Abdullah bin Saba’ dan Wafatnya Khalifah Utsman bin Affan

Peristiwa wafatnya Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu pada tahun 35 H merupakan salah satu peristiwa paling penting sekaligus paling menyedihkan dalam sejarah Islam. Tragedi tersebut mengakhiri masa pemerintahan khalifah ketiga dan menjadi awal dari al-Fitnah al-Kubra (fitnah besar), yang kemudian memicu perang saudara di kalangan kaum Muslimin.

Di antara nama yang paling sering dikaitkan dengan munculnya fitnah tersebut adalah Abdullah bin Saba’. Dalam sejumlah kitab sejarah Islam klasik, ia digambarkan sebagai seorang provokator yang menyebarkan hasutan terhadap pemerintahan Khalifah Utsman. Namun, benarkah ia merupakan penyebab utama wafatnya Utsman? Ataukah perannya hanya salah satu dari sekian banyak faktor yang memperkeruh keadaan?

Artikel ini membahas biografi Abdullah bin Saba’, riwayat hidupnya menurut kitab-kitab sejarah Islam, serta hubungan antara aktivitasnya dengan tragedi wafatnya Khalifah Utsman bin Affan.

Info Belanja 100 Produk Terlaris di Shopee Minggu Ini


# Abdullah bin Saba’

Kitab-kitab sejarah klasik seperti Tarikh al-Umam wa al-Muluk karya Imam ath-Thabari menyebut Abdullah bin Saba’ sebagai seorang Yahudi dari San’a, Yaman, yang kemudian mengaku masuk Islam pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan.

Ia dikenal dengan julukan Ibnu as-Sauda’ (ابن السوداء) karena ibunya berasal dari Habasyah (Ethiopia).

Menurut sebagian riwayat, setelah memeluk Islam ia mulai berpindah-pindah ke berbagai wilayah Islam untuk menyebarkan pemikiran yang dianggap menyimpang dan menghasut masyarakat agar menentang pemerintah.


# Perjalanan ke Berbagai Wilayah

Ath-Thabari meriwayatkan bahwa Abdullah bin Saba’ mendatangi:

  • Hijaz
  • Basrah
  • Kufah
  • Syam
  • Mesir

Di setiap wilayah tersebut ia berusaha mencari orang-orang yang tidak puas terhadap pemerintahan.

Di Syam, dakwahnya tidak berkembang karena mendapat penolakan dari Gubernur Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Sebaliknya, di Mesir dan sebagian Irak, riwayat-riwayat klasik menyebut ia memperoleh pengikut yang kemudian ikut menyebarkan propaganda anti-pemerintah.


# Ajaran yang Dinisbatkan kepada Abdullah bin Saba’

Beberapa kitab sejarah dan kitab tentang aliran-aliran dalam Islam menyebut bahwa ia mengajarkan beberapa gagasan, antara lain:

  • Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah.
  • Rasulullah ﷺ telah memberikan wasiat khusus kepada Ali.
  • Sebagian riwayat bahkan menyebut ia mengembangkan keyakinan ekstrem tentang Ali yang kemudian menjadi ciri kelompok Sabaiyyah.

Imam asy-Syahrastani dalam al-Milal wa an-Nihal memasukkan Sabaiyyah sebagai salah satu kelompok ghulat (ekstrem) yang berlebih-lebihan dalam memuliakan Ali.


# Situasi Politik Menjelang Wafatnya Khalifah Utsman

Enam tahun pertama pemerintahan Khalifah Utsman berlangsung damai dan penuh keberhasilan. Pada masa ini:

  • Mushaf Al-Qur’an dibakukan.
  • Wilayah Islam semakin luas.
  • Angkatan laut Islam berkembang pesat.

Namun, memasuki tahun-tahun terakhir pemerintahannya muncul berbagai persoalan.

1. Kritik terhadap Pengangkatan Gubernur

Sebagian masyarakat menilai Utsman terlalu banyak mengangkat kerabat dari Bani Umayyah menjadi gubernur. Di sisi lain, para pendukung Utsman berpendapat bahwa mereka dipilih karena kemampuan dan pengalaman.

2. Ketidakpuasan di Daerah

Di Mesir, Kufah, dan Basrah muncul perselisihan antara sebagian penduduk dengan para pejabat setempat. Persoalan ini kemudian berkembang menjadi gerakan protes terhadap pemerintah pusat.

3. Penyebaran Fitnah

Berbagai tuduhan terhadap Khalifah Utsman beredar luas, mulai dari tuduhan penyalahgunaan harta negara hingga tuduhan memihak keluarganya. Dalam situasi seperti inilah nama Abdullah bin Saba’ mulai disebut dalam berbagai riwayat sebagai salah satu penyebar propaganda.


# Hubungan Abdullah bin Saba’ dengan Wafatnya Khalifah Utsman

Menurut riwayat dalam Tarikh ath-Thabari, Abdullah bin Saba’ mengorganisasi propaganda dengan memanfaatkan ketidakpuasan masyarakat. Ia dikatakan mengirim orang-orang ke berbagai wilayah untuk menyebarkan kritik terhadap pemerintahan dan mendorong masyarakat agar melakukan perlawanan.

Riwayat-riwayat tersebut menyebut bahwa kelompok dari Mesir, Kufah, dan Basrah akhirnya bergerak menuju Madinah. Mereka mula-mula datang untuk menyampaikan tuntutan kepada Khalifah Utsman.

Setelah sempat berdamai, mereka kembali lagi ke Madinah karena adanya surat yang diduga berisi perintah untuk menghukum para pemberontak. Keaslian surat tersebut masih menjadi perdebatan dalam kajian sejarah.

Rumah Khalifah Utsman kemudian dikepung selama beberapa pekan.


# Sikap Khalifah Utsman

Banyak sahabat menawarkan bantuan untuk mempertahankan rumah beliau.

Di antara mereka adalah:

  • Ali bin Abi Thalib.
  • Hasan bin Ali.
  • Husain bin Ali.
  • Abdullah bin Zubair.
  • Muhammad bin Thalhah.

Namun, Utsman menolak menggunakan kekuatan bersenjata. Beliau tidak ingin kaum Muslimin saling membunuh demi mempertahankan dirinya.

Keputusan ini menunjukkan komitmen beliau untuk menghindari pertumpahan darah, meskipun akhirnya harus mengorbankan nyawanya sendiri.


# Wafatnya Khalifah Utsman

Pada 18 Dzulhijjah 35 H (menurut pendapat yang masyhur), sekelompok pemberontak berhasil memasuki rumah beliau.

Saat itu Khalifah Utsman sedang membaca Al-Qur’an.

Beliau kemudian dibunuh secara zalim.

Peristiwa tersebut menjadi awal dari fitnah besar yang kemudian berlanjut pada konflik antara kaum Muslimin pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib.


# Apakah Abdullah bin Saba’ Penyebab Utama?

Di sinilah letak perbedaan pandangan para ulama dan sejarawan.

# Pendapat Pertama

Sebagian ulama klasik, seperti Ibnu Katsir dan Ibnu Taimiyah, menerima keberadaan Abdullah bin Saba’ dan menganggapnya sebagai salah satu tokoh yang ikut menyebarkan fitnah menjelang wafatnya Khalifah Utsman.

Namun, mereka tidak menyatakan bahwa seluruh peristiwa itu disebabkan olehnya seorang diri.

# Pendapat Kedua

Sebagian peneliti modern, seperti Murtadha al-‘Askari, berpendapat bahwa kisah mengenai Abdullah bin Saba’ telah dibesar-besarkan karena banyak riwayatnya berasal dari Saif bin Umar, seorang perawi yang dinilai lemah oleh banyak ahli hadis.

# Pendapat yang Lebih Seimbang

Banyak sejarawan menyimpulkan bahwa wafatnya Khalifah Utsman merupakan hasil dari gabungan berbagai faktor, yaitu:

  • ketidakpuasan politik,
  • konflik administratif,
  • provokasi,
  • penyebaran berita yang belum tentu benar,
  • lemahnya komunikasi,
  • tindakan kelompok pemberontak.

Dengan demikian, apabila Abdullah bin Saba’ memang memiliki peran sebagaimana disebut dalam sebagian riwayat, maka perannya dipahami sebagai salah satu unsur yang memperburuk situasi, bukan satu-satunya penyebab tragedi tersebut.


# Pelajaran dari Peristiwa Ini

Peristiwa wafatnya Khalifah Utsman memberikan banyak pelajaran penting bagi umat Islam, di antaranya:

  • Pentingnya melakukan tabayyun (klarifikasi) terhadap setiap informasi.
  • Bahaya penyebaran fitnah dan propaganda yang dapat memecah persatuan umat.
  • Pentingnya menjaga persatuan meskipun terjadi perbedaan pendapat.
  • Keharusan menilai riwayat sejarah secara kritis berdasarkan kualitas sanad dan isi riwayat.

# Kesimpulan

Abdullah bin Saba’ merupakan tokoh yang disebut dalam sejumlah kitab sejarah Islam sebagai salah satu penyebar fitnah pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Riwayat-riwayat klasik menghubungkannya dengan propaganda yang mendorong lahirnya pemberontakan terhadap pemerintah.

Namun, para ulama dan sejarawan berbeda pendapat mengenai besarnya peran Abdullah bin Saba’. Sebagian menerima riwayat-riwayat tersebut dengan catatan, sementara yang lain menilai banyak rinciannya perlu dikaji ulang karena bersumber dari jalur yang diperselisihkan.

Terlepas dari perbedaan tersebut, mayoritas kajian sejarah menyimpulkan bahwa wafatnya Khalifah Utsman bukan disebabkan oleh satu tokoh saja, melainkan oleh akumulasi persoalan politik, sosial, dan keamanan yang kemudian dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok pemberontak. Oleh karena itu, pembahasan mengenai Abdullah bin Saba’ hendaknya dilakukan secara ilmiah dengan merujuk kepada berbagai sumber sejarah serta mempertimbangkan kritik sanad dan historiografi.

— Arya Wiranegara 

Referensi

  1. Ath-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk.
  2. Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, peristiwa tahun 35 H.
  3. Al-Baladzuri, Ansab al-Asyraf.
  4. Ibnu al-Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh.
  5. Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyq.
  6. Asy-Syahrastani, al-Milal wa an-Nihal.
  7. Ibnu Taimiyah, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah.
  8. Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Lisan al-Mizan.
  9. Adz-Dzahabi, Mizan al-I’tidal.
  10. Murtadha al-‘Askari, Abdullah bin Saba’ wa Asatir Ukhra.

Sejarah Islam 

Sumber: https://adajuga.com/abdullah-bin-saba/

.