Zainab binti al-Harits : Perempuan Yahudi yang Meracuni Nabi Muhammad SAW di Khaibar

Di antara peristiwa yang paling dikenal dalam sejarah kehidupan Rasulullah SAW adalah upaya pembunuhan terhadap beliau melalui makanan beracun setelah Perang Khaibar. Pelaku dalam peristiwa tersebut adalah seorang perempuan Yahudi bernama Zainab binti al-Harits.

Peristiwa ini diriwayatkan dalam hadis-hadis sahih, dicatat oleh para ahli sejarah Islam, serta dijelaskan oleh ulama hadis dalam kitab-kitab syarah. Dari riwayat-riwayat tersebut dapat diketahui siapa Zainab binti al-Harits, apa motifnya, bagaimana kronologi kejadian, dan bagaimana sikap Rasulullah SAW terhadapnya.


# Siapakah Zainab binti al-Harits?

Zainab binti al-Harits adalah seorang perempuan Yahudi yang tinggal di Khaibar. Ia berasal dari keluarga terpandang di kalangan Yahudi.

Menurut kitab-kitab sirah:

  • Ayahnya bernama al-Harits.
  • Saudaranya adalah Marhab, salah satu panglima Yahudi Khaibar yang terbunuh dalam peperangan.
  • Suaminya adalah Sallam bin Misykam, seorang tokoh Bani Nadhir yang juga gugur dalam konflik dengan kaum Muslimin.

Kehilangan sejumlah anggota keluarganya menjadi salah satu faktor yang mendorongnya menyimpan dendam kepada Rasulullah SAW.

Rujukan:

  • Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jilid 3.
  • Ibnu Sa’d, Ath-Thabaqat al-Kubra, Jilid 2.
  • Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, Jilid 4.

# Mengapa Zainab Meracuni Nabi Muhammad SAW?

Para ulama menyebutkan dua alasan utama.

1. Balas dendam

Perang Khaibar mengakibatkan banyak pemimpin Yahudi tewas. Zainab kehilangan beberapa anggota keluarganya sehingga ia berniat membalas kematian mereka.

2. Menguji kenabian Rasulullah SAW

Dalam sejumlah riwayat sirah disebutkan bahwa setelah ditangkap ia berkata:

“Aku berkata, jika dia benar-benar seorang nabi, maka racun itu tidak akan mencelakakannya. Jika dia hanyalah seorang raja, kami akan terbebas darinya.”

Riwayat mengenai pengakuan ini disebutkan oleh Ibnu Hisyam dan Ibnu Sa’d, sementara rincian lafaznya memiliki beberapa variasi dalam kitab-kitab sejarah.


# Kronologi Peristiwa Peracunan

Setelah Perang Khaibar berakhir, Zainab menyembelih seekor kambing.

Ia kemudian bertanya kepada orang-orang Yahudi mengenai bagian kambing yang paling disukai Rasulullah SAW.

Mereka menjawab:

“Bagian pundaknya.”

Karena itu ia memberi racun pada seluruh kambing, tetapi memperbanyak racun pada bagian pundak.

Kambing tersebut kemudian dihadiahkan kepada Rasulullah SAW.

Beliau memakan sedikit bagian daging itu bersama beberapa sahabat. Tidak lama kemudian beliau menghentikan makan dan memberitahukan bahwa daging tersebut telah diracuni. Menurut hadis Anas bin Malik, bekas pengaruh racun itu masih tampak pada langit-langit mulut Rasulullah SAW.


# Sahabat yang Wafat Akibat Racun

Salah seorang sahabat yang turut memakan daging tersebut adalah Bisyr bin al-Bara’ bin Ma’rur.

Berbeda dengan Rasulullah SAW yang segera menghentikan makan, Bisyr telah menelan lebih banyak daging sehingga akhirnya meninggal akibat racun tersebut.

Peristiwa ini disebutkan dalam berbagai kitab sirah, di antaranya:

  • Ibnu Hisyam.
  • Ibnu Katsir.
  • Ibnu Sa’d.

# Hadis-Hadis Sahih tentang Peristiwa Ini

Peristiwa peracunan Nabi Muhammad SAW diriwayatkan dalam banyak kitab hadis, antara lain:

  • Sahih al-Bukhari No. 2617: Anas bin Malik meriwayatkan bahwa seorang perempuan Yahudi menghadiahkan kambing beracun kepada Nabi SAW. Ketika para sahabat bertanya apakah perempuan itu harus dibunuh, Rasulullah SAW menjawab, “Tidak.” Bekas racun itu tetap terlihat pada mulut beliau.
  • Sahih al-Bukhari No. 3169: Memuat dialog Rasulullah SAW dengan orang-orang Yahudi setelah peristiwa tersebut.
  • Sahih al-Bukhari No. 4428: Menjelang wafatnya, Rasulullah SAW bersabda kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku makan di Khaibar, dan sekarang aku merasa seakan-akan urat nadiku terputus karena racun itu.”

Riwayat ini menjadi dasar para ulama dalam menjelaskan bahwa pengaruh racun tersebut tetap dirasakan oleh Rasulullah SAW hingga akhir hayat beliau.


# Bagaimana Sikap Rasulullah SAW?

Setelah diketahui bahwa Zainab adalah pelakunya, Rasulullah SAW memanggil dan menanyainya.

Ia mengakui perbuatannya.

Dalam hadis riwayat Anas bin Malik disebutkan bahwa ketika para sahabat meminta izin untuk membunuhnya, Rasulullah SAW pada awalnya tidak mengizinkan.

Namun, sebagian riwayat sejarah menjelaskan bahwa setelah Bisyr bin al-Bara’ meninggal akibat racun tersebut, Zainab kemudian dijatuhi hukuman qisas karena kematian Bisyr. Para ulama mengompromikan riwayat-riwayat ini dengan menjelaskan bahwa Nabi SAW memaafkan hak pribadi beliau, sedangkan hak keluarga korban tetap dapat ditegakkan melalui qisas.


# Penjelasan Para Ulama
Imam an-Nawawi

Dalam Syarh Shahih Muslim, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa peristiwa ini merupakan salah satu mukjizat Rasulullah SAW karena Allah memberitahukan kepada beliau bahwa makanan tersebut telah diracuni.

Ibnu Hajar al-Asqalani

Dalam Fath al-Bari, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadis-hadis mengenai racun di Khaibar sahih dan menunjukkan bahwa dampak racun itu tetap dirasakan Rasulullah SAW hingga menjelang wafat beliau.

Ibnu Katsir

Dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir mengisahkan peristiwa ini secara rinci dan menjelaskan bahwa racun tersebut menjadi salah satu sebab rasa sakit yang dialami Rasulullah SAW pada akhir kehidupannya, meskipun ajal beliau tetap merupakan ketetapan Allah.


# Hikmah Peristiwa Ini

Beberapa pelajaran penting yang dapat diambil adalah:

  • Allah melindungi Rasulullah SAW dengan memberitahukan adanya racun.
  • Peristiwa ini menjadi bukti salah satu mukjizat kenabian.
  • Rasulullah SAW menunjukkan akhlak yang agung dengan tidak tergesa-gesa membalas pelaku.
  • Islam tetap menegakkan keadilan ketika terjadi pembunuhan.
  • Rasulullah SAW tetap mengalami ujian sebagai manusia, namun hal itu tidak mengurangi kesempurnaan risalah yang beliau sampaikan.

# Kesimpulan

Zainab binti al-Harits adalah perempuan Yahudi dari Khaibar yang dikenal dalam sejarah Islam karena meracuni Nabi Muhammad SAW setelah Perang Khaibar. Motif utamanya adalah balas dendam atas kematian kerabatnya serta menguji klaim kenabian Rasulullah SAW. Upaya tersebut gagal membunuh Nabi karena Allah memberitahukan kepada beliau tentang racun itu, tetapi salah seorang sahabat, Bisyr bin al-Bara’ bin Ma’rur, wafat akibat memakan daging tersebut.

Peristiwa ini memiliki dasar yang kuat dalam hadis-hadis sahih dan menjadi salah satu bukti mukjizat Rasulullah SAW sekaligus teladan akhlak beliau dalam menghadapi musuh.

# Daftar Rujukan
  1. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, No. 2617, 3169, 4428.
  2. Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab as-Salam.
  3. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jilid 3.
  4. Ibnu Sa’d, Ath-Thabaqat al-Kubra, Jilid 2.
  5. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, Jilid 4.
  6. Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, penjelasan hadis tentang peristiwa Khaibar.
  7. Imam an-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim.

— Arya Wiranegara 

Sumber : https://adajuga.com/zainab-binti-al-harits/

https://s.shopee.co.id/6L2OG3vrS3

#nabimuhammad #nabi #muhammad #islam #quran

.