Surat Nabi Muhammad SAW kepada Najasyi Raja Habasyah

Di antara seluruh surat yang dikirim Nabi Muhammad ﷺ kepada para penguasa dunia, surat kepada Najasyi, Raja Habasyah (Abyssinia/Ethiopia), memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Berbeda dengan sebagian besar penguasa lainnya, Najasyi telah menjalin hubungan baik dengan kaum Muslimin sejak masa awal dakwah Islam di Makkah.

Habasyah menjadi negeri pertama yang memberikan perlindungan kepada kaum Muslimin yang mengalami penindasan dari kaum Quraisy. Oleh karena itu, hubungan Rasulullah ﷺ dengan Najasyi bukan sekadar hubungan diplomatik, melainkan juga hubungan yang dibangun atas dasar keadilan, saling menghormati, dan penghargaan terhadap kebebasan beragama.

Surat Rasulullah ﷺ kepada Najasyi menjadi kelanjutan dari hubungan baik tersebut, sekaligus ajakan agar sang raja menerima Islam sebagai agama yang menyempurnakan risalah para nabi terdahulu.


A. Mengenal Najasyi

Najasyi bukanlah nama pribadi, melainkan gelar bagi raja-raja Kerajaan Aksum (Habasyah), sebagaimana gelar “Kaisar” bagi Romawi atau “Kisra” bagi Persia.

Mayoritas ulama sejarah berpendapat bahwa Najasyi yang menerima surat Rasulullah ﷺ adalah:

Ashhamah bin Abjar (Aṣḥamah ibn Abjar).

Beliau memerintah Kerajaan Aksum yang meliputi sebagian wilayah Ethiopia dan Eritrea saat ini.

Kerajaan Habasyah merupakan salah satu kerajaan besar di Afrika Timur dan telah lama menjalin hubungan perdagangan dengan Jazirah Arab. Sebagian besar penduduknya beragama Kristen.

Najasyi dikenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana. Bahkan sebelum menerima surat Rasulullah ﷺ, beliau telah memberikan perlindungan kepada kaum Muslimin yang berhijrah ke negerinya.


B. Hubungan Nabi Muhammad ﷺ dengan Habasyah

Hubungan Rasulullah ﷺ dengan Habasyah dimulai jauh sebelum pengiriman surat diplomatik.

1. Hijrah Pertama ke Habasyah

Pada tahun kelima kenabian, tekanan dan penyiksaan kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin semakin berat.

Melihat kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya kalian pergi ke negeri Habasyah. Di sana ada seorang raja yang tidak menzalimi seorang pun. Negeri itu adalah negeri yang penuh kejujuran hingga Allah memberikan jalan keluar bagi kalian.”

Atas anjuran tersebut, sekitar sebelas laki-laki dan empat perempuan berhijrah ke Habasyah.

Beberapa waktu kemudian disusul rombongan kedua sehingga jumlah kaum Muslimin yang berhijrah mencapai sekitar delapan puluh orang, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.


2. Perlindungan dari Najasyi

Kaum Quraisy tidak tinggal diam. Mereka mengirim Amr bin al-Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah untuk meminta Najasyi menyerahkan kaum Muslimin kepada mereka.

Najasyi menolak memenuhi permintaan tersebut sebelum mendengar langsung penjelasan dari kaum Muslimin.

Ja’far bin Abi Thalib RA mewakili kaum Muslimin berbicara di hadapan Najasyi. Ia menjelaskan keadaan bangsa Arab sebelum Islam, misi Nabi Muhammad ﷺ, serta membacakan ayat-ayat dari Surah Maryam tentang kelahiran Nabi Isa AS.

Mendengar bacaan tersebut, Najasyi dan para uskup menangis. Najasyi berkata:

“Sesungguhnya apa yang dibawa oleh Muhammad dan apa yang dibawa oleh Isa berasal dari satu sumber cahaya.”

Beliau kemudian menolak permintaan Quraisy dan tetap memberikan perlindungan kepada kaum Muslimin.

Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah hubungan Islam dengan Habasyah.


C. Latar Belakang Pengiriman Surat

Setelah Perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriah (628 M), Rasulullah ﷺ mengirim surat kepada berbagai penguasa dunia.

Untuk Najasyi, Rasulullah ﷺ menunjuk Amr bin Umayyah ad-Dhamri RA sebagai utusan.

Surat tersebut merupakan ajakan resmi kepada Islam, sekaligus penguatan hubungan persahabatan yang telah terjalin sejak hijrah kaum Muslimin ke Habasyah.


D. Teks Surat Nabi Muhammad ﷺ kepada Najasyi

Dalam kitab-kitab sirah terdapat beberapa redaksi yang sedikit berbeda. Salah satu redaksi yang paling masyhur adalah sebagai berikut.

Teks Arab

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ إِلَى النَّجَاشِيِّ عَظِيمِ الْحَبَشَةِ

سَلَامٌ عَلَيْكَ، فَإِنِّي أَحْمَدُ إِلَيْكَ اللَّهَ الْمَلِكَ الْقُدُّوسَ السَّلَامَ الْمُؤْمِنَ الْمُهَيْمِنَ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رُوحُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ الْبَتُولِ الطَّيِّبَةِ، فَحَمَلَتْ بِعِيسَى، فَخَلَقَهُ اللَّهُ مِنْ رُوحِهِ وَنَفْخِهِ، كَمَا خَلَقَ آدَمَ بِيَدِهِ.

وَإِنِّي أَدْعُوكَ إِلَى اللَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَإِلَى طَاعَتِهِ، وَأَنْ تَتَّبِعَنِي وَتُؤْمِنَ بِالَّذِي جَاءَنِي، فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ.


E. Terjemahan Surat

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dari Muhammad, Rasul Allah, kepada Najasyi, pembesar Habasyah.

Semoga keselamatan tercurah kepadamu. Aku memuji Allah di hadapanmu, Raja Yang Mahasuci, Mahasejahtera, Maha Pemberi Keamanan, dan Maha Memelihara.

Aku bersaksi bahwa Isa putra Maryam adalah ruh dan kalimat Allah yang disampaikan kepada Maryam yang suci, sehingga ia mengandung Isa sebagaimana Allah menciptakan Adam.

Aku mengajakmu kepada Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, agar engkau menaati-Nya, mengikuti aku, dan beriman kepada wahyu yang diturunkan kepadaku. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah.


F. Penjelasan Isi Surat

1. Penghormatan kepada Najasyi

Surat diawali dengan doa keselamatan dan pujian kepada Allah. Hal ini menunjukkan kesantunan Rasulullah ﷺ dalam berdakwah kepada seorang pemimpin yang beragama Kristen.


2. Penjelasan tentang Nabi Isa AS

Berbeda dengan surat kepada Kisra, surat kepada Najasyi memberikan penjelasan khusus mengenai Nabi Isa AS.

Hal ini karena Najasyi adalah seorang Kristen. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Islam memuliakan Isa AS sebagai nabi dan rasul Allah, bukan sebagai Tuhan ataupun anak Tuhan.

Penyampaian ini menjadi titik temu antara ajaran Islam dan keyakinan Ahli Kitab.


3. Ajakan kepada Tauhid

Setelah menjelaskan kedudukan Nabi Isa AS, Rasulullah ﷺ mengajak Najasyi menyembah Allah semata dan mengikuti risalah Islam sebagai penyempurna ajaran para nabi sebelumnya.


G. Apakah Najasyi Masuk Islam?

Mayoritas ulama Ahlus Sunnah berpendapat bahwa Najasyi menerima Islam.

Beberapa dalil yang mendukung pendapat tersebut antara lain:

1. Jawaban Najasyi kepada Rasulullah ﷺ

Dalam sejumlah riwayat sejarah disebutkan bahwa Najasyi membalas surat Rasulullah ﷺ dan menyatakan keimanannya kepada Allah serta kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Ia juga menyampaikan penghormatan yang tinggi kepada Rasulullah ﷺ.


2. Pernikahan Ummu Habibah

Ketika Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan masih berada di Habasyah, suaminya meninggal dunia.

Najasyi kemudian bertindak sebagai wali dalam pernikahan Ummu Habibah dengan Rasulullah ﷺ dan memberikan mahar atas nama beliau.

Tindakan tersebut menunjukkan kedekatan Najasyi dengan kaum Muslimin.


3. Salat Gaib

Dalil paling kuat mengenai keislaman Najasyi adalah bahwa Rasulullah ﷺ melaksanakan salat gaib ketika beliau wafat.

Dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mengabarkan kepada para sahabat:

“Hari ini telah wafat seorang hamba Allah yang saleh.”

Beliau kemudian mengajak para sahabat menuju tempat salat dan melakukan salat jenazah gaib untuk Najasyi.

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa salat jenazah hanya dilakukan untuk seorang Muslim. Oleh karena itu, peristiwa ini menjadi dalil kuat bahwa Najasyi telah memeluk Islam.


H. Salat Gaib untuk Najasyi

Pada tahun 9 Hijriah (630–631 M), Rasulullah ﷺ menerima kabar wafatnya Najasyi.

Walaupun jenazah beliau berada di Habasyah, Rasulullah ﷺ tetap melaksanakan salat jenazah gaib di Madinah.

Peristiwa ini menjadi dasar pensyariatan salat gaib, yaitu salat jenazah yang dilakukan terhadap seorang Muslim yang meninggal di tempat lain dan tidak disalatkan oleh kaum Muslimin di lokasi wafatnya, menurut pendapat mayoritas ulama yang membolehkan praktik tersebut dengan syarat-syarat tertentu.

Peristiwa ini juga menunjukkan penghormatan Rasulullah ﷺ kepada Najasyi atas jasa dan keimanannya.


I. Hikmah Surat kepada Najasyi

Peristiwa surat kepada Najasyi memberikan banyak pelajaran berharga.

1. Keadilan adalah sifat seorang pemimpin

Najasyi memberikan perlindungan kepada kaum Muslimin bahkan sebelum dirinya memeluk Islam. Hal ini menunjukkan bahwa keadilan merupakan nilai universal yang dihargai dalam Islam.

2. Dakwah harus disampaikan sesuai kondisi penerima

Rasulullah ﷺ menjelaskan kedudukan Nabi Isa AS karena mengetahui bahwa Najasyi adalah seorang Kristen. Ini menunjukkan pentingnya memahami latar belakang orang yang diajak berdakwah.

3. Hubungan baik dapat membuka jalan bagi hidayah

Hubungan yang penuh penghormatan antara Rasulullah ﷺ dan Najasyi menjadi salah satu faktor yang membuka jalan bagi diterimanya dakwah Islam.

4. Islam menghargai orang-orang yang membela kebenaran

Walaupun berasal dari negeri yang jauh, Najasyi memperoleh penghormatan yang tinggi dari Rasulullah ﷺ karena keadilan dan dukungannya kepada kaum Muslimin.

5. Dakwah dilakukan dengan hikmah dan kasih sayang

Surat kepada Najasyi tidak berisi ancaman ataupun celaan, melainkan ajakan yang lembut, argumentatif, dan sesuai dengan keyakinan penerimanya.


Kesimpulan

Surat Nabi Muhammad ﷺ kepada Najasyi merupakan salah satu contoh terbaik diplomasi Islam yang dibangun di atas fondasi keadilan, penghormatan, dan dialog. Hubungan baik antara Rasulullah ﷺ dan Raja Habasyah telah terjalin sejak hijrah pertama kaum Muslimin, kemudian diperkuat melalui surat dakwah yang mengajak kepada tauhid.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa Najasyi menerima Islam, dan penghormatan Rasulullah ﷺ kepadanya tampak melalui pelaksanaan salat gaib setelah wafatnya. Kisah ini menunjukkan bahwa dakwah yang disampaikan dengan hikmah dan akhlak mulia mampu menyentuh hati seorang pemimpin, sekaligus menjadi teladan bagi hubungan antarmanusia yang didasarkan pada keadilan dan penghormatan terhadap kebenaran.

Referensi

  1. Shahih al-Bukhari, Kitab al-Jana’iz dan Kitab Bad’ al-Wahy.
  2. Shahih Muslim, Kitab al-Jana’iz.
  3. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah.
  4. Ibnu Sa’d, Ath-Thabaqat al-Kubra.
  5. Imam ath-Thabari, Tarikh ar-Rusul wal Muluk.
  6. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah.
  7. Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Raheeq Al-Makhtum.
  8. Muhammad Hamidullah, Majmu’at al-Watsa’iq as-Siyasiyyah lil ‘Ahd an-Nabawi wal Khilafah ar-Rasyidah.

— Arya Wiranegara 

Sumber : https://adajuga.com/surat-nabi-muhammad-6/

.