Perang Salib Kedua (1147–1149) Jatuhnya Edessa, Seruan Perang Baru, Kegagalan Pengepungan Damaskus dan Dampaknya Jika Perang Salib Pertama berakhir dengan kemenangan besar pasukan Salibis dan penaklukan Yerusalem pada 1099, maka beberapa dekade kemudian keadaan berubah secara drastis. Negara-negara Salibis yang berdiri di Timur menghadapi tekanan yang semakin besar. Ancaman terbesar datang dari bangkitnya kekuatan Muslim di bawah Imad ad-Din Zengi dan kemudian Nur ad-Din Mahmud Zengi. Puncak dari perubahan tersebut terjadi pada 1144, ketika County of Edessa, negara Salibis pertama yang didirikan setelah Perang Salib Pertama, jatuh ke tangan Zengi. Berita ini mengguncang dunia Kristen Latin. Edessa bukan sekadar sebuah kota. Ia merupakan salah satu dari empat pusat utama kekuasaan Salibis. Kejatuhannya memperlihatkan bahwa negara-negara Salibis tidak kebal terhadap serangan. Sebaliknya, mereka dapat kehilangan wilayah secara permanen. Sebagai respons, Paus Eugenius III menyerukan ekspedisi baru. Seruan tersebut kemudian mendapat dukungan dari salah satu tokoh keagamaan paling berpengaruh di Eropa saat itu: Bernardus dari Clairvaux. Berbeda dari Perang Salib Pertama, Perang Salib Kedua melibatkan dua raja besar Eropa: Louis VII dari Prancis Konrad III dari Jerman Secara teori, ekspedisi ini memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan Perang Salib Pertama. Namun, hasilnya justru mengecewakan. Pasukan Jerman mengalami kekalahan besar di Anatolia. Pasukan Prancis juga mengalami kesulitan. Ketika kedua pasukan mencapai Timur Tengah, mereka memutuskan untuk menyerang Damaskus pada 1148. Namun, pengepungan tersebut gagal hanya dalam beberapa hari. Kegagalan Perang Salib Kedua memiliki dampak yang sangat besar. Ia memperkuat posisi kekuatan Muslim. Hubungan antara negara-negara Salibis dan para penguasa Eropa menjadi semakin rumit. Dan yang paling penting, kegagalan tersebut membuka jalan bagi kebangkitan kekuatan yang kemudian akan melahirkan Salahuddin al-Ayyubi. 1. Kejatuhan Edessa pada 1144 Pada awal abad ke-12, County of Edessa merupakan negara Salibis paling utara. Negara ini didirikan oleh Baldwin dari Boulogne pada 1098. Namun, sejak awal Edessa memiliki posisi yang sangat rentan. Wilayahnya jauh dari Kerajaan Yerusalem. Edessa juga dikelilingi oleh kekuatan Muslim yang semakin berkembang. Salah satu ancaman terbesar adalah Imad ad-Din Zengi, penguasa Mosul dan Aleppo. Zengi menyadari bahwa Edessa memiliki kelemahan. Kota tersebut tidak memiliki pertahanan yang cukup kuat untuk menghadapi pengepungan panjang. Selain itu, bantuan dari negara-negara Salibis lainnya sulit datang dengan cepat. Pada akhir 1144, Zengi bergerak menuju Edessa. Pengepungan dimulai pada akhir November. Pada 24 Desember 1144, Edessa jatuh. Peristiwa ini menjadi salah satu kekalahan paling penting bagi negara-negara Salibis. Untuk pertama kalinya, salah satu negara Salibis utama benar-benar dihancurkan. 2. Mengapa Edessa Jatuh? Kejatuhan Edessa disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama: posisi geografis Edessa terisolasi dari negara-negara Salibis lainnya. Kedua: lemahnya pertahanan Kota tersebut tidak memiliki pertahanan sekuat beberapa kota lain. Ketiga: kekuatan Zengi Zengi telah berhasil mengumpulkan pasukan yang lebih terorganisasi. Keempat: kurangnya bantuan Negara-negara Salibis lainnya tidak mampu memberikan bantuan tepat waktu. Kelima: perpecahan politik Para penguasa Latin sering memiliki kepentingan sendiri. Mereka tidak selalu bertindak sebagai satu kesatuan. Kejatuhan Edessa menunjukkan bahwa negara-negara Salibis menghadapi masalah struktural. Mereka tidak dapat bergantung selamanya pada kemenangan Perang Salib Pertama. 3. Reaksi Dunia Kristen Berita kejatuhan Edessa akhirnya sampai ke Eropa. Reaksi yang muncul sangat kuat. Para pemimpin gereja melihat peristiwa ini sebagai ancaman serius. Jika Edessa dapat jatuh, maka negara-negara Salibis lainnya juga dapat mengalami nasib yang sama. Pertanyaan kemudian muncul: Apakah Yerusalem juga akan jatuh? Kekhawatiran tersebut mendorong Paus Eugenius III menyerukan perang salib baru. Seruan ini kemudian menjadi dasar bagi: Perang Salib Kedua. 4. Seruan Paus Eugenius III Pada 1145, Paus Eugenius III mengeluarkan seruan perang salib. Seruan tersebut dituangkan dalam bula kepausan yang dikenal sebagai Quantum praedecessores. Paus menyerukan kepada umat Kristen Eropa untuk membantu wilayah Kristen di Timur. Namun, Perang Salib Kedua memiliki karakter berbeda. Tujuan utamanya tidak lagi hanya membebaskan Yerusalem. Salah satu motivasi utama adalah: mengembalikan Edessa. Namun, sejak awal terdapat perdebatan tentang strategi. Apakah pasukan harus langsung menuju Edessa? Atau menyerang pusat kekuatan Muslim yang lebih besar? Pertanyaan ini nantinya menjadi sangat penting. 5. Bernardus dari Clairvaux Tokoh paling penting dalam mobilisasi Perang Salib Kedua adalah: Bernardus dari Clairvaux. Ia merupakan seorang biarawan Cistercian dan salah satu pemimpin spiritual paling berpengaruh di Eropa. Bernardus melakukan perjalanan untuk menyampaikan seruan perang salib. Pada Vézelay, Prancis, ia berkhotbah di hadapan massa yang besar. Seruannya memiliki pengaruh luar biasa. Banyak orang kemudian mengambil tanda salib. Dalam konteks abad pertengahan, “mengambil salib” berarti berjanji mengikuti ekspedisi perang salib. Bernardus juga membantu membangun legitimasi religius ekspedisi. Menurutnya, perjuangan tersebut merupakan bentuk pengabdian kepada Tuhan. Namun, hasil akhirnya jauh dari harapan. 6. Raja Louis VII dari Prancis Salah satu pemimpin utama Perang Salib Kedua adalah: Louis VII, Raja Prancis. Louis memiliki motivasi religius yang kuat. Ia juga ingin menebus dosa dan memenuhi sumpah keagamaan. Namun, ekspedisinya membawa konsekuensi besar. Ia meninggalkan kerajaan dalam kondisi yang membutuhkan pengelolaan politik. Sementara itu, perjalanan ke Timur membutuhkan biaya sangat besar. Louis VII membawa pasukan dalam jumlah besar. Namun, perjalanan mereka menuju Timur akan menjadi sangat sulit. 7. Raja Konrad III dari Jerman Pemimpin besar lainnya adalah: Konrad III, Raja Jerman. Konrad awalnya tidak langsung tertarik mengikuti ekspedisi. Namun, Bernardus berhasil meyakinkannya. Konrad kemudian bergabung. Dengan demikian, Perang Salib Kedua menjadi ekspedisi yang melibatkan dua monarki besar Eropa Barat. Ini membuat harapan terhadap keberhasilan semakin tinggi. Namun, jumlah pasukan besar tidak otomatis menjamin kemenangan. Masalah logistik, strategi, koordinasi, dan hubungan diplomatik menjadi hambatan. 8. Pasukan Jerman Bergerak Lebih Dulu Pada 1147, pasukan Konrad III bergerak menuju Timur. Mereka melewati: Jerman Hongaria Balkan Konstantinopel Kemudian mereka menyeberangi wilayah Bizantium menuju Anatolia. Namun, perjalanan ini tidak berjalan lancar. Pasukan Jerman mengalami masalah: kekurangan makanan kelelahan serangan musuh medan berat Di Anatolia, pasukan Seljuk menyerang mereka. Pasukan Konrad mengalami kekalahan besar. Banyak tentara tewas. Sebagian lainnya ditawan. Konrad sendiri terluka. Ekspedisi yang awalnya sangat menjanjikan mulai kehilangan kekuatan. 9. Pasukan Prancis Menghadapi Masalah Pasukan Louis VII kemudian bergerak melewati Anatolia. Mereka juga mengalami kesulitan. Medan Anatolia sangat berat. Pasukan harus menghadapi: pegunungan kekurangan air serangan pasukan Seljuk kelaparan Banyak tentara meninggal. Kuda juga banyak yang mati. Pasukan Prancis kehilangan sebagian besar kekuatannya sebelum mencapai wilayah Suriah. 10. Mengapa Anatolia Sangat Berbahaya? Anatolia merupakan wilayah yang sangat berbeda dari Eropa. Pasukan Eropa terbiasa dengan perang di wilayah yang lebih padat. Namun, Anatolia memiliki: jarak yang sangat jauh medan berbatu wilayah pegunungan sumber air terbatas Pasukan Turki Seljuk menggunakan taktik perang bergerak. Mereka tidak selalu menghadapi musuh secara langsung. Mereka dapat: menyerang mundur memutus jalur logistik menyerang kembali Strategi ini sangat efektif melawan pasukan besar yang bergerak lambat. 11. Hubungan dengan Kekaisaran Bizantium Seperti Perang Salib Pertama, hubungan antara pasukan Salibis dan Bizantium tidak selalu harmonis. Kaisar Manuel I Komnenos berusaha menjaga kepentingan Bizantium. Ia tidak ingin pasukan Salibis menghancurkan hubungan diplomatik dengan kekuatan Muslim yang dapat mengancam Bizantium. Namun, para pemimpin Salibis memiliki agenda sendiri. Mereka ingin mencapai Tanah Suci. Perbedaan kepentingan ini menyebabkan ketegangan. Bizantium juga khawatir bahwa pasukan besar Eropa dapat mengganggu wilayah kekaisaran. Hubungan yang tidak harmonis ini menjadi salah satu masalah dalam ekspedisi. 12. Pasukan Salibis Tiba di Timur Pada 1148, pasukan yang tersisa akhirnya berkumpul di wilayah Timur. Namun, mereka menghadapi kenyataan baru. Mereka tidak memiliki kekuatan sebesar ketika berangkat. Banyak tentara telah hilang. Mereka juga menghadapi masalah: persediaan koordinasi perbedaan strategi Kini mereka harus menentukan target. Edessa telah jatuh. Untuk merebut kembali Edessa, mereka harus bergerak jauh ke utara. Namun, ada target yang lebih dekat. Damaskus. 13. Mengapa Damaskus Menjadi Target? Damaskus merupakan salah satu kota terpenting di dunia Islam. Kota tersebut: kaya memiliki posisi strategis memiliki populasi besar mengendalikan jalur perdagangan Namun, ada masalah besar. Damaskus sebenarnya tidak selalu menjadi musuh utama negara-negara Salibis. Pada periode tertentu, penguasa Damaskus bahkan memiliki hubungan diplomatik dengan Kerajaan Yerusalem. Karena itu, keputusan menyerang Damaskus menjadi kontroversial. 14. Perubahan Politik di Damaskus Pada masa itu, Damaskus diperintah oleh Mu’in ad-Din Unur. Ia merupakan penguasa yang sangat berpengalaman. Ia memahami ancaman dari Nur ad-Din. Ia juga mengetahui bahwa jika Damaskus jatuh, keseimbangan kekuatan akan berubah. Karena itu, ketika pasukan Salibis menyerang, ia meminta bantuan Nur ad-Din. Musuh lama akhirnya memiliki kepentingan bersama. Keduanya menghadapi ancaman dari luar. Inilah salah satu contoh bagaimana politik Timur Tengah sangat kompleks. 15. Pengepungan Damaskus Pada 24 Juli 1148, pasukan Salibis mulai mengepung Damaskus. Awalnya mereka memilih menyerang dari arah barat. Daerah tersebut memiliki kebun dan sumber air. Namun, pasukan Salibis kemudian memutuskan memindahkan posisi. Mereka berpindah ke arah yang lebih sulit. Keputusan ini menjadi salah satu kesalahan strategis terbesar. Pasukan Damaskus mendapatkan kesempatan memperkuat pertahanan. 16. Mengapa Pengepungan Gagal? Ada beberapa alasan. 1. Kurangnya koordinasi Para pemimpin Salibis memiliki kepentingan yang berbeda. 2. Persediaan terbatas Pasukan tidak memiliki cukup makanan. 3. Pertahanan Damaskus kuat Kota tersebut memiliki sistem pertahanan yang baik. 4. Bantuan Muslim datang Nur ad-Din dan pasukannya bergerak mendekati Damaskus. 5. Kepercayaan antar-pemimpin rendah Para pemimpin Salibis saling curiga. 6. Kesalahan strategi Perpindahan posisi membuat mereka kehilangan keuntungan awal. Akhirnya, setelah hanya beberapa hari, pengepungan dihentikan. Pasukan Salibis mundur. Perang Salib Kedua secara praktis berakhir. 17. Dampak Kegagalan Damaskus Kegagalan ini memiliki dampak besar. Pertama, moral pasukan Salibis menurun. Kedua, hubungan antara para pemimpin Eropa memburuk. Ketiga, Kerajaan Yerusalem kehilangan kesempatan strategis. Keempat, Nur ad-Din memperoleh keuntungan politik. Kelima, Damaskus semakin dekat dengan Nur ad-Din. Beberapa tahun kemudian, pada 1154, Nur ad-Din berhasil menguasai Damaskus. Dengan demikian, keputusan pasukan Salibis menyerang Damaskus justru menghasilkan konsekuensi yang berlawanan dari tujuan mereka. Alih-alih melemahkan kekuatan Muslim, mereka secara tidak langsung membantu proses penyatuan Suriah. 18. Dampak terhadap Kerajaan Yerusalem Kerajaan Yerusalem menjadi salah satu pihak yang paling dirugikan. Sebelum Perang Salib Kedua, Damaskus dapat menjadi mitra diplomatik yang berguna. Setelah kegagalan pengepungan, hubungan tersebut berubah. Damaskus semakin dekat dengan Nur ad-Din. Kerajaan Yerusalem kini menghadapi kekuatan Muslim yang lebih terintegrasi. Ancaman terhadap kerajaan semakin besar. 19. Dampak terhadap Nur ad-Din Kegagalan Perang Salib Kedua memperkuat posisi Nur ad-Din. Ia dapat menggunakan peristiwa tersebut sebagai bukti bahwa kekuatan Muslim dapat menghadapi pasukan Eropa. Ia kemudian melanjutkan proses konsolidasi. Pada 1154, Damaskus akhirnya berada di bawah kekuasaannya. Kini wilayah Suriah semakin terintegrasi. Nur ad-Din memiliki: Aleppo Damaskus wilayah Suriah lainnya Ini menjadi fondasi bagi kebangkitan kekuatan Muslim yang lebih besar. 20. Kegagalan yang Mengubah Sejarah Secara militer, Perang Salib Kedua merupakan kegagalan. Namun, dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar kekalahan. Perang ini mengubah keseimbangan kekuatan. Sebelum 1147: Negara Salibis masih memiliki peluang besar untuk memperluas wilayah. Setelah 1149: Kekuatan Muslim semakin terorganisasi. Proses penyatuan yang dimulai Zengi diteruskan oleh Nur ad-Din. Dan kemudian dilanjutkan oleh Salahuddin. 21. Peran Zengi dalam Perang Salib Kedua Zengi sendiri meninggal pada 1146. Namun, warisannya sangat penting. Ia telah: merebut Edessa memperkuat Mosul menguasai Aleppo menunjukkan bahwa negara Salibis dapat dikalahkan Kejatuhan Edessa menjadi pemicu Perang Salib Kedua. Namun, perang tersebut justru gagal menghentikan proses kebangkitan kekuatan Muslim. 22. Peran Nur ad-Din Nur ad-Din menjadi penerus utama perjuangan tersebut. Ia lebih berhati-hati. Ia membangun pemerintahan yang lebih kuat. Ia memperkuat: militer administrasi legitimasi agama hubungan politik Tujuannya bukan hanya merebut wilayah. Ia ingin menciptakan kekuatan politik yang mampu bertahan. 23. Kegagalan Strategi Pasukan Salibis Perang Salib Kedua memperlihatkan sejumlah kelemahan. Kurangnya persatuan Para pemimpin memiliki agenda masing-masing. Koordinasi yang buruk Pasukan besar tidak selalu berarti pasukan yang efektif. Kesalahan memilih target Damaskus bukan target yang paling tepat secara strategis. Kurangnya informasi Pasukan Salibis tidak sepenuhnya memahami politik lokal. Masalah logistik Perjalanan jauh menguras sumber daya. Ketergantungan pada kekuatan militer Eropa Pasukan Salibis membutuhkan bantuan dari luar untuk mempertahankan negara mereka. 24. Perbedaan dengan Perang Salib Pertama Perang Salib Pertama dan Kedua memiliki perbedaan besar. Perang Salib Pertama Perang Salib Kedua 1096–1099 1147–1149 Berakhir dengan kemenangan Berakhir dengan kegagalan Yerusalem berhasil direbut Edessa tidak berhasil direbut kembali Dunia Islam terpecah Dunia Islam mulai bersatu Banyak pemimpin lokal Melibatkan raja-raja Eropa Negara Salibis didirikan Negara Salibis mulai terancam Perubahan ini menunjukkan bahwa kondisi geopolitik telah berubah secara signifikan dalam waktu kurang dari 50 tahun. 25. Pengaruh terhadap Kepausan Kegagalan Perang Salib Kedua menjadi pukulan bagi otoritas kepausan. Paus Eugenius III telah menyerukan ekspedisi besar. Bernardus dari Clairvaux juga memberikan dukungan penuh. Namun, hasilnya justru bencana. Bernardus kemudian menghadapi kritik. Ia harus menjelaskan mengapa Tuhan tidak memberikan kemenangan kepada pasukan Salibis. Situasi ini memperlihatkan kesulitan dalam mempertahankan legitimasi perang suci ketika hasil militer bertentangan dengan harapan religius. 26. Pengaruh terhadap Bernardus dari Clairvaux Bernardus sangat terpukul oleh kegagalan ekspedisi. Ia sebelumnya sangat yakin bahwa Perang Salib Kedua akan berhasil. Ketika ekspedisi gagal, muncul kritik terhadapnya. Namun, ia tidak sepenuhnya kehilangan pengaruh. Ia kemudian memberikan penjelasan religius bahwa kegagalan tersebut mungkin disebabkan oleh dosa dan kurangnya kesucian moral para peserta. Penjelasan seperti ini umum dalam masyarakat abad pertengahan. Kekalahan militer sering dipahami sebagai tanda bahwa Tuhan tidak merestui perilaku manusia. 27. Hubungan Eropa dan Bizantium Perang Salib Kedua juga memperburuk ketegangan antara Eropa Latin dan Bizantium. Kaisar Manuel I Komnenos berusaha menjaga hubungan diplomatik dengan kekuatan Muslim. Namun, pasukan Salibis memiliki agenda yang berbeda. Ketidakpercayaan semakin meningkat. Hubungan ini nantinya akan memburuk secara drastis. Pada 1204, Perang Salib Keempat bahkan berakhir dengan penjarahan Konstantinopel. Dengan demikian, Perang Salib Kedua merupakan salah satu tahap dalam memburuknya hubungan antara Kristen Latin dan Bizantium. 28. Dampak Jangka Panjang Kegagalan Perang Salib Kedua menghasilkan beberapa konsekuensi jangka panjang. Pertama Negara Salibis kehilangan inisiatif strategis. Kedua Nur ad-Din semakin kuat. Ketiga Damaskus masuk ke dalam kekuasaan Nur ad-Din. Keempat Mesir menjadi semakin penting dalam persaingan regional. Kelima Kekuatan Muslim semakin terintegrasi. Keenam Jalan terbuka bagi kemunculan Salahuddin. 29. Dari Damaskus Menuju Mesir Setelah menguasai Damaskus, Nur ad-Din memiliki basis kekuatan yang lebih besar. Namun, ia masih menghadapi masalah. Mesir berada di bawah Dinasti Fatimiyah. Kerajaan Yerusalem juga berusaha memperluas pengaruhnya ke Mesir. Persaingan atas Mesir kemudian menjadi konflik besar. Nur ad-Din mengirim jenderalnya: Shirkuh. Shirkuh membawa serta keponakannya: Salahuddin. Ekspedisi ke Mesir inilah yang akhirnya mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. 30. Jalan Menuju Hattin dan Jatuhnya Yerusalem Perang Salib Kedua berakhir pada 1149. Namun, konflik tidak berhenti. Selama beberapa dekade berikutnya, negara-negara Salibis dan kekuatan Muslim terus bertempur. Nur ad-Din terus memperkuat kekuasaannya. Setelah kematiannya, Salahuddin muncul sebagai penguasa utama. Ia berhasil menguasai: Mesir Damaskus sebagian besar Suriah Akhirnya, pada 1187, Salahuddin menghadapi pasukan Kerajaan Yerusalem dalam: Pertempuran Hattin. Kekalahan pasukan Salibis sangat telak. Setelah itu, banyak kota jatuh. Dan pada Oktober 1187: Yerusalem kembali dikuasai Muslim. Berita ini mengguncang Eropa. Sebagai respons, para penguasa Eropa kembali mengangkat salib. Kali ini, tiga tokoh besar terlibat: Richard I dari Inggris Philip II dari Prancis Frederick Barbarossa dari Kekaisaran Romawi Suci Maka dimulailah: Perang Salib Ketiga. Kesimpulan Perang Salib Kedua merupakan salah satu titik balik penting dalam sejarah Perang Salib. Perang ini bermula dari kejatuhan Edessa pada 1144. Kejatuhan tersebut memperlihatkan bahwa negara-negara Salibis tidak lagi sekuat pada masa Perang Salib Pertama. Paus Eugenius III kemudian menyerukan perang baru. Bernardus dari Clairvaux memobilisasi masyarakat Eropa. Dua raja besar, Louis VII dan Konrad III, memimpin ekspedisi. Namun, perjalanan menuju Timur dipenuhi masalah. Pasukan Jerman mengalami kekalahan besar di Anatolia. Pasukan Prancis juga kehilangan banyak tentara. Ketika pasukan akhirnya tiba di Timur, mereka menghadapi pilihan strategis. Mereka memutuskan menyerang Damaskus. Keputusan tersebut menjadi kesalahan besar. Pengepungan hanya berlangsung beberapa hari. Pasukan Salibis akhirnya mundur. Kegagalan ini memberikan dampak yang sangat besar. Alih-alih menghancurkan kekuatan Muslim, Perang Salib Kedua justru membantu menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya penyatuan politik. Damaskus kemudian jatuh ke tangan Nur ad-Din. Suriah semakin terintegrasi. Kekuatan Muslim menjadi lebih terorganisasi. Sementara itu, negara-negara Salibis mulai menghadapi ancaman yang lebih serius. Dari sinilah sejarah bergerak menuju fase berikutnya. Nur ad-Din memperluas kekuasaannya. Mesir menjadi medan perebutan kekuasaan. Shirkuh dikirim ke Mesir. Dan di sampingnya terdapat seorang pemimpin muda bernama: Salahuddin Yusuf ibn Ayyub. Tokoh yang pada awalnya hanya seorang komandan bawahan tersebut akhirnya akan menjadi penguasa Mesir dan Suriah. Ia akan menyatukan kekuatan Muslim. Kemudian, pada 1187, ia mengalahkan pasukan Kerajaan Yerusalem dalam Pertempuran Hattin. Dan akhirnya merebut kembali Yerusalem. Peristiwa tersebut kemudian memicu salah satu perang paling terkenal dalam sejarah: Bagian 8 — Salahuddin al-Ayyubi dan Kebangkitan Kekuatan Muslim Dari penguasaan Mesir, penyatuan Suriah, konflik dengan Kerajaan Yerusalem, Pertempuran Hattin, hingga penaklukan kembali Yerusalem pada 1187. Sumber Rujukan Jonathan Phillips, The Second Crusade: Extending the Frontiers of Christendom. Yale University Press. Christopher Tyerman, God’s War: A New History of the Crusades. Harvard University Press. Jonathan Riley-Smith, The Crusades: A History. Yale University Press. Thomas Asbridge, The Crusades: The Authoritative History of the War for the Holy Land. Ecco. Steven Runciman, A History of the Crusades, Volume II: The Kingdom of Jerusalem and the Frankish East, 1100–1187. Cambridge University Press. Malcolm Barber, The Crusader States. Yale University Press. Carole Hillenbrand, The Crusades: Islamic Perspectives. Edinburgh University Press. Paul M. Cobb, The Race for Paradise: An Islamic History of the Crusades. Oxford University Press. Christopher Tyerman, The Debate on the Crusades. Manchester University Press. Bernard of Clairvaux, In Praise of the New Knighthood dan surat-suratnya terkait Perang Salib Kedua. Sumber primer untuk memahami pemikiran dan propaganda keagamaan Bernardus. Odo of Deuil, De Profectione Ludovici VII in Orientem. Sumber primer mengenai ekspedisi Louis VII. Otto of Freising, The Deeds of Frederick Barbarossa. Sumber primer penting mengenai dunia politik Jerman dan Perang Salib Kedua. Ibn al-Qalanisi, The Damascus Chronicle of the Crusades. Sumber primer dari perspektif Damaskus. Ibn al-Athir, The Chronicle of Ibn al-Athir for the Crusading Period from al-Kamil fi’l-Ta’rikh. Sumber primer penting dari perspektif Islam. William of Tyre, A History of Deeds Done Beyond the Sea. Sumber primer utama mengenai Kerajaan Yerusalem dan dunia Latin di Timur. Sumber : https://adajuga.com/perang-salib-7/ . Navigasi pos Perang Salib : Dunia Islam Menghadapi Negara-Negara Salibis Perang Salib : Salahuddin al-Ayyubi dan Kebangkitan Kekuatan Muslim