Surat-Surat Nabi Muhammad SAW kepada Raja-Raja dan Para Penguasa Dunia

Sejarah Surat, Teks, Terjemahan, Latar Belakang dan Hikmah Diplomasi Islam 

Setelah Islam mulai berkembang pesat, terutama setelah Perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 H (628 M), Nabi Muhammad SAW tidak hanya berdakwah kepada masyarakat Arab, tetapi juga mengirimkan surat kepada para raja, penguasa, dan pemimpin berbagai wilayah. Surat-surat tersebut merupakan bagian dari dakwah Islam yang mengajak manusia untuk menyembah Allah SWT semata dan meninggalkan kemusyrikan.

Dalam sejarah Islam, para ulama sirah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW mengirim puluhan surat kepada berbagai penguasa. Sebagian teks surat masih diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis dan sejarah, sementara sebagian lainnya hanya diketahui keberadaannya melalui riwayat para sejarawan.

Info Belanja 100 Produk Terlaris di Shopee Minggu Ini

Surat Nabi Muhammad SAW

  1. Diplomasi Nabi Muhammad SAW dalam Dakwah Islam
  2. Tata Cara Penulisan Surat Nabi Muhammad SAW
  3. Surat kepada Heraklius (Kaisar Romawi Timur)
  4. Surat kepada Kisra (Khosrow II) Raja Persia
  5. Surat kepada Muqauqis, Penguasa Mesir
  6. Surat kepada Najasyi Raja Habasyah
  7. Surat kepada Al-Mundzir bin Sawa, Penguasa Bahrain
  8. Surat kepada Jaifar dan Abbad bin Al-Julanda, Penguasa Oman
  9. Surat kepada Haudzah bin Ali, Penguasa Yamamah
  10. Surat kepada Al-Harits bin Abi Syamir Al-Ghassani
  11. Surat kepada Raja-Raja Himyar (Yaman)
  12. Surat kepada Penduduk Najran
  13. Surat kepada Musailamah al-Kadzdzab
  14. Surat kepada Para Gubernur, Amil Zakat dan Para Sahabat
  15. Analisis Diplomasi Nabi Muhammad SAW
  16. Daftar Utusan, Surat, Manuskrip, Kronologi dan Peta Penerima 

Latar Belakang Pengiriman Surat

Pada tahun 6 H, kaum Muslimin menandatangani Perjanjian Hudaibiyah dengan kaum Quraisy. Perjanjian ini menciptakan suasana damai sehingga Nabi Muhammad SAW dapat memperluas dakwah ke luar Jazirah Arab.

Beliau kemudian mengutus para sahabat sebagai duta resmi untuk membawa surat kepada berbagai kerajaan besar di dunia saat itu.

Tujuan surat-surat tersebut antara lain:

  • Mengajak manusia kepada tauhid.
  • Menyampaikan risalah Islam kepada bangsa lain.
  • Menjalin hubungan diplomatik.
  • Memberi kesempatan kepada para pemimpin menerima Islam.
  • Menegakkan hujjah (argumentasi) sebelum terjadinya peperangan.

Ciri-Ciri Surat Nabi Muhammad SAW

Sebagian besar surat memiliki pola yang hampir sama.

Pembuka surat biasanya berbunyi:

Bismillahirrahmanirrahim.

Kemudian dilanjutkan dengan:

Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya kepada…

Isi utama surat:

  • Ajakan memeluk Islam.
  • Janji memperoleh pahala dua kali bagi Ahli Kitab yang masuk Islam.
  • Peringatan apabila menolak dakwah.
  • Penutup dengan ayat Al-Qur’an atau doa.

Surat-surat Nabi juga menggunakan cincin stempel bertuliskan:

محمد رسول الله

(Muhammad Rasulullah)

Stempel ini dibuat karena Raja Persia tidak menerima surat tanpa cap resmi.


Daftar Surat Nabi Muhammad SAW kepada Para Raja dan Penguasa

1. Surat kepada Heraklius (Kaisar Romawi Timur)

Utusan:
Dihyah bin Khalifah al-Kalbi.

Tujuan:
Mengajak Kaisar Romawi Timur memeluk Islam.

Isi pokok:

  • Masuk Islam.
  • Akan memperoleh pahala dua kali.
  • Jika menolak maka menanggung dosa rakyatnya.

Heraklius menghormati surat tersebut dan bahkan memanggil Abu Sufyan untuk menanyakan tentang Nabi Muhammad SAW. Namun akhirnya ia tidak memeluk Islam karena khawatir kehilangan kekuasaan.


2. Surat kepada Kisra (Khosrow II), Raja Persia

Utusan:
Abdullah bin Hudhafah as-Sahmi.

Reaksi:

Kisra marah karena nama Nabi ditulis lebih dahulu daripada namanya.

Ia merobek surat tersebut.

Ketika Nabi mengetahui hal itu, beliau berdoa agar kerajaannya dihancurkan.

Tidak lama kemudian Kisra dibunuh oleh putranya sendiri dan Kekaisaran Persia akhirnya runtuh beberapa dekade kemudian.


3. Surat kepada Muqauqis, Penguasa Mesir

Utusan:
Hatib bin Abi Balta’ah.

Muqauqis tidak masuk Islam.

Namun ia menghormati utusan Nabi dan mengirim hadiah berupa:

  • Maria al-Qibthiyyah.
  • Sirin.
  • Seekor bagal bernama Duldul.
  • Keledai.
  • Pakaian.
  • Madu.

Maria kemudian menjadi istri Nabi Muhammad SAW dan melahirkan Ibrahim.


4. Surat kepada Najasyi (Raja Habasyah)

Utusan:
Amr bin Umayyah ad-Dhamri.

Najasyi dikenal sebagai raja yang melindungi kaum Muslimin yang hijrah ke Habasyah.

Menurut banyak riwayat, Najasyi menerima Islam secara sembunyi-sembunyi.

Ketika wafat, Nabi Muhammad SAW melaksanakan salat gaib untuknya.


5. Surat kepada Al-Harits bin Abi Syamir al-Ghassani

Penguasa Syam yang berada di bawah Bizantium.

Reaksinya sangat keras.

Ia bahkan berniat menyerang Madinah.

Peristiwa inilah yang menjadi salah satu faktor yang mengarah pada Perang Mu’tah.


6. Surat kepada Al-Mundzir bin Sawa

Penguasa Bahrain.

Ia menerima Islam.

Sebagian besar rakyat Bahrain kemudian memeluk Islam.


7. Surat kepada Haudzah bin Ali

Penguasa Yamamah.

Ia meminta sebagian kekuasaan apabila masuk Islam.

Nabi Muhammad SAW menolak permintaannya.

Haudzah akhirnya tidak masuk Islam.


8. Surat kepada Jaifar dan Abbad bin Al-Julanda

Penguasa Oman.

Utusan:
Amr bin Ash.

Kedua penguasa tersebut menerima Islam.

Masyarakat Oman kemudian memeluk Islam secara bertahap.


9. Surat kepada Al-Harits al-Himyari

Penguasa Yaman.

Ia menerima dakwah Islam.


10. Surat kepada Raja Himyar

Isi surat menjelaskan hukum-hukum Islam, zakat, dan kewajiban agama.

Mereka akhirnya menerima Islam.


11. Surat kepada Penduduk Najran

Berisi:

  • Perlindungan bagi kaum Nasrani.
  • Kebebasan beribadah.
  • Hak-hak mereka sebagai warga negara Islam.

Surat ini menjadi salah satu contoh awal perjanjian perlindungan terhadap komunitas non-Muslim.


12. Surat kepada Bani Hanifah

Mengajak mereka memeluk Islam.

Sebagian menerima Islam, namun kemudian muncul Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku sebagai nabi.


13. Surat kepada Musailamah al-Kadzdzab

Musailamah pernah mengirim surat kepada Nabi dengan mengklaim bahwa kenabian dibagi antara dirinya dan Muhammad SAW.

Nabi membalas:

“Dari Muhammad Rasulullah kepada Musailamah si pendusta…”

Beliau menegaskan bahwa bumi adalah milik Allah dan diwariskan kepada siapa yang Dia kehendaki.


14. Surat kepada Penduduk Yaman

Berisi:

  • Tata cara zakat.
  • Hukum sedekah.
  • Kewajiban kaum Muslimin.
  • Larangan riba.

Surat ini menjadi salah satu dokumen administrasi Islam paling awal.


15. Surat kepada Para Gubernur dan Amil

Selain kepada raja-raja, Nabi juga mengirim surat kepada:

  • Mu’adz bin Jabal.
  • Ali bin Abi Thalib.
  • Khalid bin Walid.
  • Abu Musa al-Asy’ari.
  • Amr bin Hazm.

Isi surat berkaitan dengan:

  • Zakat.
  • Hukum pidana.
  • Pernikahan.
  • Warisan.
  • Peradilan.
  • Dakwah.

Bahasa yang Digunakan

Mayoritas surat Nabi ditulis dalam bahasa Arab.

Para utusan menjelaskan isi surat kepada para penerima melalui penerjemah apabila diperlukan.


Penulis Wahyu dan Surat Nabi

Nabi Muhammad SAW memiliki beberapa sahabat yang bertugas sebagai penulis, antara lain:

  • Zaid bin Tsabit
  • Ubay bin Ka’ab
  • Ali bin Abi Thalib
  • Mu’awiyah bin Abi Sufyan
  • Khalid bin Sa’id
  • Abdullah bin Rawahah
  • Tsabit bin Qais

Mereka menuliskan wahyu, surat diplomatik, perjanjian, dan berbagai dokumen resmi atas perintah Nabi.


Pengaruh Surat-Surat Nabi

Pengiriman surat-surat tersebut memiliki dampak besar terhadap perkembangan Islam, antara lain:

  • Dakwah Islam dikenal di luar Jazirah Arab.
  • Terjalin hubungan diplomatik dengan berbagai kerajaan.
  • Menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang bersifat universal.
  • Membuka jalan bagi masuknya berbagai wilayah ke dalam Islam.
  • Menjadi contoh awal diplomasi dalam sejarah Islam.

Kesimpulan

Surat-surat Nabi Muhammad SAW merupakan bagian penting dari strategi dakwah dan diplomasi Islam. Melalui surat-surat tersebut, beliau mengajak para raja, penguasa, dan masyarakat berbagai negeri untuk mengenal Islam dengan cara yang damai, santun, dan penuh hikmah. Sebagian penguasa menerima ajakan tersebut, sebagian menolak, dan sebagian lainnya memilih bersikap netral. Terlepas dari perbedaan respons itu, surat-surat Nabi menjadi bukti bahwa risalah Islam ditujukan untuk seluruh umat manusia, tidak terbatas pada bangsa Arab semata.

Referensi

  1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah.
  2. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah.
  3. Imam ath-Thabari, Tarikh ar-Rusul wal Muluk.
  4. Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Raheeq Al-Makhtum (Sirah Nabawiyah).
  5. Dr. Akram Dhiya’ al-‘Umari, As-Sirah an-Nabawiyyah ash-Shahihah.
  6. Shahih al-Bukhari, Kitab Bad’ al-Wahy dan Kitab al-Maghazi.
  7. Shahih Muslim, Kitab al-Jihad was Siyar.
  8. Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam, Kitab al-Amwal.
  9. Muhammad Hamidullah, Majmu’at al-Watsa’iq as-Siyasiyyah lil ‘Ahd an-Nabawi wal Khilafah ar-Rasyidah (Kumpulan Dokumen Politik pada Masa Nabi dan Khulafaur Rasyidin).

— Arya Wiranegara

Sumber : https://adajuga.com/surat-nabi-muhammad/

.