Ngeri! Dua Tahun Dipimpin Prabowo, Ternyata Indonesia Hidup dari Pajak Rakyat dan Utang, Gali Lobang Tutup Lobang, Utang Baru 2026 per Bulan Juli Rp386 Triliun Struktur pembiayaan negara terus menjadi sorotan tajam. Istilah “gali lobang tutup lobang” bukan lagi sekadar kiasan dalam keuangan rumah tangga, melainkan sebuah realitas kasat mata dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Data realisasi final APBN 2025 dan kinerja berjalan APBN 2026 membuktikan secara gamblang bahwa penopang utama eksistensi Indonesia hari ini adalah kombinasi antara setoran pajak rakyat dan penarikan utang baru yang terus membubung. Bagaimana angka-angka ini berbicara tentang kondisi riil dapur finansial negara? Mari kita bedah data resmi fiskal Indonesia. Belanja Murah Kebutuhan Dapur di Sini : Minyak Goreng, Kecap, Bumbu Kaldu, Sabun Mandi, Pasta Gigi, Shampo, Sabun Cuci dll 1. Rekam Jejak 2025: Pajak Mendominasi, Defisit Ditutup Utang Rp736 Triliun Pada laporan final APBN 2025, ketimpangan antara kantong pendapatan negara dan ambisi belanja pemerintah terlihat sangat mencolok. Total Pendapatan Negara: Rp2.756,3 triliun Pendapatan Perpajakan: Rp2.217,9 triliun Total Belanja Negara: Rp3.451,4 triliun Defisit Riil: Rp695,1 triliun (Belanja dikurangi Pendapatan) Pajak Adalah Urat Nadi Utama Dari total pendapatan Rp2.756,3 triliun, sebesar Rp2.217,9 triliun (atau sekitar 80,4%) murni berasal dari sektor perpajakan (pajak dalam negeri, kepabeanan, dan cukai). Ini membuktikan klaim bahwa Indonesia memang “hidup dari pajak rakyat”. Tanpa keringat pembayar pajak, roda pemerintahan praktis akan lumpuh total. Lubang Fiskal yang Menganga Ketika negara berniat membelanjakan Rp3.451,4 triliun namun hanya memiliki pendapatan Rp2.756,3 triliun, terjadi tekor alias defisit jumbo. Untuk menutup lubang tersebut, pemerintah menarik Utang Baru sebesar Rp736,3 triliun. Penarikan utang ini berakibat langsung pada melesatnya akumulasi Total Utang hingga menembus Rp9.450 triliun di penghujung tahun 2025. Di sisi lain, APBN dipaksa menyisihkan Rp478,1 triliun hanya untuk membayar bunga utang, belum termasuk pelunasan pokoknya. Jadwal Pendaftaran Sekolah Kedinasan CPNS BUMN TNI POLRI Akademi TNI AKPOL SIPSS Perwira PK TNI 2. Kinerja Juli 2026: Utang Menembus Angka Psikologis Rp10.000 Triliun Memasuki paruh kedua tahun anggaran 2026, ketergantungan pada skema lama belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Data akumulasi berjalan per akhir Juli 2026 memotret kondisi yang semakin menegangkan. Total Pendapatan Negara: Rp1.459,4 triliun Pendapatan Perpajakan: Rp1.224,3 triliun Total Belanja Negara: Rp1.969,6 triliun Defisit Berjalan: Rp510,2 triliun Ketergantungan Pajak yang Semakin Tebal Hingga akhir Juli, kontribusi perpajakan menyumbang Rp1.224,3 triliun (atau 83,8%) dari total pendapatan negara berjalan yang sebesar Rp1.459,4 triliun. Angka persentase ini terus merangkak naik, menunjukkan beban pungutan masyarakat yang kian menjadi andalan utama. Rekor Total Utang Baru Guna menyeimbangkan laju belanja yang sudah terserap Rp1.969,6 triliun, negara kembali menarik Utang Baru Neto sebesar Rp386,0 triliun hanya dalam waktu 7 bulan. Konsekuensi dari penambahan ini sangat mengerikan secara nominal: Total Utang Indonesia resmi menembus angka psikologis baru sebesar Rp10.293,69 triliun. Beban cicilan pun kian mencekik. Per Juli 2026, dana APBN yang keluar khusus untuk Pembayaran Bunga Utang sudah mencakup Rp291,1 triliun. 3. Fenomena Gali Lobang Tutup Lobang yang Nyata Mengapa skema pengelolaan ini disebut persis seperti praktik gali lobang tutup lobang? Perhatikan komparasi dua indikator krusial berikut: 1. Bayar Bunga Menguras Pendapatan Di tahun 2025, biaya membayar bunga utang (Rp478,1 triliun) memakan hampir 17,3% dari seluruh total pendapatan yang dikumpulkan negara. 2. Utang Baru vs Pembayaran Utang Pada tahun 2025, pemerintah menarik utang baru neto Rp736,3 triliun dan membayar bunga Rp478,1 triliun. Secara kasar, sebagian besar uang yang ditarik dari utang baru mengalir kembali ke pasar keuangan internasional dan domestik hanya demi membayar kewajiban bunga dan pokok utang yang jatuh tempo dari masa lalu. Ketika total utang merangkak ke angka Rp10.293,69 triliun di pertengahan 2026, tekanan refinancing (meminjam kembali untuk melunasi utang lama) menjadi keniscayaan tahunan yang harus dihadapi oleh Kementerian Keuangan. Sisi Lain Kredibilitas Keuangan Negara Secara matematika ekonomi, pemerintah selalu berargumen bahwa kondisi ini masih aman terkendali. Selama rasio total utang terhadap Produk Domestik Buruto (PDB) masih berada di kisaran 40%–41%, angka tersebut secara hukum masih jauh di bawah batas maksimal undang-undang (60% PDB). Namun, dari kacamata beban riil masyarakat, angka-angka APBN 2025 dan 2026 ini mengirimkan pesan yang tidak bisa diabaikan: Setiap sen belanja infrastruktur, subsidi, hingga gaji birokrasi yang kita nikmati hari ini, dibayar mahal secara tunai oleh pajak rakyat dan ditopang oleh warisan utang ribuan triliun untuk generasi masa depan. Arya Wiranegara Sumber : https://adajuga.com/ngeri-dua-tahun-dipimpin-prabowo/ #apbn #prabowo #gibran #mbg #kopdes Navigasi pos Miris! Tiga Program Prabowo (MBG, Kopdes dan Sekolah Rakyat) Tahun 2026 Menelan Anggaran Rp314,47 Triliun Bisa-bisanya Utang Kopdes Merah Putih Prabowo Rp240 Triliun dan Gaji 30.000 Manajer Kopdes Dibayar Pakai APBN, Pakai Pajak Rakyat