukum mati.


# Perjalanan Menuju Karbala

Meski menerima kabar yang tidak menentu, Husain tetap melanjutkan perjalanan dari Makkah menuju Irak bersama:

  • keluarga,
  • anak-anak,
  • perempuan dari Ahlul Bait,
  • sekitar 70–100 pengikut setia (jumlah berbeda menurut riwayat).

Di tengah perjalanan, rombongan dicegat pasukan yang dipimpin al-Hurr bin Yazid, lalu diarahkan menuju padang Karbala.


# Pengepungan di Karbala

Pada 2 Muharram 61 H, rombongan Husain tiba di Karbala.

Beberapa hari kemudian datang pasukan yang dipimpin Umar bin Sa’d atas perintah gubernur Kufah, Ubaidullah bin Ziyad.

Pada tanggal 7 Muharram, akses menuju Sungai Efrat dibatasi sehingga rombongan Husain mengalami kekurangan air. Peristiwa ini dicatat dalam berbagai sumber sejarah awal mengenai Karbala.


# Upaya Husain Menghindari Pertumpahan Darah

Beberapa riwayat klasik menyebutkan bahwa Husain berusaha mencari jalan damai.

Di antaranya:

  • kembali ke Madinah,
  • pergi ke wilayah perbatasan,
  • atau bertemu langsung dengan Yazid.

Namun negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan, sehingga konflik berujung pada peperangan. Detail-detail mengenai usulan ini memiliki variasi dalam berbagai riwayat, tetapi secara umum dicatat dalam karya-karya sejarah klasik seperti Tarikh ath-Tabari.


# Penyebab Langsung Wafatnya Husain

Pada 10 Muharram 61 H (Hari Asyura), pertempuran tidak dapat dihindari.

Pasukan Husain yang jumlahnya jauh lebih sedikit menghadapi pasukan Umayyah yang jauh lebih besar.

Satu demi satu sahabat dan anggota keluarga Husain gugur.

Husain sendiri terus bertempur hingga mengalami luka-luka akibat serangan anak panah, tombak, dan pedang. Setelah terjatuh dari kudanya, beliau terbunuh di medan Karbala. Sumber-sumber sejarah klasik juga menyebutkan bahwa setelah beliau wafat, kepalanya dipisahkan dari jasadnya dan dibawa kepada otoritas di Kufah.

Dengan demikian, penyebab langsung wafatnya Husain bin Ali adalah terbunuh dalam Perang Karbala, bukan karena sakit ataupun sebab alamiah.


# Faktor-Faktor Penyebab Wafatnya Husain
1. Konflik Politik Mengenai Suksesi Kekhalifahan

Perselisihan mengenai legitimasi kepemimpinan setelah wafatnya Muawiyah menjadi akar utama konflik.

2. Berubahnya Sikap Penduduk Kufah

Janji dukungan dari banyak penduduk Kufah tidak terwujud ketika tekanan politik meningkat, sehingga Husain tiba dengan dukungan yang jauh lebih sedikit daripada yang diharapkan.

3. Kebijakan Gubernur Ubaidullah bin Ziyad

Sebagai gubernur Kufah, Ubaidullah bin Ziyad mengambil langkah-langkah militer untuk mencegah gerakan yang dipandang mengancam pemerintahan Yazid.

4. Kegagalan Negosiasi

Upaya menghindari peperangan tidak mencapai kesepakatan, sehingga konflik berubah menjadi pertempuran terbuka.


# Kepala Husain Dipisahkan dari Jasad

Mayoritas kitab sejarah klasik, baik Sunni maupun Syiah, menyebutkan bahwa kepala Husain dipenggal setelah beliau wafat.

Kepala tersebut kemudian dibawa kepada Ubaidillah bin Ziyad di Kufah, lalu dikirim kepada Khalifah Yazid bin Mu’awiyah di Damaskus. Namun, terdapat perbedaan pendapat mengenai apa yang terjadi setelah itu, termasuk lokasi akhir pemakaman kepala beliau.

Jasad Husain Dimakamkan di Karbala 

Menurut riwayat yang paling banyak diterima, setelah pasukan Umayyah meninggalkan Karbala, penduduk dari kabilah Bani Asad datang untuk menguburkan para syuhada Karbala.

Jasad Husain dimakamkan di lokasi yang kini dikenal sebagai Makam Imam Husain di Karbala, Irak. Tempat tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu situs ziarah paling penting bagi umat Islam, khususnya kalangan Syiah.


# Dampak Tragedi Karbala

Peristiwa Karbala memiliki dampak besar terhadap sejarah Islam:

  • menjadi simbol pengorbanan dan keteguhan prinsip;
  • memunculkan gerakan-gerakan yang menuntut pertanggungjawaban atas kematian Husain;
  • menjadi peristiwa yang dikenang secara mendalam, khususnya dalam tradisi Syiah, dan juga dipandang sebagai tragedi besar oleh banyak ulama Ahlus Sunnah.

# Kesimpulan

Husain bin Ali bin Abi Thalib RA wafat pada 10 Muharram 61 H (10 Oktober 680 M) di Karbala. Penyebab langsung wafatnya adalah terbunuh dalam pertempuran setelah mengalami luka-luka dalam konflik antara rombongannya dan pasukan yang dikirim oleh pemerintahan Umayyah.

Secara historis, tragedi ini dipicu oleh kombinasi faktor politik, penolakan Husain untuk berbaiat kepada Yazid, perubahan sikap penduduk Kufah, serta kegagalan penyelesaian damai. Karbala kemudian menjadi salah satu peristiwa paling berpengaruh dalam sejarah Islam.


# Sumber Rujukan
  1. Abu Mikhnaf (w. 157 H), Maqtal al-Husayn (karya paling awal mengenai Karbala; naskah aslinya tidak utuh, tetapi banyak dikutip oleh sejarawan sesudahnya).
  2. Muhammad bin Jarir ath-Tabari (w. 310 H), Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (History of the Prophets and Kings), khususnya jilid yang membahas masa pemerintahan Yazid.
  3. Ahmad bin Yahya al-Baladzuri (w. 279 H), Ansab al-Ashraf.
  4. Ibnu Sa’d (w. 230 H), ath-Thabaqat al-Kubra.
  5. Ibnu Katsir (w. 774 H), Al-Bidayah wa an-Nihayah, jilid 8.

— Arya Wiranegara 

Sejarah Islam 

— https://adajuga.com/husain-bin-ali-wafat/

.