Surat Nabi Muhammad SAW kepada Jaifar dan Abbad bin Al-Julanda, Penguasa Oman

Surat Nabi Muhammad ﷺ kepada Jaifar bin Al-Julanda dan saudaranya Abbad bin Al-Julanda, penguasa Oman, merupakan salah satu contoh keberhasilan diplomasi Islam yang ditempuh melalui dialog, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap pemimpin setempat. Berbeda dengan beberapa kerajaan besar yang menolak dakwah Islam, para penguasa Oman memilih mendengarkan penjelasan utusan Rasulullah ﷺ sebelum mengambil keputusan.

Hasilnya sangat menggembirakan. Setelah melalui proses dialog yang mendalam, Jaifar dan Abbad menerima Islam. Keputusan mereka kemudian diikuti oleh sebagian besar masyarakat Oman sehingga wilayah tersebut bergabung dengan Negara Madinah secara damai tanpa peperangan.

Peristiwa ini menjadi bukti bahwa dakwah Rasulullah ﷺ tidak hanya disampaikan melalui lisan, tetapi juga melalui surat resmi yang disusun dengan bahasa santun, argumentatif, dan penuh hikmah.


A. Mengenal Jaifar dan Abbad bin Al-Julanda

Jaifar dan Abbad adalah dua bersaudara dari keluarga Al-Julanda, yang memerintah wilayah Oman pada masa Rasulullah ﷺ.

Pada abad ke-7 M, Oman merupakan wilayah penting di bagian tenggara Jazirah Arab. Letaknya yang strategis di tepi Samudra Hindia menjadikannya pusat perdagangan internasional yang menghubungkan Jazirah Arab, Persia, India, dan Afrika Timur.

Masyarakat Oman terdiri atas berbagai suku Arab yang memiliki hubungan dagang dengan banyak negeri. Sebagian besar masih memeluk agama nenek moyang mereka, meskipun terdapat pula komunitas Kristen dan kelompok agama lainnya.

Sebagai penguasa, Jaifar memegang kekuasaan utama, sedangkan Abbad berperan dalam membantu pemerintahan dan urusan politik.


B. Latar Belakang Pengiriman Surat

Setelah Perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriah (628 M), Rasulullah ﷺ memperluas dakwah ke berbagai wilayah di luar Madinah.

Untuk menyampaikan surat kepada Jaifar dan Abbad, Rasulullah ﷺ memilih Amr bin al-‘Ash RA sebagai utusan.

Sebelum memeluk Islam, Amr bin al-‘Ash dikenal sebagai diplomat Quraisy yang cerdas dan berpengalaman. Setelah menjadi Muslim, kemampuan tersebut dimanfaatkan Rasulullah ﷺ dalam berbagai tugas diplomatik.

Penunjukan Amr menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memilih utusan yang memiliki kecakapan berbicara, memahami adat masyarakat, dan mampu berdialog dengan para pemimpin.


C. Teks Surat Nabi Muhammad ﷺ kepada Jaifar dan Abbad

Dalam kitab-kitab sirah dan sejarah, surat ini diriwayatkan dengan beberapa redaksi yang hampir sama. Salah satu redaksi yang masyhur adalah sebagai berikut.

Teks Arab

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

مِنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ إِلَى جَيْفَرَ وَعَبَّادِ ابْنَيْ الْجُلَنْدَى

سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أَدْعُوكُمَا بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ، أَسْلِمَا تَسْلَمَا، فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً، لِأُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ. فَإِنْ أَقْرَرْتُمَا بِالْإِسْلَامِ وَلَّيْتُكُمَا، وَإِنْ أَبَيْتُمَا أَنْ تُقِرَّا بِالْإِسْلَامِ فَإِنَّ مُلْكَكُمَا زَائِلٌ، وَتَظْهَرُ خَيْلِي عَلَى بِلَادِكُمَا.


D. Terjemahan Surat

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dari Muhammad bin Abdullah kepada Jaifar dan Abbad, dua putra Al-Julanda.

Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.

Amma ba’du.

Sesungguhnya aku mengajak kalian berdua kepada Islam. Masuk Islamlah, niscaya kalian akan memperoleh keselamatan. Aku adalah utusan Allah kepada seluruh manusia, untuk memberi peringatan kepada orang yang masih hidup dan agar ketetapan Allah berlaku atas orang-orang yang ingkar.

Apabila kalian menerima Islam, aku akan tetap mengangkat kalian sebagai pemimpin di negeri kalian. Namun apabila kalian menolak Islam, maka kekuasaan kalian akan lenyap dan pasukanku akan menguasai negeri kalian.


E. Penjelasan Isi Surat

1. Ajakan kepada Islam

Isi utama surat adalah ajakan untuk mengesakan Allah dan menerima Nabi Muhammad ﷺ sebagai rasul terakhir.

Ajakan tersebut disampaikan secara langsung namun tetap menggunakan bahasa yang santun.


2. Jaminan Kedudukan

Salah satu bagian penting dalam surat ini adalah pernyataan Rasulullah ﷺ bahwa apabila Jaifar dan Abbad memeluk Islam, mereka tetap akan menjadi pemimpin di Oman.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa Islam tidak selalu mengganti penguasa lokal. Selama mereka menerima Islam dan menjalankan pemerintahan dengan baik, kedudukan mereka tetap dihormati.


3. Peringatan

Surat juga memuat peringatan bahwa apabila mereka menolak dakwah dan memusuhi Islam, maka kekuasaan mereka akan berakhir.

Peringatan tersebut bukan ancaman tanpa alasan, tetapi penegasan mengenai konsekuensi politik apabila memilih melakukan permusuhan terhadap Negara Madinah.


F. Dialog Amr bin al-‘Ash dengan Jaifar

Sesampainya di Oman, Amr bin al-‘Ash RA menyerahkan surat kepada Jaifar.

Menurut riwayat dalam kitab-kitab sirah, Jaifar tidak langsung memberikan jawaban. Ia mengajak Amr berdialog mengenai Islam.

Beberapa pertanyaan yang diajukan antara lain:

  • Siapakah Muhammad?
  • Apa ajaran yang dibawanya?
  • Mengapa bangsa Arab mengikutinya?
  • Bagaimana akhlaknya?
  • Apa yang diperintahkannya kepada umatnya?

Amr menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan:

  • menyembah Allah semata;
  • meninggalkan penyembahan berhala;
  • berlaku jujur;
  • menjaga amanah;
  • menyambung silaturahmi;
  • membantu fakir miskin;
  • menjauhi kezaliman dan kemaksiatan.

Penjelasan tersebut membuat Jaifar tertarik untuk mempelajari Islam lebih jauh.


G. Masuk Islamnya Jaifar dan Abbad

Setelah berdiskusi dengan saudaranya, Abbad bin Al-Julanda, Jaifar akhirnya memutuskan menerima Islam.

Keputusan tersebut kemudian diikuti oleh sebagian besar masyarakat Oman.

Masuk Islamnya kedua penguasa ini berlangsung tanpa peperangan maupun paksaan.

Rasulullah ﷺ kemudian tetap mengukuhkan mereka sebagai pemimpin di wilayah Oman.

Peristiwa ini menjadi salah satu keberhasilan terbesar dakwah Islam melalui jalur diplomasi.


H. Dampak Surat terhadap Oman

Keislaman Jaifar dan Abbad membawa perubahan besar bagi wilayah Oman.

1. Penyebaran Islam secara damai

Islam berkembang melalui dakwah dan keteladanan, bukan melalui penaklukan militer.

2. Hubungan erat dengan Madinah

Oman menjadi bagian dari wilayah yang menjalin hubungan politik dan keagamaan dengan Negara Madinah.

3. Pengiriman zakat

Setelah memeluk Islam, masyarakat Oman mulai menjalankan kewajiban zakat dan berhubungan dengan pemerintahan Madinah dalam urusan keagamaan.

4. Berkembangnya ilmu Islam

Para sahabat dan utusan Rasulullah ﷺ mengajarkan Al-Qur’an, fikih, dan akhlak Islam kepada masyarakat Oman.

Dalam waktu yang relatif singkat, Oman berkembang menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di kawasan pesisir Samudra Hindia.


I. Hikmah Surat kepada Jaifar dan Abbad

Peristiwa ini memberikan banyak pelajaran penting.

1. Dialog lebih efektif daripada konfrontasi

Jaifar tidak langsung menolak surat Rasulullah ﷺ. Ia memilih berdialog terlebih dahulu sehingga memperoleh pemahaman yang benar tentang Islam.

2. Diplomasi memerlukan utusan yang tepat

Amr bin al-‘Ash RA berhasil menjalankan tugasnya karena memiliki kecerdasan, kemampuan berbicara, dan pengalaman dalam hubungan antarbangsa.

3. Islam menghormati kepemimpinan yang adil

Rasulullah ﷺ tidak mencabut jabatan Jaifar dan Abbad setelah mereka memeluk Islam. Hal ini menunjukkan penghormatan terhadap pemerintahan lokal yang menerima ajaran Islam.

4. Dakwah dilakukan tanpa paksaan

Masuk Islamnya masyarakat Oman berlangsung melalui kesadaran dan keyakinan, bukan karena tekanan militer.

5. Kepemimpinan yang baik membawa perubahan

Keputusan Jaifar dan Abbad menerima Islam memberikan pengaruh besar terhadap rakyatnya. Seorang pemimpin yang memilih jalan kebenaran dapat menjadi sebab tersebarnya kebaikan di tengah masyarakat.


J. Analisis Sejarah

Surat kepada Jaifar dan Abbad menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ menerapkan strategi diplomasi yang fleksibel sesuai kondisi setiap wilayah. Kepada para penguasa yang bersedia berdialog, beliau mengedepankan penjelasan, penghormatan, dan jaminan keberlangsungan pemerintahan lokal.

Keberhasilan dakwah di Oman juga memperlihatkan bahwa penyebaran Islam pada masa Nabi Muhammad ﷺ tidak selalu melalui peperangan. Dalam banyak kasus, surat resmi, dialog yang bijaksana, dan keteladanan para utusan justru menjadi sarana yang sangat efektif dalam memperkenalkan Islam kepada masyarakat.


Kesimpulan

Surat Nabi Muhammad ﷺ kepada Jaifar dan Abbad bin Al-Julanda merupakan salah satu contoh keberhasilan diplomasi Islam pada masa kenabian. Melalui surat yang disampaikan oleh Amr bin al-‘Ash RA, kedua penguasa Oman memperoleh penjelasan yang utuh mengenai ajaran Islam dan akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam tanpa paksaan.

Keputusan mereka membawa dampak besar bagi penyebaran Islam di Oman serta memperkuat hubungan antara wilayah tersebut dengan Negara Madinah. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa dakwah yang dilakukan dengan hikmah, dialog, dan penghormatan terhadap pihak lain dapat menghasilkan perubahan yang mendalam dan berkelanjutan.

Referensi

  1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah.
  2. Ibnu Sa’d, Ath-Thabaqat al-Kubra.
  3. Imam ath-Thabari, Tarikh ar-Rusul wal Muluk.
  4. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah.
  5. Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam, Kitab al-Amwal.
  6. Muhammad Hamidullah, Majmu’at al-Watsa’iq as-Siyasiyyah lil ‘Ahd an-Nabawi wal Khilafah ar-Rasyidah.
  7. Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Raheeq Al-Makhtum.
  8. Akram Dhiya’ al-‘Umari, As-Sirah an-Nabawiyyah ash-Shahihah.

— Arya Wiranegara 

Sumber : https://adajuga.com/surat-nabi-muhammad-8/

.