Surat Nabi Muhammad SAW kepada Kisra (Khosrow II) Raja Persia

Di antara surat-surat diplomatik yang dikirim oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada para penguasa dunia, surat kepada Kisra (Khosrow II atau Khusrau Parviz), Raja Kekaisaran Persia Sasaniyah, merupakan salah satu yang paling terkenal. Berbeda dengan Heraklius yang membaca dan mempertimbangkan isi surat Rasulullah ﷺ, Kisra justru menunjukkan sikap angkuh dengan merobek surat tersebut sebelum membacanya hingga selesai.

Peristiwa ini memiliki makna penting dalam sejarah Islam. Selain menggambarkan perbedaan respons para penguasa terhadap dakwah Islam, kisah ini juga berkaitan dengan nubuat Rasulullah ﷺ mengenai runtuhnya Kekaisaran Persia, yang kemudian benar-benar terjadi pada masa Khulafaur Rasyidin.

Info Belanja 100 Produk Terlaris di Shopee Minggu Ini


A. Mengenal Kisra (Khosrow II)

Kisra yang dimaksud dalam sumber-sumber Islam adalah Khosrow II Parviz (Khusrau II), raja terbesar dari Kekaisaran Persia Sasaniyah. Ia memerintah sekitar tahun 590–628 M.

Pada masa pemerintahannya, Persia merupakan salah satu negara adidaya dunia. Wilayah kekuasaannya meliputi:

  • Persia (Iran modern)
  • Irak
  • Sebagian Afghanistan
  • Armenia
  • Kawasan Asia Tengah
  • Sebagian wilayah Suriah
  • Sebagian Anatolia
  • Kawasan Teluk Persia

Kekaisaran Sasaniyah terkenal memiliki sistem pemerintahan yang kuat, administrasi yang maju, serta kekuatan militer yang besar. Selama bertahun-tahun, Persia menjadi rival utama Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium).

Dalam tradisi Persia, raja dipandang sebagai sosok yang memiliki kedudukan sangat tinggi. Karena itu, Kisra dikenal sangat menjaga wibawa dan tidak menyukai segala sesuatu yang dianggap merendahkan martabat kerajaannya.

Sejarah Islam Surat-Surat Nabi Muhammad SAW kepada Raja-Raja dan Para Penguasa Dunia


B. Latar Belakang Pengiriman Surat

Setelah Perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriah (628 M), Rasulullah ﷺ mulai mengirim surat kepada berbagai raja dan penguasa sebagai bagian dari dakwah Islam.

Untuk menyampaikan surat kepada Kisra, Rasulullah ﷺ memilih sahabat Abdullah bin Hudhafah as-Sahmi RA sebagai utusan.

Pemilihan beliau bukan tanpa alasan. Abdullah dikenal sebagai sahabat yang berani, cerdas, serta memiliki keteguhan iman sehingga mampu menjalankan misi diplomatik ke salah satu kerajaan terkuat di dunia saat itu.

Perjalanan menuju Persia menempuh jarak ribuan kilometer dan melewati berbagai wilayah yang tidak berada di bawah kekuasaan kaum Muslimin. Namun Abdullah bin Hudhafah berhasil menyampaikan surat tersebut hingga ke istana Kisra.


C. Teks Surat Nabi Muhammad ﷺ kepada Kisra

Riwayat mengenai redaksi surat ini terdapat dalam beberapa kitab sirah dan sejarah. Salah satu bentuk redaksinya adalah sebagai berikut.

Teks Arab

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ إِلَى كِسْرَى عَظِيمِ فَارِسَ

سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى، وَآمَنَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَشَهِدَ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ اللَّهِ، فَإِنِّي أَنَا رَسُولُ اللَّهِ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً، لِأُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ. أَسْلِمْ تَسْلَمْ، فَإِنْ أَبَيْتَ فَعَلَيْكَ إِثْمُ الْمَجُوسِ.


D. Terjemahan Surat

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dari Muhammad, Rasul Allah, kepada Kisra, pembesar Persia.

Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Sesungguhnya aku mengajakmu kepada seruan Allah. Aku adalah utusan Allah untuk seluruh manusia agar memberi peringatan kepada orang yang masih hidup dan agar ketetapan Allah berlaku atas orang-orang yang ingkar.

Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat. Jika engkau menolak, maka engkau akan memikul dosa kaum Majusi yang berada di bawah kekuasaanmu.


E. Penjelasan Isi Surat

1. Rasulullah ﷺ Memperkenalkan Diri sebagai Utusan Allah

Berbeda dengan para raja yang sering menggunakan gelar kebesaran, Rasulullah ﷺ memperkenalkan diri sebagai Rasul Allah. Hal ini menunjukkan bahwa otoritas beliau berasal dari wahyu Allah, bukan dari garis keturunan atau kekuasaan dunia.


2. Dakwah Bersifat Universal

Dalam surat tersebut Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa beliau diutus kepada seluruh manusia.

Pernyataan ini sejalan dengan firman Allah:

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.”

(QS. Saba’ [34]: 28)

Ini menjadi salah satu bukti bahwa Islam sejak awal tidak hanya ditujukan kepada bangsa Arab.


3. Ajakan kepada Tauhid

Isi utama surat adalah mengajak Kisra meninggalkan penyembahan selain Allah dan menerima ajaran Islam.

Ajakan tersebut disampaikan tanpa penghinaan terhadap agama atau bangsa Persia.


4. Tanggung Jawab Seorang Pemimpin

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa apabila Kisra menolak dakwah, maka ia akan memikul dosa rakyatnya yang terhalang menerima kebenaran.

Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin memiliki tanggung jawab besar di hadapan Allah atas kebijakan dan pengaruhnya terhadap masyarakat.


F. Reaksi Kisra

Ketika surat tersebut dibacakan di hadapannya, Kisra sangat marah.

Menurut riwayat, kemarahannya dipicu karena nama Muhammad ditulis lebih dahulu daripada namanya sendiri. Dalam tradisi kerajaan Persia, hal itu dianggap tidak menghormati kedudukan raja.

Dengan penuh kemarahan, Kisra merobek surat Rasulullah ﷺ.

Tindakan tersebut bukan sekadar penolakan terhadap isi surat, tetapi juga penghinaan terhadap utusan dan risalah yang dibawanya.

Abdullah bin Hudhafah RA kemudian kembali ke Madinah dan melaporkan seluruh peristiwa itu kepada Rasulullah ﷺ.


G. Doa Rasulullah ﷺ

Ketika mendengar bahwa suratnya dirobek, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Semoga Allah menghancurkan kerajaannya sebagaimana ia telah merobek suratku.”

Doa tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu nubuat Rasulullah ﷺ mengenai berakhirnya Kekaisaran Persia Sasaniyah.


H. Kisra Memerintahkan Penangkapan Nabi ﷺ

Setelah merobek surat, Kisra mengirim surat kepada gubernurnya di Yaman, Badhan, agar menangkap Muhammad ﷺ dan mengirimkannya ke Persia.

Badhan kemudian mengutus dua orang pejabat menuju Madinah.

Sesampainya di Madinah, Rasulullah ﷺ tidak langsung memenuhi permintaan tersebut. Beliau justru menyampaikan kabar yang mengejutkan:

“Sesungguhnya Allah telah membunuh tuan kalian (Kisra). Putranya sendiri telah membunuhnya pada malam tertentu.”

Kedua utusan itu kembali kepada Badhan dan menyampaikan berita tersebut.

Beberapa waktu kemudian, kabar resmi dari Persia benar-benar tiba. Khosrow II terbunuh oleh putranya sendiri, Kavad II (Syiruyeh), pada tahun 628 M.

Peristiwa ini membuat Badhan terkesan dengan kebenaran berita yang disampaikan Rasulullah ﷺ. Akhirnya Badhan bersama banyak rakyat Persia yang berada di Yaman memeluk Islam.


I. Runtuhnya Kekaisaran Persia

Kematian Khosrow II menjadi awal dari kemunduran Persia Sasaniyah.

Dalam beberapa tahun berikutnya terjadi:

  • perebutan kekuasaan di istana;
  • pergantian raja secara cepat;
  • perang saudara;
  • melemahnya ekonomi;
  • berkurangnya kekuatan militer.

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin al-Khattab RA, pasukan Muslim memenangkan beberapa pertempuran besar, seperti:

  • Perang al-Qadisiyyah (636 M);
  • Perang Jalula (637 M);
  • Perang Nahawand (642 M).

Kemenangan-kemenangan tersebut mengakhiri dominasi Kekaisaran Persia Sasaniyah dan membuka jalan bagi penyebaran Islam di wilayah Persia.


J. Pelajaran dari Surat kepada Kisra

Peristiwa ini mengandung banyak hikmah, di antaranya:

1. Kesombongan dapat menutup hati dari kebenaran

Kisra tidak menilai isi surat secara objektif. Ia lebih mengutamakan harga diri dan kebesaran kerajaannya daripada mencari kebenaran.

2. Dakwah harus tetap disampaikan kepada semua pihak

Walaupun mengetahui bahwa Persia merupakan kerajaan yang sangat kuat, Rasulullah ﷺ tetap menjalankan tugas menyampaikan risalah tanpa rasa takut.

3. Kekuasaan dunia tidak bersifat abadi

Kisra memimpin salah satu kerajaan terbesar di dunia. Namun hanya beberapa tahun kemudian, kerajaannya mengalami keruntuhan.

4. Nubuat Rasulullah ﷺ terbukti

Kabar mengenai terbunuhnya Kisra oleh putranya sendiri sampai kepada Rasulullah ﷺ sebelum berita itu diketahui oleh pihak Yaman. Hal ini menjadi salah satu tanda kenabian yang disebutkan dalam sumber-sumber Islam.

5. Diplomasi Islam tetap mengedepankan etika

Meskipun Kisra memperlakukan surat Rasulullah ﷺ dengan tidak hormat, surat tersebut sendiri disusun dengan bahasa yang santun dan penuh penghormatan terhadap penerimanya.


Kesimpulan

Surat Nabi Muhammad ﷺ kepada Kisra (Khosrow II) merupakan salah satu dokumen penting dalam sejarah diplomasi Islam. Melalui surat itu, Rasulullah ﷺ mengajak penguasa Persia kepada tauhid dengan cara yang bijaksana dan penuh penghormatan. Namun, kesombongan Kisra membuatnya menolak bahkan merobek surat tersebut.

Peristiwa ini tidak hanya menunjukkan perbedaan respons para penguasa terhadap dakwah Islam, tetapi juga menjadi bagian dari rangkaian sejarah yang berakhir dengan runtuhnya Kekaisaran Persia Sasaniyah. Kisah tersebut mengajarkan bahwa kekuasaan sebesar apa pun tidak akan kekal, sedangkan kebenaran yang dibawa para nabi akan tetap dikenang sepanjang zaman.

Referensi

  1. Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi.
  2. Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad.
  3. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah.
  4. Ibnu Sa’d, Ath-Thabaqat al-Kubra.
  5. Imam ath-Thabari, Tarikh ar-Rusul wal Muluk.
  6. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah.
  7. Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Raheeq Al-Makhtum.
  8. Muhammad Hamidullah, Majmu’at al-Watsa’iq as-Siyasiyyah lil ‘Ahd an-Nabawi wal Khilafah ar-Rasyidah.

— Arya Wiranegara 

Sumber : https://adajuga.com/surat-nabi-muhammad-4/

.