Surat Nabi Muhammad SAW kepada Al-Harits bin Abi Syamir Al-Ghassani

Surat Nabi Muhammad ﷺ kepada Al-Harits bin Abi Syamir Al-Ghassani, penguasa Kerajaan Ghassan di wilayah Syam, merupakan salah satu surat diplomatik yang mendapat penolakan keras. Berbeda dengan Heraklius yang membaca dan mempertimbangkan isi surat Rasulullah ﷺ, Al-Harits justru bereaksi dengan kemarahan dan menganggap surat tersebut sebagai ancaman terhadap kekuasaannya.

Peristiwa ini memperlihatkan bahwa tidak semua penguasa bersedia menerima dakwah Islam, meskipun disampaikan melalui jalur diplomasi yang santun. Reaksi Al-Harits juga menjadi salah satu gambaran tentang ketegangan politik di kawasan perbatasan antara Jazirah Arab dan Kekaisaran Romawi Timur menjelang terjadinya Perang Mu’tah dan ekspedisi Tabuk.


A. Mengenal Al-Harits bin Abi Syamir Al-Ghassani

Al-Harits bin Abi Syamir Al-Ghassani adalah salah seorang penguasa Kerajaan Ghassan, sebuah kerajaan Arab Kristen yang menjadi sekutu dan negara penyangga (buffer state) bagi Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium).

Wilayah kekuasaannya meliputi sebagian daerah Syam, yang kini mencakup:

  • Suriah bagian selatan;
  • Yordania;
  • Dataran tinggi Golan;
  • Sebagian Palestina.

Kerajaan Ghassan memiliki hubungan politik dan militer yang sangat erat dengan Kaisar Romawi Timur. Sebagai imbalannya, para penguasa Ghassan memperoleh perlindungan dan dukungan dari Bizantium.

Karena kedekatan tersebut, setiap perkembangan politik di Jazirah Arab, terutama munculnya Negara Madinah, dipandang sebagai sesuatu yang perlu diawasi.


B. Latar Belakang Pengiriman Surat

Setelah Perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriah (628 M), Rasulullah ﷺ memperluas dakwah Islam kepada para pemimpin dunia dan para penguasa regional.

Selain mengirim surat kepada Heraklius, Kisra, Muqauqis, dan Najasyi, Rasulullah ﷺ juga mengirim surat kepada para penguasa Arab yang berada di bawah pengaruh kekuatan besar.

Untuk menyampaikan surat kepada Al-Harits bin Abi Syamir, Rasulullah ﷺ menunjuk Syuja’ bin Wahb al-Asadi RA sebagai utusan.

Syuja’ bin Wahb dikenal sebagai sahabat yang berani, cerdas, dan memiliki pengalaman dalam berbagai misi penting.


C. Teks Surat Nabi Muhammad ﷺ kepada Al-Harits

Dalam kitab-kitab sirah disebutkan bahwa redaksi surat kepada Al-Harits memiliki kemiripan dengan surat-surat Rasulullah ﷺ kepada penguasa lainnya.

Teks Arab

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ إِلَى الْحَارِثِ بْنِ أَبِي شَمِرٍ

سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى، وَآمَنَ بِاللَّهِ وَصَدَّقَ، وَإِنِّي أَدْعُوكَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، يَبْقَ لَكَ مُلْكُكَ.


D. Terjemahan Surat

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dari Muhammad, Rasul Allah, kepada Al-Harits bin Abi Syamir.

Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah, dan membenarkan risalah-Nya.

Sesungguhnya aku mengajakmu agar beriman kepada Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Apabila engkau menerima Islam, maka kekuasaanmu akan tetap berada di tanganmu.


E. Penjelasan Isi Surat

1. Ajakan kepada Tauhid

Isi utama surat adalah mengajak Al-Harits untuk meninggalkan kesyirikan dan menerima Islam sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Sebagaimana surat-surat lainnya, Rasulullah ﷺ mengawali dakwah dengan ajakan kepada tauhid.


2. Penghormatan kepada Penguasa

Walaupun Al-Harits merupakan sekutu Romawi Timur dan bukan seorang Muslim, Rasulullah ﷺ tetap menggunakan bahasa yang sopan.

Beliau tidak merendahkan kedudukan Al-Harits, tetapi mengajaknya kepada kebenaran dengan penuh hikmah.


3. Jaminan Mempertahankan Kekuasaan

Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa apabila Al-Harits menerima Islam, kedudukannya sebagai pemimpin tetap akan dihormati.

Prinsip ini juga tampak dalam surat kepada Al-Mundzir bin Sawa dan Jaifar bin Al-Julanda. Islam tidak serta-merta mengganti pemimpin lokal yang menerima dakwah dan bersedia menjalankan pemerintahan secara adil.


F. Reaksi Al-Harits

Menurut riwayat dalam kitab-kitab sirah, setelah membaca surat Rasulullah ﷺ, Al-Harits menjadi sangat marah.

Ia dikabarkan berkata:

“Siapa yang berani mengambil kerajaanku?”

Ucapan tersebut menunjukkan bahwa Al-Harits memandang ajakan Rasulullah ﷺ sebagai ancaman terhadap kekuasaan politiknya, bukan sebagai seruan keagamaan.

Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa ia bahkan bersiap menemui Kaisar Heraklius untuk meminta izin melakukan penyerangan terhadap Madinah.

Namun, rencana tersebut tidak pernah terlaksana.


G. Sikap Heraklius

Sebagian riwayat sejarah menyebutkan bahwa ketika Al-Harits menyampaikan keinginannya untuk menyerang Madinah, Heraklius tidak memberikan persetujuan.

Saat itu, Bizantium baru saja menyelesaikan perang panjang melawan Persia sehingga belum siap membuka front peperangan baru di Jazirah Arab.

Dengan demikian, ancaman Al-Harits tidak berkembang menjadi ekspedisi militer besar.


H. Kaitan dengan Perang Mu’tah

Meskipun surat kepada Al-Harits tidak langsung menyebabkan peperangan, hubungan yang semakin tegang antara Negara Madinah dan wilayah-wilayah Arab di bawah pengaruh Bizantium menjadi salah satu latar belakang konflik di kawasan Syam.

Beberapa waktu kemudian terjadi peristiwa terbunuhnya Al-Harits bin Umair al-Azdi RA, utusan Rasulullah ﷺ kepada penguasa Bushra, oleh Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani.

Pembunuhan terhadap seorang utusan merupakan pelanggaran berat terhadap tradisi diplomatik Arab.

Peristiwa inilah yang menjadi sebab langsung terjadinya Perang Mu’tah pada tahun 8 Hijriah (629 M), bukan surat kepada Al-Harits bin Abi Syamir.

Dengan demikian, penting dibedakan antara ketegangan diplomatik akibat surat kepada Al-Harits dan sebab langsung pecahnya Perang Mu’tah.


I. Hikmah Surat kepada Al-Harits

Peristiwa ini memberikan banyak pelajaran penting.

1. Dakwah harus disampaikan kepada semua kalangan

Rasulullah ﷺ tidak membatasi dakwah hanya kepada masyarakat yang mudah menerima Islam, tetapi juga kepada para penguasa besar dan sekutu mereka.

2. Kekuasaan sering menjadi penghalang menerima kebenaran

Al-Harits lebih mengkhawatirkan hilangnya jabatan daripada mempertimbangkan isi ajakan Rasulullah ﷺ.

3. Diplomasi Islam tetap mengedepankan etika

Meskipun menghadapi kemungkinan penolakan, Rasulullah ﷺ tetap mengirim surat dengan bahasa yang santun dan penuh penghormatan.

4. Penolakan terhadap dakwah tidak mengubah prinsip Islam

Rasulullah ﷺ tidak mengubah isi risalah demi memperoleh dukungan politik. Dakwah tetap disampaikan secara jujur dan apa adanya.

5. Menghormati utusan merupakan bagian dari etika internasional

Peristiwa-peristiwa pada masa Rasulullah ﷺ menunjukkan pentingnya menjaga keselamatan para utusan. Pelanggaran terhadap prinsip ini dapat memicu konflik yang lebih luas.


J. Analisis Sejarah

Surat kepada Al-Harits bin Abi Syamir memperlihatkan bahwa Rasulullah ﷺ memahami pentingnya hubungan diplomatik dengan wilayah-wilayah strategis di sekitar Jazirah Arab. Meskipun tidak berhasil mengajak Al-Harits memeluk Islam, surat tersebut menunjukkan bahwa Negara Madinah telah diakui sebagai kekuatan politik yang layak diperhitungkan oleh kerajaan-kerajaan tetangganya.

Di sisi lain, reaksi Al-Harits memperlihatkan bahwa sebagian penguasa memandang berkembangnya Islam sebagai ancaman terhadap stabilitas politik yang telah mereka bangun bersama Bizantium. Hal ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika hubungan antara kaum Muslimin dan kekuatan-kekuatan di kawasan Syam pada akhir masa kenabian.


Kesimpulan

Surat Nabi Muhammad ﷺ kepada Al-Harits bin Abi Syamir Al-Ghassani merupakan salah satu contoh diplomasi Islam yang menghadapi penolakan. Meskipun Rasulullah ﷺ mengajak dengan bahasa yang santun dan bahkan menjamin keberlangsungan kepemimpinannya apabila menerima Islam, Al-Harits memilih mempertahankan kepentingan politiknya.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa tantangan dakwah tidak selalu berasal dari perbedaan keyakinan, tetapi juga dari kepentingan kekuasaan. Namun demikian, Rasulullah ﷺ tetap menegakkan prinsip dakwah yang berlandaskan hikmah, kejujuran, dan penghormatan kepada pihak lain.

Referensi

  1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah.
  2. Ibnu Sa’d, Ath-Thabaqat al-Kubra.
  3. Imam ath-Thabari, Tarikh ar-Rusul wal Muluk.
  4. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah.
  5. Al-Waqidi, Kitab al-Maghazi.
  6. Muhammad Hamidullah, Majmu’at al-Watsa’iq as-Siyasiyyah lil ‘Ahd an-Nabawi wal Khilafah ar-Rasyidah.
  7. Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Raheeq Al-Makhtum.
  8. Akram Dhiya’ al-‘Umari, As-Sirah an-Nabawiyyah ash-Shahihah.

— Arya Wiranegara 

Sumber : https://adajuga.com/surat-nabi-muhammad-10/

.