Perang Mohács : Utsmaniyah vs Hungaria – Pertempuran Dua Jam yang Mengakhiri Kerajaan Hungaria Dalam sejarah dunia, terdapat beberapa pertempuran yang berlangsung singkat tetapi mengubah arah peradaban. Salah satunya adalah Perang Mohács, yang terjadi pada 29 Agustus 1526 di Dataran Mohács, Hungaria. Pertempuran ini mempertemukan Kerajaan Hungaria yang dipimpin Raja Louis II dengan Kesultanan Utsmaniyah di bawah kepemimpinan Sultan Sulaiman I (Sulaiman al-Qanuni/Suleiman the Magnificent). Meskipun berlangsung sekitar dua jam, hasilnya sangat menentukan. Kekalahan Hungaria mengakhiri statusnya sebagai kerajaan yang kuat di Eropa Tengah dan membuka jalan bagi ekspansi Utsmaniyah ke wilayah tersebut. # Latar Belakang Pada awal abad ke-16, Kesultanan Utsmaniyah sedang berada pada puncak kejayaannya. Setelah menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453, wilayah kekuasaan Utsmaniyah terus meluas ke Balkan. Ketika Sultan Sulaiman naik takhta pada 1520, ia melanjutkan kebijakan ekspansi. Salah satu target utamanya adalah Kerajaan Hungaria, yang menjadi benteng penting Eropa Tengah. Sebelum Mohács, Utsmaniyah telah merebut Beograd pada tahun 1521. Kekalahan itu membuat pertahanan Hungaria semakin lemah. Di sisi lain, Kerajaan Hungaria menghadapi berbagai persoalan: Perselisihan di kalangan bangsawan. Kelemahan keuangan negara. Keterlambatan mobilisasi pasukan. Sulit memperoleh bantuan militer dari kerajaan-kerajaan Kristen lainnya. Akibatnya, Hungaria harus menghadapi invasi besar Utsmaniyah dengan sumber daya yang terbatas. # Kekuatan Kedua Pihak 1. Kesultanan Utsmaniyah Dipimpin langsung oleh Sultan Sulaiman I. Perkiraan kekuatan: Sekitar 60.000–100.000 prajurit (angka berbeda menurut berbagai sumber). Ribuan pasukan elit Janissari. Kavaleri Sipahi. Artileri lapangan yang modern dan terorganisasi. Dukungan logistik yang sangat baik. 2. Kerajaan Hungaria Dipimpin Raja Louis II. Perkiraan kekuatan: Sekitar 25.000–30.000 prajurit. Kavaleri berat sebagai kekuatan utama. Infanteri dan tentara bayaran. Artileri dalam jumlah lebih sedikit dibanding Utsmaniyah. Secara jumlah maupun persenjataan, Hungaria berada dalam posisi yang kurang menguntungkan. # Jalannya Pertempuran Pada sore hari tanggal 29 Agustus 1526, kedua pasukan bertemu di Dataran Mohács. Komandan Hungaria memilih menyerang lebih dahulu dengan mengandalkan kavaleri berat. Pada awalnya, serangan tersebut sempat memberikan tekanan kepada pasukan depan Utsmaniyah. Namun, keadaan segera berubah. Pasukan Janissari yang disiplin dan artileri Utsmaniyah menghentikan laju kavaleri Hungaria. Setelah itu, pasukan Utsmaniyah melancarkan serangan balasan dari berbagai arah. Medan yang berlumpur dan formasi yang kurang terkoordinasi membuat pasukan Hungaria semakin sulit bertahan. Dalam waktu sekitar dua jam, sebagian besar pasukan Hungaria telah hancur. # Wafatnya Raja Louis II Setelah kekalahan tidak dapat dihindari, Raja Louis II berusaha meninggalkan medan perang. Dalam perjalanan, kudanya diduga tergelincir saat menyeberangi Sungai Csele (Csele Creek). Sang raja terjatuh ke air dan meninggal dunia. Jenazahnya baru ditemukan beberapa waktu kemudian. Karena Louis II tidak memiliki keturunan, wafatnya sang raja memicu krisis suksesi yang memperburuk keadaan politik Hungaria. # Mengapa Hungaria Kalah? Beberapa faktor utama penyebab kekalahan Hungaria antara lain: 1. Kelebihan Jumlah Pasukan Utsmaniyah Pasukan Sultan Sulaiman jauh lebih besar dan lebih siap. 2. Keunggulan Artileri Meriam Utsmaniyah memiliki peran besar dalam menghancurkan serangan kavaleri Hungaria. 3. Janissari yang Sangat Disiplin Pasukan elit ini mampu mempertahankan formasi dan menghadapi serangan frontal dengan efektif. 4. Lemahnya Koordinasi Hungaria Mobilisasi terlambat membuat sebagian pasukan sekutu belum sempat bergabung. 5. Kondisi Politik Dalam Negeri Perpecahan elite dan lemahnya keuangan mengurangi kemampuan Hungaria mempersiapkan perang. # Dampak Perang Mohács 1. Berakhirnya Kerajaan Hungaria sebagai Kekuatan Besar Kekalahan Mohács mengakhiri dominasi Kerajaan Hungaria di Eropa Tengah. 2. Perebutan Takhta Setelah Louis II wafat, muncul dua penguasa yang sama-sama mengklaim takhta: Ferdinand dari Wangsa Habsburg. János Zápolya, bangsawan Hungaria yang kemudian mendapat dukungan Utsmaniyah. Persaingan ini memicu konflik berkepanjangan. 3. Pendudukan Buda Pada tahun 1541, Utsmaniyah berhasil menguasai Buda, ibu kota Hungaria. Sejak saat itu, wilayah Hungaria terbagi menjadi tiga bagian: Hungaria Utsmaniyah di bagian tengah. Hungaria Kerajaan di bawah Wangsa Habsburg. Kepangeranan Transylvania yang menjadi negara bawahan dengan otonomi luas di bawah pengaruh Utsmaniyah. 4. Persaingan Utsmaniyah dan Habsburg Perang Mohács menjadi awal persaingan panjang antara Kesultanan Utsmaniyah dan Wangsa Habsburg dalam memperebutkan pengaruh di Eropa Tengah selama lebih dari satu abad. # Warisan Sejarah Di Hungaria, nama Mohács identik dengan bencana nasional. Bahkan terdapat ungkapan yang berarti, “Lebih banyak yang hilang di Mohács,” untuk menggambarkan musibah yang sangat besar. Bagi Kesultanan Utsmaniyah, kemenangan ini merupakan salah satu pencapaian terbesar pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman I. Meski demikian, ekspansi Utsmaniyah ke Eropa tidak berlangsung tanpa hambatan. Pengepungan Wina pada tahun 1529 dan 1532 tidak berhasil menaklukkan kota tersebut, sehingga persaingan dengan Habsburg terus berlanjut selama beberapa generasi. ___ Perang Mohács merupakan salah satu pertempuran paling menentukan dalam sejarah Eropa. Dalam waktu sekitar dua jam, sebuah kerajaan yang telah berdiri selama berabad-abad kehilangan kemampuan untuk mempertahankan posisinya sebagai kekuatan utama di kawasan. Kemenangan Kesultanan Utsmaniyah memperluas pengaruhnya di Eropa Tengah, sementara kekalahan Hungaria memicu perubahan besar dalam peta politik kawasan. Dampaknya terasa selama berabad-abad, menjadikan Mohács bukan sekadar medan pertempuran, tetapi sebuah titik balik penting dalam sejarah Eropa. — Arya Wiranegara Sumber : https://adajuga.com/perang-mohacs/ . Navigasi pos Hajar Aswad Dicabut dari Ka’bah: Tragedi Penyerangan Makkah oleh Qaramitah Tahun 930 M (317 H)