“Semua akan jadi penjilat pada waktunya” di saat Rocky Gerung jadi anggota Wantimpres Prabowo dengan Gaji Rp76,5 Juta per Bulan dan Fasilitas Setara Menteri

Prabowo Melantik 26 Anggota Wantimpres, Gaji per Orang Rp76,5 Juta per Bulan dan Fasilitas Setara Menteri. 

Pelantikan pengamat politik Rocky Gerung sebagai salah satu dari 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) oleh Presiden Prabowo Subianto pada Jumat, 2 Oktober 2026, seketika memicu gelombang perbincangan hangat di ruang publik. Pria yang selama ini dikenal sebagai “panglima” kritikus pemerintahan dan kerap mempopulerkan diksi kejujuran intelektual vs kedunguan, kini resmi mengenakan peci dan dasi di dalam Istana Negara.

Langkah politik ini memicu sinisme publik yang melahirkan kembali adagium populer di media sosial: “Semua akan jadi penjilat pada waktunya.” Berikut pembahasan lengkap mengenai fenomena dinamika politik tersebut. 

Madu 100% Murni Herpil Madu Lebah Fresh Nektar Multiflora


Ironi Epistemik: Ketika Kritik Tertajam Menetap di Ketiak Kekuasaan
1. Paradoks “Rocky Gerung Masuk Istana”

Bagi banyak pendukung setianya dan pengamat gerakan oposisi, bergabungnya Rocky Gerung ke dalam lingkar kekuasaan Prabowo Subianto dirasa sebagai sebuah “reset” atau kejutan budaya politik. Mengapa? Karena sepanjang karier publiknya, Rocky memosisikan diri sebagai entitas luar yang menjaga jarak estetis dan etis dari kekuasaan demi menjaga kemurnian akal sehat.

Ketika ia menerima posisi di Wantimpres—lembaga yang diketuai oleh Pratikno—banyak pihak di media sosial langsung mencapnya telah “menjilat ludah sendiri” atau melunak demi jabatan.



2. Pembelaan Rocky: “Fungsi Dewan Justru Kritis”

Menanggapi badai sinisme tersebut, Rocky Gerung segera memberikan klarifikasi strategis usai pelantikan di Istana Negara. Ia menepis anggapan bahwa dirinya telah kehilangan independensi intelektual.

Beberapa argumen utama Rocky Gerung meliputi:

Kedudukan Etis, Bukan Teknis

Rocky menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto menitipkan pesan khusus bahwa Wantimpres memiliki kedudukan etis. Lembaga ini tidak mengurusi urusan dapur kementerian (teknis), melainkan mengawasi agar ekses-ekses kebijakan tidak keluar dari visi normatif presiden.

Tetap Membawa Radical Break

Rocky menegaskan posisinya tidak akan mengubah ketajaman analisisnya. Menurutnya, posisi barunya hanyalah pergeseran tempat bertarung—dari luar menjadi oversight committee di dalam sistem publik.

“Alasan Gua Menolak Apa?”

Rocky secara retoris mempertanyakan balik mengapa ia harus menolak tawaran yang memungkinkannya mengintervensi kebijakan negara secara langsung lewat pertimbangan filosofis dan etis.

Syarat Lengkap dan Cara Daftar Sekolah Kedinasan CPNS BUMN TNI POLRI Kowad Unhan Akademi TNI AKPOL SIPSS Perwira PK TNI


3. Membedakan Antara “Penjilat” vs “Kooptasi Taktis”

Dalam kacamata sosiologi politik, apakah fenomena ini valid disebut sebagai bentuk “penjilatan” atau sekadar realisme politik?

Narasi Sinisme Publik (“Penjilat”)

Motivasi Utama : Dianggap mengejar legitimasi formal, fasilitas negara, atau “kebagian panggung” kekuasaan setelah bertahun-tahun berada di luar.

Dampak pada Oposisi : Melemahnya pilar oposisi eksternal karena tokoh vokal tertingginya sudah dirangkul masuk ke dalam sistem.

Sikap Intelektual : Dianggap mengalami inkonsistensi logis dan berkompromi dengan pragmatisme politik.

Narasi Realisme Politik (“Mitra Kritis”)

Motivasi Utama : Memanfaatkan posisi strategis Wantimpres untuk menyuntikkan filsafat hukum dan etika langsung ke telinga Presiden.

Dampak pada Oposisi : Terjadinya checks and balances dari dalam, memastikan presiden mendapat masukan yang objektif dan tidak asal bapak senang.

Sikap Intelektual : Menggeser metode perjuangan; dari sekadar mengkritik di ruang seminar menjadi perumus pertimbangan etis kebijakan.


4. Ujian Konsistensi Akal Sehat

Adagium “semua akan jadi penjilat pada waktunya” muncul karena sejarah politik Indonesia dipenuhi oleh tokoh-tokoh aktivis dan kritikus yang mendadak “bisu” pasca-mendapatkan kursi. Publik berhak skeptis apakah Rocky Gerung akan tetap menjadi “zordon akal sehat” yang mampu menegur presiden, atau justru akan ikut memaklumi kesalahan sistemik dengan dalih stabilitas negara.

Bagaimanapun, masuknya Rocky ke dalam kabinet penasihat Prabowo Subianto merupakan eksperimen politik yang menarik. Waktu yang akan membuktikan apakah Rocky Gerung berhasil mewarnai istana dengan pikiran-pikiran kritisnya, atau justru istana yang berhasil menjinakkan keliaran berpikir sang filsuf. 


Arya Wiranegara

Sumber: https://adajuga.com/semua-akan-jadi-penjilat-pada-waktunya/

#rockygerung #prabowo #gibran #mbg #kopdes