Tata Cara Penulisan Surat Nabi Muhammad SAW Surat-surat Nabi Muhammad ﷺ merupakan salah satu dokumen paling penting dalam sejarah Islam. Selain menjadi sarana dakwah kepada para raja, penguasa, kepala suku, dan tokoh masyarakat, surat-surat tersebut juga menjadi bukti bahwa Negara Madinah telah memiliki sistem administrasi dan diplomasi yang teratur. Setiap surat yang dikirim Rasulullah ﷺ disusun dengan bahasa yang singkat, jelas, santun, dan penuh hikmah. Meskipun ditujukan kepada berbagai kalangan yang berbeda latar belakang agama dan budaya, struktur surat-surat beliau menunjukkan pola yang hampir seragam. Keseragaman ini memperlihatkan adanya tata cara penulisan resmi yang menjadi ciri khas korespondensi kenabian. Dalam bab ini akan dibahas bagaimana surat-surat Nabi Muhammad ﷺ ditulis, siapa yang menuliskannya, media yang digunakan, struktur redaksinya, hingga proses pengiriman kepada para penerima. A. Lahirnya Administrasi Negara Madinah Setelah hijrah ke Madinah pada tahun 622 M, Rasulullah ﷺ tidak hanya membimbing umat dalam urusan ibadah, tetapi juga membangun tata kelola pemerintahan. Berbagai aspek administrasi mulai dibentuk, antara lain: pencatatan wahyu Al-Qur’an; penyusunan Piagam Madinah; pencatatan zakat dan sedekah; perjanjian dengan berbagai kabilah; pengangkatan gubernur dan amil; pencatatan surat-surat resmi kepada para penguasa. Dengan demikian, surat-surat Nabi ﷺ bukanlah tulisan pribadi, melainkan dokumen resmi yang mewakili negara dan dakwah Islam. B. Siapa yang Menulis Surat-Surat Nabi ﷺ? Rasulullah ﷺ dikenal sebagai ummi, yaitu tidak membaca dan menulis sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an: “Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca suatu kitab sebelum Al-Qur’an dan tidak (pula) menulisnya dengan tangan kananmu…” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 48) Karena itu, setiap kali hendak mengirim surat, Rasulullah ﷺ memanggil salah seorang sahabat yang bertugas sebagai penulis (kātib). Beliau mendiktekan isi surat, kemudian sahabat tersebut menuliskannya dengan teliti. Di antara para penulis Rasulullah ﷺ adalah: Zaid bin Tsabit RA Ali bin Abi Thalib RA Ubay bin Ka’ab RA Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA Khalid bin Sa’id RA Abdullah bin Rawahah RA Tsabit bin Qais RA Hanzhalah bin ar-Rabi’ RA Para sahabat tersebut dikenal sebagai kuttāb ar-Rasūl (para sekretaris Rasulullah ﷺ). Sebagian besar juga bertugas menulis wahyu Al-Qur’an, perjanjian, dan dokumen pemerintahan lainnya. C. Media yang Digunakan untuk Menulis Surat Pada abad ke-7 M, kertas belum digunakan secara luas di Jazirah Arab. Oleh karena itu, surat-surat Rasulullah ﷺ ditulis pada berbagai bahan yang tersedia, seperti: kulit binatang yang telah disamak; lembaran perkamen; papirus yang didatangkan dari Mesir; kain tertentu; pelepah kurma yang telah diratakan; lembaran tipis dari kulit. Untuk surat-surat diplomatik kepada para raja, para sejarawan berpendapat bahwa Rasulullah ﷺ menggunakan bahan yang lebih baik dan lebih tahan lama agar sesuai dengan kedudukan para penerimanya. Tulisan menggunakan tinta hitam dengan huruf Arab yang berkembang pada masa itu, meskipun belum dilengkapi titik dan tanda baca seperti mushaf Al-Qur’an modern. D. Struktur Penulisan Surat Nabi ﷺ Meskipun ditujukan kepada berbagai pihak, surat-surat Rasulullah ﷺ memiliki susunan yang hampir sama. 1. Basmalah Surat selalu diawali dengan kalimat: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Basmalah menunjukkan bahwa seluruh aktivitas seorang Muslim dimulai dengan mengingat Allah. Kalimat ini sekaligus menjadi pembuka resmi surat-surat Nabi ﷺ. 2. Identitas Pengirim Setelah basmalah, Rasulullah ﷺ memperkenalkan dirinya secara sederhana, misalnya: Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya… Dalam beberapa surat disebutkan: من محمد رسول الله Artinya: “Dari Muhammad, Rasul Allah.” Beliau tidak menggunakan gelar kebesaran duniawi seperti “raja”, “kaisar”, atau “penguasa”, melainkan memperkenalkan diri sebagai utusan Allah. 3. Identitas Penerima Nama penerima disebutkan secara jelas sesuai kedudukannya. Contohnya: kepada Heraklius, Kaisar Romawi; kepada Kisra, Raja Persia; kepada Muqauqis, Penguasa Mesir; kepada Najasyi, Raja Habasyah. Penyebutan nama dan jabatan ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ menghormati kedudukan penerima tanpa mengurangi ketegasan dakwah yang disampaikan. 4. Salam Pembuka Sebagian besar surat menggunakan kalimat: السلام على من اتبع الهدى Artinya: “Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.” Ungkapan ini mengandung doa sekaligus ajakan agar penerima mengikuti petunjuk Allah. 5. Isi Pokok Surat Bagian inti surat biasanya memuat beberapa unsur berikut. a. Ajakan kepada Islam Contoh redaksi yang terkenal adalah: أسلم تسلم Artinya: “Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat.” Kalimat ini singkat, tetapi mengandung makna yang mendalam, yaitu keselamatan di dunia dan akhirat. b. Janji Pahala Kepada Ahli Kitab, Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa apabila mereka menerima Islam, Allah akan memberikan pahala dua kali lipat karena mereka telah beriman kepada nabi sebelumnya dan kemudian beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ. c. Peringatan Apabila penerima menolak dakwah, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa mereka akan memikul tanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya apabila menghalangi mereka dari menerima kebenaran. Peringatan ini disampaikan dengan bahasa yang tegas, tetapi tidak mengandung penghinaan. 6. Penutup Beberapa surat ditutup dengan kutipan ayat Al-Qur’an, terutama ketika ditujukan kepada Ahli Kitab. Salah satu ayat yang sering dicantumkan adalah: “Wahai Ahli Kitab! Marilah menuju kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah…” (QS. Ali ‘Imran [3]: 64) Penggunaan ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa isi surat bersumber dari wahyu Allah, bukan sekadar pendapat pribadi Rasulullah ﷺ. E. Bahasa yang Digunakan Semua surat Rasulullah ﷺ ditulis dalam bahasa Arab karena itulah bahasa resmi masyarakat Madinah dan bahasa Al-Qur’an. Sebagian besar kerajaan di luar Jazirah Arab menggunakan bahasa yang berbeda, seperti Yunani, Persia, Koptik, atau Ge’ez. Oleh sebab itu, para utusan atau penerjemah istana biasanya menerjemahkan isi surat kepada penguasa yang menerimanya. Walaupun diterjemahkan secara lisan, naskah asli surat tetap diserahkan dalam bahasa Arab sebagai dokumen resmi. F. Cincin Stempel Rasulullah ﷺ Menurut riwayat sahih, Rasulullah ﷺ pernah diberi tahu bahwa para raja tidak menerima surat tanpa cap resmi. Mendengar hal itu, beliau membuat cincin dari perak yang digunakan sebagai stempel negara. Pada cincin tersebut terukir: الله رسول محمد Jika dibaca sesuai urutan kalimat menjadi: محمد رسول الله (“Muhammad adalah utusan Allah.”) Cap tersebut dicetak pada bagian akhir surat sebagai tanda keaslian dokumen. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, cincin itu digunakan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, kemudian Umar bin al-Khattab RA, lalu Utsman bin Affan RA hingga akhirnya hilang di Sumur Aris sekitar tahun 30 H. G. Pengiriman Surat Setelah selesai ditulis dan diberi stempel, Rasulullah ﷺ memilih seorang sahabat sebagai utusan. Kriteria utusan antara lain: dikenal jujur; memiliki keberanian; mampu berbicara dengan baik; memahami adat masyarakat yang akan didatangi; siap menempuh perjalanan jauh. Perjalanan menuju Romawi, Persia, Mesir, Habasyah, Oman, Bahrain, maupun Yaman memerlukan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Oleh karena itu, para utusan harus memiliki ketahanan fisik dan mental yang tinggi. Sesampainya di istana, mereka menyerahkan surat secara langsung kepada penguasa atau pejabat yang berwenang. Dalam beberapa kasus, utusan juga diminta menjelaskan isi surat dan menjawab berbagai pertanyaan mengenai Islam. H. Karakteristik Surat Nabi ﷺ Beberapa ciri utama surat-surat Rasulullah ﷺ dapat diringkas sebagai berikut: Dimulai dengan basmalah. Menyebutkan identitas pengirim dan penerima secara jelas. Menggunakan bahasa yang singkat dan padat. Mengandung ajakan kepada tauhid. Disampaikan dengan sopan dan penuh hikmah. Memuat janji pahala dan peringatan secara seimbang. Diperkuat dengan ayat Al-Qur’an pada surat tertentu. Menggunakan stempel resmi sebagai tanda keaslian. Dibawa oleh utusan yang terpercaya. Menjadi dokumen resmi negara sekaligus sarana dakwah. I. Nilai-Nilai yang Dapat Diteladani Tata cara penulisan surat Rasulullah ﷺ mengajarkan sejumlah nilai penting yang tetap relevan hingga kini, antara lain: Profesionalisme, karena setiap surat disusun secara sistematis dan jelas. Kejujuran, sebab isi surat mencerminkan amanah dalam menyampaikan wahyu. Kesantunan, terlihat dari pilihan kata yang menghormati penerima. Ketegasan, karena ajakan kepada kebenaran disampaikan tanpa keraguan. Keteraturan administrasi, yang menunjukkan pentingnya pencatatan dan dokumentasi dalam pemerintahan. Nilai-nilai tersebut menjadi teladan bagi siapa pun yang ingin membangun komunikasi resmi yang beretika, efektif, dan berlandaskan kebenaran. Penutup Surat-surat Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar media komunikasi, tetapi juga instrumen dakwah, diplomasi, dan administrasi negara yang disusun dengan penuh kebijaksanaan. Struktur penulisannya yang sederhana namun sistematis mencerminkan perpaduan antara ketegasan dalam menyampaikan risalah Allah dan kelembutan dalam berkomunikasi dengan berbagai kalangan. — Arya Wiranegara Sumber : https://adajuga.com/surat-nabi-muhammad-2/ . Navigasi pos Diplomasi Nabi Muhammad SAW dalam Dakwah Islam Surat Nabi Muhammad SAW kepada Heraklius (Kaisar Romawi Timur)