Surat Nabi Muhammad SAW kepada Muqauqis, Penguasa Mesir

Di antara surat-surat diplomatik Nabi Muhammad ﷺ kepada para penguasa dunia, surat kepada Muqauqis, penguasa Mesir, memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan Kisra, Raja Persia, yang merobek surat Rasulullah ﷺ, Muqauqis menerimanya dengan penuh penghormatan. Walaupun pada akhirnya ia tidak memeluk Islam, ia membalas surat tersebut dengan sopan serta mengirim berbagai hadiah kepada Rasulullah ﷺ.

Peristiwa ini menjadi salah satu contoh penting bahwa dakwah Islam pada masa Nabi Muhammad ﷺ dilakukan melalui pendekatan yang damai dan bermartabat. Hubungan diplomatik yang dibangun Rasulullah ﷺ tidak selalu menghasilkan masuk Islamnya seorang penguasa, tetapi mampu membuka hubungan baik yang membawa manfaat bagi perkembangan Islam.


A. Siapakah Muqauqis?

Muqauqis bukanlah nama pribadi, melainkan gelar yang diberikan kepada penguasa Mesir pada masa itu. Mayoritas sejarawan berpendapat bahwa Muqauqis yang menerima surat Nabi Muhammad ﷺ adalah Cyrus al-Muqawqis, seorang pejabat Bizantium yang menjabat sebagai Patriark Aleksandria sekaligus gubernur Mesir sekitar tahun 630 M.

Pada masa itu, Mesir berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium). Sebagian besar penduduk Mesir beragama Kristen Koptik, sedangkan pemerintahan berada di bawah otoritas kaisar Bizantium.

Sebagai seorang pemimpin, Muqauqis dikenal memiliki sikap yang lebih tenang dan diplomatis dibandingkan beberapa penguasa lainnya.


B. Latar Belakang Pengiriman Surat

Setelah Perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriah (628 M), Rasulullah ﷺ mulai mengirim surat kepada para pemimpin dunia.

Untuk menyampaikan surat kepada Muqauqis, Rasulullah ﷺ menunjuk Hatib bin Abi Balta’ah RA sebagai utusan.

Hatib dikenal sebagai sahabat yang cerdas, fasih berbicara, dan mampu berdialog dengan berbagai kalangan. Tugas tersebut bukan sekadar menyerahkan surat, tetapi juga menjelaskan ajaran Islam apabila diminta oleh penerima.

Perjalanan dari Madinah menuju Mesir menempuh jarak yang sangat jauh dan membutuhkan waktu berminggu-minggu. Namun Hatib berhasil menyampaikan amanah Rasulullah ﷺ dengan baik.


C. Teks Surat Nabi Muhammad ﷺ kepada Muqauqis

Dalam berbagai kitab hadis dan sirah disebutkan bahwa isi surat kepada Muqauqis hampir sama dengan surat kepada Heraklius karena sama-sama ditujukan kepada seorang pemimpin Ahli Kitab.

Teks Arab

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى الْمُقَوْقِسِ عَظِيمِ الْقِبْطِ

سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ، يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَعَلَيْكَ إِثْمُ الْقِبْطِ.

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ، فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ.


D. Terjemahan Surat

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya, kepada Muqauqis, pembesar bangsa Qibthi (Mesir).

Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.

Amma ba’du.

Sesungguhnya aku mengajakmu kepada Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat. Allah akan memberikan kepadamu pahala dua kali lipat. Namun apabila engkau berpaling, maka engkau akan memikul dosa rakyat Qibthi.

“Wahai Ahli Kitab! Marilah menuju kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah, saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim.”


E. Dialog Hatib bin Abi Balta’ah dengan Muqauqis

Ketika Hatib bin Abi Balta’ah RA menghadap Muqauqis, terjadi dialog yang menarik.

Hatib menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul terakhir yang telah diberitakan dalam kitab-kitab terdahulu. Ia juga mengajak Muqauqis untuk menerima Islam sebelum terlambat.

Muqauqis mendengarkan penjelasan tersebut dengan penuh perhatian. Menurut riwayat dalam kitab-kitab sirah, ia mengatakan bahwa dirinya mengetahui adanya kabar tentang kemunculan seorang nabi. Akan tetapi, ia mengira nabi tersebut akan muncul di wilayah Syam, bukan di Jazirah Arab.

Walaupun demikian, Muqauqis tidak memperlakukan utusan Rasulullah ﷺ dengan kasar. Ia menerima Hatib dengan baik dan berdialog secara terbuka.


F. Jawaban Muqauqis

Muqauqis akhirnya memilih tidak memeluk Islam. Namun, ia menulis surat balasan kepada Rasulullah ﷺ dengan bahasa yang penuh penghormatan.

Dalam surat balasannya, ia menyampaikan bahwa dirinya telah membaca surat Rasulullah ﷺ dan memahami isi ajakannya. Ia juga mengakui bahwa seorang nabi memang akan datang, tetapi belum bersedia mengikuti ajaran Islam.

Sikap ini menunjukkan bahwa Muqauqis lebih memilih mempertahankan kedudukan politik dan agamanya, meskipun tidak menunjukkan permusuhan terhadap Rasulullah ﷺ.


G. Hadiah dari Muqauqis

Sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah ﷺ, Muqauqis mengirim beberapa hadiah melalui Hatib bin Abi Balta’ah RA.

Di antara hadiah tersebut adalah:

  • Maria al-Qibthiyyah, seorang perempuan Qibthi.
  • Sirin, saudara perempuan Maria.
  • Bagal putih bernama Duldul.
  • Seorang pelayan laki-laki (dalam sebagian riwayat disebut Mabur).
  • Beberapa pakaian dan kain berkualitas dari Mesir.
  • Sejumlah hadiah lainnya sesuai riwayat yang berbeda.

Rasulullah ﷺ menerima hadiah-hadiah tersebut. Dalam fikih Islam, menerima hadiah dari non-Muslim diperbolehkan selama tidak berkaitan dengan sesuatu yang diharamkan.


H. Maria al-Qibthiyyah

Maria al-Qibthiyyah menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah keluarga Rasulullah ﷺ.

Setelah tiba di Madinah, Maria memeluk Islam menurut riwayat yang masyhur di kalangan ulama sirah. Rasulullah ﷺ kemudian menjadikannya sebagai umm walad (selir yang melahirkan anak bagi tuannya, yang memiliki kedudukan hukum khusus dalam syariat saat itu).

Dari Maria lahirlah seorang putra Rasulullah ﷺ yang diberi nama Ibrahim.

Kelahiran Ibrahim membawa kebahagiaan besar bagi Rasulullah ﷺ. Namun, Ibrahim wafat ketika masih kecil, sekitar usia 16 hingga 18 bulan. Rasulullah ﷺ sangat bersedih atas wafatnya putranya, tetapi beliau tetap menunjukkan keteguhan iman seraya bersabda bahwa hati bersedih dan mata menangis, namun tidak mengucapkan selain yang diridhai Allah.


I. Mengapa Muqauqis Tidak Masuk Islam?

Para ulama dan sejarawan mengemukakan beberapa kemungkinan alasan, antara lain:

  1. Pertimbangan politik, karena Mesir berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi Timur.
  2. Kekhawatiran kehilangan jabatan, apabila memeluk Islam.
  3. Tekanan dari lingkungan keagamaan dan pemerintahan yang tetap berpegang pada tradisi Kristen Bizantium.

Walaupun demikian, sikap Muqauqis jauh lebih lunak dibandingkan Kisra yang menghina surat Rasulullah ﷺ.


J. Hikmah Surat kepada Muqauqis

Peristiwa ini memberikan banyak pelajaran penting, di antaranya:

1. Dakwah dilakukan dengan kelembutan

Rasulullah ﷺ tidak memulai hubungan dengan ancaman, melainkan dengan ajakan yang santun dan penuh hikmah.

2. Menghormati perbedaan

Walaupun Muqauqis tidak menerima Islam, Rasulullah ﷺ tetap menjaga hubungan baik dengannya.

3. Pentingnya dialog

Dialog antara Hatib bin Abi Balta’ah dan Muqauqis menunjukkan bahwa dakwah memerlukan kemampuan menjelaskan ajaran Islam secara bijaksana.

4. Hadiah dapat mempererat hubungan

Pertukaran hadiah merupakan salah satu bentuk diplomasi yang telah dikenal sejak masa Rasulullah ﷺ dan dapat memperkuat hubungan antarmasyarakat.

5. Hidayah adalah hak Allah

Seseorang dapat memahami kebenaran, tetapi belum tentu diberi kekuatan untuk menerimanya. Oleh karena itu, tugas seorang da’i adalah menyampaikan dengan cara terbaik, sedangkan hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah.


K. Analisis Sejarah

Surat kepada Muqauqis menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak membedakan perlakuan terhadap para penguasa berdasarkan kekuatan politik mereka. Semua menerima ajakan yang sama, yaitu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Di sisi lain, respons Muqauqis memperlihatkan bahwa hubungan antara Negara Madinah dan Mesir pada masa itu berlangsung relatif damai. Tidak ada tindakan penghinaan terhadap utusan Rasulullah ﷺ maupun penolakan secara kasar terhadap dakwah Islam.

Hubungan baik tersebut menjadi salah satu faktor yang memudahkan interaksi antara kaum Muslimin dan masyarakat Mesir pada masa-masa berikutnya.


Kesimpulan

Surat Nabi Muhammad ﷺ kepada Muqauqis merupakan contoh diplomasi Islam yang berhasil membangun hubungan baik meskipun tidak menghasilkan masuk Islamnya penerima surat. Melalui utusan yang bijaksana, Rasulullah ﷺ menyampaikan ajakan kepada tauhid dengan penuh kesantunan. Muqauqis menghormati surat tersebut, berdialog dengan utusan Nabi, dan membalasnya dengan hadiah sebagai bentuk penghargaan.

Kisah ini mengajarkan bahwa keberhasilan dakwah tidak selalu diukur dari banyaknya orang yang langsung memeluk Islam, tetapi juga dari tersampaikannya risalah dengan cara yang benar, beretika, dan penuh hikmah.

Referensi

  1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah.
  2. Ibnu Sa’d, Ath-Thabaqat al-Kubra.
  3. Imam ath-Thabari, Tarikh ar-Rusul wal Muluk.
  4. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah.
  5. Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Raheeq Al-Makhtum.
  6. Muhammad Hamidullah, Majmu’at al-Watsa’iq as-Siyasiyyah lil ‘Ahd an-Nabawi wal Khilafah ar-Rasyidah.
  7. Dr. Akram Dhiya’ al-‘Umari, As-Sirah an-Nabawiyyah ash-Shahihah.

— Arya Wiranegara 

Sumber : https://adajuga.com/surat-nabi-muhammad-5/

.