Khulafaur Rasyidin (632–661 M): Sejarah Lengkap Empat Khalifah Setelah Rasulullah ﷺ Khulafaur Rasyidin adalah empat khalifah pertama dalam sejarah pemerintahan Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Dalam tradisi Sunni, keempatnya dikenal sebagai al-Khulafā’ al-Rāsyidūn—para khalifah yang mendapat petunjuk. Daftar Lengkap Kekhalifahan dan Para Khalifah dalam Sejarah Islam (632–1924 M) 1. Kondisi Dunia Islam Setelah Wafat Nabi Muhammad ﷺ Nabi Muhammad ﷺ wafat pada tahun 11 H/632 M di Madinah. Wafatnya Rasulullah ﷺ merupakan peristiwa yang sangat besar bagi masyarakat Muslim. Beliau bukan hanya pemimpin agama, tetapi juga pemimpin komunitas politik Madinah dan berbagai kabilah Arab yang telah bergabung dengan negara Islam. Persoalan besar kemudian muncul: Siapa yang akan memimpin umat setelah Rasulullah ﷺ? Yang harus dipahami, persoalan tersebut bukan mengenai pengganti kenabian. Dalam keyakinan Islam, Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi terakhir. Yang dipersoalkan adalah kepemimpinan politik dan sosial umat Islam. Sumber-sumber sejarah klasik menggambarkan adanya pembicaraan antara kelompok Anshar dan Muhajirin mengenai kepemimpinan setelah Rasulullah ﷺ wafat. Peristiwa di Saqifah Bani Sa’idah kemudian menghasilkan penerimaan Abu Bakar sebagai khalifah. Kajian Wilferd Madelung menunjukkan bahwa persoalan suksesi Nabi merupakan salah satu persoalan paling penting dan paling kontroversial dalam sejarah Islam awal. Ia secara khusus membahas proses tersebut dari masa Abu Bakar hingga berakhirnya pemerintahan Ali. Terlaris 10 Pak Facial Tissue NANO 360 Helai Tisu Wajah Rp41.000 2. Abu Bakar Ash-Shiddiq (632–634 M) Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah menjadi khalifah pertama setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ. Ia merupakan salah satu sahabat terdekat Nabi dan ayah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Masa pemerintahannya hanya sekitar dua tahun, tetapi menjadi salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Islam. A. Saqifah dan pengangkatan Abu Bakar Setelah Nabi wafat, sebagian kaum Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah untuk membicarakan kepemimpinan. Umar bin Khattab kemudian bersama Abu Bakar dan beberapa sahabat lainnya datang ke tempat tersebut. Terjadi pembicaraan mengenai siapa yang paling layak memimpin masyarakat Muslim. Setelah proses tersebut, Abu Bakar mendapatkan baiat. Riwayat mengenai proses ini merupakan bagian penting dari Tārīkh ath-Thabari. Versi sejarah modern juga mengakui bahwa awal suksesi tersebut tidak berlangsung tanpa perdebatan. Cambridge, misalnya, menggambarkan awal kekhalifahan Abu Bakar sebagai proses yang melibatkan pertemuan dan perdebatan di antara komunitas Muslim. B. Perang Riddah Tantangan terbesar Abu Bakar datang dari sejumlah kelompok Arab yang setelah wafat Nabi: memutus hubungan dengan pemerintahan Madinah; menolak kewajiban zakat; mengikuti tokoh-tokoh yang mengaku nabi; atau melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Madinah. Rangkaian peperangan ini dikenal sebagai Perang Riddah. Salah satu sumber paling penting mengenai periode ini adalah History of al-Tabari, volume 10, yang secara khusus membahas pemilihan Abu Bakar dan Perang Riddah 632–633 M. Sumber tersebut juga menjelaskan bahwa pemberontakan ini terdiri dari berbagai gerakan dengan latar belakang yang berbeda, sehingga tidak seluruhnya dapat disederhanakan sebagai satu bentuk pemberontakan yang sama. Abu Bakar mengambil sikap tegas. Salah satu persoalan yang sangat terkenal adalah kewajiban zakat. Dalam riwayat yang populer dalam sumber-sumber Islam, Abu Bakar menolak gagasan bahwa kewajiban shalat dan zakat dapat dipisahkan. Keberhasilan Abu Bakar mempunyai konsekuensi sangat besar: Arabia kembali berada di bawah satu otoritas politik yang berpusat di Madinah. C. Pengumpulan Al-Qur’an Peristiwa penting lainnya adalah pengumpulan bahan-bahan Al-Qur’an. Setelah banyak penghafal Al-Qur’an gugur dalam peperangan, muncul kekhawatiran mengenai hilangnya bagian-bagian yang masih tersimpan dalam hafalan dan berbagai media tulisan. Atas usulan Umar, Abu Bakar kemudian memerintahkan Zaid bin Tsabit melakukan pengumpulan. Menurut tradisi Islam yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, lembaran-lembaran tersebut kemudian berada pada Abu Bakar, kemudian Umar, dan setelah itu Hafshah. Peristiwa ini berbeda dengan standardisasi mushaf pada masa Utsman, yang terjadi beberapa tahun kemudian. D. Awal ekspansi ke luar Arabia Menjelang akhir pemerintahan Abu Bakar, pasukan Muslim mulai bergerak ke wilayah di luar Arabia, termasuk wilayah Irak dan Syam. Dengan demikian, Abu Bakar mempunyai dua warisan utama: konsolidasi internal Arabia dan pembukaan jalan bagi ekspansi Islam ke luar Jazirah Arab. 3. Umar bin Khattab (634–644 M) Setelah Abu Bakar wafat pada 634 M, kepemimpinan beralih kepada Umar bin Khattab. Umar memerintah sekitar sepuluh tahun. Jika Abu Bakar dikenal sebagai khalifah yang mempertahankan persatuan Arabia, Umar menjadi tokoh yang memimpin ekspansi besar-besaran dan pembentukan administrasi pemerintahan yang lebih kompleks. Madelung secara khusus membahas masa Umar dalam kaitannya dengan konsep Amir al-Mu’minin, musyawarah, meritokrasi Islam, dan terbentuknya imperium Arab. A. Penaklukan wilayah Bizantium dan Persia Pada masa Umar, wilayah pemerintahan Islam berkembang sangat pesat. Pasukan Muslim menghadapi dua kekuatan besar: Kekaisaran Bizantium di barat dan Kekaisaran Sasaniyah Persia di timur. Beberapa peristiwa penting antara lain: Perang Yarmuk; penaklukan Syam; masuknya pasukan Muslim ke Palestina; penaklukan Mesir; Perang al-Qadisiyyah; jatuhnya Ctesiphon/Mada’in; serta meluasnya kekuasaan Muslim di wilayah Persia. Perlu dicatat bahwa proses penaklukan tersebut berlangsung melalui berbagai ekspedisi dan tidak semuanya selesai dalam satu masa pemerintahan. 4. Umar dan Administrasi Negara Salah satu keistimewaan pemerintahan Umar adalah perhatiannya terhadap administrasi. Ketika wilayah kekuasaan semakin luas, pemerintahan tidak lagi hanya mengurus masyarakat Madinah dan Arabia. Muncul kebutuhan untuk mengatur: wilayah administratif; tentara; pemasukan negara; distribusi harta; pengelolaan tanah; pejabat pemerintahan; serta hubungan dengan masyarakat non-Muslim. Pada periode inilah berbagai bentuk diwan atau sistem pencatatan administratif berkembang. Umar juga terkenal dalam tradisi sejarah Islam karena perhatian terhadap keadilan dan pengawasan pejabat. A. Kalender Hijriah Salah satu perkembangan administratif penting pada masa Umar adalah penggunaan kalender Hijriah. Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah dijadikan titik awal penanggalan. Kalender tersebut kemudian menjadi sistem penanggalan penting dalam kehidupan masyarakat Muslim. B. Penaklukan Yerusalem Salah satu peristiwa yang sangat terkenal dalam sejarah Umar adalah masuknya pemerintahan Muslim ke Yerusalem. Dalam tradisi sejarah Islam, Umar datang ke wilayah tersebut dan menerima penyerahan kota. Kisah mengenai Umar dan Yerusalem kemudian menjadi bagian penting dari literatur sejarah Islam. C. Wafatnya Umar Pada 644 M, Umar diserang ketika sedang memimpin shalat Subuh. Ia kemudian wafat akibat luka tersebut. Sebelum wafat, Umar membentuk sebuah majelis syura yang terdiri atas sejumlah sahabat terkemuka untuk menentukan khalifah berikutnya. Hasil proses tersebut adalah terpilihnya Utsman bin Affan. 5. Utsman bin Affan (644–656 M) Utsman bin Affan menjadi khalifah ketiga. Ia memerintah sekitar 12 tahun—lebih lama daripada tiga khalifah lainnya pada periode tersebut. Utsman berasal dari Bani Umayyah dan merupakan salah seorang sahabat utama Nabi. Ia juga merupakan menantu Nabi Muhammad ﷺ karena menikah dengan dua putri Nabi secara berurutan, sehingga mendapat gelar Dzun Nurain. 6. Standardisasi Mushaf Al-Qur’an pada Masa Utsman Salah satu warisan Utsman yang paling besar adalah standardisasi mushaf Al-Qur’an. Ketika wilayah Islam semakin luas, umat Islam dari berbagai daerah bertemu dan menggunakan dialek serta cara pembacaan yang berbeda. Muncul kekhawatiran bahwa perbedaan tersebut dapat berkembang menjadi perselisihan. Utsman kemudian membentuk tim yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit untuk menyalin mushaf berdasarkan bahan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Salinan tersebut kemudian dikirim ke beberapa wilayah. Peristiwa ini sering disebut sebagai Mushaf Utsmani. Penting untuk membedakan dua proses: Masa Abu Bakar: pengumpulan bahan Al-Qur’an dalam satu himpunan. Masa Utsman: standardisasi dan penyebaran salinan mushaf untuk mencegah perselisihan bacaan tertulis. 7. Ekspansi pada Masa Utsman Ekspansi pemerintahan Islam terus berlanjut. Wilayah kekuasaan semakin luas ke arah: Persia; Armenia; Khurasan; Afrika Utara; serta wilayah-wilayah di sekitar Laut Tengah. Pada masa ini pula kekuatan Sasaniyah semakin runtuh. Namun, ekspansi tersebut tidak berarti bahwa seluruh wilayah yang kemudian menjadi dunia Islam langsung mengalami Islamisasi. Penaklukan politik dan proses masuk Islam merupakan dua proses berbeda yang berlangsung dalam rentang waktu panjang. 8. Krisis Politik pada Masa Utsman Paruh akhir pemerintahan Utsman menjadi semakin sulit. Muncul kritik terhadap beberapa gubernur dan pejabat yang diangkat pemerintahannya. Di berbagai wilayah berkembang ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah pusat. Persoalan tersebut akhirnya mencapai Madinah. Rumah Utsman dikepung oleh kelompok pemberontak. Dalam situasi tersebut, Utsman menolak melakukan perang terbuka di Madinah dan akhirnya terbunuh pada 656 M. Pembunuhan Utsman merupakan salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Islam. Peristiwa tersebut menjadi awal dari periode yang kemudian dikenal sebagai al-Fitnah al-Kubra, atau fitnah besar. 9. Ali bin Abi Thalib (656–661 M) Setelah Utsman terbunuh, Ali bin Abi Thalib dibaiat sebagai khalifah. Ali memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad ﷺ. Ia adalah: sepupu Nabi; menantu Nabi; suami Fatimah az-Zahra; ayah Hasan dan Husain; serta salah satu orang pertama yang memeluk Islam. Namun, Ali menerima kekhalifahan dalam kondisi politik yang sangat berbeda dari tiga khalifah sebelumnya. Masyarakat Muslim telah terpecah oleh konflik politik. 10. Perang Jamal Salah satu konflik pertama pada masa Ali adalah Perang Jamal pada 656 M. Di satu pihak terdapat Ali bersama pendukungnya. Di pihak lain terdapat kelompok yang melibatkan sejumlah sahabat terkenal, termasuk Aisyah, Thalhah, dan az-Zubair. Persoalan utama yang berkembang antara lain berkaitan dengan tuntutan agar pembunuh Utsman dihukum serta persoalan legitimasi dan stabilitas pemerintahan baru. Pertempuran terjadi di sekitar Basrah. Ali memenangkan pertempuran tersebut. Aisyah kemudian diperlakukan dengan hormat dan dikembalikan ke Madinah. Dalam sejarah Islam, Perang Jamal sangat penting karena merupakan salah satu konflik bersenjata pertama antara kelompok Muslim dalam skala besar. Catatan ath-Thabari mengenai masa Ali menjadi salah satu sumber utama untuk memahami konflik ini. Volume 16 dari The History of al-Tabari, misalnya, secara khusus membahas pembunuhan Utsman, kekhalifahan Ali, pemberontakan Aisyah, Thalhah dan az-Zubair, serta Perang Jamal. 11. Ali Memindahkan Pusat Pemerintahan ke Kufah Setelah Perang Jamal, Ali menjadikan Kufah di Irak sebagai pusat pemerintahannya. Keputusan tersebut sangat berkaitan dengan kondisi politik. Irak memiliki basis pendukung yang penting bagi Ali, sedangkan Syam berada di bawah kekuasaan gubernur Muawiyah bin Abi Sufyan, yang tidak segera memberikan baiat kepada Ali. Konflik antara Ali dan Muawiyah kemudian menjadi persoalan terbesar pada masa pemerintahan Ali. 12. Perang Shiffin Pada 657 M terjadi Perang Shiffin antara pasukan Ali dan pasukan Muawiyah. Konflik tersebut sangat penting karena bukan sekadar perselisihan antarindividu. Di dalamnya terdapat persoalan: siapa yang memiliki legitimasi sebagai khalifah; bagaimana menyikapi pembunuhan Utsman; hubungan antara pusat pemerintahan dan gubernur; serta masa depan politik umat Islam. Pertempuran berlangsung sengit. Kemudian terjadi proses tahkim/arbitrase. Namun, penyelesaian tersebut tidak mengakhiri konflik. Sebagian pendukung Ali bahkan menolak arbitrase dan keluar dari barisannya. Kelompok tersebut kemudian dikenal sebagai Khawarij. 13. Perang Nahrawan Ali akhirnya menghadapi kelompok Khawarij dalam Perang Nahrawan. Ali berhasil mengalahkan mereka. Namun, konflik tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan gerakan Khawarij. Kelompok tersebut kemudian tetap menjadi salah satu kekuatan politik dan keagamaan penting dalam sejarah Islam awal. 14. Wafatnya Ali dan Berakhirnya Khulafaur Rasyidin Pada tahun 661 M, Ali diserang oleh seorang anggota Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam ketika berada di Kufah. Ali kemudian wafat akibat luka tersebut. Dengan wafatnya Ali, berakhirlah periode empat khalifah yang dalam tradisi Sunni disebut Khulafaur Rasyidin. Hasan bin Ali kemudian sempat menjadi khalifah dalam waktu singkat sebelum menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah. Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai ‘Am al-Jama’ah, atau Tahun Persatuan. Setelah itu, Muawiyah mendirikan pemerintahan Bani Umayyah dengan pusat di Damaskus. 15. Apakah Hasan bin Ali Termasuk Khulafaur Rasyidin? Ada sedikit persoalan terminologi. Dalam penggunaan yang paling umum, Khulafaur Rasyidin terdiri dari empat khalifah: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Namun, sejumlah hadis yang diriwayatkan dalam literatur Islam menyebut masa kekhalifahan yang berlangsung selama tiga puluh tahun. Jika masa Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali dihitung bersama masa singkat Hasan bin Ali, periode tersebut mendekati tiga puluh tahun. Karena itu, sebagian ulama dan penulis sejarah juga membicarakan Hasan bin Ali dalam konteks penyempurnaan masa Khulafaur Rasyidin. Tetapi dalam penggunaan istilah yang paling lazim, empat tokoh utama tetap Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. 16. Perbedaan Pandangan Sunni dan Syiah Pembahasan Khulafaur Rasyidin tidak dapat dilepaskan dari persoalan suksesi. Dalam tradisi Sunni, Abu Bakar dipandang sebagai khalifah pertama, kemudian Umar, Utsman, dan Ali. Keempatnya dihormati sebagai Khulafaur Rasyidin. Sementara dalam tradisi Syiah, sejarah suksesi setelah Nabi dipahami secara berbeda. Ali dianggap memiliki hak kepemimpinan yang bersumber dari kedudukannya sebagai Ahlul Bait dan dari peristiwa-peristiwa yang ditafsirkan sebagai penunjukan terhadap Ali. Wilferd Madelung secara khusus menempatkan persoalan suksesi tersebut sebagai pusat kajiannya. Ia membahas pemerintahan keempat khalifah sekaligus konflik yang akhirnya menghasilkan perang saudara pertama di kalangan Muslim. Tayeb El-Hibri juga menekankan bahwa kisah suksesi Khulafaur Rasyidin tidak hanya menjadi persoalan sejarah, tetapi kemudian memainkan peran penting dalam pembentukan pandangan politik dan keagamaan Sunni maupun Syiah. 17. Perbandingan Empat Khalifah Khalifah Masa Karakteristik utama Abu Bakar ash-Shiddiq 632–634 M Konsolidasi Arabia dan Perang Riddah Umar bin Khattab 634–644 M Ekspansi besar dan pembangunan administrasi Utsman bin Affan 644–656 M Standardisasi mushaf dan perluasan wilayah Ali bin Abi Thalib 656–661 M Menghadapi fitnah dan perang saudara 18. Prestasi Utama Khulafaur Rasyidin Jika dirangkum, empat khalifah tersebut memberikan sejumlah perubahan besar. 1. Menjaga kesinambungan pemerintahan Islam Abu Bakar berhasil mempertahankan kesatuan politik setelah wafat Nabi. 2. Membentuk kekuatan regional besar Pada masa Umar dan Utsman, wilayah pemerintahan Muslim berkembang dari Arabia menjadi kekuatan besar di Timur Tengah. 3. Membentuk administrasi pemerintahan Terutama pada masa Umar, sistem pemerintahan berkembang untuk mengelola wilayah yang jauh lebih luas. 4. Menjaga transmisi Al-Qur’an Pengumpulan pada masa Abu Bakar dan standardisasi mushaf pada masa Utsman merupakan dua peristiwa penting dalam sejarah transmisi Al-Qur’an. 5. Menjadi dasar perkembangan hukum dan pemerintahan Islam Praktik para khalifah dan keputusan mereka kemudian menjadi bahan penting bagi perkembangan pemikiran politik dan hukum Islam. 6. Membentuk sejarah politik Islam Konflik pada masa Utsman dan Ali menghasilkan konsekuensi yang sangat panjang, termasuk berkembangnya Khawarij dan menguatnya perbedaan politik yang kemudian berkaitan dengan Sunni dan Syiah. 19. Mengapa Periode 632–661 M Sangat Penting? Periode Khulafaur Rasyidin hanya berlangsung sekitar 29 tahun, tetapi dampaknya luar biasa besar. Pada 632 M, negara Islam masih berpusat terutama di Madinah dan Jazirah Arab. Pada 661 M, pemerintahan Islam telah berkembang menjadi kekuatan besar yang wilayahnya mencakup sebagian besar: Jazirah Arab → Syam → Palestina → Mesir → Irak → Persia dan wilayah sekitarnya. Cambridge menggambarkan periode 632–661 sebagai fase awal kekhalifahan ketika pemerintahan masih berbentuk kepemimpinan komunitas dan koalisi penakluk Arab, sebelum berubah menjadi monarki Arab-Suriah pada periode Umayyah. Namun, keberhasilan ekspansi tersebut juga melahirkan tantangan baru. Pertanyaan yang awalnya sederhana—siapa yang memimpin umat?—berkembang menjadi persoalan besar tentang: legitimasi; hubungan agama dan politik; hak keluarga Nabi; musyawarah; ketaatan kepada pemimpin; pemberontakan; perang saudara; dan bentuk pemerintahan Islam. 20. Khulafaur Rasyidin dalam Kitab Sejarah Islam Klasik Untuk memahami periode ini, beberapa kitab klasik mempunyai kedudukan sangat penting. Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk — Imam ath-Thabari Kitab ini merupakan salah satu kronik sejarah Islam paling penting. Ath-Thabari menyusun sejarah berdasarkan tahun dan menyampaikan berbagai riwayat mengenai peristiwa politik, peperangan, tokoh, serta perkembangan masyarakat Muslim. Khusus masa Abu Bakar, History of al-Tabari volume 10 membahas suksesi Abu Bakar dan Perang Riddah secara panjang. Untuk masa Ali, volume 16 membahas periode setelah pembunuhan Utsman, termasuk Perang Jamal. Al-Bidāyah wa an-Nihāyah — Ibnu Katsir Ibnu Katsir menyusun sejarah dunia sejak masa awal hingga zamannya. Bagian mengenai Khulafaur Rasyidin merupakan salah satu rujukan populer dalam kajian sejarah Islam Sunni. Karya yang merangkum bagian Khulafaur Rasyidin dari al-Bidāyah wa an-Nihāyah juga secara khusus mencakup masa Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Hasan bin Ali. Al-Kāmil fi at-Tārīkh — Ibnu al-Atsir Ibnu al-Atsir merupakan salah satu sejarawan besar Islam abad pertengahan. Karyanya menjadi sumber penting untuk melihat rangkaian peristiwa politik dan militer dunia Islam. Siyar A’lām an-Nubalā’ — Adz-Dzahabi Kitab ini lebih bercorak biografi tokoh. Karena itu, ia sangat berguna untuk memahami kehidupan para sahabat, karakter, keutamaan, hubungan antarfigur, serta perkembangan generasi awal Islam. 21. Kesimpulan Khulafaur Rasyidin (632–661 M) merupakan periode yang sangat singkat tetapi menentukan arah perkembangan sejarah Islam. Abu Bakar ash-Shiddiq menghadapi krisis pertama setelah wafat Nabi dan berhasil mempertahankan kesatuan Arabia melalui Perang Riddah. Umar bin Khattab kemudian memimpin ekspansi besar yang membawa pemerintahan Islam berhadapan dengan Bizantium dan Persia. Pada masa ini pula berkembang berbagai bentuk administrasi negara. Utsman bin Affan melanjutkan ekspansi dan meninggalkan warisan yang sangat penting berupa standardisasi mushaf Al-Qur’an. Namun, pemerintahannya juga menghadapi ketegangan politik yang berujung pada pembunuhannya. Ali bin Abi Thalib menerima kepemimpinan dalam keadaan umat sudah mengalami perpecahan politik. Perang Jamal, Shiffin dan Nahrawan menjadikan masa pemerintahannya sebagai salah satu periode paling rumit dalam sejarah Islam awal. Wafatnya Ali pada 661 M kemudian membuka jalan bagi berdirinya pemerintahan Bani Umayyah. Karena itu, Khulafaur Rasyidin tidak hanya penting sebagai kisah tentang empat pemimpin Muslim pertama. Periode ini merupakan masa transisi dari komunitas Muslim yang dipimpin Nabi menuju negara dan imperium Islam, sekaligus masa ketika persoalan suksesi, legitimasi politik, administrasi pemerintahan, ekspansi, dan konflik internal mulai membentuk sejarah Islam selama berabad-abad berikutnya. Sumber Kitab dan Buku Sejarah Islam Sumber primer/klasik Muhammad ibn Jarir ath-Thabari, Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk (The History of al-Tabari), khususnya jilid mengenai Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Seri terjemahannya diterbitkan oleh State University of New York Press. Volume 10 secara khusus membahas suksesi Abu Bakar dan Perang Riddah. Ismail ibn Umar Ibn Katsir, Al-Bidāyah wa an-Nihāyah — salah satu karya sejarah Islam klasik yang memuat pembahasan panjang mengenai Khulafaur Rasyidin. Ali ibn al-Atsir, Al-Kāmil fi at-Tārīkh — kronik sejarah Islam yang mencakup periode Khulafaur Rasyidin. Syamsuddin adz-Dzahabi, Siyar A’lām an-Nubalā’ — sumber biografis penting mengenai para sahabat dan tokoh generasi awal Islam. Muhammad ibn Sa’d, Al-Thabaqāt al-Kubrā — sumber biografis awal yang penting untuk mengetahui kehidupan Nabi, sahabat, dan generasi sesudahnya. Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim — bukan kitab sejarah khusus, tetapi sejumlah riwayat mengenai Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, suksesi, dan berbagai peristiwa pada masa awal Islam terdapat di dalamnya. Buku kajian sejarah modern Wilferd Madelung, The Succession to Muhammad: A Study of the Early Caliphate, Cambridge University Press, 1996. Buku ini secara khusus mengkaji suksesi setelah wafat Nabi hingga pemerintahan empat khalifah dan perang saudara pertama. Tayeb El-Hibri, Parable and Politics in Early Islamic History: The Rashidun Caliphs, Columbia University Press. Buku ini membahas historiografi dan kisah politik Khulafaur Rasyidin serta bagaimana narasi suksesi dipahami dalam tradisi Sunni dan Syiah. Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies, Cambridge University Press, khususnya bab The Caliphate to 750, yang menempatkan periode 632–661 dalam perkembangan institusi kekhalifahan dan masyarakat Islam awal. Artikel Politik Islam (Bahasa Indonesia) Al-Ahkam As-Sulthaniyyah As-Siyasah Asy-Syar’iyyah Muqaddimah Ibnu Khaldun The Islamic Law and Constitution Arya Wiranegara Sumber : https://adajuga.com/khulafaur-rasyidin/ Navigasi pos Perang Mohács : Utsmaniyah vs Hungaria – Pertempuran Dua Jam yang Mengakhiri Kerajaan Hungaria