Khalifah Ali bin Abi Thalib Wafat Ditikam Menjelang Shalat Subuh di Masjid Agung Kufah Irak Ali bin Abi Thalib RA adalah khalifah keempat dalam Khulafaur Rasyidin dan termasuk salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling utama. Beliau merupakan sepupu Rasulullah SAW, orang pertama dari kalangan anak-anak yang masuk Islam, serta suami Fatimah Az-Zahra RA, putri Nabi Muhammad SAW. Sepanjang hidupnya, Ali dikenal sebagai sosok pemberani, ahli ilmu, hakim yang adil, dan pejuang yang selalu berada di garis depan dalam membela Islam. Ia turut serta dalam hampir seluruh peperangan besar pada masa Rasulullah SAW dan menjadi salah satu sahabat yang paling dipercaya. Namun, masa kekhalifahannya berlangsung dalam situasi yang sangat sulit. Konflik politik yang muncul setelah wafatnya Utsman bin Affan RA menyebabkan umat Islam terpecah ke dalam berbagai kelompok. Gejolak inilah yang akhirnya mengantarkan Ali bin Abi Thalib RA menuju akhir hayatnya. Ali wafat akibat luka parah setelah ditikam oleh seorang anggota Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Peristiwa ini bukan sekadar pembunuhan seorang pemimpin, tetapi juga menjadi salah satu titik penting dalam sejarah politik Islam. Info Belanja 100 Produk Terlaris di Shopee Minggu Ini # Situasi Umat Islam Setelah Wafatnya Utsman bin Affan RA Untuk memahami penyebab wafatnya Ali, kita perlu melihat kondisi dunia Islam setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan RA pada tahun 35 Hijriah (656 M). Pada masa akhir pemerintahan Utsman, muncul berbagai pemberontakan dari sejumlah wilayah. Sebagian pemberontak menuduh adanya penyimpangan dalam pemerintahan, meskipun banyak tuduhan tersebut dibantah oleh para sahabat. Pemberontak akhirnya mengepung rumah Utsman di Madinah selama beberapa minggu. Dalam kondisi sedang membaca Al-Qur’an, Utsman dibunuh secara tragis. Kematian Utsman menimbulkan guncangan besar dalam dunia Islam. Kaum Muslimin kemudian membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah baru. Namun persoalan tidak berhenti sampai di situ. Banyak pihak menuntut agar para pembunuh Utsman segera ditangkap dan dihukum. Sementara Ali menghadapi kenyataan bahwa para pemberontak masih tersebar dan memiliki kekuatan yang cukup besar. Ali memilih menstabilkan keadaan terlebih dahulu sebelum melakukan penegakan hukum terhadap para pelaku pembunuhan Utsman. Kebijakan ini menimbulkan perbedaan pandangan dengan sebagian sahabat. # Perang Jamal dan Awal Perpecahan Perbedaan pandangan mengenai penanganan kasus pembunuhan Utsman akhirnya memicu Perang Jamal pada tahun 36 Hijriah. Di satu pihak berdiri pasukan Khalifah Ali. Di pihak lain terdapat pasukan yang dipimpin oleh Aisyah RA, Thalhah bin Ubaidillah RA, dan Zubair bin Awwam RA. Tujuan utama kedua belah pihak sebenarnya bukan untuk saling memerangi, melainkan mencari penyelesaian terhadap krisis yang sedang terjadi. Namun provokasi pihak-pihak tertentu menyebabkan pertempuran tidak dapat dihindari. Perang Jamal berakhir dengan kemenangan pasukan Ali. Ali memperlakukan pihak lawan dengan penuh penghormatan. Aisyah RA bahkan dikawal kembali ke Madinah dengan penuh penghormatan dan keamanan. Meski demikian, peristiwa ini meninggalkan luka mendalam dan memperbesar perpecahan politik di tengah umat Islam. # Konflik dengan Muawiyah dan Perang Shiffin Tantangan terbesar berikutnya datang dari Muawiyah bin Abi Sufyan, gubernur Syam sekaligus kerabat dekat Utsman bin Affan. Muawiyah menuntut agar para pembunuh Utsman segera dihukum sebelum memberikan baiat kepada Ali. Karena tidak tercapai kesepakatan, kedua pihak akhirnya berhadapan dalam Perang Shiffin pada tahun 37 Hijriah (657 M). Pertempuran berlangsung sengit dan menelan banyak korban. Ketika pasukan Muawiyah mulai terdesak, muncul usulan untuk menyelesaikan konflik melalui tahkim (arbitrase atau mediasi). Sebagian besar pasukan Ali mendesak agar tawaran tersebut diterima. Ali sebenarnya memiliki sejumlah keberatan terhadap proses itu, tetapi akhirnya menyetujuinya demi menghindari pertumpahan darah yang lebih besar. Keputusan inilah yang kemudian melahirkan kelompok baru dalam sejarah Islam. # Munculnya Kelompok Khawarij Sebagian pendukung Ali merasa bahwa penerimaan tahkim merupakan kesalahan besar. Mereka berpendapat bahwa hukum hanya milik Allah dan tidak boleh diserahkan kepada keputusan manusia. Kelompok ini kemudian memisahkan diri dari pasukan Ali dan dikenal sebagai Khawarij. Mereka mengusung slogan: “La hukma illa lillah” “Tidak ada hukum selain hukum Allah.” Pada awalnya slogan tersebut tampak benar. Namun dalam praktiknya, sebagian kelompok Khawarij menafsirkan ajaran agama secara sangat keras dan ekstrem. Mereka mulai menganggap: Ali telah melakukan dosa besar. Muawiyah juga bersalah. Pendukung kedua pihak dianggap sesat. Kaum Muslimin yang berbeda pandangan dapat diperangi. Ali berusaha berdialog dengan mereka. Sebagian berhasil kembali ke jalan moderat, tetapi sebagian lainnya tetap mempertahankan sikap ekstrem. # Pertempuran Nahrawan Ketika kelompok Khawarij mulai melakukan berbagai tindakan kekerasan terhadap masyarakat, Ali terpaksa mengambil tindakan militer. Terjadilah Pertempuran Nahrawan pada tahun 38 Hijriah. Pasukan Khawarij mengalami kekalahan besar. Meskipun demikian, sebagian anggota mereka berhasil melarikan diri. Kekalahan di Nahrawan justru menumbuhkan dendam yang mendalam di kalangan kelompok Khawarij yang tersisa. Mereka menganggap Ali sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian rekan-rekan mereka. Dari sinilah lahir rencana pembunuhan terhadap Ali. # Konspirasi Pembunuhan Tiga Tokoh Besar Sejumlah riwayat sejarah menyebutkan bahwa tiga orang Khawarij berkumpul di Makkah dan bersepakat untuk membunuh tiga tokoh penting yang dianggap sebagai penyebab perpecahan umat. Target mereka adalah: Ali bin Abi Thalib di Kufah. Muawiyah bin Abi Sufyan di Damaskus. Amr bin Ash di Mesir. Tiga pelaksana dipilih: Abdurrahman bin Muljam al-Muradi. Al-Burak bin Abdullah. Amr bin Bakr. Mereka menentukan waktu pelaksanaan yang sama agar ketiga tokoh tersebut terbunuh secara serentak. Namun rencana itu tidak berjalan sesuai harapan. Muawiyah hanya mengalami luka dan berhasil selamat. Amr bin Ash tidak hadir mengimami shalat pada hari yang direncanakan sehingga target gagal. Hanya serangan terhadap Ali yang berhasil mencapai sasaran. # Siapa Abdurrahman bin Muljam? Abdurrahman bin Muljam berasal dari suku Murad dan dikenal sebagai salah seorang anggota Khawarij. Dalam banyak kitab sejarah disebutkan bahwa ia sangat membenci Ali setelah peristiwa Nahrawan. Beberapa riwayat juga menceritakan bahwa ia bertemu seorang wanita bernama Qatham binti Syajnah. Wanita tersebut kehilangan anggota keluarganya dalam perang melawan pasukan Ali. Ketika Ibnu Muljam melamarnya, Qatham meminta mahar yang tidak biasa, yaitu: Tiga ribu dirham. Seorang budak. Seorang pelayan. Pembunuhan terhadap Ali bin Abi Thalib. Riwayat ini disebutkan oleh sejumlah sejarawan klasik, meskipun detail-detailnya diperdebatkan oleh sebagian peneliti modern. # Kronologi Penikaman Ali bin Abi Thalib Pada malam 19 Ramadan tahun 40 Hijriah, Ibnu Muljam bersama beberapa rekannya menunggu kesempatan melaksanakan rencana mereka. Pedang yang akan digunakan telah diasah dan dilumuri racun selama beberapa waktu. Menjelang waktu Subuh, Ali keluar menuju Masjid Agung Kufah. Sebagaimana kebiasaannya, beliau membangunkan orang-orang untuk menunaikan shalat. Ketika memasuki area masjid, Ibnu Muljam segera menyerang. Pedang beracun itu menghantam kepala Ali dengan keras hingga menyebabkan luka yang sangat dalam. Menurut banyak riwayat, Ali mengucapkan: “Fuztu wa Rabbil Ka’bah.” “Demi Tuhan Ka’bah, aku telah beruntung.” Ucapan tersebut menunjukkan keyakinan beliau akan perjumpaan dengan Allah SWT. Para jamaah segera menangkap Ibnu Muljam. Sementara Ali dibawa pulang dalam kondisi terluka parah. # Hari-Hari Terakhir Sang Khalifah Setelah serangan itu, sejumlah tabib dipanggil untuk memeriksa kondisi Ali. Riwayat menyebutkan bahwa seorang tabib bernama Atsir bin Amr memeriksa luka tersebut dan menyimpulkan bahwa racun telah mencapai bagian tubuh yang sangat berbahaya. Peluang untuk sembuh sangat kecil. Dalam kondisi demikian, Ali tidak sibuk memikirkan dirinya sendiri. Beliau justru memberikan berbagai wasiat kepada keluarga dan kaum Muslimin. Di antara pesan-pesannya: Bertakwa kepada Allah dalam setiap keadaan. Menjaga persatuan umat Islam. Menegakkan keadilan. Memelihara shalat. Membantu anak yatim. Menjaga hubungan baik dengan sesama Muslim. Ali juga memberikan pesan khusus mengenai Ibnu Muljam. Beliau berkata bahwa jika dirinya wafat, pelaku boleh dihukum mati sebagai qishash, tetapi tidak boleh disiksa atau diperlakukan secara berlebihan. Ini menunjukkan betapa tingginya komitmen Ali terhadap prinsip keadilan. # Wafatnya Ali bin Abi Thalib RA Dua hari setelah penikaman, kondisi Ali semakin memburuk. Beliau akhirnya wafat pada tanggal 21 Ramadan 40 Hijriah, yang bertepatan dengan Januari 661 M. Usianya diperkirakan sekitar 63 tahun. Dengan wafatnya Ali, berakhirlah masa kepemimpinan salah satu tokoh terbesar dalam sejarah Islam. Putranya, Hasan bin Ali, kemudian dibaiat sebagai khalifah. Namun demi mengakhiri konflik berkepanjangan, Hasan memilih berdamai dengan Muawiyah beberapa bulan kemudian. Peristiwa ini dikenal sebagai “‘Am al-Jama’ah” atau Tahun Persatuan. # Dampak Wafatnya Ali bagi Sejarah Islam Wafatnya Ali memiliki dampak yang sangat besar. 1. Berakhirnya Era Khulafaur Rasyidin Ali adalah khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin. Setelah beliau wafat, sistem pemerintahan Islam memasuki fase baru di bawah Dinasti Umayyah. 2. Menguatnya Perpecahan Politik Perbedaan politik yang sebelumnya bersifat sementara berkembang menjadi berbagai kelompok yang bertahan dalam sejarah Islam. 3. Munculnya Tradisi Keilmuan tentang Kepemimpinan Peristiwa-peristiwa pada masa Ali menjadi bahan kajian penting dalam bidang sejarah, politik Islam, dan fikih siyasah. 4. Pelajaran tentang Bahaya Ekstremisme Tragedi ini menunjukkan bagaimana sikap fanatik dan pemahaman agama yang ekstrem dapat melahirkan kekerasan bahkan terhadap tokoh yang sangat mulia. # Hikmah dari Wafatnya Ali bin Abi Thalib RA Peristiwa syahidnya Ali mengandung banyak pelajaran berharga: # Menjaga Persatuan Lebih Sulit daripada Meraihnya Ali menghadapi masa yang penuh fitnah dan konflik. Namun beliau terus berusaha menjaga persatuan umat meskipun sering menghadapi penentangan. # Keadilan Harus Ditegakkan dalam Segala Keadaan Bahkan terhadap pembunuhnya sendiri, Ali tetap menuntut perlakuan yang adil. # Bahaya Pemahaman Agama yang Ekstrem Khawarij menjadi contoh bagaimana semangat beragama yang tidak diiringi pemahaman yang benar dapat berujung pada tindakan destruktif. # Keteguhan Iman Saat Menghadapi Kematian Ucapan dan sikap Ali menjelang wafatnya menunjukkan ketenangan hati seorang mukmin yang yakin kepada Allah SWT. # Penutup Ali bin Abi Thalib RA wafat akibat luka yang dideritanya setelah ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang anggota Khawarij, ketika hendak mengimami shalat Subuh di Masjid Kufah pada 19 Ramadan 40 Hijriah. Pedang beracun yang mengenai kepalanya menyebabkan luka fatal hingga beliau wafat dua hari kemudian, pada 21 Ramadan 40 Hijriah. Tragedi ini merupakan puncak dari gejolak politik yang berlangsung sejak wafatnya Utsman bin Affan RA. Meskipun demikian, Ali meninggalkan warisan yang sangat besar berupa ilmu, keteladanan, keberanian, keadilan, dan keteguhan dalam membela kebenaran. Hingga hari ini, nama Ali bin Abi Thalib tetap dikenang sebagai salah satu tokoh paling agung dalam sejarah Islam. # Daftar Pustaka Ath-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, Jilid VII–VIII. Ibnu Atsir, Al-Kamil fi at-Tarikh. Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’. Ibnu Hajar Al-Asqalani, Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Biografi Ali bin Abi Thalib RA. Dr. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum. Prof. Dr. Akram Dhiya Al-Umari, Ashr Al-Khilafah Ar-Rasyidah. — Arya Wiranegara Sejarah Islam Nabi Muhammad SAW Wafat karena Diracun oleh Perempuan Yahudi? Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Wafat karena Sakit Khalifah Umar bin Khattab Wafat Ditikam Saat Mengimami Shalat Subuh di Masjid Nabawi Khalifah Utsman bin Affan Wafat : Latar Belakang, Kronologi Pengepungan dan Syahidnya Khalifah Ali bin Abi Thalib Wafat : Latar Belakang Politik, Kronologi Penikaman, Hari-Hari Terakhir dan Dampaknya bagi Dunia Islam Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Cucu Nabi Muhammad SAW Wafat karena Diracun Sumber : https://adajuga.com/ali-bin-abi-thalib-wafat/ . Navigasi pos Khalifah Utsman bin Affan Wafat Dibunuh di Rumahnya oleh Para Pemberontak Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Cucu Nabi Muhammad SAW Wafat karena Diracun