BagianPerang Salib : Salahuddin al-Ayyubi dan Kebangkitan Kekuatan Muslim

Kehidupan Salahuddin, Hubungannya dengan Nur ad-Din, Penyatuan Mesir–Suriah dan Lahirnya Dinasti Ayyubiyah

Pada bagian sebelumnya telah dibahas bagaimana dunia Islam perlahan mengalami perubahan setelah Perang Salib Pertama.

Pada 1099, pasukan Salibis berhasil merebut Yerusalem dan mendirikan sejumlah negara Salibis.

Namun, dunia Islam yang awalnya terpecah perlahan mulai mengalami konsolidasi.

Imad ad-Din Zengi merebut Edessa pada 1144.

Setelah itu, putranya, Nur ad-Din Mahmud Zengi, memperkuat kekuasaan di Suriah dan berhasil menguasai Damaskus pada 1154.

Namun, perjuangan melawan negara-negara Salibis kemudian memasuki babak baru.

Di tengah pergulatan politik antara Suriah, Mesir, Kekhalifahan Abbasiyah, Dinasti Fatimiyah, dan Kerajaan Yerusalem, muncul seorang tokoh yang kelak menjadi salah satu figur paling terkenal dalam sejarah Perang Salib:

Salahuddin Yusuf ibn Ayyub, yang di dunia Barat dikenal sebagai Saladin.

Salahuddin tidak langsung muncul sebagai penguasa besar.

Ia memulai kariernya sebagai seorang perwira dalam lingkungan politik dan militer yang dibangun oleh keluarganya dan terutama oleh pamannya, Asad ad-Din Shirkuh.

Pada awalnya, Salahuddin berada di bawah kekuasaan Nur ad-Din.

Namun, melalui serangkaian perkembangan politik di Mesir, ia akhirnya menjadi wazir Dinasti Fatimiyah.

Pada 1171, ia mengakhiri kekuasaan Fatimiyah dan mengembalikan Mesir ke dalam orbit kekhalifahan Abbasiyah.

Setelah Nur ad-Din meninggal pada 1174, Salahuddin secara bertahap memperluas kekuasaannya ke Suriah.

Proses tersebut tidak selalu berlangsung damai.

Ia harus menghadapi berbagai penguasa lokal dan anggota keluarga Zengid yang merasa memiliki hak atas warisan politik Nur ad-Din.

Pada akhirnya, Salahuddin berhasil membangun kekuasaan yang mencakup Mesir dan sebagian besar Suriah.

Dari sinilah lahir kekuatan politik baru:

Dinasti Ayyubiyah.

Dinasti inilah yang kemudian menjadi kekuatan utama dalam menghadapi negara-negara Salibis.


1. Asal-Usul Keluarga Salahuddin

Image

Image

Image

Image

Image

Salahuddin lahir pada 1137 atau 1138, kemungkinan besar di Tikrit, sebuah kota di wilayah Irak modern.

Nama lengkapnya adalah:

Al-Malik an-Nasir Salah ad-Din Yusuf ibn Ayyub.

Ia berasal dari keluarga Kurdi.

Ayahnya adalah:

Najm ad-Din Ayyub.

Pamannya adalah:

Asad ad-Din Shirkuh.

Keluarga Ayyub pada awalnya bukan merupakan dinasti besar.

Mereka merupakan bagian dari lingkungan militer dan politik yang berkembang di bawah kekuasaan penguasa Turki dan Zengid.

Karier keluarga ini meningkat seiring dengan naiknya kekuasaan Imad ad-Din Zengi dan kemudian Nur ad-Din.

Ayah Salahuddin, Ayyub, memiliki hubungan politik dengan penguasa Zengid.

Sementara itu, pamannya, Shirkuh, menjadi salah satu jenderal paling penting Nur ad-Din.

Lingkungan inilah yang membentuk masa muda Salahuddin.


2. Masa Muda Salahuddin

Tidak banyak sumber yang memberikan gambaran lengkap mengenai masa kecil Salahuddin.

Namun, diketahui bahwa ia tumbuh dalam lingkungan elite militer dan politik.

Pada masa mudanya, ia tidak langsung dikenal sebagai seorang panglima besar.

Bahkan, beberapa sumber menunjukkan bahwa pada awal kariernya ia lebih tertarik pada kehidupan administratif dan keilmuan daripada menjadi seorang prajurit garis depan.

Namun, keadaan politik memaksanya masuk ke dunia militer.

Perubahan terbesar terjadi ketika ia mengikuti pamannya, Shirkuh.

Dari sinilah kariernya mulai berkembang.


3. Shirkuh dan Ekspedisi ke Mesir

Pada pertengahan abad ke-12, Mesir menjadi pusat perebutan kekuasaan.

Dinasti Fatimiyah semakin melemah.

Para wazir saling bersaing.

Sementara itu, Kerajaan Yerusalem berusaha memperluas pengaruhnya.

Nur ad-Din melihat kesempatan.

Ia mengirim Shirkuh ke Mesir.

Salahuddin ikut serta dalam ekspedisi tersebut.

Pada awalnya, Salahuddin belum menjadi tokoh utama.

Ia berada di bawah komando pamannya.

Namun, ekspedisi Mesir akan mengubah kehidupannya.


4. Perebutan Mesir

Shirkuh beberapa kali melakukan ekspedisi ke Mesir.

Di sisi lain, Kerajaan Yerusalem juga ikut campur.

Mesir menjadi arena persaingan antara:

  • Nur ad-Din
  • Dinasti Fatimiyah
  • Kerajaan Yerusalem

Salahuddin ikut dalam konflik tersebut.

Ia memperoleh pengalaman militer dan politik yang sangat berharga.

Ia belajar memahami:

  • diplomasi
  • perang
  • administrasi
  • politik istana
  • hubungan antar-dinasti

Pengalaman ini nantinya menjadi dasar bagi pemerintahannya.


5. Salahuddin Menjadi Wazir

Pada 1169, Shirkuh berhasil menjadi wazir di Mesir.

Namun, tidak lama kemudian ia meninggal.

Salahuddin kemudian menggantikannya sebagai wazir.

Keputusan ini cukup mengejutkan.

Salahuddin masih relatif muda.

Ia juga belum memiliki reputasi sebesar para jenderal senior.

Namun, ia secara bertahap berhasil mengonsolidasikan kekuasaannya.

Posisinya menjadi semakin kuat.


6. Mengakhiri Kekuasaan Fatimiyah

Pada 1171, Salahuddin mengambil keputusan penting.

Ia mengakhiri kekuasaan Dinasti Fatimiyah.

Khutbah Jumat di Mesir kembali dibacakan atas nama Khalifah Abbasiyah di Baghdad.

Secara politik, ini berarti Mesir masuk ke dalam orbit Sunni-Abbasiyah.

Peristiwa tersebut memiliki dampak besar.

Sebelumnya, dunia Islam memiliki dua pusat kekhalifahan:

  • Abbasiyah di Baghdad
  • Fatimiyah di Kairo

Setelah Fatimiyah berakhir, salah satu rival utama Abbasiyah hilang.

Salahuddin kemudian membangun pemerintahan baru di Mesir.

Namun, pada tahap ini, ia belum secara resmi mendirikan Dinasti Ayyubiyah sebagai kekaisaran besar.

Ia masih berada dalam lingkungan politik yang sebelumnya dibangun oleh Nur ad-Din.


7. Hubungan Salahuddin dengan Nur ad-Din

Hubungan antara Salahuddin dan Nur ad-Din merupakan salah satu bagian paling menarik dalam sejarah.

Pada awalnya, hubungan mereka adalah hubungan antara:

penguasa dan bawahan.

Nur ad-Din adalah penguasa utama.

Salahuddin merupakan wakilnya di Mesir.

Namun, situasi berubah setelah Salahuddin semakin kuat.

Ia menguasai Mesir.

Ia memiliki tentara sendiri.

Ia memiliki sumber daya ekonomi yang besar.

Ia memiliki posisi strategis.

Sementara itu, Nur ad-Din tetap menguasai Suriah.

Muncullah potensi konflik.


8. Ketegangan antara Salahuddin dan Nur ad-Din

Setelah menguasai Mesir, Salahuddin memiliki kekuatan yang semakin besar.

Nur ad-Din tentu menyadari perkembangan ini.

Dari sudut pandang Nur ad-Din, Mesir merupakan bagian dari proyek politik yang lebih besar.

Ia ingin Mesir menjadi bagian dari kekuatan yang bersatu untuk menghadapi negara-negara Salibis.

Namun, Salahuddin mulai memiliki kepentingan politik sendiri.

Ia tidak ingin menjadi sekadar gubernur.

Ia ingin memastikan bahwa kekuasaannya di Mesir aman.

Ketegangan pun meningkat.

Beberapa sumber sejarah kemudian menggambarkan adanya potensi bentrokan antara keduanya.

Namun, konflik terbuka tidak pernah benar-benar terjadi.


9. Wafatnya Nur ad-Din

Pada 1174, Nur ad-Din meninggal dunia.

Peristiwa ini menjadi titik balik.

Putranya, As-Salih Ismail, masih sangat muda.

Kekuasaan Zengid kemudian mengalami fragmentasi.

Berbagai penguasa lokal dan anggota keluarga Zengid berusaha mempertahankan kekuasaan.

Salahuddin melihat kesempatan.

Ia bergerak ke Suriah.

Tujuannya adalah membangun kekuatan politik yang lebih besar.


10. Salahuddin Masuk ke Suriah

Salahuddin memasuki Suriah dengan membawa pasukan dari Mesir.

Pada 1174, ia berhasil menguasai Damaskus.

Damaskus menjadi salah satu pusat pemerintahan utamanya.

Namun, penguasaan Damaskus tidak berarti seluruh Suriah langsung tunduk.

Salahuddin masih menghadapi:

  • penguasa Zengid
  • penguasa Aleppo
  • rival lokal
  • kelompok militer
  • ancaman dari negara-negara Salibis

Proses penyatuan membutuhkan waktu bertahun-tahun.


11. Perjuangan Menyatukan Suriah

Salahuddin kemudian berusaha menguasai kota-kota strategis.

Ia tidak hanya mengandalkan perang.

Ia menggunakan:

  • diplomasi
  • pernikahan politik
  • perjanjian
  • negosiasi
  • tekanan militer

Tujuannya adalah membangun satu blok kekuasaan yang dapat menghadapi negara-negara Salibis.

Ia memahami bahwa selama Suriah terpecah, Kerajaan Yerusalem masih memiliki peluang bertahan.

Karena itu, penyatuan Suriah menjadi prioritas.


12. Aleppo sebagai Tantangan

Salah satu tantangan terbesar adalah Aleppo.

Kota ini merupakan pusat kekuasaan Zengid.

Aleppo memiliki posisi strategis di utara Suriah.

Menguasai Aleppo berarti memiliki akses terhadap wilayah:

  • Anatolia
  • Mesopotamia
  • Antiokhia

Salahuddin menghadapi perlawanan keras.

Beberapa kali terjadi konflik.

Namun, secara bertahap pengaruhnya semakin besar.

Pada akhirnya, Aleppo masuk ke dalam kekuasaan Ayyubiyah pada 1183.

Kini Salahuddin memiliki posisi strategis yang sangat kuat.


13. Penyatuan Mesir dan Suriah

Dengan menguasai Mesir dan Suriah, Salahuddin membangun kekuatan regional yang belum pernah dimiliki oleh seorang penguasa Muslim sejak lama.

Wilayah kekuasaannya mencakup atau memengaruhi:

  • Mesir
  • Palestina
  • Damaskus
  • sebagian besar Suriah
  • wilayah utara Mesopotamia

Penyatuan ini mengubah keseimbangan kekuatan.

Kerajaan Yerusalem kini tidak lagi menghadapi banyak negara Muslim yang terpisah.

Mereka menghadapi satu kekuatan regional yang jauh lebih besar.


14. Mengapa Mesir Sangat Penting?

Mesir memberikan Salahuddin sumber daya yang sangat besar.

Negara ini memiliki:

  • populasi besar
  • pertanian yang produktif
  • Sungai Nil
  • kekayaan ekonomi
  • pelabuhan strategis

Mesir menjadi basis finansial bagi ekspansi militer Salahuddin.

Tanpa Mesir, sangat sulit bagi Salahuddin untuk mempertahankan perang panjang melawan negara-negara Salibis.

Karena itu, penguasaan Mesir merupakan salah satu kunci keberhasilannya.


15. Mengapa Suriah Sangat Penting?

Jika Mesir merupakan basis ekonomi, maka Suriah merupakan basis strategis.

Suriah berada dekat dengan:

  • Kerajaan Yerusalem
  • Antiokhia
  • County Tripoli

Dengan menguasai Suriah, Salahuddin dapat menekan negara-negara Salibis dari berbagai arah.

Ia juga memiliki akses terhadap jalur militer dan perdagangan penting.

Dengan demikian:

Mesir memberikan sumber daya.

Suriah memberikan posisi strategis.

Keduanya membentuk fondasi kekuatan Salahuddin.


16. Lahirnya Dinasti Ayyubiyah

Dari kekuasaan Salahuddin kemudian lahirlah:

Dinasti Ayyubiyah.

Nama dinasti ini berasal dari nama ayahnya:

Najm ad-Din Ayyub.

Dinasti ini tidak hanya didirikan sebagai hasil kemenangan militer.

Ia merupakan hasil dari proses politik yang panjang.

Dimulai dari:

keluarga Ayyub

karier Shirkuh

penguasaan Mesir

Salahuddin menjadi wazir

berakhirnya Dinasti Fatimiyah

wafatnya Nur ad-Din

penguasaan Damaskus

penyatuan Mesir dan Suriah

lahirnya kekuatan Ayyubiyah.


17. Pemerintahan Salahuddin

Salahuddin bukan hanya seorang panglima perang.

Ia juga seorang administrator.

Ia harus mengelola wilayah yang sangat luas.

Pemerintahannya menghadapi tantangan:

  • mengatur pajak
  • membiayai tentara
  • menjaga kota
  • mengendalikan wilayah yang baru ditaklukkan
  • mengelola hubungan dengan keluarga penguasa

Ia juga harus mengelola hubungan dengan berbagai kelompok politik dan militer.

Karena itu, keberhasilan Salahuddin tidak dapat dijelaskan hanya melalui kemampuan bertempur.

Ia merupakan hasil dari kombinasi:

militer + politik + diplomasi + administrasi.


18. Keluarga dan Pembagian Kekuasaan

Salahuddin mempercayakan wilayah kepada anggota keluarganya.

Saudara-saudaranya dan kerabatnya memperoleh posisi penting.

Hal ini merupakan praktik umum dalam pemerintahan abad pertengahan.

Tujuannya adalah memastikan wilayah yang luas tetap berada di bawah kendali keluarga.

Namun, sistem ini juga memiliki kelemahan.

Setelah Salahuddin meninggal, wilayah Ayyubiyah mengalami persaingan internal.

Berbagai anggota keluarga kemudian memperebutkan kekuasaan.

Dengan demikian, struktur dinasti yang dibangun Salahuddin memiliki kekuatan sekaligus kelemahan.


19. Salahuddin dan Kekhalifahan Abbasiyah

Salahuddin secara formal mengakui legitimasi Khalifah Abbasiyah.

Ini memiliki arti politik yang penting.

Dengan mengakui Abbasiyah, Salahuddin memperoleh legitimasi sebagai penguasa Sunni.

Pada saat yang sama, ia tidak mendirikan kekhalifahan baru.

Ia menempatkan pemerintahannya sebagai bagian dari tatanan politik Sunni yang lebih luas.

Hubungan ini membantu memperkuat posisi politiknya.


20. Perubahan Identitas Politik Dunia Islam

Salahuddin mewarisi proyek yang telah dimulai Zengi dan Nur ad-Din.

Namun, ia mengembangkannya lebih jauh.

Jika Zengi berfokus pada wilayah Mosul dan Aleppo,

Nur ad-Din menyatukan sebagian besar Suriah,

maka Salahuddin berhasil menghubungkan:

Mesir + Suriah.

Inilah perubahan strategis terbesar.

Kini tersedia basis politik yang cukup kuat untuk menghadapi negara-negara Salibis.


21. Salahuddin dan Negara-Negara Salibis

Setelah menguasai Mesir dan Suriah, Salahuddin mulai memberikan tekanan lebih besar kepada negara-negara Salibis.

Namun, ia tidak langsung melakukan serangan total.

Ia memahami bahwa perang membutuhkan persiapan.

Ia harus:

  • mengumpulkan pasukan
  • memperkuat benteng
  • mengamankan jalur logistik
  • mengatur hubungan dengan penguasa lokal

Ia juga menghadapi masalah internal.

Tidak semua wilayah langsung tunduk.

Karena itu, Salahuddin menjalankan strategi bertahap.


22. Diplomasi dan Gencatan Senjata

Hubungan antara Salahuddin dan negara-negara Salibis tidak selalu berupa perang.

Terdapat periode:

  • gencatan senjata
  • pertukaran tawanan
  • perdagangan
  • negosiasi

Ini menunjukkan bahwa Perang Salib bukan konflik yang berlangsung tanpa henti.

Perang dan diplomasi berjalan bersamaan.

Salahuddin dapat berperang pada satu periode dan bernegosiasi pada periode lain.


23. Masalah dengan Reynald dari Châtillon

Salah satu tokoh yang memperburuk hubungan adalah:

Reynald dari Châtillon.

Ia merupakan penguasa Oultrejordain.

Reynald terkenal karena serangan terhadap jalur perdagangan dan aktivitas yang dianggap melanggar gencatan senjata.

Salahuddin melihat tindakan tersebut sebagai ancaman.

Konflik antara keduanya kemudian menjadi salah satu pemicu meningkatnya ketegangan.

Pada akhirnya, peristiwa ini berkontribusi pada pecahnya perang besar pada 1187.


24. Menuju Pertempuran Hattin

Pada 1187, Salahuddin telah membangun kekuatan besar.

Ia memiliki basis:

Mesir

dan

Suriah.

Sementara itu, Kerajaan Yerusalem mengalami masalah internal.

Para bangsawan saling bersaing.

Kekuatan militer terpecah.

Ketika pasukan Kerajaan Yerusalem bergerak untuk menghadapi Salahuddin, mereka berada dalam posisi sulit.

Salahuddin memanfaatkan kondisi tersebut.

Ia mengatur strategi untuk memaksa pasukan lawan bergerak melalui wilayah yang kekurangan air.

Hasilnya adalah:

Pertempuran Hattin.


25. Pertempuran Hattin

Pada 4 Juli 1187, pasukan Salahuddin menghadapi tentara Kerajaan Yerusalem.

Pertempuran berlangsung di dekat Tanduk Hattin.

Pasukan Salibis mengalami kekalahan besar.

Banyak tentara tewas.

Banyak lainnya ditawan.

Raja Guy de Lusignan juga ditawan.

Salah satu tawanan yang paling terkenal adalah Reynald dari Châtillon.

Kemenangan Hattin membuka jalan bagi Salahuddin untuk merebut kembali banyak kota.


26. Jatuhnya Yerusalem

Setelah Hattin, pertahanan Kerajaan Yerusalem runtuh dengan cepat.

Salahuddin merebut sejumlah kota.

Kemudian ia bergerak menuju Yerusalem.

Pada 2 Oktober 1187, Yerusalem menyerah kepada Salahuddin.

Berbeda dengan penaklukan 1099, penyerahan 1187 berlangsung melalui negosiasi.

Penduduk diberikan kesempatan untuk meninggalkan kota dengan membayar tebusan tertentu.

Sebagian penduduk miskin juga mengalami kesulitan untuk membayar.

Namun, secara umum, penaklukan tersebut tidak berakhir dengan pembantaian massal seperti yang terjadi pada 1099.

Peristiwa ini menjadi salah satu alasan mengapa Salahuddin kemudian memperoleh reputasi besar dalam sejarah.


27. Salahuddin dalam Ingatan Sejarah

Salahuddin menjadi tokoh yang dihormati bukan hanya di dunia Muslim.

Di Eropa, ia juga sering digambarkan sebagai lawan yang:

  • berani
  • cerdas
  • terhormat
  • memiliki kemampuan diplomasi

Tokoh seperti Richard I dari Inggris bahkan memiliki hubungan yang kompleks dengannya.

Mereka adalah musuh di medan perang.

Namun, mereka juga saling menghormati.

Kisah tentang Salahuddin kemudian berkembang dalam berbagai tradisi sejarah.

Namun, gambaran populer tentang dirinya terkadang bercampur dengan legenda.

Karena itu, penting membedakan antara:

Salahuddin dalam sumber sejarah

dan

Salahuddin dalam cerita populer abad-abad berikutnya.


28. Apakah Salahuddin Sendirian Membangun Kemenangan?

Tidak.

Kemenangan Salahuddin tidak dapat dipisahkan dari proses panjang.

Ada tiga generasi penting.

Generasi pertama

Zengi

Merebut Edessa dan membangun kekuatan di Aleppo.

Generasi kedua

Nur ad-Din

Menyatukan Aleppo dan Damaskus.

Generasi ketiga

Salahuddin

Menghubungkan Mesir dan Suriah.

Dengan demikian, keberhasilan Salahuddin merupakan hasil dari proses politik dan militer yang berlangsung selama beberapa dekade.


29. Peran Nur ad-Din dalam Kebangkitan Salahuddin

Hubungan antara Nur ad-Din dan Salahuddin sering dipandang sebagai hubungan yang rumit.

Nur ad-Din memberikan kesempatan kepada keluarga Ayyub untuk berkembang.

Ia mempercayai Shirkuh.

Shirkuh kemudian membawa Salahuddin ke dalam politik Mesir.

Tanpa ekspedisi Shirkuh, kemungkinan besar Salahuddin tidak akan memperoleh posisi yang sama.

Namun, setelah Salahuddin semakin kuat, hubungan mereka menjadi tegang.

Setelah Nur ad-Din meninggal, Salahuddin mengambil alih sebagian besar wilayah yang sebelumnya berada dalam jaringan kekuasaan Zengid.

Karena itu, sejarah Salahuddin harus dipahami sebagai kelanjutan sekaligus perubahan dari proyek Nur ad-Din.


30. Lahirnya Dinasti Ayyubiyah dan Perubahan Dunia Islam

Dinasti Ayyubiyah membawa perubahan besar.

Kekuasaan Ayyubiyah mencakup berbagai wilayah.

Di antaranya:

  • Mesir
  • Suriah
  • Palestina
  • sebagian Jazirah
  • wilayah Hijaz dalam periode tertentu

Dinasti ini kemudian menjadi salah satu kekuatan utama dunia Islam.

Namun, sistem pemerintahan Ayyubiyah tidak selalu terpusat secara mutlak.

Anggota keluarga penguasa memiliki wilayah masing-masing.

Karena itu, setelah Salahuddin meninggal, muncul persaingan internal.

Namun, dinasti tersebut tetap bertahan selama beberapa dekade.


31. Salahuddin sebagai Pendiri Negara atau Dinasti?

Secara historis, Salahuddin lebih tepat dipahami sebagai pendiri kekuatan Ayyubiyah yang kemudian berkembang menjadi sebuah dinasti.

Ia tidak membangun seluruh sistem pemerintahan dari nol.

Ia mewarisi:

  • institusi Mesir
  • struktur militer Suriah
  • sistem administrasi sebelumnya
  • jaringan politik keluarga Ayyub

Namun, ia berhasil menyatukan semuanya di bawah kekuasaannya.

Inilah salah satu pencapaian terbesarnya.


32. Arti Penting Penyatuan Mesir dan Suriah

Penyatuan Mesir dan Suriah memiliki tiga arti utama.

Pertama: Militer

Salahuddin dapat mengerahkan pasukan dari wilayah yang lebih luas.

Kedua: Ekonomi

Mesir menyediakan sumber daya untuk membiayai perang.

Ketiga: Politik

Negara-negara Salibis menghadapi satu kekuatan yang lebih terintegrasi.

Karena itu, penyatuan tersebut menjadi fondasi kemenangan Hattin dan penaklukan Yerusalem.


33. Dari Salahuddin Menuju Perang Salib Ketiga

Ketika Yerusalem jatuh pada 1187, berita tersebut menyebar ke Eropa.

Kejatuhan kota suci menjadi pukulan besar.

Paus kemudian menyerukan perang salib baru.

Para penguasa Eropa merespons.

Tiga tokoh besar muncul:

Frederick Barbarossa

Philip II Augustus

Richard I the Lionheart

Mereka memimpin:

Perang Salib Ketiga.

Perang inilah yang kemudian mempertemukan Salahuddin dengan Richard I.

Namun, kisah tersebut merupakan bagian dari bab berikutnya.


34. Kesimpulan

Kebangkitan Salahuddin al-Ayyubi tidak terjadi secara tiba-tiba.

Ia merupakan hasil dari proses sejarah panjang yang dimulai setelah Perang Salib Pertama.

Zengi memulai proses konsolidasi dengan merebut Edessa pada 1144.

Nur ad-Din kemudian memperkuatnya dengan menyatukan Aleppo dan Damaskus.

Dalam proses tersebut, keluarga Ayyub memperoleh posisi penting.

Shirkuh, paman Salahuddin, memainkan peran besar dalam ekspedisi ke Mesir.

Setelah Shirkuh meninggal pada 1169, Salahuddin menggantikannya sebagai wazir.

Dua tahun kemudian, pada 1171, ia mengakhiri kekuasaan Dinasti Fatimiyah dan mengembalikan Mesir ke orbit Abbasiyah.

Ketika Nur ad-Din meninggal pada 1174, Salahuddin bergerak ke Suriah.

Ia menguasai Damaskus dan secara bertahap memperluas kekuasaannya.

Setelah bertahun-tahun menghadapi rival politik, ia berhasil menguasai Aleppo pada 1183.

Kini terbentuk kekuatan besar yang menghubungkan:

Mesir + Suriah + Palestina.

Kekuatan tersebut kemudian dikenal sebagai Dinasti Ayyubiyah.

Salahuddin bukan hanya seorang panglima perang.

Ia adalah seorang penguasa yang memahami pentingnya:

  • penyatuan politik
  • kekuatan ekonomi
  • administrasi
  • diplomasi
  • strategi militer

Kemenangan besarnya pada 1187 tidak dapat dipisahkan dari fondasi yang dibangun oleh Zengi dan Nur ad-Din.

Dengan penyatuan Mesir dan Suriah, Salahuddin berhasil mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.

Setelah kemenangan di Hattin dan penaklukan Yerusalem, Eropa kembali mengirim pasukan besar.

Maka dimulailah fase baru dalam sejarah Perang Salib.

Salahuddin kini menghadapi lawan yang sangat terkenal:

Richard I dari Inggris.

Pertemuan keduanya menjadi inti dari:

Bagian 9 — Perang Salib Ketiga (1189–1192)

Richard si Hati Singa, Frederick Barbarossa, Philip II, pengepungan Acre, Pertempuran Arsuf, dan perjuangan mempertahankan Yerusalem.


Sumber Rujukan
  1. Anne-Marie Eddé, Saladin. Harvard University Press.
  2. Malcolm C. Lyons dan D. E. P. Jackson, Saladin: The Politics of the Holy War. Cambridge University Press.
  3. Carole Hillenbrand, The Crusades: Islamic Perspectives. Edinburgh University Press.
  4. Christopher Tyerman, God’s War: A New History of the Crusades. Harvard University Press.
  5. Jonathan Phillips, The Life and Legend of the Sultan Saladin. Yale University Press.
  6. Jonathan Riley-Smith, The Crusades: A History. Yale University Press.
  7. Steven Runciman, A History of the Crusades, Volume II: The Kingdom of Jerusalem and the Frankish East, 1100–1187. Cambridge University Press.
  8. Steven Runciman, A History of the Crusades, Volume III: The Kingdom of Acre and the Later Crusades. Cambridge University Press.
  9. Paul M. Cobb, The Race for Paradise: An Islamic History of the Crusades. Oxford University Press.
  10. Thomas Asbridge, The Crusades: The Authoritative History of the War for the Holy Land. Ecco.
  11. Ibn al-Athir, The Chronicle of Ibn al-Athir for the Crusading Period from al-Kamil fi’l-Ta’rikh. Sumber primer penting dari perspektif Islam.
  12. Baha’ al-Din Ibn Shaddad, The Rare and Excellent History of Saladin. Salah satu sumber primer terpenting mengenai kehidupan dan pemerintahan Salahuddin.
  13. Imad ad-Din al-Isfahani, The Conquest of Syria and Palestine by Saladin. Sumber primer mengenai ekspansi Salahuddin.
  14. William of Tyre, A History of Deeds Done Beyond the Sea. Sumber primer utama dari perspektif Latin mengenai negara-negara Salibis.
  15. Ibn al-Qalanisi, The Damascus Chronicle of the Crusades. Sumber primer penting mengenai politik Damaskus dan dunia Islam pada masa Perang Salib.
  16. Usamah ibn Munqidh, The Book of Contemplation: Islam and the Crusades. Sumber primer yang memberikan gambaran mengenai kehidupan sosial dan hubungan antara masyarakat Muslim dan Latin di Timur.

Sumber : https://adajuga.com/perang-salib-8/

.