Runtuhnya Turki Utsmani dan Berakhirnya Khilafah Islam (1908–1924)

Setelah bertahan selama lebih dari enam abad, Kesultanan Utsmaniyah akhirnya memasuki babak terakhir dalam sejarahnya pada awal abad ke-20. Berbagai reformasi yang dilakukan sepanjang abad ke-19 memang membawa perubahan penting, tetapi tidak mampu menghentikan tekanan dari dalam maupun luar negeri. Bangkitnya nasionalisme di berbagai wilayah kekuasaan, meningkatnya campur tangan negara-negara Eropa, krisis ekonomi, serta kekalahan dalam peperangan membuat posisi Utsmaniyah semakin lemah.

Periode 1908–1924 merupakan masa yang menentukan. Dalam rentang waktu hanya enam belas tahun, kekaisaran yang pernah menguasai tiga benua mengalami serangkaian peristiwa besar: Revolusi Turki Muda, Perang Balkan, Perang Dunia I, Perang Kemerdekaan Turki, penghapusan kesultanan, dan akhirnya penghapusan institusi kekhalifahan. Bab ini menguraikan proses tersebut secara kronologis.

Info Belanja 10 Produk Terlaris di Shopee Minggu Ini


8.1 Revolusi Turki Muda (1908)

Pada tahun 1908, sekelompok perwira militer dan intelektual yang tergabung dalam Komite Persatuan dan Kemajuan (Committee of Union and Progress/CUP) memimpin gerakan yang dikenal sebagai Revolusi Turki Muda.

Gerakan ini menuntut diberlakukannya kembali Konstitusi 1876 dan dibukanya parlemen yang sebelumnya dibekukan oleh Sultan Abdul Hamid II.

Menghadapi tekanan yang semakin besar, Sultan Abdul Hamid II akhirnya menerima tuntutan tersebut. Sistem monarki konstitusional kembali diberlakukan, sementara parlemen mulai menjalankan fungsinya.

Pada tahun 1909, setelah terjadi pemberontakan yang gagal, Abdul Hamid II dilengserkan dari takhta dan digantikan oleh Sultan Mehmed V. Sejak saat itu, kekuasaan politik praktis lebih banyak berada di tangan para pemimpin Turki Muda daripada sultan.


8.2 Perang Balkan (1912–1913)

Tidak lama setelah Revolusi Turki Muda, Kesultanan Utsmaniyah menghadapi ancaman besar dari negara-negara Balkan.

Serbia, Bulgaria, Yunani, dan Montenegro membentuk Liga Balkan untuk mengusir Utsmaniyah dari Eropa.

Dalam Perang Balkan Pertama (1912), pasukan Utsmaniyah mengalami kekalahan besar. Hampir seluruh wilayahnya di Eropa, termasuk Makedonia dan Albania, hilang dalam waktu singkat.

Pada Perang Balkan Kedua (1913), Utsmaniyah berhasil merebut kembali Edirne (Adrianople), tetapi sebagian besar wilayah Balkan tetap lepas dari kekuasaannya.

Kekalahan ini tidak hanya mengurangi luas wilayah kekaisaran, tetapi juga memicu gelombang pengungsi Muslim menuju Anatolia.


8.3 Kesultanan Utsmaniyah dalam Perang Dunia I

Ketika Perang Dunia I pecah pada tahun 1914, Kesultanan Utsmaniyah memutuskan bergabung dengan Blok Sentral, yang dipimpin oleh Jerman dan Austria-Hongaria.

Keputusan tersebut didasarkan pada harapan bahwa kerja sama dengan Jerman dapat membantu mempertahankan wilayah Utsmaniyah dari ancaman Rusia dan negara-negara Sekutu.

Perang berlangsung di berbagai front, antara lain:

  • Front Gallipoli (Çanakkale).
  • Front Kaukasus.
  • Front Mesopotamia (Irak).
  • Front Palestina dan Suriah.
  • Front Arab.

8.4 Pertempuran Gallipoli

Salah satu keberhasilan terbesar Utsmaniyah selama Perang Dunia I terjadi dalam Pertempuran Gallipoli (1915–1916).

Pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris dan Prancis berusaha menguasai Selat Dardanella untuk membuka jalur menuju Rusia.

Namun, pasukan Utsmaniyah berhasil mempertahankan wilayah tersebut.

Dalam pertempuran ini muncul seorang komandan muda yang kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah Turki, yaitu Mustafa Kemal.

Keberhasilan Gallipoli meningkatkan moral pasukan Utsmaniyah, tetapi tidak mampu mengubah jalannya perang secara keseluruhan.


8.5 Pemberontakan Arab

Pada tahun 1916, terjadi Pemberontakan Arab yang dipimpin oleh Syarif Husain dari Makkah dengan dukungan Inggris.

Tujuan pemberontakan adalah melepaskan wilayah Arab dari kekuasaan Utsmaniyah dan mendirikan negara Arab yang merdeka.

Dukungan Inggris, termasuk melalui tokoh seperti T. E. Lawrence (“Lawrence of Arabia”), memperkuat gerakan tersebut.

Akibatnya, wilayah Hijaz, Suriah, dan sebagian besar Jazirah Arab secara bertahap lepas dari kekuasaan Utsmaniyah.


8.6 Kekalahan dalam Perang Dunia I

Pada tahun 1918, Blok Sentral mengalami kekalahan.

Kesultanan Utsmaniyah terpaksa menandatangani Gencatan Senjata Mudros pada 30 Oktober 1918.

Berdasarkan perjanjian tersebut:

  • Pasukan Utsmaniyah harus menghentikan perlawanan.
  • Selat Bosporus dan Dardanella dibuka bagi Sekutu.
  • Wilayah-wilayah strategis diduduki oleh pasukan Sekutu.
  • Istanbul berada di bawah pengawasan negara-negara pemenang perang.

Kondisi ini menandai berakhirnya peran Utsmaniyah sebagai kekuatan besar di dunia.


8.7 Perjanjian Sèvres (1920)

Pada tahun 1920, Sekutu memaksakan Perjanjian Sèvres kepada Kesultanan Utsmaniyah.

Isi perjanjian tersebut sangat merugikan Utsmaniyah, antara lain:

  • Wilayah Anatolia dibagi-bagi untuk kepentingan negara-negara Sekutu.
  • Yunani memperoleh sebagian wilayah Anatolia Barat.
  • Armenia direncanakan menjadi negara merdeka.
  • Kurdistan direncanakan memperoleh wilayah otonom.
  • Selat Bosporus ditempatkan di bawah pengawasan internasional.

Banyak rakyat Turki menolak perjanjian ini karena dianggap mengancam keberadaan negara mereka.


8.8 Perang Kemerdekaan Turki

Penolakan terhadap Perjanjian Sèvres melahirkan Perang Kemerdekaan Turki (1919–1923).

Gerakan ini dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha, yang kemudian dikenal sebagai Mustafa Kemal Atatürk.

Pemerintah nasional dibentuk di Ankara sebagai tandingan pemerintahan Kesultanan di Istanbul.

Pasukan nasionalis berhasil mengalahkan pasukan Yunani dan menghadapi tekanan dari berbagai kekuatan asing.

Keberhasilan tersebut memperkuat posisi gerakan nasional Turki.


8.9 Penghapusan Kesultanan (1922)

Pada tanggal 1 November 1922, Majelis Nasional Agung Turki secara resmi menghapus institusi kesultanan.

Dengan keputusan ini, berakhirlah pemerintahan para sultan yang telah berlangsung sejak Osman I mendirikan Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1299.

Sultan terakhir, Mehmed VI, meninggalkan Istanbul beberapa hari kemudian dan hidup dalam pengasingan.

Penghapusan kesultanan menandai berakhirnya Kekaisaran Utsmaniyah sebagai sebuah negara monarki.


8.10 Berdirinya Republik Turki

Setelah kemenangan dalam Perang Kemerdekaan, disepakati Perjanjian Lausanne pada tahun 1923 yang menggantikan Perjanjian Sèvres.

Perjanjian ini mengakui kedaulatan negara Turki yang baru.

Pada 29 Oktober 1923, secara resmi diproklamasikan Republik Turki, dengan Ankara sebagai ibu kota dan Mustafa Kemal sebagai presiden pertama.

Republik Turki mengadopsi berbagai kebijakan modernisasi, termasuk reformasi pemerintahan, hukum, pendidikan, dan ekonomi.


8.11 Penghapusan Kekhalifahan (1924)

Meskipun kesultanan telah dihapus pada tahun 1922, institusi kekhalifahan masih dipertahankan untuk sementara waktu.

Abdulmecid II diangkat sebagai khalifah dengan peran yang bersifat seremonial tanpa kekuasaan politik.

Namun, pada 3 Maret 1924, Majelis Nasional Agung Turki memutuskan untuk menghapus institusi kekhalifahan.

Seluruh anggota keluarga Utsmaniyah diasingkan dari Turki, dan berbagai lembaga keagamaan yang berada di bawah sistem lama direorganisasi oleh pemerintah republik.

Penghapusan kekhalifahan menandai berakhirnya institusi yang selama berabad-abad menjadi simbol kepemimpinan politik bagi banyak komunitas Muslim Sunni.


Penutup

Runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah merupakan hasil dari proses panjang yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kemunduran internal, munculnya gerakan nasionalisme, tekanan kekuatan-kekuatan Eropa, serta dampak besar Perang Dunia I. Meskipun berbagai reformasi telah dilakukan sejak akhir abad ke-18, perubahan tersebut tidak mampu sepenuhnya menghentikan proses disintegrasi yang sedang berlangsung.

Dengan dihapuskannya kesultanan pada tahun 1922 dan kekhalifahan pada tahun 1924, berakhirlah sebuah imperium yang telah memainkan peranan penting dalam sejarah dunia selama lebih dari enam abad. Namun demikian, warisan Turki Utsmani tetap hidup melalui peninggalan arsitektur, sistem administrasi, tradisi keilmuan, serta pengaruhnya terhadap perkembangan dunia Islam, Eropa, dan kawasan Timur Tengah. Warisan tersebut akan menjadi fokus pembahasan pada bab terakhir.

— Arya Wiranegara 

Artikel Utama Turki Utsmani : Dari Berdirinya Kesultanan hingga Berakhirnya Kekhalifahan (1299–1924)

Sumber : https://adajuga.com/turki-utsmani-8/

#turkiutsmani #turki #islam #khilafah #sejarah

.