Tuhan, Apakah Engkau Ada? Mengapa Ketidakadilan dan Kerusakan Dibiarkan? Pertanyaan seperti “Tuhan apakah Engkau ada? Kenapa ketidakadilan ini dibiarkan? Kenapa penindasan ini dibiarkan? Kenapa kerusakan ini dibiarkan? Kenapa?” adalah pertanyaan yang sangat manusiawi. Bahkan dalam sejarah, banyak orang beriman pernah bertanya dengan hati yang gelisah ketika melihat penderitaan, kezaliman, dan dunia yang tampak tidak seimbang. Dalam pandangan Islam, keberadaan Allah tidak diukur dari apakah dunia ini selalu berjalan sesuai keinginan manusia. Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Al-‘Adl (Yang Maha Adil), dan keadilan-Nya tidak selalu tampak dalam ukuran waktu dan pandangan manusia yang terbatas. Allah berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2) 1. Dunia Bukan Tempat Keadilan Sempurna Islam mengajarkan bahwa dunia bukanlah tempat akhir dari seluruh perhitungan. Dunia adalah tempat ujian, sedangkan keadilan sempurna akan ditegakkan di akhirat. Jika semua kezaliman langsung dihentikan setiap saat, manusia tidak akan memiliki ruang untuk memilih, bertanggung jawab, dan menunjukkan siapa dirinya. Orang yang berbuat zalim diberi kesempatan, bukan karena Allah membenarkan kezalimannya, tetapi karena Allah memberi waktu. Allah berfirman: “Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang orang-orang zalim perbuat. Sesungguhnya Dia menangguhkan mereka sampai hari ketika mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42) Info Belanja 11 HP Termurah Harga Satu Jutaan Beli di Sini 2. Mengapa Orang Baik Bisa Menderita? Islam tidak menjanjikan bahwa orang beriman akan bebas dari kesulitan. Para nabi, manusia terbaik, justru mengalami ujian yang sangat berat. Nabi Ayyub diuji dengan sakit dan kehilangan. Nabi Muhammad mengalami penolakan, penghinaan, dan tekanan. Namun penderitaan tidak selalu berarti Allah meninggalkan seseorang. Dalam Islam, ujian bisa menjadi jalan peningkatan derajat, penghapus dosa, atau pembentukan keteguhan hati. 3. Mengapa Penindasan Tidak Langsung Dihentikan? Karena Allah memberi manusia kehendak dan tanggung jawab. Manusia diberi akal, kekuatan, dan pilihan. Jika seseorang memilih menindas, itu adalah penyalahgunaan kebebasan yang Allah berikan. Tetapi Islam tidak mengajarkan pasrah terhadap kezaliman. Justru manusia diperintahkan untuk melawan keburukan dengan cara yang benar. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11) Ayat ini menunjukkan bahwa perubahan juga membutuhkan usaha manusia. 4. Mengapa Kerusakan Ada di Dunia? Kerusakan sering muncul ketika manusia menjauh dari nilai keadilan, amanah, dan kasih sayang. Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi, bukan sebagai perusak. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41) Artinya, banyak kerusakan bukan karena Allah menyukai kehancuran, tetapi karena manusia diberi amanah dan sebagian memilih mengkhianatinya. 5. Lalu, Apakah Allah Peduli? Dalam Islam, jawabannya: ya. Allah berfirman: “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf: 156) Allah mengetahui setiap air mata, setiap luka, setiap ketidakadilan yang tidak terlihat manusia lain. Tidak ada penderitaan yang hilang tanpa makna dalam perhitungan-Nya. Bisa jadi manusia melihat sebuah kejadian sebagai akhir, sementara Allah melihat keseluruhan perjalanan. Ketika manusia bertanya: “Tuhan, apakah Engkau ada?” Islam menjawab: Allah ada, dan keberadaan-Nya tidak bergantung pada apakah dunia bebas dari masalah. Ketika manusia bertanya: “Mengapa ketidakadilan dibiarkan?” Islam menjawab: Karena dunia adalah tempat ujian, manusia diberi pilihan, dan keadilan sempurna bukan hanya terjadi di dunia, tetapi juga di akhirat. Ketika manusia bertanya: “Mengapa?” Mungkin sebagian jawaban tidak selalu diberikan dalam bentuk penjelasan yang langsung terlihat. Namun Islam mengajarkan bahwa tidak ada satu pun kejadian yang luput dari ilmu, hikmah, dan keadilan Allah. Pada akhirnya, pertanyaan “mengapa?” bukan selalu tanda hilangnya iman, tetapi bisa menjadi tanda hati manusia sedang mencari makna. Dalam Islam, Allah tidak meminta manusia untuk berhenti peduli terhadap penderitaan dan ketidakadilan. Justru Allah memerintahkan manusia untuk berdiri bersama kebenaran, menolong yang lemah, dan memperbaiki bumi. Karena mungkin jawaban terbesar bukan hanya menunggu kapan Allah mengubah keadaan, tetapi menyadari bahwa kita pun dipanggil menjadi bagian dari perubahan itu. Sumber : https://adajuga.com/tuhan-apakah-engkau-ada/ *** Ini juga untuk kamu… Hai kamu … Bahagia ini milikmu “Memang Aku Tak Pantas Bahagia” — Saat Pikiran Sedang Berbohong Kepadamu “Aku Sudah Nggak Sanggup! Mau Bunuh Diri Saja!” — Saat Hidup Terasa Terlalu Berat Apalagi yang Aku Harapkan? Semuanya Sudah Hancur! Tinggal Gelap yang Tersisa Nasihat di Saat Susah dan di Saat Bahagia “Ini Tidak Akan Selamanya” Lelah karena mengejar standar hidup yang terlalu sempurna? Berhenti Bandingkan Diri! Belajar Hidup Lebih Tenang Lewat Filosofi “Oubaitori” dari Jepang Biar Pelan, Asalkan Sampai: Memahami Arti “Alon-alon Waton Kelakon” dalam Hidup Sehari-hari Seni Mengabaikan: Rahasia Hidup Tenang Tanpa Pusing Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah, seni menghargai proses dalam meraih impian Kelemahan terbesar kita adalah menyerah. Cara paling pasti untuk sukses adalah selalu mencoba sekali lagi Cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan kesempatan Dunia ini hanyalah jembatan, maka seberangilah dan jangan membangun rumah di atasnya Kecemasan adalah setengah dari penyakit, ketenangan adalah setengah dari obat Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan. Terus berkarya dan bekerja yang membuat kita berharga Jangan berduka, apa pun yang hilang darimu akan datang kembali dalam bentuk yang lain Setiap patah hati adalah cara Allah untuk menyelamatkanmu dari orang yang salah Kunci Kedamaian Hati: Berhenti Membandingkan Hidup dengan Media Sosial Kamu adalah rata-rata dari lima orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersamamu Mengubah Kegagalan Menjadi Bahan Bakar Semangat Mengenal Diri Sendiri: Cara Tenang Menjalani Hidup Tanpa Perlu Ikut-Ikutan Mengapa Pusing Memikirkan Hal yang Tidak Bisa Kita Ubah? Scroll Terus, Malah Bikin Stres? Yuk, Waras Bareng di Dunia Maya! Menjadi Diri Sendiri: Melawan Tirani Kata “Harus” dalam Hidup *** Navigasi pos Hukum 11 The 48 Laws of Power : Belajarlah membuat orang lain bergantung pada Anda Orang yang paling berpengaruh adalah mereka yang percaya bahwa orang lain itu penting