Surat Nabi Muhammad SAW kepada Heraklius (Kaisar Romawi Timur) Surat Nabi Muhammad ﷺ kepada Heraklius (dalam bahasa Yunani disebut Heraclius) merupakan salah satu surat diplomatik yang paling terkenal dalam sejarah Islam. Surat ini memiliki kedudukan istimewa karena teksnya diriwayatkan dalam hadis sahih, terutama dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, sehingga keasliannya mendapat pengakuan luas di kalangan ulama. Melalui surat tersebut, Rasulullah ﷺ mengajak penguasa terbesar Kekaisaran Romawi Timur untuk memeluk Islam. Meskipun Heraklius akhirnya tidak menyatakan keislamannya secara terbuka, sikapnya terhadap surat Rasulullah ﷺ berbeda dengan beberapa penguasa lain. Ia memilih membaca, meneliti, dan mencari informasi tentang Nabi Muhammad ﷺ sebelum mengambil keputusan. Peristiwa ini menjadi salah satu contoh penting bagaimana dakwah Islam dilakukan melalui jalur diplomasi yang santun, argumentatif, dan penuh hikmah. Info Belanja 100 Produk Terlaris di Shopee Minggu Ini A. Mengenal Heraklius Heraklius (Heraclius) lahir sekitar tahun 575 M dan menjadi Kaisar Romawi Timur pada tahun 610 M. Ia memerintah hingga wafatnya pada tahun 641 M. Ketika Rasulullah ﷺ mengirimkan surat kepadanya sekitar tahun 628–629 M (setelah Perjanjian Hudaibiyah), Heraklius baru saja memenangkan perang besar melawan Kekaisaran Persia Sasaniyah. Kemenangan tersebut mengembalikan sebagian wilayah Romawi yang sebelumnya direbut Persia, termasuk Yerusalem. Sebagai seorang penguasa yang beragama Kristen, Heraklius dikenal memiliki ketertarikan terhadap persoalan keagamaan dan sering berdiskusi dengan para pemuka agama. Karena itu, ketika menerima surat dari Nabi Muhammad ﷺ, ia tidak langsung menolaknya, melainkan berusaha mencari informasi mengenai pengirim surat tersebut. Sejarah Islam Surat-Surat Nabi Muhammad SAW kepada Raja-Raja dan Para Penguasa Dunia B. Latar Belakang Pengiriman Surat Pada tahun 6 Hijriah (628 M), Rasulullah ﷺ menandatangani Perjanjian Hudaibiyah dengan kaum Quraisy. Perjanjian ini menciptakan suasana damai sehingga dakwah Islam dapat diperluas ke luar Jazirah Arab. Rasulullah ﷺ kemudian mengirim beberapa surat kepada para penguasa besar, di antaranya: Heraklius, Kaisar Romawi Timur. Kisra (Khosrow II), Raja Persia. Muqauqis, penguasa Mesir. Najasyi, Raja Habasyah. Al-Mundzir bin Sawa, penguasa Bahrain. Jaifar dan Abbad, penguasa Oman. Surat kepada Heraklius dibawa oleh sahabat Dihyah bin Khalifah al-Kalbi RA, yang dikenal memiliki akhlak mulia dan kemampuan berdiplomasi. C. Dihyah bin Khalifah al-Kalbi RA Dihyah bin Khalifah al-Kalbi RA termasuk sahabat yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Malaikat Jibril pernah datang kepada Rasulullah ﷺ dengan menyerupai rupa Dihyah karena ketampanannya. Sebagai utusan resmi Rasulullah ﷺ, Dihyah membawa surat tersebut menuju wilayah Syam. Setelah tiba, surat disampaikan melalui pejabat Romawi hingga akhirnya sampai ke tangan Heraklius. Pemilihan Dihyah menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan kualitas para utusan diplomatik yang mewakili Negara Madinah. D. Teks Surat Nabi Muhammad ﷺ kepada Heraklius Berikut adalah redaksi surat yang diriwayatkan dalam hadis sahih. Teks Arab بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ، يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الْأَرِيسِيِّينَ. يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ، فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ. E. Terjemahan Surat Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya, kepada Heraklius, pembesar Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du. Sesungguhnya aku mengajakmu kepada ajakan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat. Allah akan memberikan kepadamu pahala dua kali lipat. Namun jika engkau berpaling, maka engkau akan memikul dosa rakyatmu. “Wahai Ahli Kitab! Marilah menuju kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kamu, yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah, saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim.” F. Penjelasan Isi Surat 1. Basmalah Surat dibuka dengan basmalah sebagai penegasan bahwa dakwah Rasulullah ﷺ bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. 2. Identitas Pengirim Rasulullah ﷺ memperkenalkan diri sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya, bukan sebagai raja atau penguasa dunia. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan tertinggi seorang nabi adalah sebagai hamba Allah yang menerima amanah untuk menyampaikan wahyu. 3. Penghormatan kepada Penerima Heraklius disebut sebagai: عظيم الروم yang berarti “Pembesar Romawi” atau “Pemimpin Romawi”. Ungkapan ini menunjukkan penghormatan terhadap jabatan penerima tanpa memberikan pengakuan terhadap keyakinannya. 4. Ajakan kepada Islam Kalimat: أسلم تسلم merupakan inti dakwah Islam. Maknanya bukan hanya keselamatan dari konflik di dunia, tetapi juga keselamatan di akhirat melalui keimanan kepada Allah. 5. Janji Pahala Dua Kali Lipat Karena Heraklius termasuk Ahli Kitab, Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa apabila ia beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ, Allah akan memberinya pahala dua kali lipat: atas keimanannya kepada nabi sebelumnya dan atas keimanannya kepada Rasulullah ﷺ. 6. Tanggung Jawab Seorang Pemimpin Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa apabila Heraklius menolak kebenaran dan menghalangi rakyatnya, maka ia akan memikul tanggung jawab moral atas penolakan tersebut. Hal ini menegaskan besarnya amanah seorang pemimpin di hadapan Allah. G. Reaksi Heraklius Setelah menerima surat, Heraklius tidak langsung memberikan jawaban. Ia justru memerintahkan agar dicari orang Arab yang mengenal Muhammad ﷺ. Pada saat itu, Abu Sufyan bin Harb—yang masih belum memeluk Islam—sedang berada di wilayah Syam bersama rombongan pedagang Quraisy. Heraklius memanggil Abu Sufyan beserta rombongannya ke istana. H. Dialog Heraklius dengan Abu Sufyan Hadis sahih meriwayatkan bahwa Heraklius mengajukan berbagai pertanyaan kepada Abu Sufyan, di antaranya: Bagaimana nasab Muhammad di tengah kaumnya? Apakah sebelum ini ia pernah berdusta? Siapa yang mengikuti ajarannya, orang kaya atau orang miskin? Apakah jumlah pengikutnya bertambah atau berkurang? Apakah ada yang murtad setelah memeluk agamanya? Apakah ia pernah mengkhianati perjanjian? Apa yang diperintahkannya kepada para pengikutnya? Meskipun saat itu Abu Sufyan masih menjadi musuh Rasulullah ﷺ, ia mengakui bahwa Muhammad ﷺ dikenal jujur, tidak pernah berdusta, tidak mengkhianati perjanjian, dan para pengikutnya terus bertambah. Setelah mendengar jawaban tersebut, Heraklius berkata bahwa ciri-ciri itu sesuai dengan sifat seorang nabi. I. Apakah Heraklius Masuk Islam? Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Pendapat yang paling kuat menyatakan bahwa Heraklius tidak pernah memeluk Islam secara terbuka. Beberapa riwayat menunjukkan bahwa ia meyakini kemungkinan kenabian Muhammad ﷺ, tetapi tidak bersedia mengorbankan kedudukan politiknya. Dalam riwayat Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa ketika Heraklius mengajak para pembesar Romawi mempertimbangkan ajaran Nabi Muhammad ﷺ, mereka menolak keras hingga menimbulkan kegaduhan di istana. Melihat reaksi tersebut, Heraklius menarik kembali ucapannya dan menyatakan bahwa ia hanya ingin menguji keteguhan mereka terhadap agama Kristen. Peristiwa ini menunjukkan adanya pertimbangan politik yang sangat kuat dalam keputusan Heraklius. J. Hikmah dari Surat kepada Heraklius Beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari peristiwa ini antara lain: Dakwah Islam bersifat universal, ditujukan kepada seluruh manusia tanpa membedakan bangsa atau kedudukan. Islam mengutamakan dialog sebelum konfrontasi. Rasulullah ﷺ lebih dahulu mengirim surat dan mengajak kepada kebenaran dengan cara yang damai. Akhlak menjadi dasar diplomasi. Surat tersebut menggunakan bahasa yang santun, menghormati penerima, tetapi tetap tegas dalam menyampaikan ajaran tauhid. Pemimpin memiliki tanggung jawab besar. Keputusan seorang pemimpin dapat memengaruhi arah kehidupan masyarakat yang dipimpinnya. Kejujuran Rasulullah ﷺ diakui bahkan oleh lawan-lawannya. Kesaksian Abu Sufyan menjadi bukti kuat tentang integritas Nabi Muhammad ﷺ sebelum dan sesudah diangkat menjadi rasul. Kesimpulan Surat Nabi Muhammad ﷺ kepada Heraklius merupakan salah satu dokumen diplomatik paling penting dalam sejarah Islam. Surat ini memperlihatkan bagaimana Rasulullah ﷺ menyampaikan risalah Islam kepada penguasa dunia dengan penuh kebijaksanaan, penghormatan, dan argumentasi yang kuat. Walaupun Heraklius tidak menyatakan keislamannya secara terbuka, sikapnya yang memilih menyelidiki dan mempertimbangkan isi surat menunjukkan bahwa dakwah Rasulullah ﷺ mendapat perhatian hingga ke pusat kekuasaan Romawi Timur. Peristiwa ini juga menjadi bukti bahwa Islam sejak awal hadir sebagai agama yang membawa pesan bagi seluruh umat manusia. Referensi Shahih al-Bukhari, Kitab Bad’ al-Wahy, hadis tentang surat Nabi kepada Heraklius. Shahih Muslim, Kitab al-Jihad was Siyar. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah. Imam ath-Thabari, Tarikh ar-Rusul wal Muluk. Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Raheeq Al-Makhtum. Muhammad Hamidullah, Majmu’at al-Watsa’iq as-Siyasiyyah lil ‘Ahd an-Nabawi wal Khilafah ar-Rasyidah. — Arya Wiranegara Sumber : https://adajuga.com/surat-nabi-muhammad-3/ . Navigasi pos Tata Cara Penulisan Surat Nabi Muhammad SAW Surat Nabi Muhammad SAW kepada Kisra (Khosrow II) Raja Persia