Survei Poltracking : Kepuasan Publik Terhadap Prabowo dalam Tren Turun dari 78% jadi 55,1%

Lembaga survei Poltracking Indonesia resmi merilis hasil survei nasional terbaru bertajuk “Membaca Tren Kepuasan Publik Terhadap Pemerintahan Prabowo-Gibran”. Survei yang diselenggarakan pada 14–20 Agustus 2026 ini merekam dinamika persepsi masyarakat yang krusial. Hasilnya menunjukkan bahwa masa honeymoon politik bagi pemerintah mulai mereda, ditandai dengan tren penurunan tingkat kepuasan publik (approval rating) yang kini berada di angka 55,1%.

Meskipun angka kepuasan masih berada di batas mayoritas, penurunan konsisten dari bulan-bulan sebelumnya memberikan alarm penting bagi jajaran kabinet. Di sisi lain, pemerintah masih mengantongi modal politik yang cukup kuat berupa tingkat kepercayaan publik sebesar 63,2%. 

Inilah 100 Produk Terlaris di Shopee Minggu Ini


Metodologi Survei

Survei berkala dari Poltracking Indonesia ini melibatkan 1.220 responden yang memiliki hak pilih (minimal berusia 17 tahun atau sudah menikah). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka (offline) menggunakan metode stratified multistage random sampling. Klaster survei menjangkau secara proporsional 38 provinsi di Indonesia berdasarkan data Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2024, dengan margin of error sebesar ±2,9% pada tingkat kepercayaan 95%. 


Ragam Poin Krusial Hasil Survei Poltracking Agustus 2026
1. Merosotnya Kepuasan Publik (Approval Rating)

Penurunan kepuasan publik terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terlihat sangat kontras jika ditarik dalam garis waktu (tren) berikut: 

  • Oktober 2025: 78%
  • Maret 2026: 74%
  • Mei 2026: 70%
  • Juli 2026: 58,4%
  • Agustus 2026: 55,1% (Terdiri atas 13,6% sangat puas dan 41,5% cukup puas) 

Sebaliknya, kelompok masyarakat yang merasa kurang puas atau tidak puas melonjak menjadi 40,2%. Menurut Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda AR, selisih antara angka kepercayaan (63,2%) dan kepuasan (55,1%) membuktikan publik sebenarnya masih “menaruh harapan besar”, namun menuntut bukti nyata atas implementasi kinerja di lapangan. 


HASIL SURVEI TERBARU 


2. Sektor Ekonomi Jadi Rapor Merah Utama

Faktor terbesar yang menggerus kepuasan publik berada pada sektor perekonomian. Survei mencatat tingkat kepuasan di bidang ekonomi hanya menyentuh 41,8%, sedangkan angka ketidakpuasan mendominasi di angka 52,9%.

Walau 57,1% masyarakat menilai kondisi keuangan rumah tangga mereka saat ini dalam kategori ‘baik’, gejolak harga barang kebutuhan pokok dan penurunan daya beli riil menjadi kecemasan utama masyarakat yang berpotensi terus menekan biaya hidup masyarakat ke depan. 

3. Sorotan Tajam Terhadap Program Unggulan (MBG)

Dua program prioritas pemerintah turut dievaluasi secara kritis oleh publik:

Makan Bergizi Gratis (MBG): Mengalami penurunan kepuasan yang signifikan, di mana 49,2% responden menyatakan tidak puas. Sebanyak 44,6% responden bahkan menginginkan program ini dihentikan, sementara 42,1% meminta dilanjutkan. Alasan penolakan dominan berkisar pada standarisasi kualitas rasa, pemenuhan gizi yang belum merata, masalah kecocokan lauk, hingga isu teknis seperti insiden keracunan makanan di beberapa daerah.

Koperasi Desa Merah Putih: Sebanyak 55,6% responden meragukan program ini mampu menjadi pendorong utama kemandirian serta kesejahteraan masyarakat di pedesaan. 

4. Kinerja Kabinet Mengendur & Desakan Reshuffle

Apresiasi publik terhadap kinerja para menteri secara kolektif merosot ke angka 47% (turun dari 67% pada Mei 2026). Lemahnya kinerja sektoral dan kendala komunikasi publik jajaran kabinet memicu tingginya desakan perombakan instansi. 

Sebanyak 51,9% publik menilai Presiden Prabowo perlu melakukan reshuffle kabinet, dengan prioritas utama perbaikan pada jajaran Menteri Bidang Perekonomian (30,8%) serta Bidang Hukum dan HAM (22%). Bidang penegakan hukum dan pemberantasan korupsi masing-masing mencatat kepuasan yang rendah, yaitu 44,8% dan 46,6%. 
5. Sumbatan Aspirasi: Publik Merasa Tidak Terwakili Parpol

Dalam aspek kelembagaan demokrasi, Poltracking menemukan anomali yang mengkhawatirkan. Hanya 29,9% publik yang merasa aspirasinya terwakili oleh Partai Politik, sementara mayoritas besar merasa tidak terwakili. Kondisi ini dinilai sebagai lampu kuning bagi stabilitas politik, karena minimnya fungsi representasi parpol formal berisiko memicu saluran-saluran aspirasi non-formal yang tidak terkendali di masyarakat. 


Kesimpulan & Rekomendasi Strategis

Sebagai respons atas tren penurunan ini, Poltracking Indonesia menawarkan 5 formula kebijakan strategis bagi pemerintah:

1. Stabilisasi Harga Pokok: Fokus instan pada penguatan daya beli masyarakat dan menekan inflasi pangan.

2. Evaluasi Total Sistem MBG: Membenahi manajemen distribusi, standarisasi kebersihan, serta kualitas gizi Makan Bergizi Gratis agar tepat sasaran tanpa friksi sosial.

3. Restrukturisasi Kabinet (Reshuffle): Mempertimbangkan penyegaran menteri, khususnya pada pos ekonomi dan hukum yang kinerjanya di bawah ekspektasi publik.

4. Peningkatan Komunikasi Kebijakan: Memastikan jajaran kabinet menyampaikan narasi kebijakan secara transparan, empiris, dan bebas dari blunder.

5. Penguatan Tata Kelola Hukum: Meningkatkan komitmen pemberantasan korupsi demi menjaga sisa modal kepercayaan makro yang dimiliki pemerintah.

Rilis Agustus 2026 ini mempertegas bahwa ruang toleransi publik mulai menyempit. Pemerintah dituntut segera bergerak cepat mengubah modal kepercayaan politik yang tersisa menjadi aksi kebijakan konkret yang menyentuh kesejahteraan riil masyarakat luas. 


Arya Wiranegara

Sumber : https://adajuga.com/survei-poltracking/

#prabowo #gibran #jokowi #kdm #anies