Hajar Aswad Dicabut dari Ka’bah: Tragedi Penyerangan Makkah oleh Qaramitah Tahun 930 M (317 H) Penyerangan Kota Makkah oleh kelompok Qaramitah pada tahun 317 Hijriah (930 Masehi) merupakan salah satu peristiwa paling tragis dalam sejarah Islam. Pada musim haji, ketika ribuan kaum Muslimin berkumpul untuk menunaikan ibadah di Masjidil Haram, pasukan Qaramitah menyerbu kota suci tersebut. Serangan itu mengakibatkan banyak korban jiwa, penjarahan, dan pencabutan Hajar Aswad dari Ka’bah. Hajar Aswad kemudian dibawa ke pusat kekuasaan Qaramitah di wilayah Al-Ahsa dan baru dikembalikan sekitar dua puluh tahun kemudian. Peristiwa ini mengguncang dunia Islam dan menjadi salah satu simbol lemahnya kondisi politik Kekhalifahan Abbasiyah pada masa itu. Apa Itu Hajar Aswad? Hajar Aswad adalah batu yang terletak di sudut timur Ka’bah. Menurut tradisi Islam, batu ini telah ada sejak masa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS ketika membangun Ka’bah. Dalam ibadah haji dan umrah, mencium atau mengusap Hajar Aswad merupakan sunnah apabila memungkinkan. Namun, keberadaan Hajar Aswad bukanlah rukun haji maupun tawaf. Karena itu, meskipun batu tersebut pernah tidak berada di tempatnya selama bertahun-tahun, ibadah haji tetap dapat dilaksanakan dengan sah. Siapakah Qaramitah? Qaramitah (Arab: al-Qarāmiṭah) adalah sebuah gerakan yang muncul pada akhir abad ke-9 M. Nama mereka dikaitkan dengan Hamdan Qarmat, seorang tokoh yang berperan dalam perkembangan awal gerakan tersebut. Dalam perkembangannya, Qaramitah membangun kekuatan politik dan militer di wilayah Al-Ahsa, kawasan timur Jazirah Arab. Dalam sumber-sumber sejarah klasik, wilayah kekuasaan mereka sering disebut sebagai Bahrain, yang pada masa itu memiliki cakupan geografis lebih luas daripada negara Bahrain modern. Pada tahun 930 M, kelompok ini dipimpin oleh Abu Tahir al-Jannabi, yang dikenal karena berbagai serangan terhadap wilayah Kekhalifahan Abbasiyah dan jalur-jalur perdagangan. Latar Belakang Penyerangan Makkah 1. Melemahnya Kekhalifahan Abbasiyah Pada awal abad ke-10 M, Abbasiyah mengalami kemunduran politik. Banyak wilayah berada di bawah kekuasaan dinasti-dinasti lokal sehingga kemampuan pemerintah pusat untuk menjaga keamanan jalur haji dan kota-kota suci semakin berkurang. 2. Konflik Politik Qaramitah menentang legitimasi politik Abbasiyah. Mereka memandang kekhalifahan tersebut tidak lagi layak memimpin dunia Islam dan berusaha melemahkan pengaruhnya melalui berbagai serangan. 3. Faktor Ideologi Para sejarawan mencatat bahwa kepemimpinan Qaramitah memiliki pandangan keagamaan dan politik yang berbeda dari arus utama Islam pada masa itu. Perbedaan ini memperuncing konflik dengan Abbasiyah dan mayoritas masyarakat Muslim. Kronologi Penyerangan Makkah Musim Haji Tahun 317 H Pada musim haji tahun 317 H (930 M), ribuan jamaah dari berbagai wilayah telah memenuhi Kota Makkah untuk melaksanakan ibadah. Pasukan Qaramitah yang dipimpin Abu Tahir al-Jannabi memasuki kota. Menurut berbagai sumber sejarah klasik, mereka kemudian melancarkan serangan terhadap jamaah dan penduduk. Pembantaian Jamaah Haji Berbagai kronik klasik melaporkan bahwa banyak jamaah haji terbunuh dalam serangan tersebut. Jumlah korban yang disebutkan berbeda-beda menurut masing-masing sumber, sehingga para sejarawan modern tidak menetapkan angka yang pasti. Selain korban jiwa, banyak jamaah kehilangan harta benda akibat penjarahan yang dilakukan pasukan Qaramitah. Penyerangan Masjidil Haram Serangan kemudian meluas ke kawasan Masjidil Haram. Kesucian tempat ibadah tersebut ternodai oleh kekerasan yang terjadi di dalam dan di sekitar kompleks masjid. Sebagian sumber klasik menyebutkan bahwa sejumlah jenazah dilemparkan ke Sumur Zamzam. Namun, rincian ini berasal dari kronik abad pertengahan dan perlu dibaca secara kritis karena tidak seluruhnya dapat diverifikasi oleh penelitian modern. Kiswah Ka’bah Dilepas Beberapa riwayat menyebutkan bahwa kiswah Ka’bah dilepas oleh pasukan Qaramitah sebagai bagian dari tindakan mereka selama penyerangan. Pencabutan Hajar Aswad Peristiwa yang paling dikenang dari serangan ini adalah pencabutan Hajar Aswad dari sudut Ka’bah. Menurut sejumlah sumber sejarah klasik, batu tersebut dicabut menggunakan alat hingga terlepas dari tempatnya. Setelah itu, Hajar Aswad dibawa bersama pasukan Qaramitah menuju Al-Ahsa. Tindakan ini memiliki dampak simbolis yang sangat besar karena Hajar Aswad merupakan salah satu bagian paling dikenal dari Ka’bah. Mengapa Hajar Aswad Dibawa? Para sejarawan mengemukakan beberapa penjelasan mengenai motif tindakan tersebut. 1. Simbol Kemenangan Politik Menguasai Hajar Aswad merupakan cara untuk menunjukkan keberhasilan mereka menantang kekuasaan Abbasiyah. 2. Melemahkan Wibawa Abbasiyah Penyerangan terhadap Makkah memperlihatkan bahwa pemerintahan Abbasiyah tidak mampu melindungi kota suci maupun jamaah haji. 3. Propaganda Politik Membawa Hajar Aswad memberikan dampak psikologis dan politik yang besar karena menarik perhatian seluruh dunia Islam. Ke Mana Hajar Aswad Dibawa? Setelah dicabut, Hajar Aswad dibawa ke Al-Ahsa, pusat pemerintahan Qaramitah. Batu tersebut berada di sana selama kurang lebih dua puluh tahun. Meskipun demikian, ibadah haji tetap berlangsung karena Hajar Aswad bukan merupakan syarat sahnya tawaf ataupun haji. Pengembalian Hajar Aswad Sekitar tahun 339 H (951–952 M), Hajar Aswad akhirnya dikembalikan ke Makkah. Para sejarawan memiliki pendapat yang berbeda mengenai alasan pengembaliannya. Sebagian menyebutkan bahwa Qaramitah mengalami tekanan politik dan militer, sementara riwayat lain menyebut adanya pembayaran tebusan. Namun, penjelasan terakhir ini masih diperdebatkan dan tidak diterima secara bulat oleh semua sejarawan. Setelah kembali ke Makkah, Hajar Aswad dipasang lagi pada sudut Ka’bah hingga tetap berada di tempatnya sampai sekarang. Dampak Penyerangan Trauma bagi Dunia Islam Peristiwa ini menimbulkan duka yang mendalam di berbagai wilayah Islam karena terjadi di kota yang paling suci bagi umat Islam. Melemahnya Wibawa Abbasiyah Serangan tersebut memperlihatkan keterbatasan kemampuan Abbasiyah dalam menjaga keamanan Tanah Suci. Gangguan Pelaksanaan Haji Jalur haji menjadi kurang aman selama beberapa waktu sehingga sebagian calon jamaah menunda keberangkatan mereka. Peningkatan Keamanan Pada masa-masa berikutnya, penguasa Muslim berupaya memperkuat perlindungan terhadap jalur haji dan Kota Makkah. Pandangan Sejarawan Para sejarawan modern umumnya sepakat bahwa penyerangan Makkah tahun 930 M merupakan salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Islam. Mereka juga menegaskan pentingnya membedakan tindakan kelompok Qaramitah dari ajaran Islam secara umum. Peristiwa ini dipahami sebagai akibat dari konflik politik dan ideologi yang melibatkan sebuah kelompok tertentu, bukan sebagai representasi ajaran Islam. Selain itu, para peneliti mengingatkan bahwa beberapa rincian dalam sumber-sumber klasik—seperti jumlah korban atau detail tertentu dari penyerangan—berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, pembacaan sejarah perlu dilakukan dengan membandingkan berbagai sumber. Hikmah dan Pelajaran Peristiwa ini memberikan sejumlah pelajaran penting: Stabilitas politik sangat berpengaruh terhadap keamanan masyarakat dan tempat-tempat suci. Konflik politik dapat menimbulkan dampak kemanusiaan yang sangat besar. Tempat-tempat suci tidak selalu terhindar dari ancaman ketika terjadi perebutan kekuasaan. Kajian sejarah perlu dilakukan secara kritis dengan membandingkan sumber-sumber klasik dan penelitian modern. Kesimpulan Penyerangan Makkah oleh Qaramitah pada tahun 317 H (930 M) merupakan salah satu tragedi paling besar dalam sejarah Islam. Serangan tersebut menyebabkan banyak korban jiwa, penjarahan, serta pencabutan Hajar Aswad dari Ka’bah. Batu suci itu kemudian dibawa ke Al-Ahsa dan baru dikembalikan sekitar dua puluh tahun kemudian. Peristiwa ini tidak hanya menjadi catatan penting dalam sejarah Makkah, tetapi juga menunjukkan bagaimana konflik politik dan ideologi dapat berdampak besar terhadap kehidupan keagamaan. Meskipun Hajar Aswad sempat tidak berada di Ka’bah selama bertahun-tahun, ibadah haji tetap berlangsung karena keberadaan Hajar Aswad bukan merupakan rukun haji maupun tawaf. Referensi Sumber Klasik Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk. Ibn al-Athir, Al-Kamil fi al-Tarikh. Ibn Kathir, Al-Bidayah wa al-Nihayah. Al-Mas’udi, Muruj al-Dhahab. Al-Dhahabi, Tarikh al-Islam. Kajian Modern Farhad Daftary, The Isma’ilis: Their History and Doctrines. Heinz Halm, The Empire of the Mahdi. Hugh Kennedy, When Baghdad Ruled the Muslim World. Wilferd Madelung, berbagai kajian tentang sejarah Abbasiyah dan Ismailiyah. — Arya Wiranegara Sumber : https://adajuga.com/hajar-aswad-dicabut/ . Navigasi pos Surat-Surat Nabi Muhammad SAW : Daftar Utusan, Surat, Manuskrip, Kronologi dan Peta Penerima