Abdurrahman bin Muljam : Pembunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib

Wafatnya Khalifah Ali bin Abi Thalib merupakan salah satu peristiwa paling tragis dalam sejarah awal Islam. Ali bin Abi Thalib bukan hanya sepupu dan menantu Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga salah satu sahabat utama, orang pertama dari kalangan anak-anak yang memeluk Islam menurut banyak riwayat, serta khalifah keempat dalam tradisi Sunni dan Imam pertama dalam tradisi Syiah.

Ia wafat setelah diserang oleh Abdurrahman bin Muljam al-Muradi, seorang tokoh yang dikaitkan dengan kelompok Khawarij. Peristiwa ini terjadi pada tahun 40 H/661 M, setelah bertahun-tahun umat Islam mengalami konflik politik dan perang saudara yang dikenal sebagai al-Fitnah al-Kubra.

Kisah ini penting bukan hanya untuk memahami kematian Ali, tetapi juga untuk memahami bagaimana konflik politik, perbedaan penafsiran agama, fanatisme, dan ekstremisme dapat membawa seseorang kepada tindakan yang sangat tragis.


1. Siapa Abdurrahman bin Muljam?

Abdurrahman bin Muljam al-Muradi dikenal dalam sumber-sumber sejarah Islam sebagai orang yang melakukan serangan terhadap Ali bin Abi Thalib yang kemudian menyebabkan wafatnya sang khalifah.

Informasi tentang kehidupan awal Ibn Muljam tidak sebanyak informasi tentang peristiwa pembunuhan Ali. Sumber-sumber sejarah kemudian menggambarkannya sebagai seorang yang memiliki reputasi dalam ibadah dan membaca Al-Qur’an, tetapi kemudian bergabung dengan kelompok Khawarij.

Di sinilah terdapat pelajaran sejarah yang sangat penting: kesalehan lahiriah tidak selalu menjamin seseorang memiliki pemahaman agama yang benar atau akhlak yang baik. Dalam literatur sejarah Islam, tragedi Ibn Muljam sering dipahami sebagai contoh bagaimana pemahaman agama yang ekstrem dapat membawa seseorang kepada tindakan kekerasan.

Namun, perlu dicatat bahwa detail mengenai kehidupan pribadi Ibn Muljam dan motif psikologisnya berasal dari sumber-sumber sejarah yang ditulis pada masa setelah peristiwa tersebut. Karena itu, detail tertentu harus dibaca secara kritis dan tidak semuanya memiliki tingkat kepastian yang sama.


2. Latar belakang: Konflik antara Ali dan Khawarij

Untuk memahami mengapa Ibn Muljam membunuh Ali, kita perlu melihat situasi politik pada masa pemerintahan Ali.

Setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 35 H/656 M, Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah. Namun, pemerintahannya menghadapi situasi yang sangat sulit.

Umat Islam terpecah oleh berbagai persoalan politik. Terjadi beberapa konflik besar, di antaranya:

  • Perang Jamal pada tahun 36 H/656 M.
  • Konflik Ali dengan Muawiyah bin Abi Sufyan.
  • Perang Shiffin pada tahun 37 H/657 M.
  • Peristiwa tahkim atau arbitrase setelah Perang Shiffin.
  • Pemberontakan kelompok Khawarij.
  • Perang Nahrawan pada tahun 38 H/658 M.

Perang Shiffin menjadi salah satu titik penting.

Ketika pasukan Ali dan Muawiyah berhadapan, muncul keputusan untuk menyelesaikan konflik melalui tahkim, yaitu arbitrase. Sebagian pendukung Ali menolak keputusan tersebut dan menganggap bahwa persoalan hukum dan kepemimpinan harus dikembalikan langsung kepada Allah.

Dari kelompok inilah kemudian berkembang kelompok yang dikenal sebagai Khawarij.

Mereka mengangkat slogan:

“La hukma illa lillah”
“Tidak ada hukum kecuali milik Allah.”

Menurut mereka, menerima arbitrase manusia dalam persoalan tersebut merupakan kesalahan besar.

Ali kemudian berusaha menghadapi pemberontakan mereka. Konflik tersebut mencapai puncaknya dalam Perang Nahrawan, di mana pasukan Ali mengalahkan Khawarij.

Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu alasan utama kebencian sebagian Khawarij terhadap Ali.

Kajian akademik mengenai Tarikh al-Tabari menunjukkan bahwa narasi mengenai pembunuhan Ali merupakan bagian penting dari sejarah konflik politik dan keagamaan pada periode tersebut. Al-Tabari sendiri mengumpulkan berbagai laporan dari sumber-sumber terdahulu, termasuk materi yang dinisbatkan kepada Abu Mikhnaf. Karena itu, karya al-Tabari sangat penting untuk penelitian sejarah, tetapi setiap riwayat di dalamnya tetap perlu dianalisis berdasarkan sanad, isi, dan perbandingan dengan sumber lain.


3. Rencana pembunuhan terhadap tiga tokoh

Dalam sejumlah sumber sejarah, terdapat kisah bahwa setelah Perang Nahrawan, sebagian Khawarij merencanakan pembunuhan terhadap tiga tokoh yang mereka anggap bertanggung jawab atas perpecahan umat Islam.

Tiga tokoh tersebut adalah:

  1. Ali bin Abi Thalib di Kufah.
  2. Muawiyah bin Abi Sufyan di Syam.
  3. Amr bin al-Ash di Mesir.

Menurut kisah yang populer dalam literatur sejarah, Ibn Muljam ditugaskan untuk membunuh Ali.

Sementara itu, dua orang lainnya ditugaskan untuk membunuh Muawiyah dan Amr bin al-Ash.

Rencana tersebut menunjukkan bagaimana sebagian kelompok ekstrem pada masa itu melihat pembunuhan politik sebagai jalan untuk menyelesaikan konflik.

Dalam narasi sejarah yang dinisbatkan kepada al-Tabari dan kemudian dikutip oleh karya-karya sejarah lain, serangan terhadap ketiga tokoh tersebut dikaitkan dengan latar belakang konflik Khawarij setelah Nahrawan. Namun, rincian cerita tentang koordinasi ketiga pembunuh tersebut tidak semuanya berada pada tingkat kepastian historis yang sama dan sebaiknya dibedakan antara fakta yang kuat dan detail naratif yang berkembang dalam historiografi kemudian.


4. Ibn Muljam menuju Kufah

Menurut riwayat sejarah yang berkembang, Ibn Muljam kemudian menuju Kufah untuk melaksanakan rencananya.

Dalam beberapa versi cerita, ia kemudian berhubungan dengan orang-orang di Kufah dan merencanakan serangan terhadap Ali.

Ada pula kisah populer mengenai seorang perempuan bernama Qutam binti Syajnah, yang disebut-sebut memiliki hubungan dengan rencana pembunuhan tersebut. Dalam sebagian riwayat, Qutam dikisahkan memiliki dendam karena keluarganya terbunuh dalam Perang Nahrawan dan kemudian meminta mahar berupa pembunuhan Ali.

Namun, kisah tentang Qutam dan perannya dalam pembunuhan Ali harus diperlakukan dengan hati-hati. Cerita tersebut muncul dalam sejumlah karya sejarah dan menjadi bagian dari narasi populer, tetapi rincian mengenai hubungan pribadi dan motif tersebut tidak dapat dipastikan dengan tingkat kepastian yang sama seperti fakta utama bahwa Ali diserang dan kemudian wafat akibat luka tersebut.

Karena itu, dalam penulisan sejarah yang kritis, kita perlu membedakan:

Fakta utama:
Ali diserang oleh Ibn Muljam dan kemudian wafat akibat luka tersebut.

Detail yang perlu diverifikasi:
Motivasi pribadi Ibn Muljam, peran Qutam, percakapan tertentu, serta berbagai rincian dramatis yang terdapat dalam sebagian riwayat.


5. Serangan terhadap Ali bin Abi Thalib

Peristiwa tragis itu terjadi di Kufah, yang pada saat itu menjadi pusat pemerintahan Ali.

Riwayat sejarah menyebutkan bahwa Ibn Muljam menyerang Ali dengan pedang ketika Ali menuju atau berada di Masjid Kufah untuk melaksanakan salat Subuh.

Dalam tradisi sejarah yang paling umum, Ali terkena sabetan pedang di bagian kepala.

Serangan itu menyebabkan luka yang sangat parah.

Riwayat yang berbeda memberikan detail yang tidak selalu sama mengenai tanggal tepat serangan dan tanggal wafatnya. Yang paling umum menyebutkan bahwa Ali diserang pada 19 Ramadan 40 H dan kemudian wafat pada 21 Ramadan 40 H. Namun, terdapat pula perbedaan dalam sumber-sumber sejarah mengenai tanggal dan konversi kalender Masehi. Sebuah penelitian akademik mengenai perbedaan tanggal wafat Ali menunjukkan adanya variasi data dalam sumber sejarah dan hasil konversi kalender.

Yang relatif disepakati dalam tradisi sejarah adalah bahwa Ali mengalami luka parah akibat serangan Ibn Muljam dan meninggal beberapa waktu setelah serangan tersebut.


6. Hari-hari terakhir Khalifah Ali

Setelah terluka, kondisi Ali semakin memburuk.

Dalam berbagai riwayat sejarah, Ali digambarkan menyadari bahwa luka yang dideritanya sangat serius.

Ia kemudian memberikan pesan kepada keluarganya dan orang-orang di sekitarnya.

Salah satu pesan moral yang sering dikaitkan dengan masa-masa terakhir Ali adalah pentingnya ketakwaan kepada Allah, menjaga salat, memperhatikan kaum miskin, dan tidak membalas kejahatan dengan tindakan yang melampaui batas.

Dalam riwayat-riwayat yang berkembang, Ali juga memberikan pesan agar Ibn Muljam tidak disiksa secara berlebihan sebelum dijatuhi hukuman.

Hal ini sangat menarik secara moral.

Ali adalah korban serangan. Namun, dalam banyak tradisi yang menceritakan hari-hari terakhirnya, ia tetap menekankan prinsip keadilan dan tidak menghendaki tindakan balas dendam yang tidak terkendali.

Pesan tersebut mencerminkan salah satu prinsip penting dalam etika Islam: keadilan tidak boleh berubah menjadi pembalasan yang melampaui batas.


7. Wafatnya Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib akhirnya wafat pada tahun 40 H/661 M.

Dengan wafatnya Ali, berakhirlah masa kepemimpinan empat khalifah yang secara tradisional dikenal dalam Sunni sebagai Khulafaur Rasyidin:

  1. Abu Bakar ash-Shiddiq.
  2. Umar bin al-Khattab.
  3. Utsman bin Affan.
  4. Ali bin Abi Thalib.

Bagi tradisi Syiah, wafatnya Ali juga merupakan peristiwa yang sangat penting karena Ali dipandang sebagai Imam pertama dan figur sentral dalam sejarah Ahlul Bait.

Dengan demikian, peristiwa wafatnya Ali memiliki makna yang berbeda dalam tradisi Sunni dan Syiah, tetapi keduanya sama-sama memandang Ali sebagai tokoh yang sangat penting dalam sejarah Islam.


8. Apa yang terjadi kepada Ibn Muljam?

Setelah Ali wafat, Ibn Muljam ditangkap.

Dalam sumber-sumber sejarah Islam, ia kemudian dihukum mati.

Riwayat mengenai cara eksekusinya memiliki beberapa variasi. Namun, inti ceritanya adalah bahwa Ibn Muljam menerima hukuman atas pembunuhan terhadap Ali.

Dalam sejumlah sumber, hukuman tersebut dikaitkan dengan keputusan atau pelaksanaan oleh Hasan bin Ali, putra Ali.

Kisah ini kemudian menjadi simbol kuat dalam sejarah Islam tentang konsekuensi tindakan kekerasan politik dan ekstremisme.


9. Apakah Ibn Muljam seorang Khawarij?

Secara umum, sumber-sumber sejarah mengaitkan Ibn Muljam dengan Khawarij.

Namun, ada hal yang perlu dipahami.

“Khawarij” bukanlah satu kelompok yang selalu memiliki struktur organisasi tunggal. Pada masa awalnya terdapat berbagai kelompok dan faksi yang memiliki perbedaan pandangan.

Karena itu, ketika kita mengatakan Ibn Muljam adalah seorang Khawarij, maksudnya adalah ia dikaitkan dengan lingkungan dan ideologi Khawarij yang menentang Ali, khususnya setelah konflik Shiffin dan Perang Nahrawan.

Hal ini tidak berarti bahwa setiap orang yang disebut Khawarij memiliki peran langsung dalam pembunuhan Ali.

Sejarah menunjukkan bahwa gerakan Khawarij memiliki perkembangan yang kompleks dan terdiri atas kelompok-kelompok dengan pandangan yang berbeda.


10. Mengapa Ibn Muljam membunuh Ali?

Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan tindakan Ibn Muljam menurut sumber-sumber sejarah:

Pertama: Konflik politik

Ali berada dalam konflik politik besar dengan Muawiyah dan berbagai kelompok lainnya.

Perang saudara membuat persatuan umat Islam mengalami keretakan.

Kedua: Konflik pasca-tahkim

Sebagian pendukung Ali menganggap keputusan menerima arbitrase dalam konflik dengan Muawiyah sebagai kesalahan.

Dari sinilah muncul kelompok yang kemudian dikenal sebagai Khawarij.

Ketiga: Perang Nahrawan

Khawarij mengalami kekalahan dalam perang melawan Ali.

Kematian anggota kelompok mereka kemudian menjadi sumber kebencian dan dendam.

Keempat: Ideologi ekstrem

Sebagian Khawarij mengembangkan pandangan bahwa orang yang dianggap melakukan dosa besar atau kesalahan politik tertentu dapat dianggap keluar dari agama.

Dalam konteks inilah Ali kemudian dianggap oleh kelompok ekstrem sebagai pihak yang harus disingkirkan.

Kelima: Fanatisme

Fanatisme membuat persoalan politik berubah menjadi persoalan “iman versus kekafiran”.

Ketika lawan politik dianggap sebagai musuh agama, kekerasan dapat dengan mudah dianggap sebagai tindakan yang dibenarkan.

Inilah salah satu pelajaran terpenting dari tragedi Ibn Muljam.


11. Apakah Ali mengetahui bahwa ia akan dibunuh?

Dalam literatur Islam terdapat berbagai riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ pernah memberi tahu Ali mengenai kematiannya atau bahwa Ali akan terbunuh.

Namun, riwayat-riwayat tersebut memiliki status dan jalur transmisi yang beragam.

Karena itu, kita perlu membedakan antara:

  • Riwayat yang diterima oleh tradisi tertentu.
  • Riwayat yang diperdebatkan kualitas sanadnya.
  • Cerita sejarah yang muncul dalam karya-karya kemudian.

Dalam kajian akademik, kisah pembunuhan Ali merupakan bagian dari tradisi historiografi yang kompleks. Al-Tabari, misalnya, menyajikan sejumlah laporan dari sumber-sumber terdahulu, tetapi metode sejarah modern menuntut peneliti untuk membandingkan berbagai jalur dan versi laporan tersebut.


12. Dampak wafatnya Ali terhadap sejarah Islam

Wafatnya Ali membawa dampak yang sangat besar.

Setelah Ali wafat, putranya, Hasan bin Ali, dibaiat oleh sebagian masyarakat sebagai khalifah.

Namun, Hasan kemudian membuat perjanjian dengan Muawiyah untuk mengakhiri konflik bersenjata.

Peristiwa ini kemudian membuka jalan bagi berdirinya pemerintahan Bani Umayyah.

Dengan demikian, pembunuhan Ali bukan hanya tragedi personal, tetapi juga menjadi salah satu titik balik terbesar dalam sejarah politik Islam.

Jika kita melihat sejarah secara lebih luas, rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan perubahan dari:

Masa Khulafaur Rasyidin → konflik internal umat → konsolidasi kekuasaan Bani Umayyah.


13. Pelajaran penting dari tragedi Ibn Muljam dan Ali

Ada beberapa pelajaran besar yang dapat diambil.

1. Fanatisme dapat menghancurkan akal sehat

Ibn Muljam mungkin merasa bahwa tindakannya adalah bagian dari perjuangan agama.

Namun, keyakinan yang ekstrem dapat membuat seseorang membenarkan tindakan yang secara moral sangat buruk.

2. Perbedaan politik jangan mudah diubah menjadi permusuhan agama

Perbedaan pendapat politik adalah sesuatu yang dapat terjadi dalam masyarakat.

Namun, ketika lawan politik dianggap sebagai musuh Tuhan, ruang dialog dan perdamaian menjadi semakin sempit.

3. Kesalehan tidak cukup tanpa pemahaman

Seseorang dapat terlihat rajin beribadah, tetapi tetap melakukan kesalahan besar jika pemahamannya terhadap agama tidak disertai ilmu, kebijaksanaan, dan akhlak.

4. Konflik internal dapat lebih berbahaya daripada musuh eksternal

Perang saudara meninggalkan luka yang panjang.

Ali menghadapi konflik bukan hanya dengan pihak luar, tetapi juga dengan orang-orang yang sebelumnya berada dalam lingkungan umat Islam sendiri.

5. Sejarah harus dipelajari secara kritis

Kisah Ali dan Ibn Muljam memiliki banyak versi.

Ada bagian yang sangat kuat secara historis, tetapi ada pula cerita yang berkembang kemudian.

Karena itu, pembaca sebaiknya membedakan antara:

fakta sejarah utama, riwayat keagamaan, dan cerita populer.

6. Kekerasan atas nama agama adalah tragedi

Salah satu ironi terbesar dari sejarah ini adalah bahwa Ibn Muljam menganggap dirinya melakukan sesuatu yang benar secara agama, tetapi tindakannya justru menghasilkan salah satu tragedi terbesar dalam sejarah umat Islam.


# Kesimpulan

Abdurrahman bin Muljam dikenang dalam sejarah Islam terutama karena perannya dalam pembunuhan Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat dan salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Islam.

Tindakan tersebut tidak dapat dilepaskan dari konteks Fitnah Kubra, Perang Shiffin, peristiwa tahkim, munculnya Khawarij, dan Perang Nahrawan.

Pada tahun 40 H/661 M, Ibn Muljam menyerang Ali di Kufah. Ali mengalami luka parah dan kemudian wafat. Ibn Muljam akhirnya ditangkap dan dihukum mati.

Peristiwa ini menjadi titik penting dalam sejarah Islam karena menandai berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin sekaligus memperlihatkan betapa berbahayanya fanatisme dan ekstremisme ketika perbedaan politik dan agama tidak lagi diselesaikan melalui dialog.

Yang paling penting untuk dipahami adalah bahwa sejarah ini bukan sekadar kisah tentang siapa yang membunuh Ali, tetapi juga kisah tentang bagaimana sebuah masyarakat dapat terpecah ketika konflik politik berubah menjadi fanatisme agama, dan bagaimana sebuah perbedaan yang tidak dikelola dengan bijaksana dapat berujung pada tragedi yang dampaknya terasa berabad-abad kemudian.


# Sumber rujukan utama

  1. Muhammad ibn Jarir al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (The History of al-Tabari), khususnya volume yang membahas periode Perang Shiffin, Khawarij, hingga wafatnya Ali. Edisi akademik modern menunjukkan bahwa al-Tabari menghimpun materi dari sejumlah sumber terdahulu, termasuk laporan yang dinisbatkan kepada Abu Mikhnaf.
  2. Ibn Kathir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, bagian sejarah Ali bin Abi Thalib dan peristiwa tahun 40 H.
  3. Ibn al-Athir, Al-Kamil fi al-Tarikh, bagian sejarah tahun 40 H.
  4. Ibn Abi al-Hadid, Sharh Nahj al-Balaghah, yang memuat pembahasan panjang mengenai kehidupan Ali, konflik politik pada masanya, dan peristiwa pembunuhannya.
  5. Wilferd Madelung, The Succession to Muhammad: A Study of the Early Caliphate (Cambridge University Press), sebagai kajian modern mengenai politik dan konflik suksesi pada periode awal Islam.
  6. Mariam Saeed El Ali, kajian akademik Revisiting al-Tabari on Maqtal ‘Ali ibn Abi Talib, yang secara khusus menelaah narasi al-Tabari mengenai pembunuhan Ali serta konteks historiografis dan moral dari laporan tersebut.

— Arya Wiranegara 

Sejarah Islam 

Sumber : https://adajuga.com/abdurrahman-bin-muljam/

.