Zaid bin Ali, Keturunan Nabi Muhammad SAW yang Tubuhnya Disalib, Tergantung Beberapa Tahun dan Dibakar oleh Dinasti Umayyah

Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam. Ia adalah cicit Nabi Muhammad SAW melalui jalur Fatimah az-Zahra dan Husain bin Ali. Zaid dikenal sebagai ulama, ahli hadis, ahli fikih, sekaligus sosok yang berani menentang pemerintahan Dinasti Umayyah yang dianggapnya telah menyimpang dari prinsip-prinsip keadilan Islam.

Wafatnya Zaid bin Ali bukan karena sakit atau usia tua, melainkan akibat luka yang dideritanya dalam sebuah pemberontakan bersenjata melawan kekuasaan Khalifah Umayyah pada tahun 122 H/740 M. Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi penting yang melibatkan Ahlul Bait setelah Tragedi Karbala.

# Siapakah Zaid bin Ali?

Nama lengkapnya adalah Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ia merupakan putra Ali Zainal Abidin dan cucu Husain bin Ali yang selamat dari Tragedi Karbala pada tahun 61 H.

Silsilahnya adalah:

Muhammad SAW → Fatimah az-Zahra → Husain bin Ali → Ali Zainal Abidin → Zaid bin Ali

Zaid lahir sekitar tahun 80 H (699 M) di Madinah. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga Ahlul Bait yang dikenal karena ilmu, ketakwaan, dan perjuangan mereka dalam menjaga ajaran Islam.

# Latar Belakang Konflik dengan Dinasti Umayyah

Pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah, muncul berbagai kelompok yang merasa tidak puas terhadap kebijakan politik penguasa. Banyak kalangan Muslim menilai bahwa sebagian penguasa Umayyah menerapkan pemerintahan yang tidak sesuai dengan prinsip keadilan Islam.

Zaid bin Ali termasuk tokoh yang secara terbuka mengkritik pemerintahan Umayyah, khususnya pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Ia menentang berbagai bentuk ketidakadilan, diskriminasi, dan penyalahgunaan kekuasaan yang menurutnya terjadi pada masa itu.

Penduduk Kufah di Irak kemudian mengirim surat kepada Zaid dan memintanya memimpin gerakan perlawanan terhadap pemerintahan Umayyah.

# Pemberontakan di Kufah

Pada tahun 122 H/740 M, Zaid tiba di Kufah setelah menerima dukungan dari ribuan penduduk kota tersebut.

Menurut sejumlah riwayat sejarah, puluhan ribu orang sempat menyatakan baiat kepada Zaid. Namun ketika pasukan Umayyah mulai bergerak, sebagian besar pendukungnya meninggalkan perjuangan tersebut.

Peristiwa ini mengingatkan pada pengalaman kakeknya, Husain bin Ali, yang juga pernah dijanjikan dukungan oleh sebagian penduduk Kufah sebelum akhirnya ditinggalkan.

Meskipun jumlah pengikutnya menyusut drastis, Zaid tetap memilih melanjutkan perjuangan.

# Kronologi Wafatnya Zaid bin Ali

Pertempuran antara pasukan Zaid dan tentara Umayyah terjadi di sekitar Kufah.

Dalam pertempuran tersebut, Zaid menunjukkan keberanian yang luar biasa. Namun ia terkena anak panah yang menghantam dahinya.

Para pengikutnya berusaha mencabut anak panah tersebut dan membawanya ke tempat yang lebih aman. Akan tetapi luka yang dideritanya sangat parah.

Setelah anak panah dicabut, kondisi Zaid semakin memburuk karena pendarahan hebat. Tidak lama kemudian ia wafat akibat luka tersebut pada tahun 122 H/740 M.

Dengan demikian, penyebab langsung wafatnya Zaid bin Ali adalah luka fatal akibat terkena anak panah dalam pertempuran melawan pasukan Dinasti Umayyah.

# Perlakuan terhadap Jenazah Zaid

Tragedi tidak berakhir setelah wafatnya Zaid.

Para pengikutnya sempat menguburkan jenazahnya secara rahasia untuk menghindari tindakan pemerintah Umayyah. Namun lokasi makamnya akhirnya diketahui oleh pihak berwenang.

Atas perintah gubernur Umayyah, jenazah Zaid dibongkar dari kuburnya. Tubuhnya kemudian disalib di Kufah sebagai bentuk intimidasi politik terhadap para pendukung Ahlul Bait.

Menurut sejumlah sumber sejarah, jasadnya dibiarkan tergantung selama beberapa tahun sebelum akhirnya diturunkan dan dibakar. Abu jenazahnya kemudian ditebarkan ke Sungai Efrat.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu tindakan paling kontroversial yang dilakukan terhadap keturunan Nabi Muhammad dalam sejarah Islam.

# Dampak Wafatnya Zaid bin Ali

Wafatnya Zaid memberikan pengaruh besar dalam dunia Islam.

1. Munculnya Mazhab Zaidiyah

Para pengikut Zaid kemudian berkembang menjadi kelompok yang dikenal sebagai Zaidiyah. Mazhab ini masih bertahan hingga sekarang, terutama di Yaman.

2. Menguatkan Gerakan Anti-Umayyah

Kematian Zaid semakin meningkatkan ketidakpuasan terhadap Dinasti Umayyah dan menjadi salah satu faktor yang memperkuat berbagai gerakan oposisi.

3. Menjadi Simbol Perjuangan Melawan Kezaliman

Dalam tradisi Islam, terutama di kalangan pengikut Ahlul Bait, Zaid dikenang sebagai tokoh yang berani memperjuangkan keadilan meskipun harus menghadapi risiko kematian.

# Kesimpulan

Zaid bin Ali, cicit Nabi Muhammad SAW melalui jalur Husain bin Ali, wafat pada tahun 122 H (740 M) akibat luka parah karena terkena anak panah dalam pertempuran melawan pasukan Dinasti Umayyah di Kufah. Pemberontakan yang dipimpinnya dilatarbelakangi oleh penolakannya terhadap kebijakan pemerintahan Umayyah yang dianggap tidak adil.

Setelah wafat, jenazahnya mengalami perlakuan yang sangat keras oleh penguasa saat itu, termasuk pembongkaran makam dan penyaliban jasadnya. Meskipun demikian, nama Zaid bin Ali tetap dikenang sebagai salah satu tokoh besar Ahlul Bait yang berani memperjuangkan prinsip keadilan dan kebenaran.

# Referensi Utama
  1. Abu al-Faraj al-Isfahani, Maqatil al-Talibiyyin.
  2. Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk.
  3. Ibn al-Athir, Al-Kamil fi al-Tarikh.
  4. Ibn Kathir, Al-Bidayah wa al-Nihayah.
  5. Wilferd Madelung, The Succession to Muhammad.
  6. Heinz Halm, Shi’a Islam: From Religion to Revolution.

— Arya Wiranegara 

Sejarah Islam 

Sumber : https://adajuga.com/zaid-bin-ali-wafat/

.