Kehidupan Nabi Adam AS dan Hawa di Surga dalam Kitab Al-Bidāyah wa al-Nihāyah 

Setelah menjelaskan proses penciptaan Nabi Adam AS, Imam Ibnu Katsir melanjutkan pembahasan dengan kisah kehidupan Adam di surga. Bagian ini menjadi awal dari ujian pertama yang dialami manusia. Melalui ayat-ayat Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad SAW, dan riwayat para ulama terdahulu, Ibnu Katsir menjelaskan bagaimana Allah memberikan berbagai kenikmatan kepada Adam dan istrinya, Hawa, sekaligus menetapkan satu larangan sebagai bentuk ujian ketaatan.

Kisah ini mengandung banyak pelajaran tentang nikmat Allah, tipu daya setan, pentingnya menaati perintah-Nya, dan keluasan rahmat-Nya bagi hamba yang bertaubat.

Penciptaan Hawa

Setelah menciptakan Nabi Adam AS, Allah menciptakan Hawa sebagai pasangan hidupnya.

Ibnu Katsir mengutip hadis-hadis yang menjelaskan bahwa Hawa diciptakan dari salah satu tulang rusuk Adam. Tujuan penciptaan tersebut adalah agar Adam memperoleh ketenangan, kasih sayang, dan teman hidup. Hal ini sejalan dengan prinsip Al-Qur’an bahwa Allah menciptakan pasangan agar manusia memperoleh ketenteraman.

Beliau tidak memperpanjang pembahasan mengenai rincian yang tidak dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih.

Kehidupan di Surga

Allah mempersilakan Adam dan Hawa tinggal di surga serta menikmati seluruh kenikmatan yang ada di dalamnya.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa mereka diperbolehkan memakan berbagai buah dan menikmati semua yang tersedia tanpa kesulitan. Kehidupan di surga penuh dengan kedamaian, kecukupan, dan kenikmatan yang merupakan karunia Allah.

Namun, di tengah berbagai nikmat tersebut, Allah menetapkan satu batasan sebagai ujian.

Larangan Mendekati Sebuah Pohon

Allah memerintahkan Adam dan Hawa agar tidak mendekati satu pohon tertentu.

Al-Qur’an tidak menyebutkan secara spesifik jenis pohon tersebut. Dalam kitabnya, Ibnu Katsir mengutip beberapa pendapat ulama yang menyebutkan kemungkinan pohon gandum, pohon anggur, pohon tin, atau jenis lainnya. Akan tetapi, beliau menegaskan bahwa tidak ada dalil yang sahih yang memastikan jenis pohon itu.

Karena itu, menurut Ibnu Katsir, yang terpenting bukanlah mengetahui nama pohonnya, melainkan memahami hikmah dari larangan tersebut, yaitu sebagai ujian ketaatan kepada Allah.

Tipu Daya Iblis

Setelah diusir dari rahmat Allah, Iblis tidak berhenti memusuhi Adam dan keturunannya.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Iblis membisikkan godaan kepada Adam dan Hawa. Ia meyakinkan mereka bahwa larangan tersebut bukan demi kebaikan mereka, bahkan bersumpah bahwa dirinya memberikan nasihat yang tulus.

Iblis juga menggoda dengan mengatakan bahwa jika mereka memakan buah dari pohon itu, mereka akan memperoleh keabadian atau menjadi makhluk yang lebih mulia.

Godaan ini menunjukkan bahwa setan sering menyesatkan manusia dengan membungkus kebatilan dalam bentuk yang tampak menarik.

Adam dan Hawa Memakan Buah yang Dilarang

Karena terpengaruh oleh godaan Iblis, Adam dan Hawa akhirnya memakan buah dari pohon yang dilarang.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa perbuatan tersebut merupakan bentuk pelanggaran terhadap perintah Allah. Namun, beliau juga menegaskan bahwa Adam tidak melakukannya karena membangkang atau menyombongkan diri sebagaimana Iblis, melainkan karena tergelincir akibat godaan.

Perbedaan ini penting, karena sikap Adam setelah melakukan kesalahan sangat berbeda dengan sikap Iblis.

Terbukanya Aurat dan Timbulnya Penyesalan

Setelah memakan buah tersebut, Adam dan Hawa menyadari bahwa aurat mereka tampak. Mereka segera berusaha menutupinya dengan daun-daun surga.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa peristiwa ini menjadi tanda berubahnya keadaan mereka setelah melanggar perintah Allah. Yang lebih penting lagi, keduanya segera menyadari kesalahan yang telah dilakukan dan merasa menyesal.

Taubat Nabi Adam AS

Salah satu bagian yang paling ditekankan oleh Ibnu Katsir adalah taubat Adam.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa Allah mengajarkan beberapa kalimat kepada Adam untuk memohon ampun. Adam dan Hawa kemudian berdoa:

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah menerima taubat Adam. Hal ini menunjukkan keluasan rahmat Allah kepada hamba-Nya yang mengakui kesalahan, menyesal, dan kembali kepada-Nya.

Perbedaan Sikap Adam dan Iblis

Ibnu Katsir menyoroti perbedaan mendasar antara Adam dan Iblis.

Ketika melakukan kesalahan:

  • Iblis bersikap sombong, menolak mengakui kesalahan, dan menyalahkan keadaan.
  • Adam mengakui dosanya, memohon ampun, dan bertaubat kepada Allah.

Dari sinilah para ulama mengambil pelajaran bahwa manusia tidak luput dari kesalahan, tetapi jalan keselamatan adalah taubat yang tulus.

Hikmah yang Dapat Diambil

Kisah kehidupan Adam dan Hawa di surga mengandung banyak pelajaran, di antaranya:

  • Nikmat Allah harus disyukuri dengan ketaatan.
  • Setan selalu berusaha menyesatkan manusia melalui tipu daya dan janji-janji palsu.
  • Larangan Allah mengandung hikmah meskipun manusia tidak selalu mengetahui alasannya.
  • Kesalahan tidak harus berakhir dengan kebinasaan jika diikuti oleh taubat yang ikhlas.
  • Rahmat dan ampunan Allah lebih luas daripada dosa hamba yang benar-benar kembali kepada-Nya.

Penutup

Dalam Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Imam Ibnu Katsir menggambarkan kehidupan Adam dan Hawa di surga sebagai awal dari ujian manusia. Melalui kisah ini, beliau menunjukkan bahwa setan adalah musuh yang nyata, tetapi juga menegaskan bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi siapa pun yang kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan.

Kisah ini menjadi pengantar bagi peristiwa berikutnya yang sangat penting, yaitu diturunkannya Adam dan Hawa ke bumi, yang menandai dimulainya kehidupan manusia sebagai khalifah di dunia.

Sumber : Kitab Al-Bidāyah wa al-Nihāyah 

— https://adajuga.com/al-bidayah-wa-al-nihayah-10/

.