Lebih Dekat dengan KDM atau Kang Dedi Mulyadi, Capres 59% Versi Survei SMRC Sosok Pemimpin Sunda yang Kini Menjadi Perbincangan Nasional Nama Dedi Mulyadi atau Kang Dedi Mulyadi (KDM) kembali mengguncang panggung politik nasional. Berdasarkan rilis riset lembaga SMRC pada akhir Juli 2026, Gubernur Jawa Barat ini sukses mendominasi bursa calon presiden. Dalam simulasi semi-terbuka 20 nama, KDM menempati urutan pertama dengan angka 35%. Angka tersebut melesat drastis hingga 59% saat diuji dalam skenario head-to-head. Melejitnya angka dukungan ini tidak datang dalam semalam. Peta elektoral ini terbentuk berkat rekam jejak panjang, karakter kepemimpinan yang khas, serta kedekatan emosional yang ia bangun bersama masyarakat bawah. Info Belanja 100 Produk Terlaris di Shopee Minggu Ini 1. Profil Singkat dan Latar Belakang Lahir di Sukasari, Kabupaten Subang pada 11 April 1971, Dedi Mulyadi tumbuh dalam kesederhanaan lingkungan pedesaan Jawa Barat. Latar belakang ini membentuk perspektif politiknya yang kental dengan nilai-nilai kebudayaan lokal dan empati sosial tinggi. Biodata Singkat Nama lengkap: Dedi Mulyadi Nama populer: Kang Dedi Mulyadi (KDM) Tempat lahir: Kabupaten Subang, Jawa Barat Tanggal lahir: 11 April 1971 Asal: Jawa Barat Profesi: Politikus dan Kepala Daerah Ia menyelesaikan pendidikan tingginya di Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman Purwakarta. Sejak masa kuliah, Dedi dikenal vokal dan aktif dalam berbagai organisasi pergerakan mahasiswa serta buruh, yang menjadi fondasi kuat bagi karier politiknya di masa depan. POLITIK Kejutan Bursa Capres: Elektabilitas Dedi Mulyadi Salip Presiden Prabowo di Survei SMRC 2. Perjalanan Karier Politik Karier politik Kang Dedi Mulyadi merangkak secara bertahap dari daerah hingga menembus level nasional: Anggota DPRD Purwakarta (1999–2003): Memulai debut politik praktisnya di usia muda melalui jalur legislatif daerah. Wakil Bupati Purwakarta (2003–2008): Terpilih mendampingi Bupati Lily Hambali Hasan di usia yang baru menginjak 32 tahun. Bupati Purwakarta Dua Periode (2008–2018): Memimpin Purwakarta selama satu dekade. Era ini menjadi titik balik namanya dikenal luas karena berhasil mengubah wajah Purwakarta menjadi kabupaten yang kental dengan arsitektur budaya Sunda dan pelayanan publik yang ramah. Anggota DPR RI (2019–2024): Melenggang ke Senayan mewakili daerah pemilihan Jawa Barat VII. Melalui komisi tempatnya bertugas, ia aktif menyuarakan isu lingkungan, kehutanan, dan hak masyarakat adat. Gubernur Jawa Barat (2025–sekarang): Berhasil memenangkan kontestasi kepemimpinan di tanah Pasundan untuk periode 2025–2030. POLITIK 48 Hukum Kekuasaan : Strategi mendapatkan, mempertahankan dan membela diri dari kekuasaan 3. Gaya Kepemimpinan yang Nyentrik dan Merakyat Ciri khas utama KDM yang paling melekat di benak publik adalah penampilannya. Ia konsisten mengenakan iket (ikat kepala khas Sunda) dan pakaian putih dalam berbagai kegiatan formal maupun informal. Di luar aspek penampilan, kekuatannya terletak pada gaya komunikasi langsung. Melalui optimalisasi media sosial dan turun langsung ke lapangan (blusukan), ia kerap membagikan momen saat membantu warga miskin, menyelesaikan konflik agraria, hingga membedah rumah warga tak layak huni. Pola pendekatan humanis inilah yang membuat popularitasnya menyentuh hampir 100% di Jawa Barat, dengan tingkat kepuasan publik terhadap kinerjanya sebagai gubernur mencapai angka fantastis 95,4% berdasarkan survei Lembaga Survei Indonesia (LSI). 4. Mengapa Angka 59% SMRC Begitu Signifikan? Hasil survei SMRC periode 5–19 Juli 2026 menangkap adanya anomali politik yang krusial. KDM yang merupakan kader Partai Gerindra justru berhasil menyalip elektabilitas sang ketua umum sekaligus petahana, Prabowo Subianto. Simulasi Pilihan Capres SMRC (Juli 2026) Dedi Mulyadi (KDM) Prabowo Subianto Simulasi Semi-Terbuka (20 Nama) 35,0% 14,5% Simulasi Head-to-Head (2 Nama) 59,0% 28,3% Catatan: Sisa persentase diisi oleh kandidat lain atau responden yang belum menentukan pilihan. Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menjelaskan bahwa dalam skenario dua nama, elektabilitas KDM meroket dari 42,6% pada awal tahun menjadi 59% di bulan Juli. Lonjakan ini sejalan dengan menurunnya sentimen positif publik terhadap performa beberapa program ekonomi nasional di tingkat pusat, sehingga arus dukungan beralih kepada figur alternatif yang dinilai lebih responsif seperti KDM. 5. Menatap Masa Depan Politik Meski angka 59% ini menempatkannya sebagai salah satu penantang terkuat dalam bursa menuju Pilpres, Kang Dedi Mulyadi memilih tetap membumi. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa prioritas utamanya saat ini adalah menuntaskan amanah rakyat Jawa Barat dan memaksimalkan penyerapan anggaran provinsi demi kesejahteraan warga. Bagaimanapun, angka statistik dari SMRC telah membuktikan satu hal: pendekatan politik berbasis kebudayaan, pelayanan nyata, dan ketulusan merangkul rakyat kecil yang diterapkan oleh Kang Dedi Mulyadi berhasil mendapat tempat tertinggi di hati masyarakat Indonesia. — Arya Wiranegara Sumber : https://adajuga.com/kdm/ *** Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat dengan Tingkat Kepuasan Publik Fantastis 95,4% Berdasarkan Survei LSI Juli 2026 Hasil survei terbaru Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dirilis pada 23 Juli 2026 menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mencapai angka fantastis sebesar 95,4 persen. Survei bertajuk “Evaluasi Publik terhadap Kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat” ini mengukur persepsi masyarakat setelah 1,5 tahun masa kepemimpinan kepala daerah yang menjabat sejak Februari 2025. Pengumpulan data dilakukan pada 2–9 Juli 2026 melibatkan 800 responden di 27 kabupaten/kota dengan metode multistage random sampling (margin of error ±3,5%). # Rincian Kepuasan Terhadap Gubernur Dedi Mulyadi Tingginya angka kepuasan publik dinilai dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan sang gubernur yang aktif, responsif terhadap isu sosial, dan masif memanfaatkan media sosial. Rincian persentase kepuasan tersebut meliputi: – Sangat Puas: 39,3 persen – Cukup Puas: 56,1 persen – Kurang Puas: 3,3 persen – Tidak Puas Sama Sekali: 0,5 persen – Tidak Tahu/Tidak Menjawab: 0,8 persen # Kinerja Umum Pemerintah Provinsi Jawa Barat Selain figurnya, performa birokrasi dan eksekusi roda pemerintahan di bawah Pemprov Jabar secara umum juga mendapatkan rapor hijau. – Pelaksanaan Pemerintahan: 60,2 persen responden menilai tata kelola pemerintahan berjalan baik atau sangat baik. – Stabilitas Kepuasan: Angka kepuasan publik ini dinilai sangat stabil bila dibandingkan dengan periode survei sebelumnya yang berada di angka 95,5 persen. # Aspek Kinerja dengan Apresiasi Tertinggi Masyarakat Jawa Barat memberikan nilai kepuasan yang tinggi terutama pada sektor pembangunan infrastruktur, pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar, serta respons tanggap bencana. 1. Peningkatan Kualitas Jalan: (Menduduki kepuasan tertinggi, detail data dapat diverifikasi pada kanal GoodStats). 2. Kualitas Layanan Kesehatan Daerah: 86 persen. 3. Peningkatan Kualitas Pendidikan SLTA: 86 persen. 4. Ketersediaan Bahan Pangan: 85 persen. 5. Jaminan Layanan Kesehatan: 84 percent. 6. Pencegahan Bencana: 84 persen. 7. Pembangunan & Perbaikan Irigasi: 82 persen. # Catatan Evaluasi dan Tantangan Ekonomi Meski kepuasan kepemimpinan sangat tinggi, Direktur Eksekutif LSI, Djayadi Hanan, memaparkan bahwa Pemprov Jabar masih memiliki tantangan besar di sektor ekonomi makro dan kesejahteraan masyarakat. – Kondisi Ekonomi Makro: Mayoritas warga (44,3 persen) menganggap kondisi ekonomi di Jawa Barat saat ini masih berada dalam kategori sedang atau moderat. – Sektor Pemberdayaan Terendah: Pembinaan koperasi di masyarakat menjadi aspek dengan kepuasan paling rendah, yaitu hanya sebesar 59 persen. – Pengentasan Kemiskinan: Sektor penanggulangan kemiskinan mencatat tingkat kepuasan yang cukup rendah, yakni berada di angka 63 persen. – Kualitas Tenaga Kerja: Upaya peningkatan kualitas dan penyerapan tenaga kerja lokal baru menyentuh angka kepuasan 67 persen. – Sosialisasi Program Kerja: Beberapa program unggulan daerah seperti Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), Sekolah Swasta Kerja Sama (SSK), dan Sekolah Manusia Unggul (Maung) mendapatkan respons positif dari yang sudah tahu, namun awareness atau tingkat pengenalan masyarakat luas secara umum masih di bawah 50 persen. Menanggapi rilis data dari Lembaga Survei Indonesia ini, Gubernur Dedi Mulyadi menyampaikan di Bandung bahwa capaian fantastis tersebut bukan semata-mata hasil kerja individu dirinya, melainkan bentuk kolaborasi dari seluruh jajaran perangkat daerah dari tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan, hingga pengurus RT/RW dan seluruh warga Jawa Barat. — Arya Wiranegara Sumber : https://adajuga.com/kdm/ *** Navigasi pos MBG dalam Putusan MK No. 40/2026 : Anggaran MBG Wajib Keluar dari Dana Pendidikan Paling Lambat 2028 Survei SMRC Juli 2026 : Tingkat Kepuasan Terhadap Kinerja Presiden Prabowo Anjlok 30 Persen