BagianPerang Salib : Dunia Islam Menghadapi Negara-Negara Salibis

Perpecahan Politik Muslim, Munculnya Zengi dan Nur ad-Din, serta Proses Penyatuan Kekuatan Muslim

Setelah penaklukan Yerusalem pada 1099, pasukan Salibis berhasil mendirikan sejumlah negara di wilayah Timur Tengah. Negara-negara tersebut kemudian dikenal sebagai Negara-Negara Salibis, yang terdiri dari Kerajaan Yerusalem, Kepangeranan Antiokhia, County Edessa, dan County Tripoli.

Namun, keberhasilan mereka tidak hanya disebabkan oleh kekuatan militer pasukan Salibis.

Salah satu faktor terpenting adalah perpecahan politik di dunia Islam.

Pada akhir abad ke-11 dan awal abad ke-12, wilayah Timur Tengah tidak berada di bawah satu pemerintahan Muslim yang bersatu. Berbagai dinasti, penguasa lokal, dan pusat kekuasaan memiliki kepentingan masing-masing.

Di satu sisi terdapat berbagai penguasa Turki Seljuk dan dinasti-dinasti lokal di Suriah dan Irak.

Di sisi lain terdapat Dinasti Fatimiyah yang menguasai Mesir.

Di antara keduanya terdapat persaingan politik yang sering kali lebih kuat daripada keinginan untuk menghadapi pasukan Salibis.

Situasi ini memberikan kesempatan besar kepada negara-negara Salibis untuk bertahan.

Namun, keadaan mulai berubah pada abad ke-12.

Muncul seorang penguasa bernama Imad ad-Din Zengi, yang berusaha menyatukan kekuatan Muslim di wilayah utara Suriah dan Mesopotamia.

Setelah Zengi, perjuangan tersebut dilanjutkan oleh putranya, Nur ad-Din Mahmud Zengi.

Di bawah Nur ad-Din, proses penyatuan politik dan militer Muslim semakin berkembang.

Ia tidak hanya berusaha merebut wilayah dari negara-negara Salibis, tetapi juga berusaha membangun pemerintahan yang lebih terorganisasi.

Proses inilah yang kemudian membuka jalan bagi munculnya tokoh yang paling terkenal dalam perjuangan melawan negara-negara Salibis:

Salahuddin al-Ayyubi.

Namun, untuk memahami kemunculan Salahuddin, kita harus terlebih dahulu memahami bagaimana dunia Islam berubah dari kondisi terpecah menjadi kekuatan yang semakin terkoordinasi.


1. Dunia Islam Setelah Perang Salib Pertama

Image

Image

Image

Image

Image

Ketika Yerusalem jatuh pada 1099, dunia Islam sebenarnya memiliki sumber daya yang sangat besar.

Wilayah Muslim membentang luas.

Mulai dari:

  • Mesir
  • Palestina
  • Suriah
  • Irak
  • Anatolia
  • hingga wilayah Persia

Namun, luasnya wilayah tidak berarti adanya persatuan politik.

Sebaliknya, dunia Islam mengalami fragmentasi.

Ada beberapa pusat kekuasaan penting:

1. Kekhalifahan Abbasiyah

Berpusat di Baghdad.

Khalifah Abbasiyah memiliki legitimasi keagamaan yang kuat.

Namun, kekuasaan politik mereka terbatas.

Dalam praktiknya, banyak wilayah dikuasai oleh penguasa lokal.

2. Dinasti Seljuk

Bangsa Turki Seljuk menguasai wilayah yang luas.

Namun, kekuasaan Seljuk mengalami perpecahan setelah wafatnya Sultan Malik Syah pada 1092.

Berbagai cabang keluarga Seljuk bersaing memperebutkan kekuasaan.

3. Dinasti Fatimiyah

Berpusat di Mesir.

Fatimiyah merupakan kekhalifahan Syiah Ismailiyah yang bersaing dengan Abbasiyah Sunni.

Mereka menguasai Mesir dan pernah menguasai Yerusalem.

4. Penguasa lokal Suriah

Wilayah seperti Aleppo, Damaskus, Homs, dan wilayah lainnya sering berada di bawah penguasa lokal yang memiliki kepentingan sendiri.

Akibatnya, tidak ada satu komando militer yang dapat mengkoordinasikan seluruh kekuatan Muslim.


2. Perpecahan Sunni dan Syiah

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi politik Timur Tengah adalah persaingan antara:

Sunni dan Syiah.

Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad mewakili legitimasi Sunni.

Sementara itu, Fatimiyah di Mesir mewakili tradisi Syiah Ismailiyah.

Keduanya mengklaim memiliki legitimasi politik dan keagamaan.

Persaingan ini bukan sekadar perbedaan teologis.

Ia juga merupakan persaingan geopolitik.

Baghdad dan Kairo menjadi dua pusat kekuasaan yang bersaing.

Dalam situasi seperti ini, ancaman dari negara-negara Salibis tidak selalu menjadi prioritas utama.

Para penguasa Muslim terkadang lebih khawatir terhadap rival Muslim mereka sendiri.


3. Mengapa Negara-Negara Salibis Bisa Bertahan?

Setelah 1099, muncul pertanyaan:

Mengapa pasukan Salibis yang jumlahnya relatif kecil mampu mempertahankan wilayah mereka?

Jawabannya salah satunya adalah:

perpecahan politik dunia Islam.

Misalnya, Kerajaan Yerusalem dapat bertahan karena negara-negara Muslim di sekitarnya tidak selalu bersatu.

Penguasa Damaskus bisa memiliki kepentingan berbeda dengan penguasa Aleppo.

Penguasa Aleppo bisa bersaing dengan Mosul.

Fatimiyah di Mesir memiliki agenda politik sendiri.

Dalam kondisi tertentu, seorang penguasa Muslim bahkan dapat membuat kesepakatan dengan pasukan Salibis untuk menghadapi rival Muslimnya.

Hal ini membuat negara-negara Salibis memiliki ruang untuk bertahan.


4. Politik Realistis di Timur Tengah Abad Pertengahan

Gambaran sederhana mengenai Perang Salib sering kali berbunyi:

Kristen melawan Muslim.

Namun, realitas politik jauh lebih rumit.

Seorang penguasa Muslim bisa berperang melawan penguasa Muslim lainnya.

Seorang penguasa Salibis bisa membuat perjanjian dengan penguasa Muslim.

Bahkan, terdapat periode ketika pihak-pihak yang secara agama berbeda bekerja sama karena kepentingan politik.

Misalnya, sebuah penguasa Muslim mungkin memilih berdamai dengan Kerajaan Yerusalem karena menghadapi ancaman dari penguasa Muslim lain.

Bagi penguasa abad pertengahan, pertanyaan utamanya sering kali bukan:

“Apakah mereka Muslim atau Kristen?”

Melainkan:

“Siapa musuh saya saat ini?”

Inilah salah satu alasan mengapa penyatuan dunia Islam membutuhkan waktu yang panjang.


5. Bangkitnya Mosul dan Zengi

Di tengah situasi politik yang terpecah, muncul seorang tokoh bernama:

Imad ad-Din Zengi.

Ia merupakan seorang penguasa militer Turki yang menjadi penguasa Mosul dan kemudian memiliki pengaruh besar di Aleppo.

Zengi memahami bahwa negara-negara Salibis tidak dapat dikalahkan jika kekuatan Muslim tetap terpecah.

Karena itu, ia berusaha membangun kekuatan politik yang lebih besar.

Strateginya meliputi:

  • memperluas wilayah
  • mengendalikan kota-kota strategis
  • membangun kekuatan militer
  • mengurangi persaingan antar-penguasa Muslim
  • menghadapi negara-negara Salibis

Zengi bukanlah tokoh yang sepenuhnya bertindak berdasarkan idealisme agama.

Ia juga merupakan penguasa politik yang ingin memperluas kekuasaan.

Namun, pemerintahannya kemudian menjadi titik penting dalam proses kebangkitan kekuatan Muslim.


6. Zengi dan Aleppo

Salah satu pencapaian penting Zengi adalah penguasaan atas Aleppo.

Aleppo merupakan kota strategis.

Kota ini berada dekat dengan:

  • Antiokhia
  • Edessa
  • wilayah utara Suriah

Dengan menguasai Aleppo dan Mosul, Zengi memiliki basis kekuatan yang jauh lebih besar.

Ia dapat menekan negara-negara Salibis dari dua arah.

Posisi ini membuat County Edessa semakin terancam.

Edessa merupakan negara Salibis yang paling rentan.

Wilayahnya jauh dari Kerajaan Yerusalem.

Pertahanannya lebih lemah.

Hubungannya dengan kekuatan lokal juga rumit.

Zengi melihat kesempatan.


7. Kejatuhan Edessa pada 1144

Pada Desember 1144, pasukan Zengi menyerang Edessa.

Pengepungan berlangsung singkat dibandingkan beberapa pengepungan besar lainnya dalam sejarah Perang Salib.

Akhirnya, Edessa jatuh.

Peristiwa ini memiliki arti yang sangat besar.

Untuk pertama kalinya, sebuah negara Salibis utama berhasil dihancurkan.

Kemenangan tersebut meningkatkan reputasi Zengi.

Dalam historiografi Muslim, Zengi kemudian sering dipandang sebagai salah satu tokoh awal kebangkitan melawan negara-negara Salibis.

Namun, kemenangan ini juga mengejutkan Eropa.

Berita tentang jatuhnya Edessa menyebar.

Eropa kemudian merespons dengan:

Perang Salib Kedua.


8. Kejatuhan Edessa dan Perang Salib Kedua

Kejatuhan Edessa mendorong Paus Eugenius III menyerukan Perang Salib Kedua.

Tokoh besar Eropa ikut serta.

Di antaranya:

  • Louis VII dari Prancis
  • Konrad III dari Jerman

Namun, Perang Salib Kedua mengalami kegagalan.

Salah satu tujuan utama ekspedisi adalah merebut kembali Edessa.

Tujuan tersebut tidak tercapai.

Bahkan, serangan terhadap Damaskus pada 1148 berakhir dengan kegagalan.

Kegagalan ini memberikan keuntungan strategis bagi kekuatan Muslim.

Negara-negara Salibis tetap bertahan.

Namun, mereka tidak lagi menghadapi dunia Islam yang sepenuhnya terpecah.

Proses konsolidasi mulai berlangsung.


9. Kematian Zengi

Zengi dibunuh pada 1146 oleh salah seorang pelayannya dalam sebuah konflik internal.

Kematian tersebut seharusnya dapat menghancurkan gerakan yang telah ia bangun.

Namun, hal itu tidak terjadi.

Kekuasaan Zengi kemudian dibagi.

Salah satu putranya:

Nur ad-Din Mahmud Zengi

mewarisi wilayah Aleppo.

Sementara wilayah Mosul dikuasai oleh putranya yang lain.

Nur ad-Din kemudian menjadi tokoh utama berikutnya.


10. Munculnya Nur ad-Din

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Nur ad-Din Mahmud Zengi merupakan salah satu tokoh paling penting dalam sejarah kebangkitan politik Muslim pada abad ke-12.

Ia memerintah Aleppo sejak 1146.

Berbeda dari ayahnya, Nur ad-Din lebih menekankan pembangunan pemerintahan yang stabil.

Ia dikenal sebagai penguasa yang:

  • religius
  • disiplin
  • cakap secara politik
  • berorientasi militer

Namun, ia juga seorang politisi yang pragmatis.

Tujuan utamanya adalah membangun kekuatan yang mampu menghadapi negara-negara Salibis.


11. Strategi Nur ad-Din

Nur ad-Din menyadari bahwa negara-negara Salibis tidak dapat dikalahkan hanya melalui satu pertempuran.

Diperlukan:

penyatuan politik.

Karena itu, ia berusaha menguasai kota-kota penting.

Ia memperkuat:

  • Aleppo
  • Damaskus
  • wilayah Suriah utara

Dengan menguasai kota-kota tersebut, Nur ad-Din dapat membentuk wilayah yang lebih terintegrasi.

Ia juga berusaha memperkuat legitimasi keagamaan.

Masjid, madrasah, dan lembaga keagamaan dibangun.

Tujuannya bukan hanya meningkatkan kehidupan keagamaan.

Tetapi juga memperkuat identitas politik dan legitimasi pemerintahannya.


12. Penyatuan Aleppo dan Damaskus

Salah satu pencapaian terbesar Nur ad-Din adalah penguasaan atas Damaskus pada 1154.

Peristiwa ini sangat penting.

Sebelumnya, Damaskus merupakan salah satu pusat kekuasaan yang berdiri sendiri.

Setelah berada di bawah Nur ad-Din, kekuatan politik Suriah menjadi lebih terpusat.

Kini Nur ad-Din menguasai:

Aleppo + Damaskus.

Ini merupakan perubahan besar.

Negara-negara Salibis sekarang menghadapi kekuatan Muslim yang jauh lebih terkoordinasi.


13. Mengapa Damaskus Sangat Penting?

Damaskus memiliki posisi strategis.

Kota ini:

  • kaya
  • memiliki populasi besar
  • menjadi pusat perdagangan
  • berada dekat Kerajaan Yerusalem

Dengan menguasai Damaskus, Nur ad-Din memperoleh:

  • sumber daya ekonomi
  • basis militer
  • legitimasi politik
  • akses strategis menuju Palestina

Penyatuan Aleppo dan Damaskus menjadi salah satu langkah paling penting menuju perubahan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.


14. Nur ad-Din dan Ideologi Jihad

Pada masa Nur ad-Din, gagasan jihad melawan negara-negara Salibis semakin berkembang.

Namun, konsep jihad tersebut tidak berdiri sendiri.

Ia digunakan sebagai:

  • motivasi keagamaan
  • alat legitimasi politik
  • sarana mobilisasi masyarakat
  • dasar untuk menyatukan berbagai wilayah

Nur ad-Din memposisikan dirinya sebagai pemimpin yang berjuang melawan kekuatan asing.

Ia membangun citra sebagai pelindung dunia Islam.

Hal ini membantu memperkuat legitimasi pemerintahannya.

Namun, penting untuk memahami bahwa penyatuan politik tetap merupakan proses yang kompleks.

Tidak semua penguasa Muslim otomatis tunduk kepada Nur ad-Din.

Ia tetap harus menghadapi:

  • rival politik
  • pemberontakan
  • persaingan dinasti
  • kepentingan lokal

15. Hubungan Nur ad-Din dengan Negara-Negara Salibis

Nur ad-Din secara konsisten memberikan tekanan terhadap negara-negara Salibis.

Ia menyerang wilayah mereka.

Ia merebut benteng.

Ia mengganggu jalur komunikasi.

Namun, ia tidak selalu melakukan perang terbuka.

Terkadang terjadi:

  • gencatan senjata
  • pertukaran tawanan
  • perjanjian

Ini merupakan bagian dari strategi politik.

Nur ad-Din memahami bahwa perang tanpa henti dapat menguras sumber daya.

Karena itu, diplomasi menjadi bagian dari perjuangannya.


16. Ancaman Terhadap Antiokhia

Kepangeranan Antiokhia menjadi salah satu target utama.

Wilayahnya berbatasan dengan kekuasaan Nur ad-Din.

Antiokhia juga memiliki hubungan dengan Bizantium.

Nur ad-Din secara bertahap mempersempit ruang gerak negara tersebut.

Namun, Antiokhia tetap bertahan.

Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan melawan negara-negara Salibis tidak berlangsung dalam satu pertempuran.

Ia merupakan proses panjang.


17. Konflik dengan Kerajaan Yerusalem

Kerajaan Yerusalem menjadi lawan utama Nur ad-Din.

Kerajaan tersebut masih memiliki:

  • tentara
  • benteng
  • pelabuhan
  • dukungan dari Eropa

Namun, keseimbangan kekuatan mulai berubah.

Dengan bersatunya Aleppo dan Damaskus, Nur ad-Din memiliki basis yang lebih kuat.

Kerajaan Yerusalem mulai menghadapi ancaman dari utara dan timur.

Namun, situasi belum sepenuhnya menentukan.

Masih ada satu wilayah penting:

Mesir.


18. Mesir sebagai Kunci Strategis

Mesir berada di bawah Dinasti Fatimiyah.

Secara politik, Mesir terpisah dari kekuatan Sunni di Suriah.

Namun, Mesir sangat penting.

Siapa pun yang menguasai Mesir dapat menguasai:

  • sumber daya ekonomi besar
  • jalur perdagangan
  • populasi besar
  • posisi strategis antara Afrika Utara dan Timur Tengah

Nur ad-Din memahami hal ini.

Kerajaan Yerusalem juga memahami hal yang sama.

Akibatnya, Mesir menjadi arena perebutan pengaruh.


19. Munculnya Shirkuh

Nur ad-Din kemudian mengirim seorang jenderal bernama:

Asad ad-Din Shirkuh.

Shirkuh merupakan salah satu komandan utama Nur ad-Din.

Ia memiliki kemampuan militer yang tinggi.

Shirkuh kemudian memimpin ekspedisi ke Mesir.

Di sinilah muncul seorang tokoh yang pada awalnya tidak terlalu terkenal:

Salahuddin Yusuf ibn Ayyub.

Ia adalah keponakan Shirkuh.

Salahuddin ikut dalam ekspedisi ke Mesir.

Awalnya, ia hanya merupakan salah satu anggota pasukan.

Namun, sejarah kemudian membawanya ke posisi yang sangat tinggi.


20. Krisis Dinasti Fatimiyah

Pada pertengahan abad ke-12, Dinasti Fatimiyah mengalami kemunduran.

Pemerintahan pusat melemah.

Para wazir saling bersaing.

Kekuatan militer asing mulai ikut campur.

Situasi ini membuka peluang bagi:

  • Nur ad-Din
  • Kerajaan Yerusalem

untuk memperluas pengaruh.

Masing-masing ingin menguasai Mesir.

Persaingan ini menjadi sangat penting.

Jika Kerajaan Yerusalem berhasil menguasai Mesir, negara-negara Salibis akan memperoleh kekuatan luar biasa.

Namun, jika Nur ad-Din berhasil menguasai Mesir, dunia Islam akan semakin bersatu.


21. Peran Shirkuh di Mesir

Shirkuh beberapa kali masuk ke Mesir.

Ia menghadapi pasukan Fatimiyah dan campur tangan Kerajaan Yerusalem.

Dalam proses tersebut, Salahuddin ikut berperan.

Akhirnya, pada 1169, Shirkuh menjadi wazir Fatimiyah.

Namun, ia meninggal tidak lama kemudian.

Salahuddin kemudian menggantikannya.

Pada saat itu, Salahuddin mulai memperoleh kekuasaan.


22. Berakhirnya Dinasti Fatimiyah

Pada 1171, Salahuddin mengakhiri kekuasaan Fatimiyah.

Ia mengembalikan Mesir ke dalam orbit politik Sunni Abbasiyah.

Secara formal, nama khalifah Abbasiyah kembali disebut dalam khutbah.

Peristiwa ini memiliki arti besar.

Kini:

Mesir + Suriah

berada dalam satu jaringan politik Sunni.

Meskipun proses penyatuan belum sepenuhnya selesai, fondasi bagi kekuatan besar telah terbentuk.


23. Dari Zengi ke Nur ad-Din, dari Nur ad-Din ke Salahuddin

Proses sejarah ini tidak terjadi secara tiba-tiba.

Ia merupakan rangkaian panjang:

Zengi

Merebut Edessa dan membangun kekuatan di Mosul dan Aleppo.

Nur ad-Din

Menyatukan Aleppo dan Damaskus.

Shirkuh

Membawa pengaruh Nur ad-Din ke Mesir.

Salahuddin

Menguasai Mesir dan kemudian menyatukan Mesir dan Suriah.

Dari sinilah muncul kekuatan yang akhirnya mampu menghadapi Kerajaan Yerusalem secara langsung.


24. Penyatuan Politik Tidak Sama dengan Persatuan Mutlak

Meskipun terjadi penyatuan, dunia Islam tidak pernah sepenuhnya bersatu.

Masih terdapat:

  • perbedaan kepentingan
  • persaingan dinasti
  • konflik internal

Salahuddin sendiri harus menghadapi berbagai tantangan.

Ia harus bernegosiasi dengan banyak penguasa.

Ia juga harus mempertahankan wilayah yang luas.

Namun, dibandingkan situasi pada 1099, dunia Islam pada akhir abad ke-12 jauh lebih terkoordinasi.

Inilah yang membuat posisi negara-negara Salibis semakin sulit.


25. Perubahan Keseimbangan Kekuatan

Pada 1099:

Negara-negara Muslim terpecah.

Pasukan Salibis datang sebagai kekuatan baru.

Pada 1144:

Edessa jatuh.

Zengi menunjukkan bahwa negara-negara Salibis dapat dikalahkan.

Pada 1154:

Damaskus dikuasai Nur ad-Din.

Suriah semakin terintegrasi.

Pada 1171:

Dinasti Fatimiyah berakhir.

Mesir masuk ke dalam orbit Sunni.

Pada akhir abad ke-12:

Salahuddin menyatukan kekuatan Mesir dan Suriah.

Keseimbangan kekuatan berubah secara dramatis.


26. Mengapa Proses Ini Sangat Penting?

Tanpa proses penyatuan tersebut, kemenangan Salahuddin pada 1187 mungkin sulit terjadi.

Salahuddin membutuhkan:

  • Mesir sebagai basis ekonomi
  • Suriah sebagai basis militer
  • Damaskus sebagai pusat strategis
  • Aleppo sebagai pertahanan utara

Semua ini merupakan hasil proses panjang.

Karena itu, sejarah jatuhnya Yerusalem pada 1187 tidak dapat dipahami hanya dengan melihat kehidupan Salahuddin.

Akar keberhasilan tersebut sebenarnya telah dimulai beberapa dekade sebelumnya.

Dimulai dari:

Zengi.

Dilanjutkan oleh:

Nur ad-Din.

Kemudian diteruskan oleh:

Salahuddin.


27. Dampak Kebangkitan Zengi dan Nur ad-Din

Kebangkitan mereka menghasilkan beberapa perubahan.

Pertama

Negara-negara Salibis mulai kehilangan wilayah.

Kedua

Kekuatan Muslim menjadi lebih terorganisasi.

Ketiga

Identitas politik dan keagamaan semakin terhubung.

Keempat

Mesir dan Suriah mulai berada dalam satu orbit politik.

Kelima

Kerajaan Yerusalem menghadapi ancaman yang semakin besar.

Namun, proses ini tidak langsung menghasilkan kehancuran negara Salibis.

Kerajaan Yerusalem masih bertahan selama beberapa dekade.

Bahkan, pada periode tertentu, negara Salibis masih mampu melakukan serangan.

Karena itu, sejarah hubungan antara kedua pihak tetap penuh perubahan.


28. Dunia Islam Belajar dari Kekalahan

Perang Salib Pertama memberikan pelajaran penting bagi dunia Islam.

Kekalahan 1099 memperlihatkan bahwa:

  • perpecahan politik sangat berbahaya
  • negara-negara Muslim membutuhkan koordinasi
  • pertahanan kota dan benteng harus diperkuat
  • jalur komunikasi harus dikendalikan
  • Mesir dan Suriah memiliki posisi strategis

Zengi dan Nur ad-Din mengambil pelajaran tersebut.

Mereka tidak sekadar melakukan serangan.

Mereka membangun negara.

Mereka membangun tentara.

Mereka membangun legitimasi.

Mereka membangun institusi.

Inilah yang membedakan perjuangan mereka dari perlawanan lokal sebelumnya.


29. Dari Perang Lokal Menjadi Perjuangan Regional

Pada awalnya, perlawanan terhadap negara-negara Salibis bersifat lokal.

Satu penguasa melawan satu negara Salibis.

Namun, secara bertahap, perjuangan berubah menjadi konflik regional.

Zengi menghubungkan Mosul dan Aleppo.

Nur ad-Din menghubungkan Aleppo dan Damaskus.

Salahuddin kemudian menghubungkan Mesir dan Suriah.

Jaringan politik ini memungkinkan mobilisasi sumber daya dalam skala yang jauh lebih besar.

Dengan demikian, negara-negara Salibis tidak lagi menghadapi banyak musuh yang terpisah.

Mereka mulai menghadapi kekuatan yang lebih terintegrasi.


30. Jalan Menuju Salahuddin

Ketika Salahuddin mulai berkuasa di Mesir pada 1169, ia bukanlah tokoh yang langsung menjadi pemimpin dunia Islam.

Ia harus membangun kekuasaan secara bertahap.

Setelah Nur ad-Din meninggal pada 1174, terjadi perubahan besar.

Salahuddin mulai memperluas pengaruhnya ke Suriah.

Ia kemudian menguasai Damaskus.

Secara bertahap, Aleppo juga masuk ke dalam orbit kekuasaannya.

Kini ia memiliki kekuatan yang jauh lebih besar.

Namun, konflik dengan Kerajaan Yerusalem menjadi semakin tajam.

Pada akhirnya, ketegangan tersebut mencapai puncaknya.

Pada 1187, terjadi pertempuran besar:

Pertempuran Hattin.

Kekalahan besar pasukan Kerajaan Yerusalem membuka jalan bagi Salahuddin untuk merebut kembali sebagian besar wilayah negara Salibis.

Dan pada Oktober 1187:

Yerusalem jatuh kembali ke tangan Muslim.

Peristiwa tersebut kemudian memicu:

Perang Salib Ketiga.


Kesimpulan

Setelah Perang Salib Pertama, dunia Islam berada dalam kondisi yang sangat terpecah.

Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad memiliki legitimasi keagamaan tetapi kekuasaan politik yang terbatas.

Dinasti Fatimiyah menguasai Mesir dan menjadi rival Abbasiyah.

Sementara itu, berbagai penguasa lokal menguasai kota-kota penting seperti Aleppo dan Damaskus.

Kondisi ini memungkinkan negara-negara Salibis bertahan.

Namun, keadaan mulai berubah dengan munculnya Imad ad-Din Zengi.

Zengi berhasil merebut Edessa pada 1144.

Kemenangan tersebut menjadi simbol kebangkitan kekuatan Muslim.

Setelah kematiannya, perjuangan diteruskan oleh Nur ad-Din Mahmud Zengi.

Nur ad-Din berhasil menguasai Damaskus pada 1154 dan menyatukan sebagian besar Suriah di bawah pemerintahannya.

Ia kemudian memperluas pengaruhnya ke Mesir melalui jenderalnya, Shirkuh.

Dari ekspedisi inilah muncul Salahuddin al-Ayyubi.

Setelah menjadi penguasa Mesir, Salahuddin mengakhiri kekuasaan Fatimiyah pada 1171 dan secara bertahap membangun kekuatan yang menghubungkan Mesir dan Suriah.

Dengan demikian, proses kebangkitan dunia Islam melawan negara-negara Salibis dapat dilihat sebagai rangkaian sejarah:

Perpecahan politik → Zengi → Kejatuhan Edessa → Nur ad-Din → Penyatuan Suriah → Perebutan Mesir → Salahuddin → Penyatuan Mesir dan Suriah.

Proses ini membutuhkan waktu hampir satu abad.

Dan pada akhirnya, kekuatan yang dibangun oleh generasi sebelumnya memungkinkan Salahuddin menghadapi Kerajaan Yerusalem secara langsung.

Namun, sebelum pertempuran besar Hattin dan jatuhnya Yerusalem pada 1187, terjadi satu peristiwa penting yang mengguncang dunia Kristen:

Kejatuhan Edessa pada 1144 dan kegagalan Perang Salib Kedua.


Sumber Rujukan
  1. Carole Hillenbrand, The Crusades: Islamic Perspectives. Edinburgh University Press.
  2. Christopher Tyerman, God’s War: A New History of the Crusades. Harvard University Press.
  3. Jonathan Riley-Smith, The Crusades: A History. Yale University Press.
  4. Malcolm Barber, The Crusader States. Yale University Press.
  5. Anne-Marie Eddé, Saladin. Harvard University Press.
  6. Steven Runciman, A History of the Crusades, Vol. II: The Kingdom of Jerusalem and the Frankish East, 1100–1187. Cambridge University Press.
  7. Paul M. Cobb, The Race for Paradise: An Islamic History of the Crusades. Oxford University Press.
  8. Francesco Gabrieli, Arab Historians of the Crusades. University of California Press.
  9. Ibn al-Athir, The Chronicle of Ibn al-Athir for the Crusading Period from al-Kamil fi’l-Ta’rikh. Sumber primer penting dari perspektif sejarah Islam.
  10. William of Tyre, A History of Deeds Done Beyond the Sea. Sumber primer utama mengenai Negara-Negara Salibis.
  11. Usamah ibn Munqidh, The Book of Contemplation: Islam and the Crusades. Sumber primer mengenai kehidupan dan hubungan masyarakat Muslim dengan kaum Frank.
  12. Ibn al-Qalanisi, The Damascus Chronicle of the Crusades. Sumber primer penting mengenai politik Damaskus dan konflik dengan negara-negara Salibis.
  13. Thomas Asbridge, The Crusades: The Authoritative History of the War for the Holy Land. Ecco.
  14. Amin Maalouf, The Crusades Through Arab Eyes. Karya populer berbasis sumber Arab yang dapat digunakan sebagai bacaan pendamping.

Sumber: https://adajuga.com/perang-salib-6/

.