SMRC vs IPO Beda Hasil! Siapa Capres Terkuat yang Asli?

Pergeseran peta politik nasional tergambar jelas lewat perbedaan tajam hasil bursa calon presiden (capres) antara survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indonesia Political Opinion (IPO) yang dirilis berturut-turut pada akhir Juli dan awal Agustus 2026.

SMRC mencatat kejatuhan elektabilitas petahana dan menempatkan Dedi Mulyadi di posisi puncak. Sebaliknya, IPO merilis data bahwa posisi Prabowo Subianto masih kokoh di peringkat pertama.

Perbandingan metodologi, temuan angka, serta analisis mendalam mendasari perbedaan mencolok dari potret kedua lembaga riset papan atas tersebut.


# Perbandingan Hasil Elektabilitas Capres

Perbedaan angka keterpilihan tokoh-tokoh utama bursa Capres masa depan antara SMRC dan IPO dapat dicermati pada tabel di bawah ini:


HASIL SURVEI TERBARU 


# Membedah Metodologi di Balik Perbedaan Angka 

Perbedaan mencolok dari hasil temuan bursa kandidat ini dipengaruhi secara mekanis oleh perbedaan metodologi penarikan sampel serta teknik wawancara yang digunakan oleh kedua lembaga:

1. Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC)

  • Metode Pengambilan Data: Kombinasi wawancara telepon (605 responden) dan tatap muka (144 responden).
  • Ukuran Sampel: 749 responden pemilik hak pilih.
  • Margin of Error: ±3,7% pada tingkat kepercayaan 95%.
  • Simulasi Pertanyaan: Menggunakan simulasi semi-terbuka dengan menyodorkan 20 nama tokoh. 

2. Indonesia Political Opinion (IPO)

  • Metode Pengambilan Data: Wawancara tatap muka sepenuhnya dengan teknik stratified multistage random sampling (SMRS).
  • Ukuran Sampel: 1.200 responden nasional.
  • Margin of Error: ±2,9% pada tingkat kepercayaan 95%.
  • Simulasi Pertanyaan: Mengukur ingatan publik (top of mind) dan kedekatan program kerja. 


# Analisis Akar Perbedaan: Kinerja vs Dinamika Regional

Dua faktor sosiopolitik mendasar menjelaskan mengapa potret pemilih dari kedua lembaga riset ini menghasilkan konklusi yang berseberangan:

1. Korelasi Tingkat Kepuasan (Approval Rating) Presiden

Temuan elektabilitas capres berbanding lurus dengan persepsi kepuasan publik terhadap jalannya pemerintahan saat ini. 

– SMRC melaporkan terjadinya freefall atau penurunan tajam tingkat kepuasan terhadap Presiden Prabowo menjadi 51,1% (turun dari 81,2% pada akhir tahun lalu). SMRC mengaitkan ini dengan ketidakpuasan publik atas stabilitas ekonomi harga bahan pokok, penegakan hukum, serta implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dampaknya, elektabilitas Prabowo ikut tergerus drastis di angka 14,5%. 

– Sebaliknya, IPO merekam tingkat kepuasan publik yang cenderung masih dominan di angka 63%. IPO melihat bahwa ketegasan presiden dalam pemberantasan korupsi serta harapan atas program bantuan sosial masih mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat. Oleh karena itu, Prabowo tetap kokoh berada di puncak bursa kandidat versi IPO dengan 23,4%. 

2. Efek Dominasi Ketokohan Dedi Mulyadi

– Lonjakan drastis Dedi Mulyadi hingga menyentuh 35% di bursa SMRC menunjukkan adanya perpindahan suara dari pemilih yang tidak puas dengan kondisi ekonomi nasional ke figur daerah yang aktif bergerak langsung di masyarakat. Popularitas masif Dedi di media sosial menjadikannya alternatif utama saat kejenuhan politik petahana mulai muncul. 

– Pada data IPO, meski Dedi Mulyadi membayangi ketat di posisi kedua dengan 21,7%, jaraknya dengan petahana hanya tipis sebesar 1,7%. Keunggulan sampel IPO yang mencapai 1.200 responden memberikan pembobotan yang lebih merata secara geopolitik nasional, meredam lonjakan ekstrem elektabilitas tokoh yang berbasis kuat di klaster pemilih tertentu (seperti Jawa Barat). 


# Langkah Strategis bagi Para Kandidat

Hasil survei terbaru yang dinamis ini mengharuskan para aktor politik untuk segera mengambil tindakan konkret:

– Evaluasi Program Kesejahteraan: Pemerintah petahana perlu segera membenahi stabilitas harga bahan pokok dan memperbaiki tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menahan laju penurunan approval rating.

– Menggarap Massa Mengambang: Dengan rentang undecided voters sebesar 12,8% hingga 17,0%, konfigurasi politik masih sangat berpotensi berubah. Tokoh alternatif seperti Anies Baswedan dan AHY wajib mengarahkan strategi kampanye guna mendekati kelompok masyarakat yang belum menentukan pilihan ini.

– Konsolidasi Basis Partai: Partai Gerindra sebagai parpol penguasa saat ini memimpin elektabilitas partai (16,9% versi SMRC dan 17,5% versi IPO). Mereka dituntut menjaga keselarasan kinerja kabinet agar penurunan kepuasan figur tidak menyeret jatuh elektabilitas partai secara masif ke depan.


Sumber : https://adajuga.com/survei-smrc-ipo/