Bikin Heboh! Angka Kepuasan Presiden Prabowo dari 3 Lembaga Survei Ini Kok Bisa Beda Jauh?

Perbedaan hasil survei tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap Presiden Prabowo Subianto memicu diskusi hangat di ruang publik pada pertengahan tahun 2026. Tiga lembaga riset, yaitu Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Indonesia Development Monitoring (IDM), dan Laboratorium Suara Indonesia (LSI), merilis data dengan angka yang sangat kontras. Fenomena perbedaan angka hingga puluhan persen ini menjadi kajian menarik mengenai dinamika persepsi masyarakat dan metodologi riset politik. 

Berikut pembahasan lengkap yang membedah perbandingan temuan ketiga lembaga tersebut.


# Isu Utama: Jurang Pemisah Angka Kepuasan Publik

Tiga lembaga riset menangkap potret yang sangat berbeda mengenai bagaimana masyarakat menilai kinerja pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto pada periode Juli 2026:

– SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting): Mencatat penurunan approval rating yang cukup drastis menjadi 51,1 persen. Angka ini turun tajam dari 81,2 persen pada survei November 2025.

– Laboratorium Suara Indonesia (LSI): Berada di posisi moderat tinggi, mencatat tingkat kepercayaan publik atas kinerja pemerintahan mencapai 78,7 persen.

– IDM (Indonesia Development Monitoring): Menampilkan angka optimisme tertinggi, di mana 81,5 persen masyarakat menyatakan puas atas kinerja Presiden. 


# Perbandingan Metodologi dan Data Teknis

Perbedaan hasil dalam dunia riset adalah hal yang wajar karena sangat dipengaruhi oleh waktu pengambilan sampel, ukuran sampel, hingga metode wawancara. Tabel berikut merangkum perbedaan teknis ketiga survei tersebut.

# Analisis Faktor Penyebab Perbedaan Hasil
1. Cara Penjaringan Responden (Metode Wawancara)

Perbedaan terbesar kemungkinan berakar dari metode wawancara. SMRC mengandalkan mayoritas wawancara via telepon (83,8%). Pengguna telepon umumnya didominasi oleh masyarakat kelas menengah ke atas perkotaan yang biasanya bersikap lebih kritis terhadap isu-isu ekonomi makro dan politik. 

Sebaliknya, IDM dan LSI menggunakan metode tatap muka penuh di seluruh provinsi. Metode ini berhasil menjangkau masyarakat akar rumput secara lebih merata, yang mana mereka merupakan penerima langsung bantuan sosial dan program pemerintah. 

2. Indikator Sektoral yang Menjadi Sorotan publik

Setiap lembaga menemukan jangkar persepsi yang berbeda di masyarakat:

Sisi Negatif (Temuan SMRC): Ketidakpuasan dipicu oleh persepsi ekonomi nasional. SMRC mencatat 49,4% publik menilai kondisi ekonomi buruk/sangat buruk, dan hanya 13,5% warga yang melihat kondisi politik saat ini baik.

– Sisi Positif (Temuan IDM & LSI): Kepuasan didorong oleh sektor hukum dan keamanan. IDM mencatat kepuasan penegakan hukum mencapai 86,7%, serta tingginya dukungan untuk program Sekolah Rakyat (85,6%) dan bansos (81,2%). Sementara LSI mengonfirmasi tingginya kepuasan publik pada stabilitas institusi pertahanan seperti TNI (77,6%) dan Polri (73,1%). 

___ 

Perbedaan mencolok antara survei SMRC (51,1%), LSI (78,7%), dan IDM (81,5%) tidak berarti salah satu dari mereka salah. Ketiganya menggunakan pisau analisis, porsi metode sampling, dan klaster populasi yang berbeda. 

Bagi pemerintah, angka 51% dari SMRC dapat dijadikan alarm evaluasi kritis terhadap stabilitas harga pangan, kondisi politik, dan ekonomi kelas menengah. Di sisi lain, angka tinggi dari IDM dan LSI menjadi konfirmasi bahwa program-program bantuan sosial dan ketegasan penegakan hukum di tingkat akar rumput berjalan di jalur yang benar. 

— Arya Wiranegara 

Sumber : https://adajuga.com/survei-smrc-idm-lsi/


.