Cicilan Online Murah!

Update Perang Iran vs Israel Amerika 2026

Perang Iran vs Israel Amerika dimulai pada hari Sabtu tanggal 28 Februari 2026 dan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei pada hari yang sama. Berikut ini update terbaru perang Iran vs Israel Amerika tersebut.

Trump Beritahu Kongres Permusuhan dengan Iran ‘Telah Berakhir’ pada Batas Waktu 60 Hari 

2/5/2026 – Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa otorisasi Kongres untuk perang melawan Iran tidak lagi diperlukan karena adanya gencatan senjata.

“Tidak ada kontak senjata antara Pasukan Amerika Serikat dan Iran sejak 7 April 2026. Permusuhan yang dimulai pada 28 Februari 2026 telah berakhir,” ujar Trump dalam sebuah surat kepada Kongres.

Presiden AS tersebut mengirimkan surat itu sebagai bagian dari kepatuhannya terhadap War Powers Resolution (Resolusi Kekuatan Perang), yang memberikan waktu bagi presiden selama 60 hari dalam masa konflik sebelum harus meminta persetujuan dari Kongres.

Meskipun demikian, Trump mengatakan militer AS sedang memperbarui postur kekuatannya di Timur Tengah “untuk mengatasi ancaman pasukan Iran dan proksinya, serta untuk melindungi Amerika Serikat beserta para sekutu dan mitranya.”

Trump mengumumkan gencatan senjata pada 7 April selama dua minggu, yang kemudian diperpanjang. Namun, belum ada kesepakatan yang dicapai antara Washington dan Teheran, di mana Trump bersumpah untuk tetap mempertahankan blokade laut terhadap Iran hingga kesepakatan tersebut terwujud. (alarabiya)

***

Iran Konfirmasi Penyitaan Kapal oleh AS, Janjikan Balasan dalam Waktu Dekat

AS sita kapal Iran

20/4/2026 – Iran mengonfirmasi bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat telah mencegat dan menyita sebuah kapal berbendera Iran di kawasan Teluk, seraya memperingatkan bahwa Teheran akan membalas dalam waktu dekat.

Menurut kantor berita Fars, Komando Pusat Khatam al-Anbiya menyatakan bahwa pasukan AS menargetkan kapal tersebut, melumpuhkan sistem navigasi, dan kemudian menaikinya.

Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, mengatakan bahwa pasukan AS terlebih dahulu melepaskan tembakan sebelum melakukan penyergapan.

“Amerika Serikat, dengan melanggar gencatan senjata dan melakukan tindakan yang kami sebut sebagai pembajakan maritim, menyerang salah satu kapal Iran setelah melumpuhkan sistem navigasinya,” ujar Zolfaghari, dikutip dari Anadolu Agency, Senin, 20 April 2026.

Ia juga menuduh pasukan AS mengerahkan personel militer untuk mengambil alih kapal tersebut. Zolfaghari menegaskan bahwa Iran akan memberikan balasan atas insiden tersebut.

“Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran akan segera membalas tindakan ini,” katanya.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kapal kargo berbendera Iran telah dicegat di kawasan Teluk sebagai bagian dari blokade maritim yang diberlakukan Washington.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan kapal bernama Touska mencoba menembus blokade dan tidak mengindahkan peringatan dari pihak AS. Ia mengklaim kapal tersebut dihentikan oleh Angkatan Laut AS setelah tembakan dilepaskan ke arah bagian mesin kapal. (metrotvnews.com)

 

***

Warga Iran Meninggal 2.076 Orang dan 26.500 Orang Terluka Akubat Serangan AS-Israel 

Ilustrasi Perang Iran

15/4/2026 – Angka sementara menunjukkan 2.076 tewas di Iran, sedikitnya 26 di Israel, 13 tentara AS, dan 28 orang tewas di negara-negara Teluk.

Berapa banyak orang yang tewas atau terluka?

Berikut adalah korban yang telah dikonfirmasi di berbagai negara yang menjadi sasaran serangan per hari Senin pukul 13:00 GMT.

Dikarenakan situasi yang berkembang pesat, semua angka dapat berubah sewaktu-waktu seiring dengan tersedianya informasi lebih lanjut.

Iran – Tewas: 2.076, Luka-luka: 26.500

Sedikitnya 2.076 orang telah tewas akibat serangan AS-Israel di Iran sejak 28 Februari, menurut Kementerian Kesehatan Iran:

  • Usia korban berkisar antara delapan bulan hingga 88 tahun.

  • Sedikitnya 240 wanita dan 212 anak-anak termasuk di antara mereka yang tewas.

  • Lebih dari 26.500 orang terluka, termasuk sedikitnya 4.000 wanita dan 1.621 anak-anak.

Israel – Tewas: 26, Luka-luka: 7.693

Sedikitnya 26 warga Israel tewas dan 7.693 luka-luka.

Kementerian Kesehatan Israel mendesak warga untuk segera menuju tempat perlindungan bom “dengan hati-hati” saat peringatan berbunyi, mencatat bahwa banyak orang terluka saat berlari menuju tempat perlindungan.

Sedikitnya 180 orang terluka dalam serangan rudal Iran di kota Dimona (bagian selatan)—lokasi fasilitas nuklir utama Israel—dan wilayah Arad di sekitarnya, dalam salah satu eskalasi paling dramatis sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai.

Televisi pemerintah Iran menggambarkan serangan pada 21 Maret tersebut sebagai “balasan” atas serangan terhadap kompleks pengayaan uranium Natanz milik Iran pada hari yang sama, menandai fase baru aksi saling balas yang sengit dalam konflik ini.

Tentara AS – Tewas: 13, Luka-luka: 200

Militer AS telah mengonfirmasi 13 kematian terkait pertempuran di seluruh wilayah tersebut.

Selain itu, satu anggota militer meninggal karena “insiden terkait kesehatan” di Kuwait.

Pada 13 Maret, Komando Pusat (CENTCOM), komando militer AS yang bertanggung jawab atas operasi di Timur Tengah, mengumumkan bahwa keenam awak kapal tewas ketika sebuah pesawat pengisi bahan bakar AS jatuh di Irak bagian barat. (aljazeera)

***

Nilai Kerusakan Iran Akibat Serangan AS-Israel Capai Rp 4.600 Triliun

Bangunan hancur di Iran

14/4/2026 – Kerusakan yang terjadi akibat serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran ditaksir mencapai 270 miliar dolar AS atau sekitar Rp 4.600 triliun. Angka yang masih merupakan hasil kalkulasi awal tersebut diungkapkan oleh Juru Bicara Pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani, Selasa (14/4/2026).

“Salah satu isu yang terus dikejar oleh tim perunding kami dan dalam dialog di Islamabad adalah tentang ganti rugi akibat perang,” kata Mohajerani, dilaporkan kantor berita Tasnim.

Namun demikian, angka sekitar Rp 4.600 triliun tersebut masih belum final. Nilai kerugian bisa semakin besar jika penghitungan dilakukan lebih detail. “Kerusakan-kerusakan itu biasanya perlu diperiksa dalam beberapa lapis,” ujar Mohajerani dikutip dari Anadolu.

Ketegangan di kawasan Teluk meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari 2026. Selain menyebabkan ribuan jiwa tewas dan ribuan lainnya terluka, serangan AS-Israel juga membuat Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei kehilangan nyawa.

Iran lantas meluncurkan serangan balasan ke Israel, Irak, Yordania, Qatar, dan negara Teluk, yang menampung aset militer milik AS, sebelum gencatan senjata selama dua pekan diumumkan akhir pekan lalu. Adapun delegasi Iran dan AS mengakhiri negosiasi selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, Ahad (12/4/2026), tetapi gagal mencapai kesepakatan apa pun. (republika)

***

Breaking News: AS-Iran Bakal Negosiasi Damai Lagi Kamis Ini

Ilustrasi Perundingan AS-Iran

14/4/2026 – Negosiasi babak baru akan dilakukan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Laporan awal diungkap laman AS, Associated Press (AP) dan Reuters, Selasa (14/4/2026).

Pernyataan bersumber dari pejabat AS. Paling cepat, pembicaraan akan dilakukan Kamis, 16 April nanti.

“Kedua pihak bisa menuju putaran kedua pembicaraan paling cepat hari Kamis,” lapor keduanya

Mengutip Al-Jazeera, Pakistan juga telah mengusulkan untuk menjadi tuan rumah putaran kedua negosiasi antara AS dan Iran di Islamabad dalam beberapa hari mendatang. Dua pejabat Pakistan dikutip dengan syarat anonim.

“Para pejabat tersebut mengatakan bahwa usulan tersebut akan bergantung pada apakah pihak-pihak terkait meminta lokasi yang berbeda,” tambahnya.

Sebelumnya pembicaraan damai sudah dimulai Jumat minggu lalu. Namun negosiasi tak membuahkan hasil dan berujung pengumuman blokade Selat Hormuz oleh Presiden AS Donald Trump.

Gencatan senjata perang AS-Iran dimulai sejak Selasa pekan lalu. Rencananya gencatan senjata dilakukan 2 minggu, meski dapat diperpanjang kemudian. (cnbcindonesia)

***

DPR AS Desak Pemakzulan Trump, Sebut Presiden Alami Gejala Demensia

Presiden AS Donald Trump

13/4/2026 – Anggota DPR Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat mendorong pemakzulan Presiden Donald Trump, menyoroti dugaan adanya gejala penurunan kognitif atau demensia yang dinilai memengaruhi kepemimpinannya.

Salah satu suara paling vokal datang dari anggota DPR Jamie Raskin, yang juga meminta dokter Gedung Putih untuk melakukan tes kognitif terhadap Trump.

Permintaan itu muncul setelah serangkaian pernyataan Trump terkait perang AS dengan Iran yang menuai kontroversi.

“Dalam beberapa hari terakhir, negara ini telah menyaksikan pernyataan dan ledakan emosi Presiden Trump di depan publik yang semakin tidak koheren, mudah berubah, kasar, tidak masuk akal, dan mengancam,” tulis Raskin dalam suratnya, dikutip dari CNN, Sabtu (11/4/2026).

Ia menyoroti unggahan Trump pada Minggu Paskah yang berisi kata-kata kasar, termasuk seruan agar Iran membuka Selat Hormuz.

Selain itu, Trump juga dikritik karena membahas isu perang di hadapan anak-anak saat acara Easter Egg Roll di Gedung Putih.

Dalam salah satu pernyataannya, Trump bahkan menyebut bahwa “seluruh peradaban akan mati” jika Iran tidak menyetujui syarat kesepakatan yang ia ajukan.

 

Desakan pemakzulan dari berbagai kalangan

Dilansir dari The Independent, Jumat (10/4/2026), desakan terhadap pemakzulan Trump tidak hanya datang dari kalangan Demokrat, tetapi juga didukung oleh sejumlah tokoh, termasuk sebagian figur dari kubu konservatif.

Beberapa pihak bahkan mengusulkan penggunaan Amandemen ke-25 untuk mencopot Trump dari jabatannya.

Namun, langkah tersebut memerlukan dukungan mayoritas anggota kabinet serta wakil presiden, dan sejauh ini belum ada indikasi ke arah itu.

Raskin menegaskan bahwa dalam situasi negara yang sedang berperang, terutama jika konflik dimulai tanpa persetujuan Kongres, publik harus yakin bahwa presiden memiliki kapasitas mental yang memadai untuk menjalankan tugasnya.

Karena itu, ia mendesak Trump menjalani tes kognitif secara menyeluruh, dengan hasil yang diserahkan kepada Kongres dan dijelaskan secara terbuka.

“Saya meminta Anda untuk melakukan penilaian kognitif komprehensif terhadap Presiden Donald Trump, memberikan hasil tersebut kepada Kongres, dan bersedia memberikan penjelasan kepada Kongres tentang temuan Anda,” tegas Raskin.

Surat Raskin muncul setelah meningkatnya sorotan dari berbagai pihak terhadap kondisi mental Trump, termasuk dari sejumlah tokoh politik lintas partai dalam beberapa hari terakhir.

Gedung putih bantah pernyataan

Sejauh ini belum ada tanda-tanda bahwa para pejabat di kabinet AS mempertimbangkan langkah tersebut, atau bahwa Wakil Presiden JD Vance akan mendukungnya.

Gedung Putih, yang sering menuduh mantan Presiden Joe Biden mengalami penurunan mental juga tampaknya tidak terpengaruh oleh surat tersebut.

Seorang juru bicara memuji ketajaman dan energi tak tertandingi Trump yanb berusia 79 tahun itu.

“Ketajaman, energi tak tertandingi, dan keterbukaan Presiden Trump sangat kontras dengan empat tahun terakhir ketika Demokrat seperti Raskin menutupi penurunan mental dan fisik serius Joe Biden dari rakyat Amerika,” kata juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle.

Presiden Trump didiagnosis mengalami insufisiensi vena kronis, kondisi umum pada lansia yang dapat menyebabkan pembengkakan kaki, dan juga sering terlihat memiliki memar di tangan yang biasanya ditutupi dengan riasan.

Dokter Gedung Putih sebelumnya menyatakan bahwa presiden berada dalam kesehatan yang sangat baik. (kompas)

***

Perundingan Amerika dengan Iran di Pakistan Berakhir Buntu 

12/4/2026 – Delegasi Amerika Serikat (AS) telah meninggalkan Islamabad, Pakistan, pada Minggu, 12 April 2026, setelah perundingan dengan Iran berakhir tanpa kesepakatan.

Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin delegasi Washington, menyatakan bahwa pembicaraan yang berlangsung selama sekitar 21 jam tersebut berujung buntu.

Mengutip laporan The Peninsula, Vance terlihat meninggalkan Pakistan beberapa menit setelah menyampaikan pernyataan singkat terkait kegagalan negosiasi.

Ia menyebut kebuntuan terjadi karena Iran menolak memenuhi tuntutan utama AS, terutama komitmen tegas untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

“Tujuan ini tidak dapat ditawar,” ujar Vance, seraya menambahkan bahwa proses negosiasi terus dikoordinasikan dengan Presiden AS Donald Trump dan pejabat pemerintahan lainnya.

Di sisi lain, Iran menyalahkan Washington atas gagalnya perundingan tersebut. Otoritas penyiaran negara Iran menilai tuntutan AS terlalu berlebihan dan tidak realistis.

Dalam pernyataan yang diunggah melalui Telegram, televisi pemerintah Iran menyebut delegasinya telah bernegosiasi secara intensif selama 21 jam demi mempertahankan kepentingan nasional.

Teheran juga mengklaim telah mengajukan berbagai inisiatif, namun menilai tuntutan AS “tidak masuk akal” sehingga menghambat kemajuan dan memaksa perundingan diakhiri tanpa hasil.

Perundingan di Islamabad yang dimediasi Pakistan ini sebelumnya dipandang sebagai upaya penting untuk meredakan konflik kawasan. Namun, kegagalan mencapai kesepakatan menandai masih lebarnya perbedaan antara kedua negara. (metrotvnews)

Amerika Klaim 2 Kapal Perangnya Bersihkan Ranjau Selat Hormuz, Dibantah Iran 

USS Frank E Peterson

12/4/2026 – Sebanyak dua kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) melintasi Selat Hormuz untuk mulai membersihkan ranjau yang dipasang Iran, kata Komando Pusat AS (Centcom) pada Sabtu (11/4/2026).

Namun, klaim tersebut dibantah Teheran dan Korps Garda Revolusi Iran mengancam akan menindak keras kapal-kapal militer yang melintasi jalur tersebut.

Informasi tersebut datang tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Washington telah mulai membersihkan selat tersebut.

“Hari ini, kami memulai proses untuk membangun jalur baru dan kami akan segera membagikan jalur aman ini kepada industri maritim untuk mendorong arus perdagangan yang bebas,” kata komandan Centcom, Laksamana Brad Cooper, dilansir AFP, Minggu (12/4/2026).

USS Frank E Peterson dan USS Michael Murphy adalah dua kapal perusak berpeluru kendali yang terlibat dalam operasi tersebut.

Centcom mengatakan bahwa pasukan AS tambahan termasuk drone bawah air dapat bergabung dalam upaya tersebut dalam beberapa hari mendatang.

Iran bantah kapal militer AS melewati Selat Hormuz

Juru bicara militer Ebrahim Zolfaghari membantah klaim Washington bahwa kapal-kapal AS telah memasuki Selat Hormuz.

“Inisiatif untuk melewati kapal mana pun berada di tangan angkatan bersenjata Republik Islam Iran,” katanya kepada televisi pemerintah.

Angkatan Laut IRGC juga telah memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mencoba melewati jalur perairan Teluk akan ditindak tegas.

“Angkatan Laut IRGC memiliki wewenang penuh untuk mengelola Selat Hormuz secara cerdas. Hanya kapal sipil yang diizinkan melewatinya dalam kondisi tertentu,” demikian pernyataan yang dibagikan oleh kantor berita Tasnim Iran, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (12/4/2026).

Sebelumnya, pada Sabtu (11/4/2026), Trump mengatakan di media sosial bahwa Amerika Serikat memulai proses pembersihan ranjau Selat Hormuz.

Ia menyebutnya sebagai bantuan kepada negara-negara seperti China, Jepang, dan Perancis yang disebut tidak memiliki keberanian atau kemauan untuk melakukan pekerjaan ini sendiri.

Adapun Selat Hormuz telah diblokir oleh Teheran sejak AS dan Israel mulai membombardir Iran pada 28 Februari 2026. (kompas)

***

Donald Trump Didesak Dimakzulkan Oleh Legislator Amerika Usai Ancam Musnahkan Peradaban Iran

Donald Trump

11/4/2026 – Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran kini memicu gejolak politik domestik yang hebat di Washington. Anggota parlemen dari Partai Demokrat secara terbuka menyerukan pencopotan Presiden Donald Trump dari jabatannya setelah munculnya ancaman militer yang dinilai melanggar hukum internasional.

Gelombang protes dari puluhan anggota Kongres Demokrat ini dipicu oleh pernyataan Presiden Trump yang mengancam akan menghapuskan seluruh peradaban Iran. Retorika tersebut dianggap sebagai ancaman genosida terhadap negara yang memiliki populasi sekitar 91 juta jiwa.

Salah satu poin utama yang ditekankan oleh para politisi Demokrat adalah bahwa ancaman genosida tidak dapat dibenarkan, bahkan sebagai bagian dari taktik negosiasi.

“Kita tidak boleh memaklumi apa yang dikatakan presiden sebagai taktik negosiasi. Mengancam genosida bukanlah taktik negosiasi,” tegas anggota kongres Demokrat AS, Sara Jacobs.

Lebih lanjut, mereka menekankan pentingnya meminta pertanggungjawaban presiden atas ucapannya. “Sangat penting bagi kita untuk meminta pertanggungjawaban presiden ini atas apa yang dia ancamkan, karena mengancam genosida tidak hanya bertentangan dengan hukum internasional, tetapi juga melanggar hukum federal kita,” tambahnya.

Para anggota Kongres mendesak agar proses pemakzulan (impeachment) atau penggunaan Amandemen ke-25 untuk menyatakan bahwa Presiden Trump tidak lagi layak menjabat.

Meskipun saat ini kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu telah dicapai, tekanan publik terhadap pemerintah tetap tinggi. Kantor-kantor di Kongres dilaporkan telah dibanjiri oleh ratusan panggilan telepon dari warga negara yang merasa khawatir dengan retorika apokaliptik yang dilontarkan sang presiden. (metrotvnews)

***

Iran Ultimatum Amerika : Pilih Gencatan Senjata atau Perang Berkelanjutan Melalui Israel

Menlu Iran Abbas Araghchi

9/4/2026 – Iran memperingatkan Amerika Serikat untuk harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel dan tidak bisa keduanya.

“Syarat-syarat gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit, Amerika harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak dapat memiliki keduanya,” tulis Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi di platform X pada Rabu (8/4).

Araghchi menambahkan bahwa dunia melihat pembantaian di Lebanon.

“Bola ada di tangan Amerika dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai komitmennya,” katanya.

Mengutip sumber terpercaya, kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa Teheran akan menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata dengan AS jika Israel terus melanggarnya melalui serangan terhadap Lebanon.

Tentara Israel mengatakan mereka menyerang lebih dari 100 lokasi dalam waktu 10 menit di berbagai wilayah di Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon selatan, dalam serangan terkoordinasi “terbesar” sejak dimulainya serangan terbaru di Lebanon.

Sambil secara bersamaan menyerang Iran sejak 28 Februari lalu, Israel telah melancarkan serangan udara dan serangan darat di Lebanon selatan sejak serangan lintas batas oleh kelompok pejuang Hizbullah pada 2 Maret. Agresi itu tetap dilakukan meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak November 2024.

Setelah mediasi Pakistan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (7/4) mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran dan mengatakan Teheran mengajukan proposal 10 poin yang dapat diterapkan untuk negosiasi.

Pengumuman itu disampaikan kurang dari dua jam sebelum berakhirnya tenggat waktu yang ditetapkan Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan bernegosiasi atau Teheran akan menghadapi “kehancuran seluruh peradaban”. (Anadolu)

***

2.076 Orang Meninggal di Iran Akibat Serangan AS-Israel  

9/4/2026 – Angka sementara menunjukkan 2.076 tewas di Iran, sedikitnya 26 di Israel, 13 tentara AS, dan 28 tewas di negara-negara Teluk.

Berapa banyak orang yang telah tewas atau terluka?

Di bawah ini adalah korban terkonfirmasi di berbagai negara yang menjadi sasaran serangan per hari Selasa pukul 09:45 GMT.

Karena situasi yang berkembang pesat, semua angka dapat berubah seiring tersedianya lebih banyak informasi.

Iran – tewas: 2.076, luka-luka: 26.500

Sedikitnya 2.076 orang telah tewas akibat serangan AS-Israel di Iran sejak 28 Februari, menurut Kementerian Kesehatan Iran.
  • Usia korban berkisar antara delapan bulan hingga 88 tahun.
  • 240 wanita dan 212 anak-anak termasuk di antara mereka yang tewas.
  • Lebih dari 26.500 orang terluka, termasuk sedikitnya 4.000 wanita dan 1.621 anak-anak.

Israel – tewas: 26, luka-luka: 7.183

Sedikitnya 26 warga Israel tewas dan lebih dari 7.183 lainnya luka-luka.

Kementerian Kesehatan Israel mendesak warga Israel untuk segera menuju ke tempat perlindungan bom “dengan hati-hati”, mencatat bahwa banyak orang terluka saat berlari menuju tempat perlindungan.

Sedikitnya 180 orang terluka dalam serangan rudal Iran di kota selatan Dimona — lokasi fasilitas nuklir utama negara tersebut — dan Arad di dekatnya, dalam salah satu eskalasi paling dramatis sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai.

Tentara AS – tewas: 13, luka-luka: 200

Militer AS telah mengonfirmasi 13 kematian akibat serangan Iran di seluruh wilayah tersebut.

Selain itu, satu anggota layanan meninggal karena “insiden terkait kesehatan” di Kuwait.

Pada tanggal 13 Maret, CENTCOM AS mengumumkan keenam awak kapal tewas ketika sebuah pesawat pengisi bahan bakar AS jatuh di Irak barat.

***

Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Setelah Israel Bantai Lagi Warga Lebanon 

9/4/2026 – Iran bisa menarik diri dari gencatan bila Israel terus mengebom Lebanon. Menanggapi serangan Israel baru-baru ini di Lebanon, para pejabat Iran menyerukan tindakan tegas untuk melawan agresi guna mendukung Lebanon dan rakyatnya. Iran menyatakan Selat Hormuz dapat ditutup kembali sampai serangan terhadap Lebanon berhenti.

Ibrahim Rezaei, juru bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, mengatakan hal itu dalam sebuah postingan di X. “Sebagai tanggapan terhadap agresi brutal Israel di Lebanon, pergerakan kapal di Selat Hormuz harus segera dihentikan, dan serangan yang kuat dan tegas harus dilancarkan untuk mencegah serangan lebih lanjut oleh entitas Israel.”

Dalam lansiran dari pihak Iran dan Pakistan sebagai penengah, penghentian serangan Israel ke Lebanon dan semua sumbu perlawanan jadi syarat gencatan senjata. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta Presiden AS Donald Trump menyatakan Lebanon tak masuk dalam kesepakatan.

Serangan brutal Israel ke Lebanon dilakukan tak lama setelah Trump mengumumkan gencatan senjata kemarin. Setidaknya 150 serangan diluncurkan Israel ke seantero Lebanon, diperkirakan menewaskan ratusan jiwa.

Utusan Iran untuk PBB di Jenewa, Ali Bahraini, menekankan pentingnya Israel menegakkan gencatan senjata di Lebanon. Ia menambahkan bahwa Teheran akan melakukan negosiasi perdamaian dengan Washington dengan hati-hati karena kurangnya kepercayaan.

“Mengingat kurangnya kepercayaan, Teheran akan berhati-hati dalam melakukan negosiasi ‘perdamaian’ dengan Washington, dan pada saat yang sama tetap waspada secara militer.”

Ia lebih lanjut memperingatkan mengenai konsekuensi dari serangan terus menerus Israel ke Lebanon. “Kami memperingatkan bahwa kelanjutan serangan akan menyebabkan komplikasi lebih lanjut dan konsekuensi yang parah.”

Iran juga bersiap menarik diri dari perjanjian gencatan senjata jika Israel terus melanggar gencatan senjata dengan melancarkan serangan terhadap Lebanon, kata sebuah sumber kepada Kantor Berita Tasnim. “Iran saat ini sedang mempelajari kemungkinan menarik diri dari perjanjian gencatan senjata dengan berlanjutnya pelanggaran entitas Israel dan agresinya terhadap Lebanon.”

Laporan tersebut mencatat bahwa penghentian perang di semua lini, termasuk terhadap “kekuatan Perlawanan” di Lebanon, telah diterima oleh Amerika Serikat sebagai bagian dari rencana gencatan senjata selama dua minggu. Namun, sumber tersebut menambahkan, “Sejak pagi ini, dengan terang-terangan melanggar gencatan senjata, entitas Israel telah melakukan serangan brutal terhadap Lebanon.”

Sebagai tanggapan, angkatan bersenjata Iran mengidentifikasi target untuk membalas agresi Israel di Lebanon, kata sumber Tasnim, lebih lanjut memperingatkan. “Jika Amerika Serikat tidak dapat mengendalikan anjing gilanya di wilayah tersebut, Iran akan membantunya dalam masalah ini, khususnya melalui kekerasan.”

Selain itu, seorang pejabat senior Iran juga mengatakan kepada Press TV bahwa “Iran akan menghukum Israel atas agresinya terhadap Lebanon dan pelanggaran gencatan senjata.”

Sedangkan Kantor Berita Fars melaporkan bahwa lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz dihentikan setelah serangan Israel, meskipun dua kapal tanker sebelumnya telah menerima izin jalur aman setelah persyaratan Teheran diterima dan gencatan senjata mulai berlaku.

“Kami telah menutup Selat Hormuz, dan saat ini, hanya kapal Iran dan kapal yang berasal dari Iran yang melewatinya.” “Hanya dua kapal tanker minyak yang mendapat manfaat dari gencatan senjata dan melewati Selat Hormuz sebelum ‘Israel’ melanggar perjanjian tersebut,” ujar sumber di Angkatan Laut Iran. (republika)

***

Iran Klaim ‘Kemenangan Bersejarah,’ Sebut AS Terima Persyaratan Sebelum Perundingan

 

8/4/2026 – Teheran menyatakan negosiasi akan dilanjutkan di Islamabad, namun memperingatkan bahwa perang belum berakhir.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada hari Rabu menyatakan bahwa negara tersebut telah mencapai kemenangan “bersejarah” dalam perang dan memaksa Amerika Serikat untuk menerima kerangka proposal 10 poin menjelang negosiasi yang direncanakan, menurut sebuah pernyataan.

Dewan tersebut mengatakan bahwa proposal itu mencakup jaminan non-agresi, kontrol berkelanjutan Iran atas Selat Hormuz, keringanan sanksi, penarikan pasukan AS dari kawasan, dan reparasi (ganti rugi).

Ditambahkan pula bahwa negosiasi yang dijadwalkan dimulai Jumat di Islamabad akan berfokus pada finalisasi rincian, tetapi “tidak berarti berakhirnya perang.”

Pernyataan itu muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington akan menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua minggu untuk membiarkan diplomasi berjalan. Trump menggambarkan jeda tersebut sebagai “gencatan senjata dua sisi” yang terikat pada pembukaan kembali Selat Hormuz dan mengatakan bahwa 10 poin proposal Iran memberikan “dasar yang dapat dikerjakan” untuk pembicaraan.

Badan keamanan utama Iran mengatakan Teheran mengajukan rencananya kepada Amerika Serikat melalui Pakistan dan bahwa Washington telah menerima prinsip-prinsipnya sebagai dasar negosiasi. Disebutkan bahwa pembicaraan akan berlangsung hingga 15 hari dan dapat diperpanjang, seraya menambahkan bahwa kesepakatan apa pun perlu diformalkan, termasuk melalui mekanisme internasional.

“Ini tidak berarti akhir dari perang,” katanya, seraya menambahkan bahwa Iran akan melanjutkan operasi militer jika tuntutannya tidak dipenuhi sepenuhnya.

Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa pasukan Iran dan kelompok sekutunya telah menimbulkan kerugian besar pada musuh-musuh mereka di seluruh kawasan dan telah memaksa mereka untuk mengusahakan gencatan senjata.

Dikatakan bahwa tujuan Iran mencakup pembentukan pengaturan keamanan regional baru berdasarkan apa yang digambarkannya sebagai “kekuatan dan supremasi,” sambil mempertahankan tekanan sampai keuntungan terkonsolidasi.

Dewan tersebut menyerukan persatuan nasional selama periode negosiasi dan memperingatkan bahwa setiap langkah salah oleh lawan akan dibalas dengan kekuatan. Ditambahkan bahwa Iran hanya akan menerima pengakhiran perang secara formal setelah poin-poin dalam proposalnya disetujui sepenuhnya.

Negosiasi tersebut diharapkan akan membahas isu-isu utama, termasuk transit maritim melalui Selat Hormuz, keringanan sanksi, dan kehadiran pasukan AS di masa depan di kawasan tersebut.

‘Gencatan Senjata Dua Sisi’

Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa mengatakan dia telah setuju “untuk menangguhkan pengeboman” dan serangan terhadap Iran selama dua minggu, menyebutnya sebagai “gencatan senjata” dua sisi yang terkait dengan pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran.

Trump mengatakan keputusan itu mengikuti pembicaraan dengan para pemimpin Pakistan dan mengutip 10 poin proposal Iran sebagai “dasar yang dapat dikerjakan” untuk negosiasi, menambahkan bahwa jeda tersebut akan memberikan waktu untuk memfinalisasi kesepakatan.

“Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Field Marshal Asim Munir dari Pakistan, di mana mereka meminta agar saya menunda kekuatan penghancur yang akan dikirim malam ini ke Iran, dan dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui PEMBUKAAN Selat Hormuz yang LENGKAP, SEGERA, dan AMAN, saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu. Ini akan menjadi GENCATAN SENJATA dua sisi!” kata Trump di Truth Social.

Trump mengatakan bahwa hampir semua poin pertikaian antara Amerika Serikat dan Iran telah disepakati.

“Alasan untuk melakukannya adalah karena kita telah memenuhi dan melampaui semua tujuan militer, dan sudah sangat jauh dalam mencapai kesepakatan definitif mengenai PERDAMAIAN jangka panjang dengan Iran, dan PERDAMAIAN di Timur Tengah. Kami menerima proposal 10 poin dari Iran, dan percaya itu adalah dasar yang dapat dikerjakan untuk bernegosiasi,” tambah Trump.

Pada hari Selasa, Pakistan telah mengeluarkan permohonan menit-menit terakhir untuk perpanjangan dua minggu guna negosiasi mengakhiri perang AS-Israel terhadap Iran, sebelum tenggat waktu pukul 8 malam EST Presiden Donald Trump untuk menghancurkan “seluruh peradaban” negara tersebut.

“Untuk membiarkan diplomasi berjalan, saya dengan sungguh-sungguh meminta Presiden Trump untuk memperpanjang tenggat waktu selama dua minggu,” kata Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di X, sembari meminta agar Iran mengizinkan Selat Hormuz dibuka kembali untuk semua lalu lintas selama waktu tersebut.

Sharif menyerukan gencatan senjata dua minggu seiring berjalannya negosiasi.

“Kami juga mendesak semua pihak yang bertikai untuk melakukan gencatan senjata di mana pun selama dua minggu guna memungkinkan diplomasi mencapai pengakhiran perang yang konklusif, demi kepentingan perdamaian dan stabilitas jangka panjang di kawasan,” tulis Sharif. (middleeasteye)

***

10 Poin Tuntutan Iran ke AS yang Disepakati Trump sampai Deal Gencatan

Iran dan Amerika Serikat sepakat gencatan selama dua pekan pada Selasa (7/4) usai perang selama lebih dari sebulan sejak 28 Februari lalu.

Bagi Iran, gencatan senjata ini adalah kemenangan sebab Amerika Serikat menyepakati 10 tuntutan yang diajukan Teheran untuk gencatan dan memulai perundingan.

“Selama periode ini [gencatan dua pekan], penting untuk menjaga persatuan nasional secara penuh serta melanjutkan perayaan kemenangan dengan kuat,” demikian pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada Selasa (7/4).

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mengeluarkan pernyataan soal gencatan senjata. Dalam rilis itu, dia turut menyinggung pembukaan Selat Hormuz. Selat ini ditutup sejak AS dan Israel meluncurkan operasi ke Iran.

“Selama dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” kata dia di X pada Selasa (7/4) malam.

Sementara itu, Presiden Donald Trump tetap mengklaim kemenangan atas Iran dan menyatakan bahwa Teheran telah mengajukan proposal gencatan senjata yang layak.

“Ini akan menjadi GENCATAN SENJATA dua arah,” tulis Trump di media sosialnya.

“Alasan kami melakukan ini adalah karena kami telah memenuhi dan melampaui semua tujuan militer, serta sudah sangat dekat dengan kesepakatan definitif terkait perdamaian jangka panjang dengan Iran dan perdamaian di Timur Tengah. Kami telah menerima proposal 10 poin dari Iran, dan menilai itu sebagai dasar yang dapat digunakan untuk bernegosiasi,” ujarnya menambahkan.

Trump menjelaskan bahwa dua minggu ke depan akan digunakan untuk merampungkan kesepakatan dengan Iran. Ia juga menyampaikan optimisme bahwa berbagai perbedaan yang ada sebelumnya telah berhasil dijembatani.

“Hampir semua poin perbedaan antara Amerika Serikat dan Iran telah disepakati,” kata Trump.

Berikut 10 poin tuntutan Iran ke AS yang akhirnya diterima Trump dan menghasilkan gencatan senjata dua pekan, dikutip media semi pemerintah Iran Tasnim News Agency.

1. AS pada prinsipnya harus berkomitmen untuk menjamin non-agresi

2. Kontrol Iran yang berkelanjutan atas Selat Hormuz

3. Hak pengayaan uranium Iran harus diterima

4. Pencabutan semua sanksi primer

5. Pencabutan semua sanksi sekunder

6. Pembatalan semua resolusi Dewan Keamanan PBB

7. Pembatalan semua resolusi Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA)

8. Pembayaran kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan terhadap Iran

9. Penarikan pasukan tempur AS dari kawasan

10. Penghentian perang di semua front, termasuk melawan perlawanan Islam yang heroik di Lebanon. (cnnindonesia)

***

Iran Sepakati Gencatan Senjata 2 Minggu dan Buka Selat Hormuz

Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi

8/4/2026 – Pemerintah Iran secara resmi menanggapi keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait penangguhan serangan militer selama dua pekan. Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyatakan bahwa Teheran siap menghentikan operasi defensif dan membuka kembali akses Selat Hormuz untuk sementara waktu.

Araghchi mengatakan, Iran merespons permintaan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang mendorong upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik, serta mempertimbangkan permintaan AS untuk melakukan negosiasi berdasarkan proposal 15 poin yang diajukan Washington. Selain itu, Iran juga mencermati pernyataan Trump yang menerima kerangka umum proposal 10 poin dari Teheran sebagai dasar perundingan.

“Jika serangan terhadap Iran dihentikan, Angkatan Bersenjata kami yang kuat akan menghentikan operasi defensifnya,” kata Araghchi, mewakili Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dalam pernyataan yang dirilis via platform X pada Rabu (8/4).

Ia juga menyatakan bahwa selama periode dua minggu, jalur pelayaran aman melalui Selat Hormuz dapat dibuka dengan koordinasi bersama angkatan bersenjata Iran, serta dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis yang ada.

“Selama periode dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk menunda ancaman serangan terhadap infrastruktur sipil di seluruh Iran selama dua minggu. Keputusan ini diambil seiring dengan semakin dekatnya para negosiator pada kesepakatan gencatan senjata yang akan membuat Teheran membuka kembali Selat Hormuz.

Melalui unggahan di media sosial pada Selasa (7/4), Trump menyatakan bahwa perjanjian tersebut akan “bergantung pada persetujuan Republik Islam Iran untuk membuka Selat Hormuz secara LENGKAP, SEGERA, dan AMAN.”

“Saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu. Ini akan menjadi GENCATAN SENJATA dua belah pihak!” tulis Trump. (bloombergtechnoz)

***

Pernyataan Lengkap Gencatan Senjata dengan Iran yang Diumumkan Trump

8/4/2026 – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan gencatan dengan Iran selama dua minggu.

Pengumuman tersebut dilayangkannya dalam pernyataan resmi yang dipublikasi melalui media sosialnya, Truth Social. Adapun pernyataan itu berupa:

“Based on conversations with Prime Minister Shehbaz Sharif and Field Marshal Asim Munir, of Pakistan, and wherein they requested that I hold off the destructive force being sent tonight to Iran, and subject to the Islamic Republic of Iran agreeing to the complete, immediate, and safe opening of the Strait of Hormuz, I agree to suspend the bombing and attack of Iran for period of two weeks.

This will be a double sided ceasefire! The reason for doing so is that we have already met and exceeded all military objectives, and are very far along with a definitive agreement concerning longterm peace with Iran, and peace in the Middle East.

We received a 10 point proposal from Iran, and believe it is a workable basis on which to negotiate. Almost all of the various points of past contention have been agreed to between the United States and Iran, but a two week period will allow the agreement to be finalized and consummated.

On behalf of the United States of America, as President, and also representing the countries of the Middle East, it is an honor to have this longterm problem close to resolution. Thank you for your attention to this matter!”

President Donald J Trump

Dalam bahasa Indonesia:

“Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan, di mana mereka meminta saya untuk menahan kekuatan penghancur yang dikirim malam ini ke Iran, dan dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara lengkap, segera, dan aman, saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu

Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah! Alasannya adalah karena kita telah memenuhi dan melampaui semua tujuan militer, dan telah mencapai kesepakatan definitif mengenai perdamaian jangka panjang dengan Iran, dan perdamaian di Timur Tengah.

Kami menerima proposal 10 poin dari Iran, dan percaya bahwa itu adalah dasar yang dapat diterapkan untuk bernegosiasi. Hampir semua poin perselisihan di masa lalu telah disepakati antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi periode dua minggu akan memungkinkan kesepakatan tersebut untuk diselesaikan dan diwujudkan.

Atas nama Amerika Serikat, sebagai Presiden, dan juga mewakili negara-negara Timur Tengah, merupakan suatu kehormatan untuk melihat masalah jangka panjang ini hampir terselesaikan. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!”

Presiden Donald J Trump.

Tidak dijelaskan apa proposal 10 poin yang diterima oleh Trump. Tetapi Iran pada dasarnya menghendaki jaminan tidak ada penyerangan lagi yang terjadi ke wilayahnya.

Sementara Trump berupaya keras agar Selat Hormuz bisa dilalui oleh kapal dari AS, karena kapal-kapal yang berperang dengan Iran yang dilarang melalui selat tersebut, dalam artian dari AS dan Israel. (metrotvnews)

***

Makin Gila, Trump Ancam Bunuh Seluruh Peradaban Iran

Presiden AS Donald Trump

7/4/2026 – Presiden AS kembali mengeluarkan ancaman terhadap Iran ketika tenggat waktu untuk membuka Selat Hormuz semakin dekat. Nada unggahannya semakin menunjukkan kemarahan karena Iran tak juga mempan diancam.

“Seluruh peradaban akan mati malam ini, tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali lagi”, ia memulai, dalam sebuah postingan di platform Truth Social miliknya.

“Saya tidak ingin hal itu terjadi, tapi mungkin akan terjadi. Namun, sekarang kita memiliki Perubahan Rezim yang Lengkap dan Total, di mana pemikiran yang berbeda, lebih cerdas, dan tidak terlalu radikal mendominasi, mungkin sesuatu yang revolusioner dan menakjubkan bisa terjadi,” lanjutnya.

“SIAPA YANG TAHU? Kita akan mengetahui malam ini, salah satu momen terpenting dalam sejarah Dunia yang panjang dan rumit. 47 tahun pemerasan, korupsi, dan kematian, akhirnya akan berakhir. Tuhan Memberkati Rakyat Besar Iran!”.

Hassan Ahmadian, Asisten Profesor Ilmu Politik di Universitas Teheran mengatakan ancaman terbaru Presiden AS menunjukkan bahwa ia semakin “marah dan putus asa”.

“Nada suaranya semakin keras dari hari ke hari, yang menurut saya menunjukkan bahwa dia dalam masalah,” kata Ahmadian. “Dia ingin ancamannya lebih serius menimpa Iran dan memaksa mereka berubah pikiran.”

Cuitan tersebut menambahkan bahwa meskipun Trump tidak dapat memenuhi ancamannya, ia dapat memukul Iran lebih keras, dan Teheran berjanji akan meresponsnya dengan tepat. “Ini adalah sebuah jebakan yang dimulai sejak awal perang ini dan terus berlanjut tanpa dia mencapai tujuannya,” kata Ahmadian. (republika)

***

Iran Tolak Tawaran Gencatan Senjata Sementara dari AS, Selat Hormuz Tetap Ditutup

6/4/2026 – Iran menilai AS tak siap untuk sebuah gencatan senjata permanen. Iran tak akan membuka Selat Hormuz dengan imbalan sebuah “gencatan senjata sementara”, ujar seorang pejabat senior Iran kepada Reuters, Senin (6/4/2026). Pejabat itu memandang Washington tak siap untuk sebuah gencatan senjata permanen.

Sumber itu mengonfirmasi bahwa Teheran menerima proposal dari Pakistan soal gencatan senjata segera dan sedang mempelajarinya. Ia menegaskan, Iran menolak ditekan untuk menerima tenggat waktu dan membuat sebuah keputusan.

Sebelumnya pada Ahad (5/4/2026), Kantor Presiden Iran, menyatakan Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali untuk pelayaran jika pendapatan transit digunakan untuk mengganti kerugian akibat perang.

“Selat Hormuz akan dibuka kembali hanya jika sebagian pendapatan transit digunakan untuk mengompensasi seluruh kerusakan akibat perang yang dipaksakan,” kata Wakil Bidang Komunikasi dan Informasi Kantor Presiden Iran, Mehdi Tabatabai, dalam pernyataan di platform media sosial X.

Tabatabai juga mengkritik tajam Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dengan mengatakan Trump “melontarkan hinaan dan pernyataan tidak masuk akal karena putus asa dan marah,” serta menuduhnya “memulai perang skala penuh di kawasan dan tetap membanggakannya.”

Kawasan itu berada dalam kondisi siaga sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu Ali Khamenei.

Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS sebagai bentuk pertahanan diri. Iran kemudian juga membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz. (republika)

***

Trump Lecehkan Nama Allah Dalam Cuitan Terbaru Mengancam Iran

Presiden AS Donald Trump

Kemarahan dan kegilaan Trump menjadi-jadi setelah sejumlah pesawat AS ditembak jatuh.

Presiden AS Donald Trump menggunakan kata-kata kasar dalam postingan barunya yang mengancam infrastruktur Iran pada Ahad. Ia juga menuliskan nama Allah dengan nada melecehkan dalam unggahan terbarunya di  Truth Social.

Trump menggunakan kata-kata kasar itu untuk mendesak Iran membiarkan kapal melewati Selat Hormuz. Ia juga mengancam akan menyerang lebih lanjut infrastruktur energi dan transportasi Iran.

“Selasa akan menjadi Hari (penyerangan) Pembangkit Listrik dan Hari (penyerangan) Jembatan, yang semuanya dirangkai menjadi satu, di Iran. Belum ada serangan seperti ini!!! Buka Selatnya, Sialan, dasar bajingan gila, atau kamu akan tinggal di Neraka – LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J TRUMP,” demikian kira-kira terjemahan dari unggahan Trump. Dalam bahasa aslinya, bahasa Inggris, unggahan itu lebih menjijikkan.

Mengumpat dengan membawa-bawa nama Allah adalah hal yang dilarang dalam Islam. Sejumlah hadits Rasulullah menerangkan murka Allah saat nama-Nya dipergunakan untuk mengumpat dan menyumpahi orang lain, bahkan terhadap pendosa sekalipun.

Pada Sabtu, Donald Trump mengancam akan menghujani Iran dengan “neraka” jika negara itu menolak untuk “membuat kesepakatan atau membuka Selat Hormuz” dalam 48 jam ke depan.

Iran telah menolak usulan gencatan senjata sementara dan menginginkan diakhirinya perang secara permanen dengan jaminan kuat bahwa AS tidak akan menyerang lagi.

Kegilaan terbaru Trump ini setelah Iran berhasil menembak jatuh sejumlah pesawat militer AS. Sejauh ini yang dipastikan Pentagon ditembak jatuh adalah satu unit F-15E. (republika)

***

Trump: AS bisa buka Selat Hormuz, ambil minyak Iran, dan jadikan sumber kemakmuran dunia

5/4/2026 – Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS dapat membuka Selat Hormuz sekaligus “mengambil minyaknya dan meraup keuntungan besar,” sebuah pernyataan yang kembali memperlihatkan sinyal yang tidak konsisten dari Washington soal rencana untuk jalur perairan strategis itu.

“Dengan sedikit lebih banyak waktu, kita dapat dengan mudah membuka Selat Hormuz, mengambil minyaknya, dan meraup keuntungan besar. Ini akan menjadi sumber kemakmuran bagi dunia,” tulis Trump di platform media sosialnya Truth Social pada Jumat (3/4).

Selat Hormuz, yang menjadi jalur transit sekitar 20 persen pasokan minyak global, telah terganggu sejak AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran.

Kawasan ini telah berada dalam siaga tinggi sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara pada 28 Februari, yang hingga kini telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu Ali Khamenei.

Iran telah membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi tempat pangkalan militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur sekaligus mengguncang pasar energi global. (Anadolu)

***

35 Hari Perang Iran vs Amerika Israel, 2.076 Warga Iran Meninggal dan 26.500 Orang Luka-luka 

Angka sementara menunjukkan 1.937 tewas di Iran, setidaknya 24 di Israel, 13 tentara AS, dan 27 tewas di negara-negara Teluk.

Berapa banyak orang yang tewas atau terluka?

Berikut adalah jumlah korban terkonfirmasi di berbagai negara yang menjadi sasaran serangan per Jumat pukul 10:30 GMT:

Iran – Tewas: 2.076, Luka-luka: 26.500 
  • Setidaknya 2.076 orang telah tewas akibat serangan AS-Israel di Iran sejak 28 Februari, menurut Kementerian Kesehatan Iran.
  • Usia korban berkisar antara delapan bulan hingga 88 tahun.
  • 240 wanita dan 212 anak-anak termasuk di antara mereka yang tewas.
  • Lebih dari 26.500 orang terluka, termasuk sedikitnya 4.000 wanita dan 1.621 anak-anak. 
Israel – Tewas: 24, Luka-luka: 6.594 
  • Setidaknya 24 warga Israel tewas dan lebih dari 6.594 lainnya luka-luka.
  • Kementerian Kesehatan Israel mendesak warga untuk segera menuju bunker perlindungan bom “dengan hati-hati”, mencatat bahwa banyak orang terluka saat berlari menuju tempat perlindungan.
Tentara AS – Tewas: 13, Luka-luka: 200 
  • Militer AS telah mengonfirmasi 13 kematian akibat serangan Iran di seluruh wilayah tersebut.
  • Selain itu, satu anggota layanan meninggal karena “insiden terkait kesehatan” di Kuwait.
  • Pada 13 Maret, CENTCOM AS mengumumkan keenam awak pesawat tewas ketika pesawat pengisi bahan bakar AS jatuh di Irak barat. (aljazeera)

***

AS Minta Gencatan 48 Jam, Iran Jawab dengan Serangan Besar-Besaran

Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengiba gencatan senjata 48 jam dengan Iran pada 2 April melalui negara ketiga. Iran menolak permintaan itu dengan meluncurkan serangan balasan besar-besaran.

Hal ini dilaporkan kantor berita Fars melaporkan pada Jumat. “AS pada 2 April mengusulkan gencatan senjata 48 jam melalui salah satu negara sahabat,” kata sumber itu kepada Fars.

Usulan tersebut muncul setelah “meningkatnya ketegangan dan tantangan yang dihadapi pasukan AS di kawasan,” tambah sumber itu. Menurut kantor berita tersebut, Iran tidak menanggapi secara tertulis namun membalas “di lapangan” dengan melanjutkan serangan besar-besaran.

Sumber tersebut juga mengatakan bahwa “upaya diplomatik AS untuk menghentikan pertempuran telah meningkat, terutama setelah adanya laporan serangan terhadap depot militer AS di Pulau Bubiyan di Kuwait.”

AS dan Israel pada 28 Februari melancarkan serangan udara terhadap Iran, sejauh ini menewaskan hampir 2.000 orang, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer AS, sehingga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur sekaligus mengganggu pasar dan penerbangan global.

Awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran-lah yang meminta gencatan senjata. Iran langsung membantah klaim tersebut. (republika)

***

Iran Tolak Gencatan Senjata AS: Agresi Harus Berakhir Total 

Abbas Araghchi

3/4/2026 – Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Sayyid Abbas Araghchi, secara tegas menyatakan bahwa negaranya menolak usulan gencatan senjata yang diajukan oleh Amerika Serikat. Dalam wawancara eksklusif dengan Al-Jazeera pada Selasa, 3 April 2026 waktu setempat, Araghchi menekankan bahwa Iran hanya akan menerima pengakhiran perang secara total dan komprehensif di seluruh kawasan.

Pernyataan ini sekaligus membantah klaim Donald Trump yang sebelumnya menyebut bahwa Teheran tengah mengemis gencatan senjata. Araghchi menyebut klaim tersebut sebagai informasi palsu dan menegaskan bahwa Amerika Serikat bukan mitra yang bisa dipercaya.

Araghchi merinci bahwa syarat Teheran untuk mengakhiri konflik bukan sekadar penghentian tembak-menembak sementara. Iran menuntut jaminan komprehensif agar agresi serupa tidak terulang kembali di masa depan.

“Syarat kami sangat jelas. Kami menginginkan perang benar-benar berakhir total, tidak hanya di Iran tetapi di seluruh kawasan. Harus ada pemberian jaminan komprehensif, serta pembayaran ganti rugi dan kompensasi atas besarnya kerugian yang diderita rakyat Iran,” tegas Araghchi.

Status Selat Hormuz: Bukan Perairan Internasional

Terkait jalur logistik global, Araghchi mengeluarkan peringatan keras mengenai status Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa selat tersebut merupakan perairan pedalaman milik Iran dan Oman, sehingga Iran memiliki hak penuh untuk mengatur lalu lintas di sana, terutama di masa perang.

“Saat ini, selat tersebut sepenuhnya terbuka, tetapi tertutup bagi kapal-kapal milik negara-negara yang sedang berperang dengan kami. Di masa perang, kita tidak dapat membiarkan musuh menggunakan perairan pedalaman kita untuk transit,” ujarnya.

Klaim Kesiapan Perang Darat

Menanggapi ancaman invasi darat oleh militer Amerika Serikat, Menlu Iran menyatakan bahwa Teheran justru berada dalam posisi yang jauh lebih siap dengan peralatan tempur yang lebih lengkap dibandingkan sebelumnya. Ia mengklaim pihaknya telah berhasil memberikan kerugian besar pada aset strategis musuh, termasuk radar dan pesawat tanker pengisian bahan bakar (AWACS).

“Dalam perang darat, kami bahkan lebih siap dan lebih lengkap peralatannya. Kami sepenuhnya siap menghadapi ancaman invasi darat. Kami berharap mereka tidak melakukan kesalahan fatal seperti itu,” pungkas Araghchi. (metrotvnews)

***

Pesan Presiden Iran kepada Rakyat Amerika : Kepentingan rakyat Amerika yang mana yang sebenarnya dilayani oleh perang ini?

Presiden Iran Masoud Pezeshkian

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menulis pesan panjang untuk rakyat Amerika Serikat dan seluruh dunia di tengah perangnya melawan AS-Israel.

Dalam unggahan di media sosial X tanggal 1 April 2026, Pezeshkian menyampaikan bahwa Iran, selaku salah satu peradaban tertua dalam sejarah manusia, tidak pernah sekali pun memulai perang di era modern ini.

Berikut ini pesan lengkap presiden Iran untuk rakyat Amerika yang disampaikan melalui akun X presiden Iran @drpezeshkian :

Dengan nama Tuhan, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Kepada rakyat Amerika Serikat, dan kepada semua orang yang—di tengah banjir distorsi dan narasi buatan—terus mencari kebenaran dan mendambakan kehidupan yang lebih baik:

Iran—dengan nama, karakter, dan identitas ini—adalah salah satu peradaban tertua yang berkelanjutan dalam sejarah manusia. Terlepas dari keuntungan historis dan geografisnya di berbagai masa, Iran dalam sejarah modernnya tidak pernah memilih jalur agresi, ekspansi, kolonialisme, atau dominasi. Bahkan setelah menahan pendudukan, invasi, dan tekanan terus-menerus dari kekuatan global—serta meskipun memiliki keunggulan militer atas banyak tetangganya—Iran tidak pernah memulai perang. Namun, Iran telah dengan teguh dan gagah berani memukul mundur mereka yang menyerangnya.

Rakyat Iran tidak menaruh permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk rakyat Amerika, Eropa, atau negara-negara tetangga. Bahkan dalam menghadapi intervensi dan tekanan asing yang berulang sepanjang sejarah mereka yang membanggakan, rakyat Iran secara konsisten menarik perbedaan yang jelas antara pemerintah dan rakyat yang mereka pimpin. Ini adalah prinsip yang berakar dalam budaya dan kesadaran kolektif Iran—bukan sekadar sikap politik sementara.

Oleh karena itu, menggambarkan Iran sebagai ancaman tidaklah konsisten dengan realitas sejarah maupun fakta-fakta yang dapat diamati saat ini. Persepsi semacam itu adalah produk dari keinginan politik dan ekonomi pihak yang berkuasa—kebutuhan untuk menciptakan musuh demi membenarkan tekanan, mempertahankan dominasi militer, mendukung industri senjata, dan mengendalikan pasar strategis. Dalam lingkungan seperti ini, jika ancaman tidak ada, maka ancaman itu diciptakan.

Dalam kerangka yang sama, Amerika Serikat telah memusatkan jumlah pasukan, pangkalan, dan kemampuan militer terbesarnya di sekitar Iran—sebuah negara yang, setidaknya sejak berdirinya Amerika Serikat, tidak pernah memulai perang. Agresi Amerika baru-baru ini yang diluncurkan dari pangkalan-pangkalan tersebut telah menunjukkan betapa mengancamnya kehadiran militer tersebut. Tentu saja, tidak ada negara yang dihadapkan pada kondisi seperti itu akan melepaskan penguatan kemampuan pertahanannya. Apa yang telah dan terus dilakukan Iran adalah tanggapan terukur yang didasarkan pada pertahanan diri yang sah, dan sama sekali bukan memulai perang atau agresi.

Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat pada awalnya tidak bermusuhan, dan interaksi awal antara rakyat Iran dan Amerika tidak ternoda oleh permusuhan atau ketegangan. Namun, titik baliknya adalah intervensi ilegal Amerika pada tahun 1953 yang bertujuan untuk mencegah nasionalisasi sumber daya Iran sendiri. Kudeta tersebut mengganggu proses demokrasi Iran, mengembalikan kediktatoran, dan menanamkan ketidakpercayaan yang mendalam di kalangan warga Iran terhadap kebijakan AS. Ketidakpercayaan ini semakin dalam dengan dukungan Amerika terhadap rezim Shah, dukungannya terhadap Saddam Hussein selama perang yang dipaksakan pada tahun 1980-an, pengenaan sanksi terpanjang dan paling komprehensif dalam sejarah modern, dan puncaknya, agresi militer tanpa provokasi—dua kali, di tengah-tengah negosiasi—terhadap Iran.

Namun, semua tekanan ini gagal melemahkan Iran. Sebaliknya, negara ini tumbuh lebih kuat di banyak bidang: tingkat melek huruf meningkat tiga kali lipat—dari sekitar 30% sebelum Revolusi Islam menjadi lebih dari 90% saat ini; pendidikan tinggi telah berkembang pesat; kemajuan signifikan telah dicapai dalam teknologi modern; layanan kesehatan telah meningkat; dan infrastruktur telah berkembang dengan kecepatan dan skala yang tidak tertandingi di masa lalu. Ini adalah kenyataan yang terukur dan dapat diamati yang berdiri independen dari narasi buatan.

Pada saat yang sama, dampak destruktif dan tidak manusiawi dari sanksi, perang, dan agresi terhadap kehidupan rakyat Iran yang tangguh tidak boleh diremehkan. Kelanjutan agresi militer dan pemboman baru-baru ini sangat memengaruhi kehidupan, sikap, dan perspektif masyarakat. Ini mencerminkan kebenaran fundamental manusia: ketika perang menimbulkan kerugian yang tidak dapat diperbaiki pada nyawa, rumah, kota, dan masa depan, orang tidak akan tinggal diam terhadap mereka yang bertanggung jawab.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Kepentingan rakyat Amerika yang mana yang sebenarnya dilayani oleh perang ini? Apakah ada ancaman objektif dari Iran untuk membenarkan perilaku seperti itu? Apakah pembantaian anak-anak yang tidak berdosa, penghancuran fasilitas farmasi pengobatan kanker, atau kesombongan tentang mengebom sebuah negara “kembali ke zaman batu” melayani tujuan lain selain semakin merusak citra global Amerika Serikat?

Iran mengupayakan negosiasi, mencapai kesepakatan, dan memenuhi semua komitmennya. Keputusan untuk menarik diri dari kesepakatan tersebut, memicu konfrontasi, dan meluncurkan dua tindakan agresi di tengah negosiasi adalah pilihan destruktif yang dibuat oleh pemerintah AS—pilihan yang melayani delusi agresor asing.

Menyerang infrastruktur vital Iran—termasuk fasilitas energi dan industri—secara langsung menargetkan rakyat Iran. Selain merupakan kejahatan perang, tindakan tersebut membawa konsekuensi yang meluas jauh melampaui perbatasan Iran. Tindakan itu menghasilkan ketidakstabilan, meningkatkan biaya manusia dan ekonomi, serta mengekalkan siklus ketegangan, menanam benih dendam yang akan bertahan selama bertahun-tahun. Ini bukan demonstrasi kekuatan; ini adalah tanda kebingungan strategis dan ketidakmampuan untuk mencapai solusi yang berkelanjutan.

Bukankah benar juga bahwa Amerika telah memasuki agresi ini sebagai perpanjangan tangan bagi Israel, dipengaruhi dan dimanipulasi oleh rezim tersebut? Bukankah benar bahwa Israel, dengan menciptakan ancaman Iran, berusaha mengalihkan perhatian global dari kejahatannya terhadap rakyat Palestina? Bukankah terbukti bahwa Israel sekarang bertujuan untuk melawan Iran hingga tentara Amerika terakhir dan dolar pembayar pajak Amerika terakhir—mengalihkan beban delusinya ke Iran, kawasan ini, dan Amerika Serikat sendiri demi mengejar kepentingan yang tidak sah?

Apakah “America First” benar-benar menjadi prioritas pemerintah AS saat ini?

Saya mengundang Anda untuk melihat melampaui mesin disinformasi—yang merupakan bagian integral dari agresi ini—dan sebaliknya berbicara dengan mereka yang telah mengunjungi Iran. Amati banyak imigran Iran yang berprestasi—dididik di Iran—yang sekarang mengajar dan melakukan penelitian di universitas paling bergengsi di dunia, atau berkontribusi pada perusahaan teknologi paling maju di Barat. Apakah kenyataan ini sejalan dengan distorsi yang diberitahukan kepada Anda tentang Iran dan rakyatnya?

Hari ini, dunia berdiri di persimpangan jalan. Melanjutkan jalur konfrontasi lebih memakan biaya dan sia-sia daripada sebelumnya. Pilihan antara konfrontasi dan keterlibatan adalah nyata dan membawa konsekuensi; hasilnya akan membentuk masa depan bagi generasi yang akan datang. Sepanjang ribuan tahun sejarahnya yang membanggakan, Iran telah bertahan lebih lama dari banyak agresor. Yang tersisa dari mereka hanyalah nama-nama yang tercemar dalam sejarah, sementara Iran tetap bertahan—tangguh, bermartabat, dan bangga.

***

Berikut teks asli pesan Presiden Iran untuk rakyat Amerika tersebut :

In the name of God, the Compassionate, the Merciful 

To the people of the United States of America, and to all those who, amid a flood of distortions and manufactured narratives, continue to seek the truth and aspire to a better life:

Iran—by this very name, character, and identity—is one of the oldest continuous civilizations in human history. Despite its historical and geographical advantages at various times, Iran has never, in its modern history, chosen the path of aggression, expansion, colonialism, or domination. Even after enduring occupation, invasion, and sustained pressure from global powers—and despite possessing military superiority over many of its neighbors—Iran has never initiated a war. Yet it has resolutely and bravely repelled those who have attacked it.

The Iranian people harbor no enmity toward other nations, including the people of America, Europe, or neighboring countries. Even in the face of repeated foreign interventions and pressures throughout their proud history, Iranians have consistently drawn a clear distinction between governments and the peoples they govern. This is a deeply rooted principle in Iranian culture and collective consciousness—not a temporary political stance.

For this reason, portraying Iran as a threat is neither consistent with historical reality nor with present-day observable facts. Such a perception is the product of political and economic whims of the powerful—the need to manufacture an enemy in order to justify pressure, maintain military dominance, sustain the arms industry, and control strategic markets. In such an environment, if a threat does not exist, it is invented.

Within this same framework, the United States has concentrated the largest number of its forces, bases, and military capabilities around Iran—a country that, at least since the founding of the United States, has never initiated a war. Recent American aggressions launched from these very bases have demonstrated how threatening such a military presence truly is. Naturally, no country confronted with such conditions would forgo strengthening its defensive capabilities. What Iran has done—and continues to do—is a measured response grounded in legitimate self-defense, and by no means an initiation of war or aggression.

Relations between Iran and the United States were not originally hostile, and early interactions between the Iranian and American people were not marred with hostility or tension. The turning point, however, was the 1953 American illegal intervention aimed at preventing the nationalization of Iran’s own resources. That coup d’état—an disrupted Iran’s democratic process, reinstated dictatorship, and sowed deep distrust among Iranians toward U.S. policies. This distrust deepened further with America’s support for the Shah’s regime, its backing of Saddam Hussein during the imposed war of 1980s, the imposition of the longest and most comprehensive sanctions in modern history, and ultimately, unprovoked military aggression—twice, in the midst of negotiations—against Iran.

Yet all these pressures have failed to weaken Iran. On the contrary, the country has grown stronger in many areas: literacy rates have tripled—from roughly 30% before the Islamic Revolution to over 90% today; higher education has expanded dramatically; significant advances have been achieved in modern technology; healthcare services have improved; and infrastructure has developed at a pace and scale incomparable to the past. These are measurable, observable realities that stand independent of fabricated narratives.

At the same time, the destructive and inhumane impact of sanctions, war, and aggression on the lives of the resilient Iranian people must not be underestimated. The continuation of military aggression and recent bombings profoundly affect people’s lives, attitudes, and perspectives. This reflects a fundamental human truth: when war inflicts irreparable harm on lives, homes, cities, and futures, people will not remain indifferent toward those responsible.

This raises a fundamental question: Exactly which of the American people’s interests are truly being served by this war? Was there any objective threat from Iran to justify such behavior? Does the massacre of innocent children, the destruction of cancer-treatment pharmaceutical facilities, or boasting about bombing a country “back to the stone ages” serve any purpose other than further damaging the United States’ global standing?

Iran pursued negotiations, reached an agreement, and fulfilled all its commitments. The decision to withdraw from that agreement, escalate toward confrontation, and launch two acts of aggression in the midst of negotiations were destructive choices made by the U.S. government—choices that served the delusions of a foreign aggressor.

Attacking Iran’s vital infrastructure—including energy and industrial facilities—directly targets the Iranian people. Beyond constituting a war crime, such actions carry consequences that extend far beyond Iran’s borders. They generate instability, increase human and economic costs, and perpetuate cycles of tension, planting seeds of resentment that will endure for years. This is not a demonstration of strength; it is a sign of strategic bewilderment and an inability to achieve a sustainable solution.

Is it not also the case that America has entered this aggression as a proxy for Israel, influenced and manipulated by that regime? Is it not true that Israel, by manufacturing an Iranian threat, seeks to divert global attention away from its crimes toward the Palestinians? Is it not evident that Israel now aims to fight Iran to the last American soldier and the last American taxpayer dollar—shifting the burden of its delusions onto Iran, the region, and the United States itself in pursuit of illegitimate interests?

Is “America First” truly among the priorities of the U.S. government today?

I invite you to look beyond the machinery of misinformation—an integral part of this aggression—and instead speak with those who have visited Iran. Observe the many accomplished Iranian immigrants—educated in Iran—who now teach and conduct research at the world’s most prestigious universities, or contribute to the most advanced technology firms in the West. Do these realities align with the distortions you are being told about Iran and its people?

Today, the world stands at crossroads. Continuing along the path of confrontation is more costly and futile than ever before. The choice between confrontation and engagement is both real and consequential; its outcome will shape the future for generations to come. Throughout its millennia of proud history, Iran has outlasted many aggressors. All that remains of them are tarnished names in history, while Iran endures—resilient, dignified, and proud.

Sumber : https://x.com/drpezeshkian

***

‘Ambil Saja Minyakmu sendiri’ : Perpecahan NATO Meletus Terkait Iran Saat Sekutu Mengabaikan AS

Spain Prime Minister, Pedro Sanchez

1/4/2026 – Negara-negara NATO, mulai dari Spanyol, Italia, hingga Polandia, merasa waswas untuk mendukung serangan AS terhadap Iran yang dikhawatirkan dapat membuat posisi mereka ‘terekspos’.

Perang AS-Israel melawan Iran memicu keretakan antara Washington dan sekutu-sekutu NATO-nya. Permintaan AS terkait izin lintas udara, penggunaan pangkalan, dan sistem pertahanan udara ditolak mentah-mentah, sementara pemerintahan Trump mulai meragukan komitmennya terhadap klausul pertahanan bersama NATO.

Spanyol telah menutup wilayah udaranya bagi pesawat tempur AS yang terlibat dalam serangan ke Iran. Italia juga menolak izin mendarat bagi pesawat militer AS yang menuju Timur Tengah di sebuah pangkalan di Sisilia, menurut laporan surat kabar Italia, Corriere della Sera.

Sementara itu, Polandia secara terbuka membantah pada hari Selasa bahwa mereka akan merelokasi sistem pertahanan udara Patriot miliknya ke Timur Tengah, menyusul laporan bahwa pemerintahan Trump telah mengajukan permintaan informal untuk melakukan hal tersebut.

Perdana Menteri Spanyol yang berhaluan kiri, Pedro Sanchez, telah menentang perang AS-Israel terhadap Iran sejak hari-hari pertama. Namun, meluasnya penolakan ini menunjukkan bahwa isolasi terhadap AS semakin meningkat.

Italia saat ini dipimpin oleh Perdana Menteri berhaluan kanan, Giorgia Meloni, sedangkan Polandia dipimpin oleh pemerintahan kanan-tengah. Warsawa sendiri selama ini merupakan salah satu sekutu paling setia AS sejak berakhirnya Perang Dingin, dan Presiden AS Donald Trump seringkali mendapat dukungan tinggi dalam jajak pendapat di negara Eropa Tengah tersebut, di mana populisme sayap kanan merupakan kekuatan politik yang signifikan.

Presiden AS Donald Trump mengecam negara-negara besar di Eropa melalui unggahan di media sosial X pada hari Selasa. Ia mengungkapkan bahwa Prancis, yang sering kali mengejar agendanya sendiri di Timur Tengah, menolak izin lintas udara bagi pesawat AS yang membawa peralatan militer ke Israel. Ia juga mengkritik Inggris karena gagal bergabung dalam perang tersebut.

“AS akan mengingat ini!!!” tulis Trump di X.

Pemerintahannya pun terus mempertegas pendekatan konfrontatif tersebut. (middleeasteye)

***

Pejuang Chechnya Umumkan Jihad Mendukung Iran

Pasukan Chechnya

1/4/2026 – Pejuang Chechnya menjadi kelompok Sunni pertama yang siap berperang untuk Iran. Unit militer Chechnya telah mengumumkan kesiapan mereka untuk dikerahkan ke Iran guna berjihad mendukung angkatan bersenjata negara tersebut. Hal ini bakal dilakukan jika invasi darat Amerika Serikat (AS) benar-benar dijalankan.

Press TV melaporkan pada Senin, pasukan tersebut—yang setia kepada pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov—akan melakukan intervensi jika operasi darat AS dilancarkan terhadap Iran. Perkembangan ini terjadi ketika ketegangan terus meningkat setelah berminggu-minggu operasi militer Amerika dan Israel yang menargetkan wilayah Iran.

Unit-unit Chechnya menggambarkan konfrontasi yang sedang berlangsung ini sebagai “perang agama,” lapor Press TV, dan menggambarkannya sebagai pertarungan antara kekuatan moral yang berlawanan.

Mereka mengatakan bahwa intervensi langsung apapun merupakan “jihad,” yang mendefinisikannya sebagai pertempuran “kebaikan melawan kejahatan” dalam membela Republik Islam Iran.

Penduduk Chechnya hampir seluruhnya adalah penganut Islam Sunni dengan Mazhab Syafii. Artinya, dukungan dari Chechnya menandakan kelompok Sunni pertama yang berpotensi ikut perang membantu Iran yang sebagian besar penduduknya adalah Muslim Syiah. (republika)

***

AS Siap Serangan Darat, Iran: Selamat Datang di Neraka

Tehran Times

Konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel terus memanas dengan eskalasi yang kini semakin terbuka dan tidak lagi mudah dikendalikan.

Iran bahkan mengirim ancaman tegas menyatakan siap menghadapi serangan darat Amerika Serikat dengan peringatan “Selamat Datang di Neraka”. Pernyataan ini menegaskan ketegangan tidak lagi sekedar retorika melainkan sudah mengarah pada potensi konfrontasi langsung.

Di saat yang sama, tekanan datang dari dalam negeri Amerika Serikat. Gelombang protes besar mengguncang berbagai kota. Warga turun ke jalan menolak perang yang dinilai hanya akan memperpanjang konflik, menguras anggaran, dan memperburuk ekonomi.

Di tengah dua tekanan yang sama-sama menguat, pertanyaannya, apakah ini benar-benar awal dari perang besar Amerika dan Iran? (metrotvnews)

***

Amerika Siapkan Operasi Darat Selama Beberapa Pekan di Iran 

Pasukan Militer Amerika

29/3/2026 – Rencana tersebut, yang tidak sampai pada tahap invasi penuh, kemungkinan melibatkan serangan mendadak (raid) oleh operasi khusus dan pasukan infanteri konvensional, lapor The Washington Post.

Pentagon tengah mempersiapkan operasi darat terbatas selama beberapa pekan di Iran, yang berpotensi mencakup serangan ke Pulau Kharg dan lokasi pesisir di dekat Selat Hormuz, menurut keterangan pejabat Amerika Serikat yang dikutip oleh surat kabar The Washington Post.

Rencana ini—yang tidak dikategorikan sebagai invasi penuh—dapat melibatkan serangkaian serangan oleh pasukan operasi khusus dan unit infanteri konvensional, lapor The Post pada hari Sabtu. Langkah ini berisiko mengekspos personel AS terhadap ancaman drone dan rudal Iran, tembakan darat, serta bahan peledak rakitan.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa masih belum dapat dipastikan apakah Presiden Donald Trump akan menyetujui rencana-rencana tersebut.

“Adalah tugas Pentagon untuk melakukan persiapan guna memberikan pilihan maksimal kepada Panglima Tertinggi. Hal ini tidak berarti presiden telah mengambil keputusan,” ujar Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam sebuah pernyataan menanggapi pertanyaan terkait laporan The Post.

Pemerintahan Trump telah mengerahkan Marinir AS ke Timur Tengah saat perang di Iran memasuki minggu kelima, dan juga telah berencana untuk mengirim ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat ke wilayah tersebut.

Pada hari Sabtu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa sekitar 3.500 tentara tambahan telah tiba di Timur Tengah menggunakan kapal USS Tripoli.

Para pelaut dan marinir tersebut tergabung dalam Unit Ekspedisi Marinir ke-31 dan tiba di kawasan itu pada 27 Maret, bersama dengan “pesawat angkut dan jet tempur serang, serta aset amfibi dan taktis,” menurut keterangan CENTCOM. (aljazeera)

***

8 Juta Warga AS Gelar Aksi ‘No Kings’, Protes Trump dan Perang Iran

Demonstrasi di AS

29/3/2026 – Unjuk rasa besar-besaran terjadi di Amerika Serikat (AS) saat jutaan warga turun ke jalan dalam demonstrasi bertajuk No Kings pada Sabtu, 28 Maret 2026 waktu setempat.

Aksi protes ini menjadi sorotan dunia karena disebut sebagai salah satu protes terbesar dalam sejarah negara tersebut.

Demonstrasi ini digelar sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump, termasuk terkait perang di Iran dan kebijakan domestik yang dinilai kontroversial. Dilansir dari berbagai sumber, berikut fakta-fakta demonstrasi besar-besaran yang terjadi di AS.

Fakta-Fakta Demo di Amerika Serikat
1. 8 Juta Warga Ikut Aksi Protes ‘No Kings’

Menurut perwakilan penyelenggara dari Koalisi No Kings, aksi ini diikuti oleh sedikitnya 8 juta peserta yang tersebar di lebih dari 3.300 lokasi di 50 negara bagian.

“Kami mencatat 8 juta peserta yang hadir, dan kami menargetkan lebih dari 9 juta,” kata perwakilan penyelenggara Koalisi No Kings, yang dikutip Minggu, 29 Maret 2026.

Jumlah tersebut bahkan disebut masih bisa bertambah, dengan target partisipasi mencapai lebih dari 9 juta orang. Aksi ini menjadikannya sebagai salah satu demonstrasi terbesar yang pernah terjadi di Amerika Serikat dalam satu hari.

2. Seruan “End This War” Menggema

Dalam berbagai titik aksi, massa terdengar meneriakkan slogan “End this war” atau “Hentikan perang ini”. Seruan tersebut menjadi simbol penolakan terhadap konflik yang sedang berlangsung di Iran.

Aksi ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran publik terhadap eskalasi konflik internasional yang melibatkan Amerika Serikat.

3. Pemicu Demonstrasi Besar-besaran

Gelombang protes ini dipicu oleh beberapa faktor utama, antara lain:
Serangan militer oleh AS dan Israel ke Iran yang telah berlangsung selama empat pekan
Kebijakan imigrasi yang dinilai terlalu agresif
Lonjakan harga minyak dan kebutuhan pokok
Menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan.

Kombinasi faktor tersebut memicu kemarahan luas di kalangan masyarakat.

4. Tingkat Kepuasan Publik terhadap Trump Menurun

Di tengah aksi protes ini, tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Donald Trump dilaporkan mengalami penurunan signifikan, yakni hanya berada di angka 36 persen.

Angka tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap arah kebijakan pemerintah saat ini. (metrotvnews)

***

IRGC Lancarkan Serangan Kejutan ke Pulau Bubiyan di Kuwait, Sejumlah Marinir AS Diklaim Tewas

Pulau Bubiyan Kuwait

27/3/2026 – Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Jumat (27/3/2026) malam melancarkan serangan kejutan ke pasukan AS dan Israel di Pulau Bubiyan Kuwait. Serangan itu bagian dari gelombang ke-84 Operasi ‘True Promise 4’.

Dalam sebuah pernyataannya dikutip Saba News, IRGC mengatakan, “Sebagai bagian dari kelanjutan ke -84 Operasi True Promise 4, dan persembahan untuk para martir di Angkatan Laut, khususnya pahlawan Nader Mahdavi dan pasukannya yang memukul mundur AS pada 1980an, Angkatan Laut IRGC melancarkan operasi kejutan menargetkan pasukan AS dan Israel di Pulau Bubiyan.”

Menurut IRGC serangan itu menggunakan kombinasi rudal balistik dan drone bunuh diri. IRGC mengeklaim, sejumlah besar marinir AS kocar-kacir, dan beberapa terbunuh dan terluka. Para marinir yang terluka kemudian dikirim ke RS Saleh Al-Sabah, RS Mohammed Al-Ahmad, dan RS Ali Al-Salem di Kuwait.

IRGC menegaskan akan terus melanjutkan serangan terhadap pasukan AS di kawasan manapun di Timur Tengah hingga pengusiran mereka dari tanah Muslim tuntas. IRGC sebelumnya juga telah meminta warga sipil di negara-negara Timur Tengah untuk menjauhi tempat-tempat di mana pasukan militer AS ditempatkan demi keselamatan mereka sendiri.

“Jauhi area di mana pasukan Amerika berada, supaya tidak menjadi korban,” demikian pernyataan IRGC yang disiarkan media nasional Iran, Jumat (27/3/2026).

Korps militer Iran tersebut kemudian mengungkapkan rencananya untuk menemukan dan menghabisi personel militer Amerika yang memanfaatkan masyarakat sipil sebagai tameng. Mereka juga berkata bahwa pasukan Amerika “membunuh rakyat sipil Iran secara keji”. (republika)

***

1.937 Orang Meninggal di Iran Akibat Serangan AS-Israel  

Ledakan di Tel Aviv Israel

27/03/2026 – Angka sementara menunjukkan 1.937 tewas di Iran, setidaknya 19 di Israel, 13 tentara AS, dan 25 tewas di negara-negara Teluk.

Berikut adalah korban yang telah dikonfirmasi di berbagai negara yang menjadi sasaran serangan per Kamis pukul 11:30 GMT.

Karena situasi yang berkembang pesat, semua angka dapat berubah sewaktu-waktu seiring tersedianya informasi lebih lanjut.

  • Iran – tewas: 1.937, luka-luka: 24.800
    Kementerian Kesehatan Iran menyatakan setidaknya 1.937 orang tewas dan 24.800 luka-luka akibat serangan AS-Israel di Iran sejak 28 Februari.
  • Israel – tewas: 19, luka-luka: 5.229
    Setidaknya 19 orang di Israel tewas dan lebih dari 5.229 lainnya luka-luka dalam serangan Iran.
  • Tentara AS – tewas: 13, luka-luka: 200
    Militer AS mengonfirmasi 13 kematian akibat serangan Iran di seluruh wilayah tersebut.
  • Bahrain – tewas: 3, luka-luka: Puluhan
    Rudal Iran telah beberapa kali menargetkan markas besar Armada ke-5 Angkatan Laut AS di area Juffair, Bahrain.
  • Irak – tewas: 89, luka-luka: Puluhan
    Setidaknya 89 orang tewas menurut otoritas kesehatan Irak. Sebagian besar adalah anggota kelompok paramiliter Pasukan Mobilisasi Populer (PMF).
  • Yordania – tewas: 0, luka-luka: 28
    Di Yordania, dilaporkan ada 28 luka-luka dan tidak ada korban jiwa.
  • Kuwait – tewas: 6, luka-luka: Puluhan
    Pada 2 Maret, Kementerian Pertahanan Kuwait mengatakan “beberapa” pesawat tempur AS jatuh di negara tersebut, dan semua awaknya selamat.
  • Lebanon – tewas: 1.094, luka-luka: 3.119
    Jumlah orang yang tewas di Lebanon sejak Israel memperbarui serangan luas ke negara itu kini mencapai 1.094 orang, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon. Di antara yang tewas terdapat sedikitnya 121 anak-anak. Setidaknya 3.119 orang juga terluka.
  • Oman – tewas: 3, luka-luka: 15
    Pada 1 Maret, Kantor Berita Oman, mengutip sumber keamanan, mengatakan dua drone menargetkan Pelabuhan Duqm, melukai satu pekerja asing.
  • Qatar – tewas: 0, luka-luka: 16
    Kementerian Dalam Negeri Qatar mengonfirmasi bahwa jumlah korban luka adalah 16 orang. Sebagian besar luka dilaporkan berasal dari jatuhnya serpihan peluru dan puing-puing, dengan satu orang luka parah.
  • Arab Saudi – tewas: 2, luka-luka: 20
    Arab Saudi menyatakan dua orang tewas dan 20 luka-luka, termasuk 12 orang di provinsi pusat Al Kharj setelah sebuah proyektil jatuh di daerah pemukiman.
  • Uni Emirat Arab – tewas: 11, luka-luka: 169
    Setidaknya sebelas orang di UEA, termasuk tiga anggota angkatan bersenjata dan warga negara dari Pakistan, Nepal, dan Bangladesh, dikonfirmasi tewas, dan 169 lainnya luka-luka. (aljazeera)
     

***

Kalangan Garis Keras di Iran Mulai Angkat Wacana Buat Bom Nuklir

Mohammad Javad Larijani

Perdebatan soal perlu-tidaknya Teheran membuat bom nuklir dilaporkan semakin keras di antara kalangan elite garis keras di Iran. Hal itu diungkap Reuters, Kamis (26/3/2026) mengutip beberapa sumber di Teheran.

Saat Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat ini mendominasi pengambilan keputusan terkait perang usai terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dua sumber Reuters menyebut, opini garis keras soal pendekatan nuklir Iran mengalami peningkatan. Selama ini, Teheran konsisten membantah tudingan Barat, bahwa Republik Islam ingin membuat bom nuklir karena menurut fatwa Khamenei, bom nuklir dilarang dalam Islam.

Hingga saat ini, doktrin nuklir Iran belum berubah meski Khamenei sang pemilik fatwa telah wafat. Namun, menurut sumber Reuters, kalangan garis keras di level kepemimpinan Iran yang menginginkan adanya perubahan doktrin itu mulai berani bersuara.

Isu bom nuklir yang sebelumnya tabu, saat ini mulai dibahas di media-media bersamaan dengan desakan agar Iran keluar dari perjanjian nonproliferasi (NPT). Kantor Berita Tasnim contohnya, media yang berafiliasi dengan IRGC itu pada Kamis memublikasikan artikel yang menyatakan bahwa sudah saatnya Iran menarik diri dari NPT dan sambil fokus ke program nuklir dalam negeri.

Politisi garis keras Mohammad Javad Larijani, yang merupakan saudara kandung dari martir Ali Larjani dikutip oleh salah satu media juga mendesak agar Iran membekukan keanggotaannya di NPT.

“(Keanggotaan) NPT harus dibekukan. Kita harus membentuk sebuah komite untuk membahas apakah NPT berguna bagi kita atau tidak. Jika terbukti berguna, kita akan kembali menjadi anggota. Jika tidak, kita harus keluar,” kata Javad.

Pada awal bulan ini, salah satu stasiun televisi Iran menyiarkan sebuah segmen wawancara bersama komentator konservatif Nasser Torabi di mana saat itu dia mengeklaim tuntutan publik Iran. “Kita harus bertindak dalam rangka membuat sebuah bom nuklir. Antara kita membuatnya atau kita mendapatkannya.”

Iran pada Rabu (25/3/2026) menolak rencana Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan sementara perang sembari terus melancarkan serangan ke Israel dan negara-negara Teluk. Iran menolak 15 poin proposal gencatan senjata dari AS yang salah satu tuntutannya adalah terkait pelucutan total program nuklir Iran.

Dalam wawancara dengan televisi Iran dilansir Associated Press, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa pemerintahannya tidak terlibat dalam pembicaraan mengakhiri perang, “dan kami tidak merencanakan negosiasi apapun.”

Pernyataan Araghchi tak lama setelah salah satu pembaca berita di salah satu stasiun TV Iran mengutip seorang sumber pejabat yang mengatakan bahwa Iran menolak proposal gencatan senjata dari AS. Iran menurut presenter TV itu, memiliki tuntutan tersendiri untuk mengakhiri perang.

Sebelumnya, dua pejabat dari Pakistan yang meneruskan proposal AS ke Iran, menggambarkan 15 poin yang di antaranya adalah pencabutan sanksi, penghapusan progran nuklir, pembatasan program rudal, dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Sementara, seorang pejabat dari Mesir yang terlibat dalam upaya mediasi mengatakan, proposal AS juga meminta Iran membatasi dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan. (republika)

***

Trump Konfirmasi Pangeran Arab Saudi Dorong AS untuk Lanjutkan Perang Iran

Donald Trump dan Mohammed bin Salman

26/03/2026 – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka mengonfirmasi bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, terus mendorongnya untuk mempertahankan postur militer agresif terhadap Iran.

Pengakuan ini menguatkan laporan New York Times (NYT) bahwa penguasa de facto kerajaan tersebut melihat kampanye AS-Israel yang sedang berlangsung sebagai kesempatan sekali dalam satu generasi untuk membentuk kembali kawasan Timur Tengah.

Melansir Turkiyetoday pada Selasa, 24 Maret 2026, ketika ditanya oleh seorang wartawan apakah MBS mendorongnya dalam kebijakan terkait Iran, Trump menjawab dengan blak-blakan.

“Dia melakukannya, dia seorang pejuang. Dia berperang bersama kita,” kata Trump.

Pernyataan singkat namun signifikan ini mencatatkan secara resmi apa yang selama ini hanya bersumber dari pejabat anonim.

Menurut laporan NYT yang diterbitkan pada hari yang sama, Pangeran Mohammed dalam serangkaian panggilan telepon selama sepekan terakhir berargumen bahwa AS harus terus memberikan tekanan hingga berhasil menghancurkan pemerintahan garis keras Iran.

Ia mengatakan kepada Trump bahwa kampanye ini menghadirkan “kesempatan bersejarah” untuk merombak kawasan tersebut.

Laporan NYT, yang mengutip narasumber yang mendapatkan informasi dari pejabat Amerika, menggambarkan sosok pemimpin Saudi yang semakin asertif dalam upayanya membentuk lintasan perang yang telah mengguncang pasar energi global dan mengganggu stabilitas Teluk.

Pangeran Mohammed bahkan berargumen bahwa AS harus mempertimbangkan pengerahan pasukan darat ke dalam wilayah Iran untuk merebut infrastruktur energi dan memaksa pemerintah lengser.

Ia secara khusus mendorong serangan terhadap infrastruktur energi Iran guna melemahkan Teheran.

Trump dilaporkan telah memberikan pertimbangan yang lebih serius dalam beberapa hari terakhir terhadap operasi militer yang menargetkan Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran—sebuah langkah yang dinilai sangat berisiko, baik jika dilakukan melalui operasi udara, pasukan darat, maupun serangan amfibi Marinir.

Sementara itu, pemerintah Arab Saudi membantah karakterisasi tersebut.

“Kerajaan Arab Saudi selalu mendukung resolusi damai untuk konflik ini, bahkan sebelum konflik dimulai,” demikian pernyataan resmi kerajaan, seraya menambahkan bahwa para pejabat “tetap berhubungan dekat dengan pemerintahan Trump dan komitmen kami tetap tidak berubah.”

Pernyataan itu kemudian membingkai kerajaan sebagai korban agresi Iran: “Keprihatinan utama kami saat ini adalah mempertahankan diri dari serangan harian terhadap rakyat dan infrastruktur sipil kami.” (metrotvnews)

***

Iran Tolak Proposal Perdamaian 15 Poin Trump dengan Lima Syarat Sendiri

Demonstrasi di Iran

25/03/2026 – Media pemerintah Iran menyatakan bahwa Teheran menginginkan jaminan terhadap serangan AS-Israel di masa depan, ganti rugi perang, serta kendali atas Selat Hormuz.

Iran telah menolak proposal AS untuk mengakhiri perang dengan Republik Islam tersebut, dan justru menetapkan syarat perdamaiannya sendiri menurut media pemerintah, bahkan ketika Menteri Luar Negeri Iran mengatakan Teheran tidak berencana untuk bernegosiasi dengan AS.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pada hari Rabu bahwa Iran berniat untuk terus berperang, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington telah mengusulkan rencana perdamaian.

“Saat ini, kebijakan kami adalah melanjutkan perlawanan,” kata Araghchi di TV pemerintah.

“Kami tidak berniat untuk bernegosiasi. Sejauh ini, tidak ada negosiasi yang terjadi, dan saya yakin posisi kami sepenuhnya berprinsip,” tambahnya, sembari menyebut bahwa Iran mengirim pesan melalui mediator tetapi belum berbicara langsung dengan AS.

Namun, Araghchi menambahkan bahwa Iran menuntut penghentian perang secara permanen dan kompensasi atas kerusakan yang terjadi. Ia juga mengejek AS dengan mengatakan bahwa mereka gagal melindungi negara-negara Teluk meskipun memiliki pangkalan di wilayah tersebut.

Pernyataan ini muncul setelah sebuah laporan merinci tanggapan Iran terhadap proposal AS untuk mengakhiri perang.

“Iran telah merespons secara negatif” proposal Amerika tersebut, kata seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya kepada Press TV Iran pada hari Rabu, merujuk pada kesepakatan gencatan senjata 15 poin yang diluncurkan oleh pemerintahan Trump dan disampaikan ke Iran melalui Pakistan.

“Akhir dari perang akan terjadi ketika Iran memutuskan kapan itu harus berakhir, bukan ketika Trump membayangkan penyelesaiannya,” tambah pejabat Iran tersebut.

Teheran memiliki lima syarat untuk mengakhiri perang AS-Israel terhadap Iran, menurut Press TV.

Iran menginginkan penghentian total “agresi dan pembunuhan” oleh AS dan Israel, bersama dengan “mekanisme konkret” untuk memastikan AS tidak kembali menyerang.

Iran juga menginginkan ganti rugi perang dan pengakuan resmi atas “hak alami dan hukumnya” untuk mengendalikan aktivitas maritim di Selat Hormuz, jalur air sempit yang dilewati oleh 20 persen pasokan energi global.

Iran juga menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai harus mencakup kelompok-kelompok militer yang bersekutu dengan Teheran, yang kemungkinan berarti berakhirnya invasi Israel ke Lebanon, tempat Hizbullah berperang.

Bantahan Iran melalui media pemerintah muncul saat militer Republik Islam tersebut juga mengkarakterisasi proposal AS untuk mengakhiri perang sebagai langkah yang tidak sejalan dengan perkembangan di medan perang.

“Kata pertama dan terakhir kami selalu, sedang, dan akan tetap begini: seseorang seperti kami tidak akan pernah berdamai dengan seseorang seperti Anda—tidak sekarang, tidak selamanya,” kata markas pusat komando militer Iran dalam sebuah video pada hari Rabu.

“Jangan sebut kekalahanmu sebagai sebuah kesepakatan. Era janji-janjimu telah berakhir.” (middleeasteye)

***

Iran Gempur Pasukan Israel di Jalur Gaza, Komando Militer Terdampak

Tentara Israel di Gaza

25/03/2026 – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan operasi yang menargetkan pasukan Israel di Jalur Gaza, Palestina.

IRGC menyatakan gelombang serangan ke delapan True Promise 4 menargetkan aset militer Israel.

“Operasi-operasi ini adalah awal dari penargetan tempat-tempat berkumpulnya pasukan Zionis di Palestina utara dan Jalur Gaza,” demikian pernyataan IRGC dikutip Middle East Monitor, Rabu (25/3).

Dalam rilis itu, IRGC juga menyebut serangan tersebut menargetkan komando militer Israel di utara kota Safed.

“Titik-titik strategis dan pusat-pusat militer [Israel] terkena dampak,” lanjut mereka.

Timur Tengah membara usai Amerika Serikat dan Israel menggempur Iran habis-habisan pada 28 Februari dengan tujuan mengganti rezim dan menghancurkan nuklir mereka.

Serangan AS-Israel menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran kedua Ayatollah Ali Khamenei dan ribuan warga lain tewas.

Di hari pertama serangan, Iran langsung membalas. Mereka menargetkan Israel dan aset AS di negara-negara Teluk.

Meski dibombardir AS-Israel, kepemimpinan Iran tetap kuat. Presiden Donald Trump tak berhasil melengserkan pemerintahan, dia justru tampak putus asa dan frustrasi menghadapi serangan balasan Iran. (cnnindonesia)

***

Iran Syaratkan Penutupan Semua Pangkalan AS di Teluk untuk Gencatan Senjata

Menlu Iran Abbas Araghchi

25/03/2026 – Pihak Iran menegaskan tak ada negosiasi selama serangan AS-Israel terus berlanjut. Iran menuntut ganti rugi atas serangan terhadap Iran, pencabutan semua sanksi, dan penutupan semua pangkalan militer AS di Teluk Persia sebagai syarat untuk mengakhiri perang dengan AS dan Israel. Hal ini disampaikan menyusul isyarat dari Presiden AS Donald Trump yang ingin menghentikan peperangan yang ia mulai sejak Februari lalu.

Selain itu, Iran menginginkan jaminan bahwa perang tidak akan terjadi lagi, serta penghentian serangan Israel terhadap proksi Iran, Hizbullah, di Lebanon. Ini dilaporkan media AS Wall Street Journal, mengutip orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Tuntutan Iran juga dilaporkan mencakup pengaturan baru di Teluk yang memungkinkan Republik Islam memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz yang strategis, yang biasanya dilalui oleh seperlima minyak dunia.

Sementara itu, Iran menolak untuk menegosiasikan batasan program rudal balistiknya, menurut WSJ. Kondisi Iran yang disebutkan dalam laporan tersebut tidak membahas program nuklir negara tersebut.

Surat kabar tersebut mengutip seorang pejabat AS yang mengatakan bahwa tuntutan Iran sangat berat, dan para pejabat Arab dan AS mengatakan bahwa sikap Iran membuat kemungkinan tercapainya kesepakatan menjadi lebih kecil dibandingkan sebelum perang.

Sumber yang dikutip oleh WSJ mengatakan pesan antara Iran dan AS disampaikan secara tidak langsung melalui perantara Timur Tengah akhir pekan lalu. Channel 12 melaporkan tadi malam bahwa AS telah mengajukan 15 poin rencana untuk mengakhiri perang yang mencakup penghentian dukungan Iran terhadap proksi teror regional, pembatasan program rudal balistik, dan penghentian program nuklirnya. (republika)

***

Amerika Serikat Kirim 15 Poin Rencana Damai Kepada Iran

Donald Trump

25/03/2026 – Amerika Serikat telah mengirimkan rencana 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

Menurut dua pejabat yang diberi pengarahan tentang diplomasi tersebut, 15 poin itu mencerminkan keinginan pemerintahan Trump untuk menemukan jalan keluar dari konflik yang telah mengguncang perekonomian global.

Tidak jelas apakah Iran kemungkinan akan menerima rencana tersebut, yang dikirim melalui Pakistan, sebagai dasar negosiasi atau apakah Israel, yang telah membombardir Iran bersama Amerika Serikat selama hampir empat minggu, mendukungnya.

Presiden Trump, berbicara pada hari di mana Iran mengirimkan gelombang rudal di seluruh Timur Tengah, mengatakan pada hari Selasa bahwa

“Negosiasi untuk mengakhiri perang sedang berlangsung dan bahwa Iran ingin membuat kesepakatan,” ujar Trump pada Selasa 24 Maret 2026, seperti dikutip dari The New York Times, Rabu 25 Maret 2026.

Iran secara terbuka menyatakan bahwa tidak ada negosiasi yang terjadi. Tetapi berbicara kepada wartawan di Ruang Oval, Trump mengatakan bahwa negosiasi tidak hanya sedang berlangsung. Hal ini juga melibatkan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga menantunya, Jared Kushner, dan Steve Witkoff, salah satu penasihat seniornya. (metrotvnews)

***

Trump Klaim Perang Selesai, Ajak Iran Berunding 

Donald Trump

25/03/2026 – Presiden AS menyatakan tujuannya menyerang Iran sudah tercapai. Amerika Serikat (AS) akhirnya memilih jalur perundingan dengan Republik Islam Iran. Presiden Donald Trump dalam konfrensi persnya, Selasa (24/3/2026) waktu AS, mengatakan perang dengan Iran akan berakhir.

Trump mengeklaim kemenangan atas perang tersebut setelah meyakini apa yang menjadi misi dan tujuannya menginvansi Iran telah tercapai. Kata dia, perundingan dan negosiasi penghentian perang dengan pemimpin negara Para Mullah tersebut, pun sedang diupayakan.

“AS telah ‘menang’ di Iran,” kata Trump seperti dikutip dari Aljazirah, Rabu (25/3/2026) dini hari. “Saya pikir kita akan mengakhirinya,” sambung dia.

Namun begitu, kata Trump, dirinya juga tak dapat memberikan jaminan apakah proses perundingan dan negosiasi penghentian perang dengan Iran kali ini bakal menghasilkan satu kepastian yang benar-benar dapat menghentikan peperangan. “Saya tidak dapat memberi tahu Anda dengan pasti,” kata Trump.

Trump mengatakan, penghentian perang yang diinginkannya dengan Iran kali ini karena AS sudah mencapai tujuan awalnya. Trump mengatakan tujuan memerangi Iran untuk melakukan perubahan kepemimpinan di Teheran sudah berhasil.

Trump juga mengatakan, tujuan AS menginvansi Iran agar tak punya kesempatan melakukan pengayaan uranium untuk memproduksi persenjataan nuklir pun sudah tercapai. Karena itu, kata Trump sudah saatnya melakukan negosiasi dan perundingan.

“Kami sedang dalam tahap negosiasi saat ini,” kata Trump. Dalam konfrensi pers tersebut, Trump menyampaikan empat anggota tim negosiator AS yang akan berunding dengan Iran untuk penghentian perang.

Mereka di antaranya adalah Wakil Presiden AS JD Vance, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dan dua orang kepercayaannya termasuk menantunya, Steve Witkoff dan Jared Kushner. Dalam konfrensi pers tersebut, Trump tak ada membahas tentang partisipasi Israel dalam rencana perundingan dengan Iran. (republika)

***

Berperang dengan Iran, Tentara AS Runtuh Moral, ‘Kami tak Mau Mati untuk Israel’

Tentara Amerika

24/03/2026 – Banyak prajurit yang mempertimbangkan meninggalkan pengabdian militernya. Prajurit militer Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan moral drastis dalam menghadapi cemooh publik internasional atas kebijakan Presiden Donald Trump dalam perang bersama Zionis Israel terhadap Republik Islam Iran.

Dalam laporan Huffington Post dikatakan, para serdadu Paman Sam yang ditarik, maupun yang direncanakan untuk menjalani tugas dan penempatan di sejumlah negara-negara sekutu AS di wilayah di Timur Tengah (Timteng) mengalami tingkat stres dan frsutrasi atas kebijakan perang Trump saat ini.

Bahkan menurut laporan itu, banyak prajurit yang mempertimbangkan meninggalkan pengabdiannya di militer.

“Menurut wawancara dengan banyak prajurit aktif, prajurit cadangan, dan kelompok advokasi, banyak anggota militer mengalami setres berat atas tekanan publik di dalam maupun luar negeri yang mempertanyakan tujuan perang AS terhadap Iran. Para prajurit juga mengalami kerentanan atas rasa frustrasi di tengah meningkatnya perlawanan Iran atas agresi Amerika Serikat dan sekutunya Israel,” begitu dalam laporan Huff Post yang dikutip dari Palestines Chronicle, Selasa (24/3/2026). (republika)

***

2.501 Orang Meninggal di Iran dan Lebanon Selama 24 Hari Perang Iran – AS Israel 

Rudal Iran hantam Tel Aviv, Israel

23/03/2026 – Ledakan terus terdengar selama 24 hari di Iran, Israel, dan beberapa negara Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Israel mulai menyerang Iran pada 28 Februari. Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan serangan Iran terhadap situs energi setelah Israel menyerang ladang gas South Pars milik Iran, sebuah eskalasi yang menyebabkan harga minyak dan gas melonjak.

Teheran menanggapi serangan AS dan Israel dengan meluncurkan gelombang rudal dan pesawat tak berawak (drone) ke Israel dan ke arah beberapa pangkalan militer di Timur Tengah tempat pasukan AS beroperasi. Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa jika diserang, mereka akan membalas dengan menargetkan fasilitas militer AS di seluruh kawasan, yang dianggapnya sebagai target yang sah.

Negara Mana Saja yang Telah Diserang?

Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi pasukan AS di kawasan tersebut, mengatakan pada 16 Maret bahwa pasukan AS telah menyerang lebih dari 7.000 target di Iran sejak 28 Februari.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan telah meluncurkan serangan ke setidaknya 27 pangkalan di Timur Tengah tempat pasukan AS ditempatkan, serta fasilitas militer Israel di Tel Aviv dan bagian lain Israel. Sejauh ini, Iran telah meluncurkan serangan ke sembilan negara di kawasan tersebut: Bahrain, Irak, Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan UEA. Sebuah drone Iran juga menghantam landasan pacu di pangkalan militer Inggris di Siprus. Sebagian besar serangan ini berhasil dicegat.

Berapa Banyak Orang yang Tewas atau Terluka?

Berikut adalah data korban terkonfirmasi di berbagai negara yang menjadi sasaran serangan per Senin pukul 09:00 GMT. Karena situasi yang berkembang cepat, semua angka dapat berubah seiring tersedianya informasi lebih lanjut.

  • Iran – Tewas: 1.500, Luka-luka: 18.551 Kementerian Kesehatan Iran menyatakan setidaknya 1.500 orang tewas dan 18.551 luka-luka akibat serangan AS-Israel.

    • Usia korban berkisar antara 8 bulan hingga 88 tahun.

    • 200 wanita termasuk di antara mereka yang tewas.

    • 168 anak-anak tewas di sebuah sekolah dasar anak perempuan di Minab.

    • 55 petugas kesehatan terluka dan 11 tewas (termasuk 4 dokter, 2 perawat, dan 3 petugas darurat).

  • Israel – Tewas: 18, Luka-luka: 3.730 Setidaknya 18 orang di Israel tewas dan lebih dari 3.730 lainnya terluka dalam serangan Iran. Kementerian Kesehatan Israel mendesak warga untuk segera menuju bunker perlindungan “dengan hati-hati”, mencatat adanya korban luka saat berlari menuju tempat perlindungan. Pada 1 Maret, serangan rudal balistik Iran di Beit Shemesh (Israel Tengah) menewaskan 9 orang.

  • Tentara AS – Tewas: 13, Luka-luka: 200 Militer AS mengonfirmasi 13 kematian akibat serangan Iran di seluruh kawasan. Selain itu, satu anggota layanan meninggal karena “insiden terkait kesehatan” di Kuwait. Pada 13 Maret, CENTCOM mengumumkan 6 awak pesawat tewas saat pesawat pengisi bahan bakar AS jatuh di Irak barat.

  • Bahrain – Tewas: 2, Luka-luka: Puluhan Rudal Iran berulang kali menargetkan markas besar Armada ke-5 Angkatan Laut AS di area Juffair. Seorang pekerja asal Asia tewas pada 2 Maret akibat serpihan rudal yang jatuh, dan seorang wanita berusia 29 tahun tewas di Manama pada 10 Maret saat sebuah gedung residensial terkena serangan.

  • Irak – Tewas: 61, Luka-luka: Puluhan Otoritas kesehatan Irak melaporkan 61 tewas, mayoritas adalah anggota kelompok paramiliter Popular Mobilisation Forces (PMF). Seorang perwira tinggi Prancis juga tewas dalam serangan di wilayah Erbil.

  • Yordania – Tewas: 0, Luka-luka: 28 Tidak ada kematian yang dilaporkan di Yordania sejauh ini.

  • Kuwait – Tewas: 6, Luka-luka: Puluhan Kementerian Pertahanan melaporkan jatuhnya beberapa pesawat tempur AS (awak selamat). Pada 4 Maret, seorang anak perempuan tewas terkena serpihan peluru. Dua petugas pemadam kebakaran juga tewas saat bertugas pada hari Minggu.

  • Lebanon – Tewas: 1.001, Luka-luka: 2.584 Sejak Israel memperbarui serangan luas ke Lebanon Senin lalu, 1.001 orang tewas (termasuk 118 anak-anak). Lebih dari satu juta orang terdaftar sebagai pengungsi.

  • Oman – Tewas: 3, Luka-luka: 15 Drone menargetkan Pelabuhan Duqm dan sebuah kapal tanker minyak berbendera Palau. Dua orang tewas setelah jatuhnya drone di Sohar.

  • Qatar – Tewas: 0, Luka-luka: 16 Dua rudal balistik menghantam pangkalan militer Al Udeid (tempat pasukan AS). Semua sekolah dipindahkan ke pembelajaran jarak jauh dan kegiatan publik Ramadan dihentikan sementara.

  • Arab Saudi – Tewas: 2, Luka-luka: 20 Dua orang tewas setelah proyektil jatuh di area pemukiman di Al Kharj.

  • Uni Emirat Arab (UEA) – Tewas: 8, Luka-luka: 160 Termasuk warga negara Pakistan, Nepal, dan Bangladesh. Dua tentara UEA juga tewas akibat helikopter jatuh karena kerusakan teknis.

Kehadiran Militer AS di Timur Tengah

AS telah mengoperasikan pangkalan militer di Timur Tengah selama beberapa dekade. Menurut Council on Foreign Relations, AS mengoperasikan jaringan situs militer di setidaknya 19 lokasi di kawasan tersebut.

  • Pangkalan Permanen: Tersebar di 8 negara (Bahrain, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan UEA).

  • Jumlah Pasukan: Hingga pertengahan 2025, terdapat sekitar 40.000 hingga 50.000 tentara AS di Timur Tengah.

  • Konsentrasi Terbesar: Qatar, Bahrain, Kuwait, UEA, dan Arab Saudi. Instalasi ini berfungsi sebagai pusat kritis untuk operasi udara/laut, logistik regional, pengumpulan intelijen, dan proyeksi kekuatan. (aljazeera)

***

Iran Bantah Kirim Rudal ke Pangkalan Inggris Diego Garcia 

Pangkalan Inggris Diego Garcia

Republik Islam Iran menyatakan tak bertanggung jawab atas serangan rudal ke pangkalan militer Diego Garcia milik Inggris yang berada di perairan Samudera Hindia. Aljazirah pada Ahad (22/3/2026) melaporkan, bukan militer Iran yang menembakkan rudal ke arah 4.000 Km dari wilayah Negara Para Mullah tersebut.

“Seorang pejabat senior Iran mengatakan, bahwa Iran menolak tanggung jawab atas serangan rudal di Diego Garcia, dan mengatakan Iran tidak berada di balik serangan rudal tersebut,” begitu laporan Aljazirah, Ahad (22/3/2026).

Pangkalan Militer Diego Garcia milik Inggris berada di sekitar 4.000 Km dari wilayah Iran. Pada Sabtu (21/3/2026), pangkalan militer yang berada di Kepulauan Changos di perairan Samudera Hindia itu dihantam rudal.

Wall Street Journal dalam laporannya mengatakan, serangan rudal itu berasal dari Iran. Namun, dua rudal yang menargetkan Pangkalan Diego Garcia itu berhasil dicegat dengan interseptor sehingga tak mengalami dampak langsung.

Serangan dua rudal jarak jauh ke Pangkalan Militer Diego Garcia itu terjadi setelah Inggris, pada Jumat (20/3/2026) mengumumkan pemberian izin bagi Amerika Serikat (AS) untuk menggunakan pangkalan militer itu dalam keperluan perang dengan Iran.

AS berkali-kali berusaha menyeret Inggris dan negara Eropa lainnya untuk bergabung dalam perangnya bersama Zionis Israel dengan Iran. Namun sejak agresi pertama Zionis-AS terhadap Iran terjadi pada Sabtu (28/3/2026), Inggris dan negara-negara Eropa, termasuk yang menjadi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menolak ajakan Presiden AS Donald Trump untuk terlibat dalam memerangi Iran.

Desakan AS semakin besar terhadap negara Eropa, setelah Iran melakukan blokade terhadap Selat Hormuz. Selat Hormuz mengikat kebutuhan energi bagi Eropa. Perairan tersebut merupakan akses 22 persen kebutuhan minyak fosil dan gas cair global.

Selat Hormuz juga merupakan lalu lintas pemasok utama kebutuhan energi ke Eropa. Karena itu, AS berkali-kali mengajak Eropa untuk ikut dengan Israel dalam memerangi Iran, dan membebaskan Selat Hormuz. Pada Jumat (20/3/2026), Inggris akhirnya memberikan izin bagi AS untuk menggunakan Pangkalan Militer Diego Garcia dalam rencana merebut Selat Hormuz.

Keputusan Inggris itu mendapat kecaman oleh masyarakatnya sendiri. Dan Iran, sejak awal sudah mengingatkan agar Inggris, pun negara-negara Eropa lainnya akan menyesal jika membantu Zionis-AS dalam peperangan kali ini.

Setelah Inggris membolehkan AS menggunakan pangkalan militernya di Samudera Hindia dua rudal jarak jauh menargetkan Pangkalan Militer Diego Garcia itu. (republika)

***

Iran Meluncurkan Rudal Balistik ke Pangkalan Militer Inggris di Diego Garcia yang Berjarak 4.000 Kilometer

Ilustrasi Serangan Iran

Iran meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer gabungan Amerika Serikat dan Inggris di Diego Garcia pada Jumat (20/3/2026), menunjukkan kemampuan jangkauan rudal yang melampaui perkiraan sebelumnya.

Pangkalan tersebut, sebuah landasan udara strategis yang dapat menampung pembom siluman B-2 dan berlokasi hampir 4.000 mil atau sekitar 6.400 kilometer dari Iran, tidak mengalami kerusakan, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut. Serangan ini menjadi kali pertama dalam perang yang telah berlangsung tiga minggu di mana Teheran dilaporkan menggunakan senjata dengan jangkauan lebih dari 2.000 mil.

Serangan pada Jumat terjadi beberapa jam sebelum pemerintah Perdana Menteri Keir Starmer memberikan izin kepada Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan Inggris, termasuk Diego Garcia, “untuk operasi defensif yang spesifik dan terbatas.” Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengkritik langkah tersebut.

Komando Pusat AS belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait serangan ini, yang pertama kali dilaporkan oleh Wall Street Journal. Tanpa menyebut Diego Garcia secara langsung, Kementerian Pertahanan Inggris mengecam “serangan ceroboh” Iran dan menyebutnya sebagai ancaman terhadap kepentingan Inggris serta sekutunya.

“Tidak ada seorang pun, benar-benar tidak ada, yang menduga Iran memiliki rudal dengan jangkauan seperti itu,” ujar William Alberque, peneliti senior di Pacific Forum yang berbasis di Eropa. “Ini berarti mereka kemungkinan menggunakan rudal yang dimodifikasi, mungkin sebuah prototipe,” yang mengindikasikan Teheran masih memiliki fasilitas penyimpanan atau bengkel untuk melakukan modifikasi tersebut.

Menurut Alberque, Iran mungkin mengurangi bobot dari rudal yang ada atau bahkan melepas hulu ledak untuk memperpanjang jangkauan. Ia juga menambahkan bahwa kemungkinan rudal tersebut merupakan desain modifikasi satu kali. (bloomberg technoz)

Inggris Akhirnya “Terlibat” di Perang Iran, Ikuti Kemauan AS 

Pangkalan Udara RAF Fairford

21/03/2026 – Pemerintah Inggris pada Jumat resmi memberikan otorisasi kepada Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militer di wilayahnya guna melancarkan serangan terhadap situs rudal Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz.

Keputusan tersebut diambil setelah para menteri Inggris menggelar pertemuan untuk membahas perkembangan perang dengan Iran serta dampak pemblokiran Selat Hormuz oleh Teheran, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan Downing Street.

“Mereka mengonfirmasi bahwa kesepakatan bagi AS untuk menggunakan pangkalan Inggris dalam pembelaan diri kolektif kawasan mencakup operasi defensif AS untuk melemahkan situs dan kemampuan rudal yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz,” demikian bunyi pernyataan tersebut, dilansir Reuters, Sabtu (21/3/2026).

Langkah ini menandai perubahan sikap Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang sebelumnya menyatakan tidak ingin menyeret Inggris ke dalam perang dengan Iran. Ia bahkan sempat menolak permintaan awal dari Washington untuk menggunakan pangkalan Inggris, dengan alasan perlu memastikan bahwa setiap tindakan militer memiliki dasar hukum yang jelas.

Namun posisi itu berubah setelah Iran melancarkan serangan terhadap sekutu Inggris di Timur Tengah. Starmer kemudian membuka akses bagi AS untuk menggunakan pangkalan RAF Fairford serta Diego Garcia, pangkalan gabungan AS-Inggris di Samudra Hindia.

Keputusan ini langsung menuai reaksi keras dari Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menuduh langkah Inggris membahayakan warganya sendiri.

Ia mengatakan Starmer “menempatkan nyawa warga Inggris dalam bahaya dengan mengizinkan pangkalan Inggris digunakan untuk agresi terhadap Iran,” serta menegaskan bahwa “Iran akan menggunakan haknya untuk membela diri.”

Di sisi lain, hubungan antara Washington dan London juga sempat memanas sejak konflik dimulai. Presiden Amerika Serikat Donald Trump beberapa kali melontarkan kritik terhadap Starmer, menilai Inggris tidak memberikan dukungan yang cukup.

Pada Senin lalu, Trump menyatakan ada “beberapa negara yang sangat mengecewakan saya” sebelum secara khusus menyebut Inggris, yang menurutnya dulu dianggap sebagai “Rolls-Royce dari para sekutu.”

Meski memberikan izin penggunaan pangkalan militer, pemerintah Inggris tetap menyerukan deeskalasi konflik. Dalam pernyataan resminya, Downing Street menegaskan perlunya “de-eskalasi yang mendesak dan penyelesaian perang secara cepat.”

Di dalam negeri Inggris sendiri, dukungan publik terhadap konflik ini tergolong rendah. Hasil jajak pendapat YouGov menunjukkan 59% responden menolak serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. (cnbcindonesia)

***

Gedung Putih Minta Tambahan Dana Militer Rp3.388 Triliun untuk Perang Iran 

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth

20/03/2026 – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dana tersebut dibutuhkan untuk mengisi kembali amunisi dan perlengkapan lain yang habis akibat konflik dan bantuan sebelumnya kepada negara lain.

“Ini adalah dunia yang sangat bergejolak,” kata Trump pada Kamis, seperti dikutip dari BBC, Jumat 20 Maret 2026.

“Kita ingin memiliki amunisi dalam jumlah besar, yang saat ini kita miliki – kita memiliki banyak amunisi, tetapi jumlahnya berkurang karena terlalu banyak bantuan yang diberikan kepada Ukraina,” ujar Trump.

Ditanya tentang tambahan miliaran dolar yang dibutuhkan untuk perang, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan kepada wartawan: “Dibutuhkan uang untuk membunuh orang jahat.”

Pentagon telah mengatakan kepada anggota parlemen bahwa perang tersebut menelan biaya USD11,3 miliar bagi AS hanya dalam minggu pertama. Konflik akan memasuki minggu keempat pada hari Sabtu.

Permintaan pendanaan tersebut muncul ketika sebuah jet tempur F-35 AS harus melakukan pendaratan darurat di pangkalan udara AS pada hari Kamis “setelah melakukan misi tempur di atas Iran”, kata seorang juru bicara Komando Pusat AS.

Pesawat jet tersebut mendarat dengan selamat dan pilot dalam kondisi stabil, kata juru bicara tersebut. Pesawat F-35 tersebut terkena tembakan yang diduga berasal dari Iran, menurut laporan media AS, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya.

Pentagon memperkirakan setiap jet semacam itu berharga hingga USD77 juta. “Insiden ini sedang diselidiki,” kata juru bicara Komando Pusat.

Pada konferensi pers Kamis, Hegseth mengatakan departemen pertahanan membutuhkan lebih banyak uang untuk “apa yang mungkin harus kita lakukan di masa depan”. (metrotvnews)

***

Kaget dengan Balasan Iran, Trump Dilaporkan Minta Berhenti Perang

Donald Trump

19/03/2026 – Harga migas langsung melonjak usai serangan balasan Iran. Serangan mendadak Israel ke ladang gas Pars Selatan milik Iran dibalas kontan ke fasilitas migas di negara-negara Teluk. Eskalasi berbahaya itu dikabarkan membuat Presiden AS Donald Trump mengiba minta serangan Iran dihentikan.

“Untuk ketiga kalinya hari ini, Washington mengirimkan pesan melalui negara di regional meminta perang dihentikan,” demikian dilaporkan akun media Iran Now pada Kamis.

Permintaan AS itu didampingi ancaman pembunuhan terhadap para petinggi Iran yang lebih lekas. “Iran menegaskan posisinya belum berubah. Tak ada gencatan senjata sebelum tujuan negara itu, yang disampaikan pejabatnya, tercapai.”

Perubahan sikap Trump atas berjalannya perang diiyakan Kanselir Jerman Friedrich Merz. Ia secara terbuka ⁠telah menyatakan terima kasih atas apa yang dia katakan sebagai sinyal baru-baru ini dari Donald Trump bahwa dia siap untuk mengakhiri serangan terhadap Iran.

“Saya sangat berterima kasih ‌bahwa presiden AS mengirimkan sinyal mengenai hal ini tadi malam bahwa dia siap untuk mengakhiri pertempuran,” kata Merz kepada ⁠wartawan menjelang pertemuan puncak ⁠Uni Eropa di Brussels.

Dia menambahkan bahwa Eropa siap membantu menstabilkan Timur Tengah setelah pertempuran berhenti. (republika)

***

Lebih dari 960 Warga Lebanon Tewas dalam Serangan Israel 

Ledakan di Lebanon

19/03/2026 – Jumlah korban jiwa akibat serangan Israel ke Lebanon yang dimulai sejak 2 Maret terus bertambah.

“Total korban meninggal antara 2 Maret hingga Rabu, 18 Maret, mencapai 968 orang, sementara 2.432 lainnya mengalami luka-luka,” menurut keterangan Kementerian Kesehatan Lebanon, seperti dikutip dari Anadolu, Kamis 19 Maret 2026.

Serangan ini terjadi setelah Hizbullah mulai menargetkan operasi militer pada 2 Maret, sebagai respons atas serangan yang dilakukan Israel ke wilayah Lebanon, meskipun sebelumnya kedua pihak sempat berada dalam gencatan senjata sejak November 2024.

Situasi ini juga semakin panas setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di Teheran.

Israel kemudian memperluas operasi militernya pada hari yang sama dengan meluncurkan serangan udara ke pinggiran selatan Beirut serta wilayah selatan dan timur Lebanon.

Pada 3 Maret, Israel juga memulai serangan darat terbatas ke wilayah selatan Lebanon, setelah sebelumnya melakukan operasi militer bersama Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari. (metrotvnews)

***

Perang Iran Hari ke-19, 1.444 Orang Meninggal dan 18.551 Terluka

Ali Larijani

Iran bersumpah akan membalas dendam setelah serangan Israel menewaskan kepala keamanan Ali Larijani dan komandan Basij Gholamreza Soleimani.

Teheran tengah berduka atas kehilangan dua tokoh penting: kepala keamanan Ali Larijani dan komandan pasukan Basij Gholamreza Soleimani, yang keduanya tewas dalam serangan Israel. Kematian mereka merupakan pukulan telak bagi kemapanan pemerintahan Iran.
Korban jiwa meningkat, setidaknya 1.444 orang tewas dan 18.551 luka-luka dalam serangan AS-Israel di Iran sejak 28 Februari, menurut Kementerian Kesehatan Iran. (aljazeera)

***

Iran Klaim Militer AS Alami 3.200 Korban Jiwa dalam Sepekan Perang 

Pangkalan militer AS Ain al-Asad di Irak

18/03/2026 – Otoritas intelijen Iran mengklaim telah melumpuhkan kekuatan militer Amerika Serikat (AS) secara signifikan dalam tujuh hari pertama peperangan yang pecah sejak 28 Februari 2026.

Laporan yang dirilis media resmi Press TV menyebutkan bahwa pasukan AS menderita ribuan korban jiwa serta kehilangan ratusan alutsista udara yang sangat vital.

Seorang pejabat senior intelijen Iran menyatakan bahwa berdasarkan penilaian komprehensif, sedikitnya 200 personel militer AS tewas dan lebih dari 3.000 lainnya luka-luka.

“Kehilangan ini merupakan dampak langsung dari operasi balasan militer Iran yang dilakukan secara beruntun,” ujar pejabat tersebut kepada Press TV, seperti dikutip Rabu,18 Maret 2026.

Laporan intelijen tersebut merinci kerugian material yang dialami pihak Washington. Sebanyak 23 sistem pertahanan udara Patriot dan 150 platform peluncur rudal diklaim telah hancur.

Sebanyak 37 pesawat dan helikopter militer AS dilaporkan berhasil dilumpuhkan. Iran mengeklaim bahwa 43 persen dari total persediaan senjata AS di kawasan tersebut telah musnah akibat serangan presisi.

Pihak Teheran juga menyoroti terjadinya penipisan stok rudal pertahanan udara yang kritis, baik pada militer Amerika Serikat maupun rezim Israel.

Situasi ini digambarkan sebagai perkembangan sangat serius yang dapat melumpuhkan kemampuan defensif koalisi AS-Israel dalam menghadapi gelombang serangan udara berikutnya.

Hingga saat ini, pejabat di Washington dan Tel Aviv masih menutup rapat informasi mengenai skala kerusakan yang diderita. Namun, sejumlah analis independen memperkirakan kerugian materi akibat kehancuran radar dan sistem pertahanan tersebut mencapai puluhan miliar dolar AS.

Eskalasi besar ini dipicu oleh pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, dalam serangan udara pada akhir Februari lalu. Selain target militer, Iran juga menyoroti serangan koalisi yang menghantam sekolah dasar di Iran Selatan dan menewaskan hampir 170 siswa.

Sebagai balasan, angkatan bersenjata Iran telah melancarkan 58 gelombang serangan dalam kerangka Operation True Promise 4. Serangan ini menyasar pangkalan militer AS di seluruh kawasan Timur Tengah serta situs militer Israel di wilayah pendudukan.

Laporan tersebut juga mengindikasikan bahwa Tel Aviv kini terus mendesak bantuan militer tambahan dari Washington, sementara AS berupaya membujuk sekutu regionalnya untuk segera terlibat dalam membantu pengamanan kawasan. (metrotvnews)

***

Direktur Kontraterorisme AS Mundur: Iran tidak Mengancam hingga tak Sesuai Hati Nurani

Joseph Kent

Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional Amerika Serikat, Joseph Kent, mengundurkan diri dari jabatannya pada Selasa (17/3/2026). Langkah itu diambil Kent sebagai bentuk protes atas perang yang dimulai AS dan Israel terhadap Iran.

“Saya tidak dapat dengan hati nurani yang baik mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran,” kata Kent dalam surat pengunduran dirinya kepada Presiden AS Donald Trump, dikutip laman Al Arabiya.

“Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi negara kita, dan jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan lobi Amerika yang kuat,” tambah Kent dalam suratnya. (republika)

***

Perang 18 Hari, Warga Iran Meninggal 1.444 Orang 

Korban Perang Iran

AS dan Israel terus melancarkan serangan di berbagai kota di Iran seiring meluasnya konflik ke wilayah regional dan menyebabkan krisis energi global.

Setidaknya 1.444 orang telah tewas dan 18.551 lainnya luka-luka akibat serangan AS-Israel di Iran sejak 28 Februari. (aljazeera) 

***

Garda Revolusi Iran Tantang Trump Adu Kekuatan Angkatan Laut di Selat Hormuz

Kapal Thailand di Selat Hormuz Iran

16/03/2026 – Presiden Donald Trump telah memperingatkan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Eropa tentang masa depan yang sangat buruk jika mereka menolak permohonan Washington untuk membantu mengamankan Selat Hormuz.

Teheran sebelumnya bersikeras bahwa jalur energi maritim yang penting itu tetap terbuka untuk semua orang – kecuali negara-negara ‘bermusuhan.

“Sangatlah tepat jika pihak-pihak yang diuntungkan dari Selat tersebut membantu memastikan tidak terjadi hal buruk di sana,” kata Trump, seraya berpendapat bahwa Eropa dan Tiongkok sangat bergantung pada minyak dari Teluk, tidak seperti AS.

“Jika tidak ada tanggapan atau jika tanggapannya negatif, saya pikir itu akan sangat buruk bagi masa depan NATO,” katanya.

Merespons hal tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menantang Trump untuk mengirimkan kapal perang AS untuk mendukung klaimnya yang berulang kali bahwa angkatan laut Iran pada dasarnya telah hancur.

“Bukankah Trump mengatakan bahwa angkatan laut Iran telah dihancurkan? Jika demikian, biarkan dia mengirimkan kapalnya ke Teluk Persia jika dia berani,” kata seorang juru bicara IRGC.

Sejumlah negara sekutu Trump telah menyatakan menolak untuk bergabung dalam perang melawan Iran, termasuk mengirim kapal tempur ke Selat Hormuz.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan kepada parlemen bahwa Tokyo tidak berencana untuk mengirimkan kapal angkatan laut untuk mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz.

“Kami belum membuat keputusan apa pun tentang pengiriman kapal pengawal. Kami terus meneliti apa yang dapat dilakukan Jepang secara mandiri dan apa yang dapat dilakukan dalam kerangka hukum,” kata Takaichi.

Australia juga tidak akan mengirim kapal ke Selat Hormuz meskipun ada seruan dari Presiden AS Donald Trump agar sekutu membantu mengamankan jalur air penting tersebut, kata menteri transportasi negara itu pada Senin.

Menteri Transportasi Catherine King mengatakan kepada ABC bahwa Australia tidak diminta untuk mengerahkan kapal. Sebagai gantinya, Australia, akan berkontribusi dengan menyediakan pesawat untuk membantu upaya pertahanan di Uni Emirat Arab.

“Yah, kami sudah sangat jelas tentang kontribusi kami terkait permintaan tersebut, dan sejauh ini, itu untuk UEA – jelas menyediakan pesawat untuk membantu pertahanan, terutama mengingat jumlah warga Australia yang berada di daerah itu – tetapi kami tidak akan mengirim kapal ke Selat Hormuz,” katanya. (republika)

***

Perang Iran: Ini yang Terjadi pada Hari ke-16 Serangan AS-Israel 

Ledakan di UAE

Serangan Israel dan AS di Isfahan menewaskan 15 orang saat Teheran melancarkan serangan balasan ke Israel dan negara-negara Teluk.

Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke kota Isfahan, Iran, pada Minggu dini hari, menewaskan sedikitnya 15 orang, seiring konflik memasuki hari ke-16.

Sirine meraung-raung di Israel tengah pada hari Minggu saat Iran meluncurkan beberapa gelombang rudal dalam serangan balasan. Teheran juga melanjutkan serangannya di negara-negara Teluk.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa Teheran “ingin membuat kesepakatan,” sembari menyerukan pembentukan koalisi angkatan laut untuk membantu menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.

Berikut adalah rincian peristiwa yang terjadi dalam 24 jam terakhir:

Di Iran

  • Serangan Area Residensial: Wilayah pemukiman di Shiraz, ibu kota provinsi Fars, diserang. Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa “rezim kriminal Zionis-Amerika menyerang area pemukiman dan kurang mampu di kota Shiraz dalam aksi teroris dan anti-kemanusiaan.”

  • Korban di Isfahan: Serangan di kota industri Isfahan di Iran tengah menewaskan 15 orang dan melukai beberapa lainnya.

  • Penangkapan Mata-mata: 20 orang ditangkap di barat laut Iran karena mencoba bekerja sama dengan Israel. Mereka dituduh mengirimkan rincian lokasi aset militer dan keamanan Iran ke pihak Israel.

  • Gelombang Serangan ke-50 IRGC: Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan telah meluncurkan “gelombang ke-50” operasi terhadap pangkalan AS di wilayah tersebut, termasuk di Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Kuwait.

  • Serangan Kharg: Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengatakan AS menggunakan rudal jelajah yang diluncurkan dari UEA, dekat Dubai. Ia memperingatkan bahwa Teheran bisa membalas dan hal ini akan berbahaya bagi kawasan.

  • Pemimpin Tertinggi Baru: Araghchi menyatakan “tidak ada masalah” dengan pemimpin tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei, setelah pejabat AS mengklaim sebelumnya bahwa ia terluka dan “kemungkinan cacat wajah”.

  • Kerusakan Properti: Gubernur Teheran melaporkan sedikitnya 10.000 rumah tinggal rusak atau hancur total akibat serangan AS-Israel. Lebih dari 1.400 orang tewas sejak perang dimulai pada 28 Februari.

  • Kematian Tokoh Militer: Iran mengonfirmasi tewasnya Brigadir Jenderal Abdullah Jalali Nasab. Ini menambah daftar panjang petinggi militer yang gugur, termasuk Abdolrahim Mousavi (Kepala Staf Angkatan Bersenjata) dan Aziz Nasirzadeh (Menteri Pertahanan).

Di Negara-Negara Teluk

  • Arab Saudi: Kementerian Pertahanan mencegat empat drone di wilayah Riyadh. Setidaknya dua orang tewas dan 12 terluka sejak Iran memulai serangan balasan.

  • UEA: IRGC meluncurkan 10 rudal dan beberapa drone terhadap pasukan AS di pangkalan udara al-Dhafra. Abu Dhabi menuduh Iran mengalami “kebangkrutan moral” atas klaim bahwa serangan AS ke Pulau Kharg berasal dari wilayah UEA.

  • Bahrain & Kuwait: Sirine diaktifkan di Bahrain dan enam orang ditangkap karena menyebarkan misinformasi. Di Kuwait, dua rudal menghantam perimeter pangkalan udara Ahmad al-Jaber, melukai tiga tentara.

  • Qatar: Berhasil mencegat empat rudal balistik dan drone yang diluncurkan dari Iran pada hari Sabtu.

Di Amerika Serikat

  • Pernyataan Trump: Dalam wawancara dengan NBC News, Trump mengatakan Iran ingin bernegosiasi, namun ia belum siap karena “syaratnya belum cukup baik.” Ia juga menyatakan serangan AS telah “menghancurkan total” Pulau Kharg dan berseloroh mungkin akan menyerangnya lagi “sekadar untuk bersenang-senang.”

  • Keamanan Selat Hormuz: Trump meminta sekutu dan negara pengimpor minyak (termasuk China) untuk mengirim kapal perang guna mengawal kapal tanker. Jepang merespons bahwa ambang batas untuk tindakan tersebut “terlalu tinggi.”

  • Kebebasan Media: Pemerintahan Trump memperingatkan outlet berita bahwa izin siar mereka bisa dicabut jika melaporkan kritik terhadap perang melawan Iran.

  • Opini Publik: Jajak pendapat Universitas Quinnipiac menunjukkan 53% pemilih AS menentang serangan tersebut, dan hampir tiga perempat responden tidak mendukung pengerahan pasukan darat ke Iran.

Di Israel & Lebanon

  • Kondisi Israel: Kementerian Kesehatan Israel melaporkan 108 orang terluka dalam 24 jam terakhir. Israel dikabarkan mulai kehabisan pencegat rudal balistik (interceptor) seiring memanasnya konflik.

  • Lebanon: Hizbullah bertempur untuk menghentikan kemajuan militer Israel di Lebanon selatan. Serangan Israel di Lebanon telah menewaskan 826 orang dan memaksa lebih dari 800.000 orang mengungsi sejak 28 Februari. WHO melaporkan 14 petugas kesehatan tewas dalam satu hari terakhir.

Irak & Yordania

  • Kedutaan Besar AS di Baghdad mendesak seluruh warga negara AS untuk segera meninggalkan Irak karena ancaman dari kelompok milisi yang beraliansi dengan Iran.

  • Militer Yordania menyatakan telah mencegat 79 dari 85 rudal dan drone yang diluncurkan Iran yang menargetkan “situs-situs vital” di kerajaan tersebut. (aljazeera)

***

Serangan Udara Hantam Kota Isfahan Iran, Ledakan Terdengar di Berbagai Lokasi

Ledakan di Iran

15/03/2026 – Serangan udara berskala besar dilaporkan terjadi di kota Isfahan, Iran pada Minggu dini hari dengan sejumlah ledakan terdengar di berbagai wilayah kota tersebut.

Media Iran melaporkan bahwa ledakan terjadi di beberapa titik di kota yang terletak di wilayah tengah negara itu.

Dilansir dari Anadolu Agency, Minggu, 15 Maret 2026, rekaman video yang beredar di media sosial juga menunjukkan sebuah pesawat jet tempur terbang rendah di atas Isfahan.

Sementara video lain memperlihatkan gumpalan asap tebal membumbung dari sejumlah lokasi di kota tersebut, menurut laporan Iran International.

Ledakan di Beberapa Wilayah
Laporan awal menyebutkan sebagian besar ledakan terjadi di bagian utara dan selatan kota Isfahan. Belum ada keterangan resmi mengenai target serangan maupun jumlah korban yang mungkin timbul akibat serangan tersebut.

Serangan tersebut terjadi di tengah konflik yang terus berlangsung antara Iran di satu sisi serta Amerika Serikat dan Israel di sisi lain.

Sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, kedua pihak terus terlibat dalam aksi saling serang yang meluas ke berbagai wilayah di kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, ledakan kencang juga terdengar di wilayah Tepi Barat di tengah rentetan rudal yang diluncurkan dari Iran ke arah Israel. (metrotvnews)

***

Trump Kini Mengemis Bantuan Negara Lain Amankan Selat Hormuz

Presiden AS, Donald Trump

15/03/2026 – Sesumbar Presiden AS Donald Trump bahwa militer negaranya bisa melindungi kapal-kapal di Selat Hormuz dari blokade Iran ternyata isapan jempol semata. Ia kini kian gencar meminta negara lain ikut mengamankan jalur penting pasokan minyak dunia itu.

Presiden AS telah mengeluarkan pernyataan baru di Truth Social berdasarkan komentarnya sebelumnya tentang “banyak negara” yang mengirimkan kapal perang untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Patut dicatat bahwa aksi Iran membatasi pergerakan di Selat Hormuz adalah balasan atas serangan ilegal AS-Israel.

“Negara-negara di dunia yang menerima Minyak melalui Selat Hormuz harus mengurus jalur tersebut, dan kami akan banyak membantu!” dia menulis.

“AS juga akan berkoordinasi dengan negara-negara tersebut sehingga semuanya berjalan dengan cepat, lancar, dan baik. Hal ini seharusnya selalu menjadi upaya tim. Ini akan menyatukan Dunia menuju Harmoni, Keamanan, dan Perdamaian Abadi!” (republika)

***

1.444 Orang Meninggal dan 17.000 Orang Terluka di Iran Akibat Agresi Israel Amerika 

Ledakan di Lebanon akibat serangan Israel

Angka sementara menunjukkan 1.444 meninggal di Iran, setidaknya 15 di Israel, 11 tentara AS, dan 19 orang meninggal di negara-negara Teluk.

Ledakan terus terdengar selama empat belas hari di Iran, Israel, dan beberapa negara Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Israel mulai menyerang Iran pada 28 Februari. Teheran membalas dengan meluncurkan gelombang rudal dan pesawat tak berawak (drone) ke Israel dan ke arah beberapa pangkalan militer di Timur Tengah tempat pasukan AS beroperasi.

Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa jika diserang, mereka akan membalas dengan menargetkan fasilitas militer AS di seluruh kawasan, yang mereka anggap sebagai target sah.

Negara Mana Saja yang Telah Diserang?

Pasukan AS telah menyerang lebih dari 5.000 target di Iran sejak Sabtu, menurut Komando Pusat AS (CENTCOM) pada 10 Maret.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan telah meluncurkan serangan ke setidaknya 27 pangkalan di Timur Tengah tempat pasukan AS ditempatkan, serta fasilitas militer Israel di Tel Aviv dan bagian lain Israel. Sejauh ini, Iran telah meluncurkan serangan melintasi sembilan negara di kawasan tersebut: Bahrain, Irak, Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Sebuah drone Iran juga menghantam landasan pacu di pangkalan militer Inggris di Siprus. Sebagian besar serangan ini berhasil dicegat.

Berapa Banyak Orang yang Tewas atau Terluka?

Berikut adalah korban yang dikonfirmasi di 12 negara yang menjadi sasaran serangan hingga Jumat pukul 11:45 GMT. Karena situasi yang berkembang cepat, angka-angka ini dapat berubah sewaktu-waktu.

  • Iran – Tewas: 1.444, Luka-luka: 17.000 Kementerian Kesehatan Iran menyatakan setidaknya 1.444 orang tewas dan 18.551 terluka akibat serangan AS-Israel sejak 28 Februari.

  • Israel – Tewas: 15, Luka-luka: +2.000 Setidaknya 15 warga Israel tewas dan lebih dari 2.000 lainnya terluka. Pemerintah mendesak warga untuk segera ke bunker perlindungan “dengan hati-hati”, mencatat bahwa banyak orang terluka saat berlari menuju tempat perlindungan. Pada 1 Maret, serangan rudal balistik Iran di Beit Shemesh menewaskan sembilan orang.

  • Tentara AS – Tewas: 11, Luka-luka: 140-150 Militer AS mengonfirmasi 11 kematian. Satu anggota layanan meninggal karena “insiden terkait kesehatan” di Kuwait. Pada 13 Maret, sebuah pesawat pengisi bahan bakar AS jatuh di Irak barat, menewaskan empat dari enam awak kapal.

  • Bahrain – Tewas: 2, Luka-luka: Puluhan Markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Juffair menjadi target beberapa kali. Seorang pekerja asing tewas pada 2 Maret akibat serpihan rudal, dan seorang wanita berusia 29 tahun tewas pada 10 Maret ketika sebuah bangunan tempat tinggal di Manama terkena serangan.

  • Irak – Tewas: 27, Luka-luka: Puluhan Korban tewas termasuk 21 pejuang faksi bersenjata pro-Iran, tiga pejuang Kurdi Iran, seorang penjaga bandara Erbil, dan seorang warga sipil dekat Baghdad. Seorang perwira Prancis juga tewas dalam serangan di wilayah Erbil.

  • Yordania – Tewas: 0, Luka-luka: 14 Yordania menjadi sasaran 119 rudal dan drone Iran yang melukai 14 orang.

  • Kuwait – Tewas: 6, Luka-luka: Puluhan Seorang anak perempuan tewas akibat serpihan peluru pada 4 Maret. Dua petugas pemadam kebakaran juga dilaporkan tewas saat bertugas pada hari Minggu.

  • Lebanon – Tewas: 687, Luka-luka: 1.774 Sejak Israel memperbarui serangan luas ke Lebanon Senin lalu, 687 orang tewas (termasuk 98 anak-anak). Sebanyak 750.000 orang terdaftar sebagai pengungsi.

  • Oman – Tewas: 3, Luka-luka: 5 Dua drone menargetkan pelabuhan Duqm, dan sebuah kapal tanker minyak berbendera Palau diserang di lepas pantai Musandam.

  • Qatar – Tewas: 0, Luka-luka: 16 Dua rudal balistik menghantam pangkalan militer Al Udeid (pos pasukan AS). Semua sekolah dialihkan ke pembelajaran jarak jauh dan acara publik Ramadhan ditangguhkan.

  • Arab Saudi – Tewas: 2, Luka-luka: 12 Dua orang tewas di Al Kharj setelah sebuah proyektil jatuh di kawasan pemukiman.

  • Uni Emirat Arab – Tewas: 6, Luka-luka: 131 Enam orang tewas, termasuk warga negara Pakistan, Nepal, dan Bangladesh. Dua personel militer UEA juga tewas dalam kecelakaan helikopter karena kerusakan teknis.

Kehadiran Militer AS di Timur Tengah

AS mengoperasikan jaringan luas situs militer di setidaknya 19 lokasi di wilayah tersebut. Delapan di antaranya adalah pangkalan permanen di Bahrain, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan UEA. Hingga pertengahan 2025, terdapat sekitar 40.000 hingga 50.000 tentara AS yang ditempatkan di Timur Tengah. (aljazeera)

***

Media Iran Tegaskan Tak Ada Kerusakan Usai AS Klaim Serang Pulau Kharg 

Pulau Kharg Iran

14/03/2026 – Media lokal Iran, Fars melaporkan bahwa tidak ada infrastruktur minyak yang mengalami kerusakan akibat serangan Amerika Serikat di Pulau Kharg, Sabtu (14/3/2026).

Pulau tersebut merupakan pusat ekspor minyak mentah utama Teheran yang terletak di kawasan Teluk.

“Operasi AS tersebut berupaya merusak pertahanan militer, pangkalan angkatan laut Joshan, menara kontrol bandara, dan hanggar helikopter milik Perusahaan Minyak Landas Kontinental Iran,” bunyi laporan Fars.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengeklaim militer AS telah melancarkan serangan ke pulau pusat energi Iran itu.

Pulau Kharg memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi Teheran, karena menjadi titik keberangkatan bagi sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran.

Pengeboman paling kuat dalam sejarah
Melalui unggahan di media sosial, Donald Trump mengeklaim, Komando Pusat AS (Centcom) telah melaksanakan salah satu operasi pengeboman paling kuat yang pernah terjadi di sejarah Timur Tengah.

“Komando Pusat kita telah melaksanakan salah satu serangan bom paling kuat dalam sejarah Timur Tengah, dan sepenuhnya memusnahkan setiap target militer di permata mahkota Iran, Pulau Kharg,” tulis Trump.

Meski demikian, Trump mengaku saat ini masih menahan diri untuk tidak menghancurkan fasilitas produksi minyak yang menjadi tumpuan ekonomi Iran.

Namun, ia menegaskan bahwa keputusan tersebut bisa berubah sewaktu-waktu tergantung situasi di lapangan.

“Saya telah memilih untuk tidak menyapu bersih infrastruktur minyak di pulau tersebut,” ujarnya.

“Namun, jika Iran, atau siapa pun, melakukan apa pun untuk mengganggu lalu lintas kapal yang bebas dan aman melalui Selat Hormuz, saya akan segera mempertimbangkannya kembali,” sambungnya. (kompas)

***

Perang Iran: Apa yang terjadi pada hari ke-14 serangan AS-Israel?

Pesawat KC-135 Stratotanker

13/03/2026 – Serangan hebat Israel telah menghantam Teheran, Iran, sementara sekutu-sekutunya meluncurkan serangan di seluruh negara Teluk, dan pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu parah, menyebabkan harga minyak global melonjak tajam.

Sementara itu, tekanan politik meningkat di Washington seiring meluasnya konflik ke seluruh wilayah tersebut.

Berikut adalah apa yang kita ketahui tentang apa yang terjadi dalam 24 jam terakhir:

Di Iran

  • Pemimpin Tertinggi angkat bicara: Diangkat minggu lalu setelah pembunuhan ayahnya, Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, telah mengeluarkan pernyataan pertamanya, memperingatkan bahwa serangan terhadap aset militer dan infrastruktur Israel serta AS di Timur Tengah akan berlanjut kecuali pangkalan yang menampung pasukan AS di wilayah tersebut ditutup.

  • Serangan hebat di Teheran: Militer Israel telah meluncurkan “gelombang luas” serangan udara baru di ibu kota Iran, Teheran, yang meninggalkan kota tersebut tertutup asap tebal pada Jumat pagi.

  • Penutupan Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak: Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk dengan Teluk Oman, ditutup, menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak melewati $100 per barel. Selat tersebut, yang masuk dalam wilayah perairan Iran dan Oman, adalah satu-satunya jalur air ke laut lepas yang tersedia bagi produsen minyak dan gas di Teluk. Iran menyatakan bahwa selat tersebut berada di bawah kendali Iran dan kapal-kapal yang terkait dengan AS dan Israel dilarang melintas. Kapal lain harus menerima izin dari Iran untuk lewat.

  • Korban sipil: Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengatakan setidaknya 1.348 warga sipil tewas, dengan korban berkisar dari usia delapan bulan hingga 88 tahun.

Di Negara-Negara Teluk

  • Pembalasan regional dan serangan: Iran telah meluncurkan gelombang drone dan rudal ke negara-negara Teluk yang menampung aset dan pasukan militer AS, serta menargetkan kapal tanker dan fasilitas minyak.

  • Bahrain: Negara ini melaporkan telah mencegat 114 rudal dan 190 drone sejak perang dimulai pada 28 Februari.

  • Arab Saudi: Negara ini mencegat 10 drone di wilayah timurnya dan kemudian menghancurkan tambahan 28 drone yang melanggar wilayah udaranya.

  • Serangan terhadap UEA: Uni Emirat Arab mengecam keras serangan Iran di wilayah tersebut, dan mengatakan serangan itu telah menghantam Bandara Internasional Dubai dan beberapa hotel.

  • Evakuasi: Australia telah memerintahkan semua pejabat “non-esensial” untuk meninggalkan Uni Emirat Arab dan Israel, serta mendesak warga negaranya untuk mengevakuasi diri dari Timur Tengah selagi masih aman.

  • Respons Qatar: Wilayah udara Qatar secara resmi ditutup, namun Qatar Airways telah menjadwalkan lebih dari 140 penerbangan khusus untuk membantu memulangkan penduduk dan warga negara yang terdampar. Qatar membantah keras klaim media Israel bahwa mereka sengaja menghentikan produksi gas alam cair (LNG) untuk memanipulasi harga energi AS; pejabat mengklarifikasi bahwa penghentian tersebut sebenarnya terpaksa dilakukan karena serangan drone Iran.

Di Amerika Serikat

  • Trump klaim perang bergerak ‘cepat’: Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa perang melawan Iran bergerak “sangat cepat”. “Ini berjalan sangat baik, militer kita tak tertandingi,” katanya di Gedung Putih.

  • Oposisi domestik: Lebih dari 250 organisasi AS telah menandatangani surat yang menyerukan Kongres untuk menghentikan pendanaan perang. Mereka berargumen bahwa $11,3 miliar yang dihabiskan dalam enam hari pertama konflik telah mengalihkan dana krusial dari kebutuhan domestik yang mendesak.

  • Tidak ada ‘kebutuhan’ pasukan darat di Iran: Senator AS Lindsey Graham meremehkan kemungkinan pengerahan pasukan AS ke Iran, namun menyarankan bahwa perang bisa berlanjut untuk beberapa waktu.

Di Israel

  • Gelombang rudal baru diluncurkan ke Israel: Militer Israel mengatakan pada Jumat pagi bahwa Iran telah menembakkan rentetan rudal baru ke arah Israel, dan menginstruksikan orang-orang di daerah terdampak untuk menuju ke tempat perlindungan.

  • Israel serang pasukan Basij: Militer Israel mengatakan telah menyerang pos pemeriksaan yang didirikan di Teheran oleh pasukan Basij dari Garda Revolusi Iran sebagai bagian dari upaya untuk merusak kendali pihak berwenang.

  • Perubahan rezim: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel dapat menciptakan kondisi untuk perubahan rezim, namun keputusan ada di tangan rakyat Iran untuk turun ke jalan.

Di Lebanon & Irak

  • Pesawat AS jatuh: Sebuah pesawat pengisi bahan bakar KC-135 milik AS jatuh di Irak barat. Sementara Perlawanan Islam di Irak mengklaim menembak jatuh pesawat tersebut, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pesawat itu jatuh di “wilayah udara ramah” dan bukan hasil dari tembakan musuh.

  • Penutupan pelabuhan Irak: Irak telah menutup operasional pelabuhannya setelah seorang awak kapal asal India tewas dalam serangan terhadap kapal tanker minyak milik AS di perairan Irak.

  • Enam tentara Prancis terluka: Serangan drone melukai enam tentara Prancis di Erbil, wilayah Kurdi otonom Irak.

  • Serangan mematikan di Lebanon Selatan: Pemboman Israel berlanjut di kota-kota dan desa-desa selatan. Sebuah serangan di desa Arki, dekat Sidon, menewaskan sembilan orang, termasuk lima anak-anak. Pejabat Lebanon melaporkan setidaknya 687 orang tewas di Lebanon sejak Senin lalu, dengan perkiraan 700.000 hingga 750.000 orang mengungsi. (aljazeera)

***

Teheran Dibayangi Hujan Asam Beracun Usai Serangan Udara AS-Israel

Asap membumbung di Teheran Iran

10/03/2026 – Awan hitam pekat menyelimuti ibu kota Iran setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menghancurkan sejumlah fasilitas minyak utama pada Selasa, 10 Maret 2026. Asap tebal masih membumbung tinggi dari kilang di wilayah Kohak, Shahran, dan Karaj yang dikonfirmasi oleh Kementerian Minyak Iran sebagai target utama serangan jet tempur.

Warga Teheran kini menghadapi ancaman serius berupa hujan asam beracun yang turun dalam bentuk cairan hitam berminyak. Bulan Sabit Merah Iran telah mengeluarkan peringatan darurat dan mengimbau seluruh warga agar tetap berada di dalam ruangan guna menghindari paparan zat kimia berbahaya tersebut.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengutuk keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai kejahatan terhadap lingkungan serta kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa kerusakan alam yang masif ini memiliki dampak jangka panjang yang setara dengan tindakan genosida.

“Perlu diingat bahwa kejahatan terhadap lingkungan bukanlah sesuatu yang abstrak. Ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, karena dampak dan konsekuensi dari kejahatan terhadap lingkungan seperti ini akan terus berlanjut hingga generasi-generasi mendatang,” tegas Esmaeil Baqaei.

Di lokasi kejadian, sejumlah truk tangki di fasilitas minyak Shahran dilaporkan hangus terbakar akibat hantaman rudal. Meskipun pihak Israel mengklaim serangan tersebut menyasar penyimpanan bahan bakar militer, para saksi mata menyebutkan bahwa serpihan rudal menghancurkan seluruh infrastruktur sipil yang ada di area tersebut.Tim pemadam kebakaran masih berupaya menjinakkan api di tengah kekhawatiran pencemaran air dan tanah yang semakin meluas. Dunia internasional kini memantau ketat eskalasi ini karena dampaknya mulai mengganggu stabilitas lingkungan dan ekonomi di kawasan Timur Tengah. (metrotvnews)

***

Iran Menyebut 1.255 Orang Tewas dalam Serangan AS-Israel, Sebagian Besar Warga Sipil 

Ledakan di Teheran Iran

09/03/2026 – Wakil Menteri Kesehatan Iran, Ali Jafarian, menyatakan bahwa serangan Amerika Serikat dan Israel di seluruh negaranya telah menewaskan dan melukai sebagian besar warga sipil. Pemboman terhadap fasilitas minyak juga menyebabkan asap beracun menyebar ke seluruh ibu kota, Teheran.

Berbicara kepada Al Jazeera pada hari Senin, Jafarian mengatakan setidaknya 1.255 orang telah tewas di Iran, termasuk 200 anak-anak dan 11 petugas kesehatan. Usia mereka berkisar antara delapan bulan hingga 88 tahun.

Iran: 1.255 Tewas, 12.000 Terluka dalam Sembilan Hari Serangan AS-Israel 

Menegaskan bahwa sebagian besar korban adalah warga sipil, Jafarian mengatakan: “Mereka sedang berada di rumah atau di tempat kerja mereka.”

Lebih dari 12.000 orang juga terluka, sebagian besar menderita luka bakar dan luka akibat tertimbun reruntuhan, tambahnya. Sejauh ini, 29 fasilitas klinis rusak dan 10 di antaranya terpaksa ditutup. Selain itu, 52 pusat kesehatan, 18 lokasi layanan darurat, dan 15 ambulans juga rusak atau hancur.

Jafarian memperingatkan adanya risiko kesehatan bagi penduduk setelah serangan udara Israel menghantam fasilitas minyak Iran pada Sabtu malam untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, menewaskan sedikitnya empat orang.

“Seluruh kota gelap hingga kemarin sore,” katanya kepada Al Jazeera, merujuk pada asap tebal yang menyelimuti langit Teheran.

Serangan tersebut memicu kebakaran besar saat menghantam gudang minyak Aghdasieh di timur laut Teheran, kilang Teheran di selatan, dan depot minyak Shahran di barat Teheran.

Israel menyatakan telah menyerang “sejumlah fasilitas penyimpanan bahan bakar di Teheran” yang digunakan “untuk mengoperasikan infrastruktur militer”.

Sang menteri memperingatkan bahwa hal ini dapat menyebabkan masalah pernapasan bagi mereka yang paling rentan, termasuk anak-anak dan lansia, serta menyarankan warga untuk tetap berada di dalam rumah dengan jendela tertutup. Ia juga mengatakan hujan asam akan mencemari tanah dan memberikan dampak lingkungan jangka panjang. (aljazeera)

***

AS Incar Minyak Iran, Senator Amerika: Kita akan Dapat Banyak Uang Jika Rezim Teheran Jatuh

Lendsey Graham

09/03/2026 – AS disebut akan mengendalikan hampir sepertiga minyak dunia jika jatuhkan rezim Iran.

Serangan AS ke Iran bukan sekadar persoalan klaim senjata nuklir yang tak jelas. AS ditengarai ingin menggulingkan pemerintahan Iran untuk mencuri minyak mentah Teheran.

Hal itu setidaknya tergambar dari pernyataan senator senior AS dari Republik, partai yang mendukung Donald Trump.

Menurut Lendsey Graham, AS akan mengendalikan hampir sepertiga minyak dunia dan meraih keuntungan rekor jika berhasil menggulingkan pemerintah Iran.

Graham menyampaikan komentar tersebut pada Ahad (8/3/2026) kepada Fox News ketika harga minyak global melonjak melewati $100 per barel.

Harga minyak itu digambarkan Presiden AS Donald Trump masih sangat kecil atas perang AS-Israel melawan Iran, yang diluncurkan pada 28 Februari.

Graham menggambarkan biaya serangan tersebut sebagai uang terbaik yang pernah dikeluarkan dengan alasan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, sesuatu yang telah dibantah Iran.

“Ketika rezim ini jatuh, kita akan memiliki Timur Tengah yang baru, kita akan menghasilkan banyak uang. Tidak ada yang akan mengancam Selat Hormuz lagi,” kata Graham, menambahkan bahwa AS akan memasang pemerintahan yang “ramah” di Teheran.

“Venezuela dan Iran memiliki 31% cadangan minyak dunia. Kita akan menjalin kemitraan dengan 31% cadangan yang diketahui. Ini adalah mimpi buruk bagi China. Ini adalah investasi yang baik.” (republika)

***

Mojtaba Khamenei Dipilih Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran

Mojtaba Khamenei

9/3/2026 – Mojtaba menggantikan posisi ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei yang syahid terbunuh.

Majelis Ahli pada Senin (9/3/2026), telah resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran yang baru. Mojtaba menggantikan posisi ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei yang syahid terbunuh dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) lalu. (republika)

Maklumat Lengkap Majelis Ahli Atas Terpilihnya Mojtaba Khamenei Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran

***

AS dan Israel Bahas Opsi Kirim Pasukan Khusus untuk Sita Uranium Iran

Fasilitas nuklir Bushehr milik Iran

Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan tengah membahas kemungkinan mengirim pasukan khusus ke Iran untuk menyita atau mengamankan stok uranium yang diperkaya tinggi pada tahap selanjutnya dari konflik yang sedang berlangsung.

Berdasarkan laporan portal Axios yang dikutip Antara pada Minggu, 8 Maret 2026, menyebutkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga telah menyatakan bahwa pasukan AS dapat dikirim ke Iran di masa depan untuk mengamankan uranium yang diperkaya milik negara tersebut.

Mengutip empat sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Axios melaporkan bahwa pemerintah AS telah mempertimbangkan beberapa opsi terkait penanganan material nuklir Iran.

Dua Opsi Penanganan Uranium
Seorang pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya mengatakan pemerintahan Trump telah membahas dua skenario utama. Opsi pertama adalah memindahkan seluruh uranium yang diperkaya keluar dari Iran.

Sementara opsi kedua adalah mengirim para ahli senjata nuklir ke Iran untuk menurunkan tingkat pengayaan uranium langsung di fasilitas nuklir negara tersebut.

Menurut laporan tersebut, misi tersebut kemungkinan juga akan melibatkan ilmuwan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

IAEA selama ini dikenal sebagai lembaga pengawas internasional yang memantau program nuklir negara-negara dunia untuk memastikan kepatuhan terhadap perjanjian nonproliferasi. (metrotvnews)

***

China Dilaporkan Mulai Bantu Iran, Rusia Berikan Citra Satelit dan Intelijen Penargetan

Ledakan di Tel Aviv Israel

08/03/2026 – China dilaporkan mulai beralih mendukung Iran dengan memberikan bantuan finansial, suku cadang pengganti, dan komponen terkait rudal. Mengutip tiga sumber yang mengetahui masalah itu, laporan tersebut menyebutkan Beijing sejauh ini menghindari keterlibatan langsung dalam konflik antara Iran dan AS-Israel, tetapi para pejabat AS memantau tanda-tanda bahwa posisi China mungkin berubah.

China adalah pembeli utama minyak mentah Iran dan secara terpisah telah mendesak Teheran untuk memastikan navigasi yang aman melalui Selat Hormuz bagi kapal komersial, sebut laporan itu. Seorang sumber intelijen mengatakan kepada CNN bahwa China sangat berhati-hati memberikan dukungan karena konflik tersebut bisa mengancam ketahanan energinya.

CNN juga melaporkan bahwa Rusia diduga telah berbagi citra satelit dan intelijen penargetan lainnya dengan Iran, termasuk data mengenai posisi dan pergerakan pasukan AS. Badan Intelijen Pusat (CIA) menolak mengomentari laporan tersebut.

Pekan lalu, enam tentara AS tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan drone Iran di Kuwait. Iran telah meluncurkan ribuan drone serang dan ratusan rudal ke fasilitas militer AS, kedutaan besar, dan sasaran sipil, sementara serangan AS dan Israel menghantam lebih dari 2.000 lokasi di Iran. (republika)

***

Asesmen Intelijen AS: Serangan Militer Skala Besar Pun tak akan Bisa Gulingkan Republik Islam Iran

Demonstrasi Pendukung Pemerintah Iran

08/03/2026 – Sebuah dokumen rahasia berisi laporan asesmen intelijen menyimpulkan bahwa serangan militer skala besar pun tak akan bisa menggulingkan Republik Islam Iran. Laporan yang didapat oleh Washington Post dilansir Al Mayadeen, pada Sabtu (7/3/2026) itu menyebutkan bahwa struktur ulama dan mliter di Iran sangat kokoh dan mampu mempertahankan sistem pemerintahan bahwa dalam kondisi tekanan hebat dari pihak luar.

Temuan ini terungkap di tengah pemerintahan Donald Trump yang mensinyalkan kemungkinan perang panjang dengan Iran, di mana beberapa pejabat menyatakan bahwa perang ” baru saja dimulai”. Menurut tiga orang yang mengetahui dokomen rahasia itu, kalangan intelijen AS meragukan tujuan Trump “membersihkan” kepemimpinan Iran dan menggantinya dengan pemimpin pilihannya.

Asesmen diketahui lengkap disusun oleh Dewan Intelijen Nasional (NIC) AS sepekan sebelum AS dan Israel melancarkan serangan. NIC menguji sejumlah skenario termasuk serangan terbatas pada pemimpin senior dan juga serangan yang lebih luas menyasar institusi pemerintahan dan kepemimpinan politik Iran.

Dari dua skenario itu, para analis intelijen menyimpulkan bahwa ulama Iran dan kepemimpinan militer akan pasti merespons pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei dengan mengaktivasi mekanisme konstitusional untuk memastikan keberlanjutan kekuasaan. Laporan itu juga mengasesmen bahwa oposisi yang terfragmentasi di Iran kemungkinan tidak bisa mengambil alih kontrol kekuasaan dalam kondisi sekarang. (republika)

***

Perang Hari Kedelapan, 1.332 Orang Meninggal di Iran 

Teheran Iran

Satu minggu setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan ke Iran, konflik terus meningkat di seluruh Timur Tengah.

Setidaknya 1.332 orang dilaporkan tewas dalam serangan AS-Israel saat gelombang pengeboman intensif baru menghantam ibu kota Iran pada Sabtu pagi dini hari.

Kondisi di Iran, Serangan Militer dan Meningkatnya Korban. Komando Pusat militer AS (CENTCOM) menyatakan telah menyerang lebih dari 3.000 target di Iran dan menghancurkan 43 kapal perang Iran sejak 28 Februari. Jumlah korban tewas di Iran kini telah meningkat menjadi sedikitnya 1.332 orang.

Tuntutan AS, Presiden AS Donald Trump menuntut “penyerahan diri tanpa syarat” dari Iran, dengan menyatakan bahwa tidak akan ada kesepakatan tanpa hal tersebut. (aljazeera)

***

Laporan Media AS: Intelijen Rusia Jadi Alasan Rudal dan Drone Iran Begitu Akurat Menghantam Target

Ledakan di Markas Amerika, Erbil Irak

Rudal dan drone Iran sangat akurat menghantam aset militer AS yang mereka targetkan.

Laporan Washington Post dilansir Anadolu pada Jumat (6/3/2026), mengungkap bahwa Rusia menyediakan informasi intelijen kepada Iran terkait titik-titik aset militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Itulah kenapa rudal dan drone Iran sejauh ini sangat akurat menghantam aset militer AS yang mereka targetkan.

Sumber anonim Washington Post menyebutkan bahwa Rusia menyediakan informasi sejak perang dimulai Sabtu pekan lalu, yakni lokasi aset militer AS, termasuk kapal-kapal dan jet tempur diparkir. “Itu terlihat seperti sebuah upaya (bantuan) yang cukup komprehensif,” ujar salah satu sumber.

Tujuan Rusia membantu Iran dengan informasi intelijen masih belum jelas. Sementara, sumber lain menyebut bahwa, kemampuan mandiri Iran untuk melacak angkatan bersenjata AS sudah dilemahkan kurang dari sepekan setelah perang pecah.

Adapun sumber lain menduga Rusia tersentuh dengan bantuan Iran dalam mendapatkan dan membagi informasi terkait Ukraina. “Saya pikir mereka sangat senang (dengan bantuan Iran) dan mencoba untuk mengembalikan bantuan,” kata sumber itu. (republika)

***

Update 24 Jam Terakhir Perang Iran vs Israel Amerika 

Rudal Khorramshahr Iran Generasi ke-4

Setelah enam hari serangan AS-Israel terhadap Iran, konflik semakin memanas seiring meningkatnya ketegangan regional.

Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memasuki hari ketujuh, dengan serangan yang terus berlanjut di seluruh Iran dan negara-negara lain di Timur Tengah.

Iran terus melanjutkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) di sepanjang Teluk, sementara Washington dan Tel Aviv mengklaim bahwa kampanye mereka — yang diberi sandi Operasi Epic Fury — tengah melumpuhkan militer Iran.

Estimasi yang dirilis oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada hari Kamis menaksir biaya 100 jam pertama Operasi Epic Fury mencapai $3,7 miliar, atau sekitar $891 juta per hari. Sebagian besar dari biaya ini — sebesar $3,5 miliar — belum dianggarkan, lapor CSIS.

Peristiwa dalam 24 jam terakhir:

Di Iran

  • Kampanye militer AS dan Israel yang sedang berlangsung: AS dan Israel melanjutkan serangan militer mereka ke Iran, menandai hari ketujuh konflik tersebut. Setidaknya 1.332 orang telah tewas di Iran sejak serangan dimulai pada hari Sabtu.

  • Militer Israel mengklaim telah mencapai “keunggulan udara yang hampir mutlak”, menyatakan bahwa mereka telah melakukan 2.500 serangan dan menghancurkan 80 persen sistem pertahanan udara Iran.

  • Menargetkan Iran bagian barat: Israel mengklaim telah menyerang lebih dari 400 target di Iran barat pada hari Jumat saja, menghancurkan peluncur rudal balistik dan fasilitas penyimpanan drone.

  • Rudal ditembakkan ke Israel: Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan dimulainya gelombang serangan ke-23, dan militer Israel mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan mereka mencegat rudal yang diluncurkan dari Iran.

  • Suksesi kepemimpinan dan campur tangan AS: Pasca tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel di Teheran pada hari Sabtu, pertanyaan mengenai suksesinya masih bergulir, dengan laporan yang beredar bahwa putranya, Mojtaba Khamenei, kemungkinan akan mengambil alih kekuasaan.

  • Namun, pada hari Kamis, Presiden AS Donald Trump menyatakan niatnya untuk berperan langsung dalam memilih pemimpin Iran berikutnya, secara eksplisit menyebut Mojtaba sebagai pilihan yang “tidak dapat diterima”.

  • Peringatan invasi: Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, memperingatkan bahwa pasukan Iran “menunggu” potensi invasi darat AS dan mengancam akan membunuh serta menawan ribuan tentara AS.

  • Serangan Iran: AS mengatakan serangan rudal balistik Iran telah turun sebesar 90 persen sejak hari pertama konflik, sementara serangan drone turun sebesar 83 persen pada periode yang sama.

Di Negara-Negara Teluk

  • Kuwait: AS menghentikan operasional kedutaannya di Kuwait City menyusul serangan balasan Iran, sementara sistem pertahanan udara Kuwait mencegat rudal dan drone.

  • Bahrain: Sebuah rudal Iran menghantam kilang minyak milik negara di kota industri Bahrain, namun kebakaran yang diakibatkannya berhasil dipadamkan.

  • UEA dan Qatar: UEA menyatakan pertahanan udaranya mencegat beberapa rudal Iran dan lebih dari 120 drone. Qatar juga melaporkan menjadi sasaran rentetan rudal dan drone Iran pada hari Kamis setelah ledakan keras terdengar di ibu kota, Doha.

  • Sekitar 20.000 warga Amerika telah meninggalkan Timur Tengah: Departemen Luar Negeri melaporkan bahwa ribuan orang telah meninggalkan kawasan tersebut, sebagian besar secara mandiri, namun pemerintah sedang mengatur penerbangan carter bagi warga sipil yang masih ingin dievakuasi.

  • Gangguan evakuasi: Sebuah penerbangan evakuasi Prancis yang dicharter pemerintah untuk menyelamatkan warga yang terdampar di Uni Emirat Arab terpaksa berbalik arah di tengah penerbangan karena adanya serangan rudal di wilayah tersebut.

  • Penyebaran kembali militer: Jerman telah menarik pasukan yang ditempatkan di Bahrain kembali ke Jerman dan sedang aktif mempersiapkan penarikan pasukannya dari Kuwait.

  • Penundaan citra satelit: Planet Labs mengumumkan penundaan wajib selama 96 jam untuk semua citra baru yang diambil di atas negara-negara Teluk guna mencegah pihak lawan menggunakan gambar tersebut untuk membahayakan personel sekutu, NATO, dan warga sipil.

  • Peringatan CENTCOM: Brad Cooper, kepala Komando Pusat militer AS (CENTCOM), menuduh Iran sengaja menembakkan tujuh drone penyerang ke lingkungan sipil di Bahrain. Ia memperingatkan bahwa tindakan Iran “tidak dapat diterima dan tidak akan dibiarkan tanpa jawaban”.

Di Israel

  • Tel Aviv jadi target: Garda Revolusi Iran mengumumkan telah meluncurkan serangan gabungan drone dan rudal ke Tel Aviv dan wilayah tengah Israel.

  • Penutupan domestik dan kekerasan di Tepi Barat: Di tengah ancaman keamanan, Administrasi Sipil Israel telah menutup semua situs suci di Kota Tua Yerusalem dan membatalkan salat Jumat.

  • Retorika pejabat: Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich memperingatkan bahwa wilayah Dahiyeh di ibu kota Lebanon akan segera terlihat “seperti Khan Younis,” merujuk pada kota di Gaza selatan yang hancur selama perang Israel melawan Palestina.

Di Amerika Serikat

  • Serangan militer: Komando Pusat AS melaporkan telah menyerang sekitar 200 target di Iran selama 72 jam terakhir, termasuk peluncur rudal balistik dan kapal angkatan laut.

  • Klaim Trump: Trump mengatakan Iran sedang “dihancurkan” lebih cepat dari jadwal, mengklaim negara itu sekarang “tidak memiliki angkatan udara dan pertahanan udara”.

  • Dukungan Kongres: DPR AS yang dipimpin Partai Republik memberikan suara 219 berbanding 212 menentang upaya untuk menghentikan perang.

  • Dampak ekonomi: Perang yang sedang berlangsung telah mengguncang pasar keuangan AS. Indeks Dow Jones merosot lebih dari 1.000 poin (2,2 persen) seiring naiknya harga minyak akibat perang.

Di Irak, Lebanon, Mesir

  • Lebanon: Israel membombardir Lebanon secara besar-besaran dan mengeluarkan perintah evakuasi untuk pinggiran selatan Beirut (Dahiyeh) dan sebagian Lembah Bekaa.

  • Mesir: Presiden Abdel Fattah el-Sisi memperingatkan bahwa negaranya secara ekonomi berada dalam “keadaan hampir darurat” karena perang yang mengancam kenaikan harga-harga.

Di Eropa dan Sekitarnya

  • Eropa tertekan: Pemerintah Eropa terpecah; Inggris dan Prancis telah memindahkan aset angkatan laut ke Mediterania timur, sementara Jerman dan lainnya fokus pada diplomasi.

  • Azerbaijan: Negara ini menghentikan lalu lintas truk lintas batas dengan Iran setelah serangan drone Iran melukai empat warga sipil di eksklave Nakhchivan. (aljazeera)

***

Israel Luncurkan ‘Fase Baru’ Serangan Berat ke Teheran Iran

Ledakan di Teheran Iran

06/03/2026 – Serangan berat dilaporkan terjadi di Teheran pada hari Jumat setelah Israel menyatakan sedang menghantam “infrastruktur rezim” dalam “fase baru” perang yang diluncurkannya bersama Amerika Serikat melawan Iran.

Saat konflik memasuki hari ketujuh, dampak regionalnya terus berlanjut – dengan Qatar menyatakan telah mencegat sebuah pesawat tak berawak (drone) yang menargetkan pangkalan AS, dan Lebanon melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Israel telah meningkat menjadi 123 orang.

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa saat ini ia tidak mempertimbangkan untuk mengirim pasukan darat AS ke Iran, setelah sebelumnya menyatakan bahwa ia “harus terlibat” dalam memilih pemimpin negara tersebut berikutnya.

Pemimpin tertinggi Ali Khamenei tewas ketika serangan AS-Israel dimulai pada hari Sabtu. Trump menolak kemungkinan putra Khamenei, Mojtaba, untuk menggantikan mendiang ayahnya, dan meremehkannya sebagai sosok “kelas ringan.”

Pada Jumat dini hari, media Iran melaporkan adanya serangan berat di ibu kota, Teheran, sesaat setelah Israel mengumumkan bahwa mereka menyerang “infrastruktur rezim” di kota tersebut.

Kepala militer Israel sebelumnya telah memperingatkan bahwa konflik tersebut bergerak ke “fase berikutnya” dan berjanji untuk “lebih jauh membongkar rezim serta kemampuan militernya.”

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga mengumumkan bahwa “kekuatan tempur di atas Iran dan Teheran akan segera melonjak drastis.”

Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa mereka telah menembakkan rudal ke arah Tel Aviv setelah gelombang ledakan sebelumnya yang menyebabkan kebakaran di sebuah gedung kediaman di kota Israel pusat tersebut.

Jurnalis AFP mendengar dua gelombang ledakan yang hampir bersamaan di Tel Aviv pada Kamis larut malam, sementara jejak roket juga menyinari langit di Netanya, yang terletak lebih jauh ke utara.

***

Korban Tewas Akibat Perang AS-Israel vs Iran Capai 1.348 Orang

Bangunan di Israel hancur karena rudal Iran

Sejak serangan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, ratusan orang tewas di berbagai negara di Timur Tengah.

Konflik ini juga menarik negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, serta Lebanon, ke dalam eskalasi kekerasan.

Berikut jumlah korban tewas dari perang ini berdasarkan laporan resmi masing-masing negara hingga hari keenam konflik, 5 Maret.

Reuters Kamis (5/3/2026) belum melakukan verifikasi independen terhadap angka-angka ini.

  • Iran: Setidaknya 1.230 orang tewas, termasuk 175 siswi dan staf yang meninggal akibat serangan rudal di sebuah sekolah dasar di Minab, selatan Iran, pada hari pertama perang, menurut organisasi kemanusiaan Iranian Red Crescent Society. Belum jelas apakah angka ini sudah termasuk korban militer Korps Pengawal Revolusi Islam.
  • Israel: 10 warga sipil tewas, termasuk 9 orang dalam serangan rudal Iran di Beit Shemesh dekat Yerusalem pada 1 Maret, menurut layanan ambulans Magen David Adom. Militer Israel belum melaporkan adanya korban jiwa di pihak tentara.
  • Lebanon: Setidaknya 77 orang tewas akibat serangan Israel, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.
  • Bahrain: 1 orang tewas akibat kebakaran di Salman Industrial City setelah intersepsi rudal, menurut Kementerian Dalam Negeri Bahrain.
  • Kuwait: 3 orang tewas, termasuk 2 tentara Kuwait, akibat serangan Iran, menurut Kementerian Kesehatan dan Luar Negeri Kuwait.
  • Oman: 1 orang tewas setelah sebuah proyektil mengenai kapal tanker berbendera Kepulauan Marshall, MKD VYOM, di lepas pantai Muscat.
  • Uni Emirat Arab: 3 orang tewas, menurut Kementerian Pertahanan UEA.
  • Militer AS: 6 personel tewas dalam serangan terhadap fasilitas di Kuwait, menurut Komando Pusat AS (USCENTCOM).
  • Syria: 4 orang tewas akibat serangan rudal Iran di sebuah bangunan di kota selatan Sweida, menurut kantor berita negara SANA.
  • Irak: Setidaknya 13 orang tewas, termasuk 11 milisi, 1 tentara, dan 1 warga sipil, berdasarkan data pendaftaran kesehatan setempat.

Total korban tewas: 1.348 orang.

Perang ini menunjukkan eskalasi signifikan di kawasan, dengan dampak yang meluas tidak hanya di Iran dan Israel, tetapi juga di negara-negara tetangga yang terkait secara strategis maupun militer. (kontan)

***

IRGC: Rudal Khorramshahr-4 Hantam Bandara Ben Gurion, Ciptakan Neraka Bagi Musuh 

Ben-Gurion Airport

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dikutip Palestine Chronicle, Kamis (5/3/2026) menyatakan bahwa rudal balistik Khorramshahr-4 yang diluncurkan menuju Tel Aviv, Israel sukses menghantam bandara Ben Gurion. Rudal berhulu ledak 1 ton lebih itu juga menghantam markas Angakatan Udara Israel yang bermarkas di bandara itu.

Menurut IRGC, serangan ke Ben Gurion sebagai gelombang ke-19 dari Operasi Hanji Setia 4, yang digambarkan oleh Teheran sebagai serangan rudal dan drone terkoordinasi menargetkan aset-aset Israel dan Amerika Serikat (AS). IRGC mengatakan, rudal Khorramshahr-4 menghantam area bandara dan “menciptakan neraka bagi musuh” sambil mengeklaim bahwa rudal itu berhasil menerabas tujuh lapis sistem pertahanan udara Israel.

Menurut laporan Al Mayadeen, pejabat Iran juga mengatakan bahwa, luncuran rudal telah mengganggu aktivitas di bandara Ben Gurion. Diketahuin rudal Khorramsahr-4 di antara rudal yang paling canggih yang dimiliki Iran. (republika)

***

Trump Mendukung Serangan Milisi Kurdi di Dalam Wilayah Iran

Kurdish Peshmerga Fighters

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa ia akan menyetujui serangan oleh pejuang Kurdi Iran ke dalam wilayah Iran guna mendukung perang AS-Israel melawan Iran.

“Saya pikir luar biasa bahwa mereka ingin melakukannya, saya akan sangat mendukungnya,” kata Trump dalam sebuah wawancara dengan Reuters.

Ketika ditanya apakah AS akan menyediakan atau telah menawarkan perlindungan udara, ia menjawab, “Saya tidak bisa memberitahu Anda hal itu,” namun menambahkan bahwa tujuan bagi kelompok Kurdi tersebut adalah “untuk menang.”

“Jika mereka akan melakukan itu, itu bagus,” tambah Trump.

Milisi Kurdi Iran telah berkonsultasi dengan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir mengenai apakah, dan bagaimana, menyerang pasukan keamanan Iran di bagian barat negara itu, menurut tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Koalisi kelompok Kurdi Iran yang berbasis di perbatasan Iran-Irak di wilayah semi-otonom Kurdistan Irak telah berlatih untuk melancarkan serangan semacam itu dengan harapan dapat melemahkan militer negara tersebut, sementara Amerika Serikat dan Israel menggempur sasaran-sasaran Iran dengan bom dan rudal.

Sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan perang pada hari Sabtu, Iran telah menyerang kelompok-kelompok Kurdi Iran yang berbasis di otonomi Kurdistan Irak, yang dituduh Teheran melayani kepentingan Barat dan Israel.

Meskipun secara historis warga Kurdi memiliki lebih sedikit gesekan dengan negara Iran dibandingkan saudara-saudara mereka di Irak, Turki, dan Suriah, warga Kurdi Iran merupakan salah satu dari sedikit kelompok oposisi bersenjata dan terorganisir di Iran.

Para ahli mengatakan mereka berpotensi membantu pasukan khusus menyusup dan menggoyahkan stabilitas Iran.

Trump juga mengisyaratkan keyakinannya bahwa rute pelayaran utama di dekat Iran, Selat Hormuz, akan tetap terbuka.

Penutupan Selat Hormuz—sebuah jalur sempit antara Iran dan Oman yang dilewati seperlima minyak mentah dan gas alam cair dunia—telah menjadi salah satu tujuan utama Iran, dan pelayaran melalui arteri energi penting tersebut hampir terhenti setelah serangan Iran terhadap enam kapal.

“Mereka tidak punya angkatan laut, Anda tahu angkatan laut mereka sekarang berada di dasar laut,” kata Trump. “Saya mengawasi Hormuz dengan sangat cermat.”

***

Konflik meluas: Kapal selam AS tenggelamkan kapal perang Iran di Samudra Hindia

Kapal IRIS Dena Iran

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth mengklaim kapal selam AS telah menenggelamkan “sebuah kapal perang Iran” di Samudra Hindia.

“Kapal itu merasa aman di perairan internasional, tapi justru dihantam torpedo,” ujarnya. Hegseth tidak menyebut nama kapal Iran yang diserang.

Namun sebelumnya Angkatan Laut Sri Lanka melaporkan bahwa kapal IRIS Dena tenggelam di Samudra Hindia. Sekitar 140 orang di dalamnya dinyatakan hilang.

Ini “memang bukan pertarungan yang seimbang, dan tidak dimaksudkan sebagai pertarungan yang seimbang,” kata Hegseth, seraya menambahkan bahwa Amerika Serikat sedang “menghantam Iran saat mereka sedang terpuruk.”

“Gelombang yang lebih besar akan datang. Kami baru memulainya,” ujarnya.

Pada Rabu (04/03), Angkatan Laut Sri Lanka menyatakan telah menyelamatkan 32 orang setelah menerima panggilan darurat dari kapal Angkatan Laut Iran IRIS Dena.

Juru bicara Angkatan Laut Sri Lanka, Budhika Sampath, mengatakan: “Meski berada di luar wilayah perairan kami, lokasi itu masih termasuk dalam zona pencarian dan penyelamatan kami. Jadi kami berkewajiban merespons sesuai kewajiban internasional.” (bbc)

***

Perang Iran Diestimasi Makan Biaya Rp1 Triliun Anggaran AS Per Hari

The US Air Force

Meskipun operasi Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menewaskan Pemimpin Agung Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dianggap sebagai keberhasilan militer besar, perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 tersebut berpotensi membebani anggaran keuangan negeri Paman Sam.

Meskipun operasi Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menewaskan Pemimpin Agung Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dianggap sebagai keberhasilan militer besar, perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 tersebut berpotensi membebani anggaran keuangan negeri Paman Sam.

Menurut analisis terbaru dari Institute for Policy Studies, biaya operasi militer AS di kawasan Timur Tengah, operasi yang dilakukan setelah beberapa pekan persiapan militer tersebut melibatkan pengerahan besar-besaran armada laut dan udara AS ke kawasan Timur Tengah, termasuk kelompok kapal induk, pesawat tempur, pesawat pengebom, serta berbagai aset dukungan logistik.

Laporan dari Institute for Policy Studies (IPS) berbasis Washington DC yang dirilis pada 3 Maret 2026 memperkirakan bahwa operasi militer di sekitar Iran saat ini menelan biaya setidaknya 59,39 juta dolar AS per hari.

Jika dikonversi dengan kurs sekitar Rp16.826,44 per dolar AS, jumlah tersebut setara dengan hampir Rp1 triliun setiap hari. Angka ini hanya mencakup biaya operasional harian dari sejumlah sistem militer utama yang dikerahkan dalam operasi tersebut. (metrotvnews)

***

Korban Tewas Serangan AS-Israel di Iran Naik Jadi 926 Orang

Sekolah di Iran hancur digempur AS-Israel

Kementerian Kesehatan Iran menyatakan jumlah korban tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Iran meningkat menjadi 926 orang.

Dilansir dari TRT World, Kamis, 5 Maret 2026, juru bicara kementerian, Hossein Kermanpour mengatakan, sebanyak 6.186 orang lainnya terluka dalam serangan yang berlangsung antara 28 Februari hingga Selasa pukul 17.00 waktu setempat.

Dalam pernyataan yang diunggah di platform X, Kermanpour menyebutkan bahwa 2.054 korban luka saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Sementara itu, sebanyak 3.545 orang telah dirawat dan dipulangkan, dan 552 korban lainnya mendapatkan penanganan medis langsung di lokasi kejadian.

Ia menambahkan bahwa sejauh ini telah dilakukan 502 operasi bedah terhadap para korban luka.

Menurut data kementerian, perempuan menyumbang 13 persen dari total korban tewas, sementara laki-laki mencapai 87 persen.

Kermanpour mengatakan 180 korban tewas berusia di bawah 18 tahun, termasuk tiga anak berusia di bawah lima tahun.

Korban tewas termuda adalah seorang anak berusia satu tahun di Teheran. Di antara korban luka, 301 orang berusia di bawah 18 tahun dan 39 di antaranya berusia kurang dari lima tahun.

Korban luka termuda adalah bayi laki-laki berusia enam bulan, sementara korban tertua berusia 91 tahun.

Serangan besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terus berlanjut sejak Sabtu lalu, menewaskan ratusan orang termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah pejabat militer senior.

Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat. (metrotvnews)

***

Ogah Kirim Pasukan Darat, Trump Persenjatai Suku Kurdi untuk Perang Melawan Iran

Kelompok Bersenjata Kurdi

Presiden AS Donald Trump belum mau mengirmkan pasukan darat untuk menggulingkan pemerintahan Iran. Amerika Serikat (AS) dikabarkan lebih memilih memanfaatkan peran pasukan Kurdi dalam melakukan serangan darat ke wilayah Republik Islam Iran.

Berbagai laporan internasional mengabarkan, Presiden Donald Trump setuju dengan membantu paket persenjataan ke kelompok bersenjata Kurdi untuk penggulingan pemerintahan di Teheran sebagai lanjutan dalam perang Zionis Israel-AS dengan Iran yang saat ini sudah memasuki hari ke-5.

Aljazirah melaporkan, Trump dalam dua hari terakhir ini, melakukan kontak-kontak genting menyangkut situasi perangnya bersama Zionis dalam menggulingkan kepemimpinan teokrasi di Negeri Para Mullah itu. Termasuk dengan melakukan sambungan komunikasi dengan dua pemimpin kelompok bersenjata Kurdi di perbatasan Iran, dan Irak.

“Pemerintah Presiden Donald Trump secara aktif membahas kemungkinan untuk mempersenjatai kelompok-kelompok Kurdi,” tulis laporan yang dikutip dari Aljazirah, Kamis (5/3/2026). (republika)

***

Jerman Tegas Menolak Ajakan Zionis-AS untuk Perangi Iran

Boris Pistorius

Jerman memastikan tidak bakal ikut-ikutan dalam perang melawan Republik Islam Iran yang diinisiasi penjajah Zionis Israel dan Amerika Serikat (AS). Meskipun menjadi salah satu anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) bersama AS, Panser Jerman tak mau ambil bagian dalam peperangan yang hingga kini turut membakar kawasan Timur Tengah (Timteng).

Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius mengatakan, Jerman hanya menghendaki berada dalam posisi yang merdekan situasi. “Jerman tidak akan bergabung dalam perang melawan Iran (yang dimulai oleh Israel-AS),” kata Pistorius seperti dikutip dari Anadolu Agency, Rabu (4/3/2026). “Dan Jerman hanya akan berupaya untuk meredakan ketegangan,” sambung dia.

Jerman bukan negara NATO pertama di Eropa yang menolak provokasi Zionis-AS untuk melakukan agresi terhadap Iran. Sebelumnya, Inggris juga menolak mentah-mentah ajakan bergabung dalam peperangan tersebut. Bahkan Spanyol, lebih tegas bukan cuma tak mau bergabung dengan AS-Zionis, tetapi juga melarang wilayah dan pangkalan militer AS yang berada di Spanyol dijadikan lokasi penyerangan terhadap Iran.

Pernyataan keras dari Spanyol itu pun berujung pada ancaman sanksi AS. Presiden Donald Trump kemarin menyampaikan marahnya kepada Spanyol dengan mengancam pemutusan hubungan dagang dengan Negeri Matador itu. (republika)

***

Iran Mulai Kirim Rudal Balistik ke Wilayah Turki 

Recep Tayyip Erdogan

Kementerian Pertahanan Turki seperti dikutip TRT World mengeluarkan pertanyaan pada Rabu (4/3/2026) bahwa sebuah rudal balistik Iran menuju Turki berhasil diintersep dan ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara NATO. Rudal itu diintersep di luar ruang udara Turki saat melintas di wilayah Irak dan Suriah.

Menurut Kementerian Pertahanan Turki sebagian dari serpihan rudal pengintersep jatuh di Distrik Dortyol di Provinsi Hatay. Tidak ada korban dalam insiden ini.

Ankara mengatakan bahwa niat dan kemampuan negara menjaga keamanan nasional masih dalam level tertinggi, sembari menekankan bahwa Turki mendorong stabilitas dan perdamaian regional. Pemerintah Turki menegaskan sangat mampu untuk mempertahankan wilayah dan melindungi warga negaranya dari ancaman pihak luar.

Pihak otoritas Turki mengingatkan bahwa setiap aksi tidak bersahabat akan bertemu dengan respons tegas dan mendesak semua pihak untuk menghindari langkah yang bisa memperluas konflik. Turki menambahkan bahwa akan terus berkonsultasi dengan NATO dan negara sekutu. (republika)

***

Mojtaba Hosseini Khamenei Dipilih Majelis Ahli Iran Sebagai Pemimpin Tertinggi 

Mojtaba Hosseini Khamenei

04/04/2026 – Dunia internasional kini resmi menyaksikan transisi kekuasaan bersejarah di Republik Islam Iran. Mojtaba Hosseini Khamenei, putra kedua dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei, telah terpilih oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts) sebagai Pemimpin Tertinggi (Rahbar) yang baru pada 4 Maret 2026.

Langkah ini diambil menyusul wafatnya Ali Khamenei pada 1 Maret 2026 akibat serangan udara yang menargetkan kediamannya di pusat Teheran. Mengenal Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru

***

Kapal Perusak AS Dihantam Rudal Iran: IRGC

USS Fitzgerald (DDG 62)

04/03/2026 – Sebuah kapal perusak Amerika menjadi target rudal yang ditembakkan oleh Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

IRGC menyatakan dalam sebuah pernyataan pada Rabu dini hari bahwa sebagai kelanjutan dari Operasi True Promise 4, rudal-rudal telah diluncurkan ke aset strategis AS di Samudra Hindia.

Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa sebuah kapal perusak AS yang sedang melakukan pengisian bahan bakar dari kapal tanker Amerika di Samudra Hindia, sekitar 650 kilometer dari pesisir selatan Iran, dihantam oleh rudal Qadr-360 dan Talaeiyeh milik Angkatan Laut IRGC.

Menurut laporan intelijen, terjadi kebakaran hebat di dek kedua kapal tersebut, yang mengirimkan gumpalan asap ke langit samudra.

Operasi True Promise 4 menandai respons signifikan dari kekuatan militer Iran terhadap agresi berkelanjutan oleh rezim Zionis dan AS terhadap Iran. (tasnimnews)

***

Trump Kena Batunya, Perang AS-Israel ke Iran Bawa “Kiamat” ke Amerika 

Ilustrasi bendera Amerika dan Iran

Perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran dinilai berpotensi membawa dampak besar bagi perekonomian Washington. Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi global yang dapat mendorong inflasi, menekan daya beli masyarakat, dan menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi Negeri Paman Sam.

Serangan AS dan Israel ke Iran yang dibalas oleh Teheran telah mengguncang pasar minyak dunia. Konflik tersebut mengganggu pasokan energi global, termasuk penutupan efektif Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.Dampaknya langsung terasa pada harga minyak mentah, dengan Brent sempat melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2024. Para ekonom memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak akan segera diterjemahkan menjadi lonjakan harga bensin di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) AS, isu yang sangat sensitif secara politik.

Analis utama Oxford Economics, John Canavan, mengatakan harga bensin kemungkinan akan naik hanya dalam hitungan hari. “Harga di SPBU kemungkinan akan naik dalam beberapa hari,” ujarnya kepada AFP, dikutip Rabu (4/3/2026).

Canavan menambahkan bahwa harga bensin di AS sebenarnya sudah menunjukkan tren kenaikan sejak awal Januari. Menurutnya, para pengecer biasanya merespons dengan cepat setiap perkembangan geopolitik yang berpotensi mendorong harga lebih tinggi.

Lonjakan biaya energi ini diperkirakan akan membebani rumah tangga AS dan mengancam pengeluaran konsumen, yang mencakup sekitar dua pertiga dari produk domestik bruto (PDB) AS. Tekanan tersebut dinilai bisa merambat ke sektor lain, mulai dari transportasi hingga logistik. (cnbc)

***

Iran International : Majelis Ahli Pilih Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi

Mojtaba adalah putra dari almarhum Ayatollah Ali Khamanei – Majelis Ahli dilaporan Iran International, Rabu (4/3/2026), telah memilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran.

Laporan Iran International mengutip sumber menyebutkan bahwa pemilihan Mojtaba atas tekanan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). (republika)

***

Iran melaporkan serangan AS-Israel terhadap gedung lembaga yang memilih pemimpin agung berikutnya

Iran’s Assembly of Experts

Serangan Israel dan AS pada hari Selasa menghantam gedung sebuah lembaga yang bertugas memilih pemimpin agung baru Iran, demikian laporan media yang berafiliasi dengan pemerintah.

“Penjahat Amerika-Zionis menyerang gedung Majelis Ahli di Qom,” di selatan Teheran, menurut kantor berita Tasnim.

Media lokal menunjukkan rekaman gedung tersebut rusak parah akibat serangan tersebut.

Pemimpin Agung Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan AS dan Israel pada hari Sabtu. (alarabiya)

***

Inggris akan kirim kapal perang untuk bela pangkalan yang diserang Iran di Siprus

RAF Akrotiri British in Cyprus

Britania Raya akan mengirimkan sebuah kapal perang untuk mempertahankan pangkalan berdaulat Inggris, RAF Akrotiri, di Siprus, setelah pangkalan tersebut menjadi sasaran drone Iran kemarin, menurut laporan surat kabar The Times.

“HMS Duncan ‘kemungkinan besar’ akan dikerahkan untuk mempertahankan RAF Akrotiri seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah,” demikian isi laporan tersebut.

Laporan The Times yang mengutip tiga sumber menyebutkan bahwa Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, telah melakukan pertemuan kemarin dengan tokoh-tokoh militer senior untuk membahas pengiriman HMS Duncan ke wilayah tersebut.

Prancis juga berencana mengirimkan sistem anti-rudal dan anti-drone ke Siprus menyusul serangan Iran tersebut, menurut laporan media Siprus sebelumnya. (timesofisrael)

***

Iran Klaim 560 Tentara AS Tewas-Luka Akibat Serangan Balasannya 

Pangkalan AS di Bahrain

Militer Iran terus menggempur pangkalan-pangkalan Amerika Serikat (AS) di negara-negara Teluk sebagai pembalasan atas serangan AS dan Israel sejak Sabtu (28/2) waktu setempat. Teheran mengklaim sedikitnya 560 tentara AS tewas atau terluka akibat serangan pembalasan mereka.

Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya pada Angkatan Bersenjata Iran, Kolonel Ebrahim Zolfaghari, seperti dilansir media lokal Iran, Press TV, Selasa (3/3/20206), mengumumkan pencapaian dari “Operasi Janji Sejati 4” yang membalas serangan AS-Israel dan pembunuhan pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei.

Dalam operasi tersebut, pasukan Iran menargetkan kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, dengan empat rudal jelajah. Diklaim oleh Zolfaghari bahwa serangan rudal itu membuat USS Abraham Lincoln “kabur” ke perairan tenggara Samudra Hindia. (detik)

***

787 Warga Sipil Iran Syahid Akibat Serangan AS-Israel 

Bulan Sabit Merah Iran

03/03/2026 – Jumlah korban jiwa akibat serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel telah meningkat menjadi 787 orang. Demikian laporan Aljazirah, mengutip data yang disampaikan Bulan Sabit Merah Iran pada Selasa (3/3/2026).

Militer Israel dan AS mulai menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026) lalu. Operasi ini tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa di sejumlah wilayah Iran.

Pemimpin tertinggi negara republik Islam tersebut, Ayatullah Ali Khamenei, juga dilaporkan syahid usai kediamannya di Teheran menjadi sasaran serangan udara AS-Israel. (republika)

***

Menlu AS Klaim AS ‘Dipaksa’ Israel Serang Iran

Benjamin Netanyahu dan Marco Rubio

Israel sejak awal berniat menggagalkan negosiasi AS-Iran. Menteri Luar Negeri AS Mark Rubio mengungkapkan bahwa Amerika Serikat terpaksa ikut menyerang Iran karena nafsu perang Israel. Menurutnya, tekad Israel untuk menyerang Iran dan kepastian bahwa pasukan AS akan menjadi sasaran sebagai balasannya memaksa pemerintahan Trump untuk melakukan serangan.

Hal itu ia sampaikan pada Senin malam saat memberikan pengarahan pertama pemerintahan Trump kepada Kongres AS sejak memerintahkan kampanye udara dimulai pada akhir pekan. Yang disampaikan Rubio ini adalah penjelasan baru soal alasan masuknya Washington secara mengejutkan ke dalam konflik tersebut.

Rubio; direktur CIA, John Ratcliffe; dan kepala staf gabungan, ketua Dan Caine; berbicara kepada para anggota parlemen secara tertutup di Capitol menjelang pemungutan suara yang diharapkan akhir pekan ini di Kongres mengenai resolusi kekuatan perang yang memberikan peluang yang tidak mungkin untuk memaksa Trump mengakhiri permusuhan terhadap Iran.

“Sangat jelas bahwa jika Iran diserang oleh siapapun – Amerika Serikat atau Israel atau siapa pun – mereka akan membalas, dan membalas dengan melawan Amerika Serikat,” kata Rubio kepada wartawan di Capitol dilansir the Guardian. (republika)

***

AS menyatakan telah ‘menghancurkan’ fasilitas komando IRGC Iran

Ledakan di Teheran Iran

03/03/2026 – Pasukan militer AS telah menghancurkan pos-pos komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran serta situs pertahanan udara dan peluncuran rudal Iran, dalam perang Timur Tengah yang pecah akhir pekan lalu, demikian disampaikan Komando Pusat AS (CENTCOM) pada hari Selasa.

“Pasukan AS telah menghancurkan fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam, kemampuan pertahanan udara Iran, situs peluncuran rudal dan drone, serta lapangan udara militer selama operasi berkelanjutan,” kata CENTCOM dalam sebuah unggahan di X.

Sejak Sabtu, pasukan AS dan Israel sejauh ini telah menyerang ratusan target di seluruh Iran, termasuk rudal, angkatan laut, dan situs komando-kendali Republik Islam tersebut.

Empat anggota militer AS diumumkan tewas dan tiga jet tempur telah ditembak jatuh—yang secara resmi disebut akibat tembakan kawan sendiri (friendly fire).

Iran telah menembakkan rudal ke arah Israel, ke pangkalan-pangkalan AS di sekitar kawasan tersebut, dan juga ke target-target di negara-negara Arab regional—Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab—sesuatu yang disebut Trump sebagai “kejutan terbesar.” (alarabiya)

***

Enam Tentara AS Tewas Kena Serangan Balasan Iran

Perang Iran vs Israel Amerika

03/03/2026 – Jumlah tentara AS yang tewas terkait agresi militer ke Iran terus bertambah. Enam anggota militer AS tewas dalam operasi militer AS melawan Iran, kata Komando Pusat AS pada Senin sore. Pengumuman tersebut muncul satu hari setelah pihak militer mengkonfirmasi kematian tiga anggota militer AS pada Ahad, yang merupakan kematian pertama yang diketahui sejak serangan terhadap Iran dimulai pada hari Sabtu.

Laporan terbaru ini hanya beberapa jam setelah Komando Pusat melaporkan bahwa anggota militer AS yang keempat telah terbunuh.

Komando Pusat AS melansir bahwa pada pukul 16.00 waktu AS pada hari Senin, enam anggota militer AS “tewas dalam aksi”. Mereka menambahkan bahwa pasukan AS “baru-baru ini menemukan sisa-sisa dua anggota militer yang sebelumnya belum ditemukan dari sebuah fasilitas yang diserang selama serangan awal Iran di wilayah tersebut”. (republika)

***

IRGC Umumkan Rudal Hantam Kantor Perdana Menteri, Nasib Netanyahu Belum Diketahui 

Benjamin Netanyahu

02/03/2026 – Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) seperti dikutip Al Mayadeen, pada Senin (2/3/2026) mengumumkan bahwa rudal mereka berhasil menghantam kantor Perdana Menteri Israel. Namun demikian, IRGC belum memastikan apakah Benjamin Netanyahu ikut menjadi korban dalam gelombang serangan ke-10 itu.

“Kantor dari rezim zionis kriminal Perdana Menteri dan lokasi dari Komandan Angkatan Udara dari rezim angkatan bersenjata ini menjadi target dan terhantam parah oleh serangan kejutan rudal Kheibar dari gelombang ke-10 angkatan bersenjata Republik Islam Iran,” demikian keterangan resmi IRGC dikutip The Cradle.

Dalam kalimat selanjutnya, IRGC mengatakan, “Nasib dari Perdana Menteri dari rezim zionis belum diketahui. Serangan sukses rudal Iran ke wilayah pendudukan dalam gelombang ke-10 fokus pada kantor pemerintahan rezim zionis; capaian dari serangan dan informasi tambahan akan diumumkan kemudian.” (republika)

***

Iran Aktifkan Perang Gerilya ‘Decentralized Mosaic Defence’

IRGC Iran

Iran dikabarkan telah mengubah strategi pertahanan mereka hari ini, Senin (2/3/2026), dengan mengaktifkan ‘Decentralize Mosaic Defence’, sebuah doktrin perang gerilya yang dilakukan secara serentak di seluruh wilayahnya. Langkah ini diambil setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel menghantam jalur komando pusat pada Ahad, kemarin.

Strategi baru ini telah merestrukturisasi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menjadi 31 unit operasional otonom: satu unit di Teheran dan 30 unit lainnya tersebar di bawah komando tingkat provinsi. Setiap komandan unit diberikan kebebasan penuh untuk mengambil keputusan perang tanpa persetujuan pusat di Teheran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan, Iran telah lama mempelajari bagaimana bertempur dengan Amerika Serikat dan sekutunya. “Pengeboman di Ibu Kota kami tidak berdampak pada kemampuan kami untuk berperang. Decentralized Mosaic Defence memungkinkan kami untuk memutuskan kapan, dan bagaiman perang akan berakhir,” kata dia melalui X pada Ahad, kemarin. (republika)

***

Serangan Drone Hentikan Operasi Kilang Minyak Raksasa di Saudi

Kilang Minyak Ras Tanura

Operasi kilang minyak bumi Ras Tanura milik Saudi Aramco di Arab Saudi dihentikan sementara usai serangan drone terjadi di kawasan tersebut. Mengutip Blomberg, Senin (2/3/2026), informasi tersebut dikonfirmasi oleh sejumlah sumber yang mengetahui perkembangan situasi. Bagaimanapun, hingga kini belum ada pengumuman resmi dari perusahaan milik Kerajaan tersebut kepada publik.

Kilang Ras Tanura merupakan salah satu fasilitas pengolahan minyak terbesar di dunia. Berlokasi di pesisir Teluk Arab, fasilitas ini memiliki kapasitas pengolahan hingga 550 ribu barel minyak mentah per hari. (republika)

***

Bulan Sabit Merah Iran sebut 555 orang tewas di Iran sejak awal perang

Bulan Sabit Merah Iran

Sebanyak 555 orang tewas di seluruh penjuru Iran akibat serangan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai dua hari lalu, demikian pernyataan Bulan Sabit Merah Iran pada hari Senin.

“Menyusul serangan teroris Zionis-Amerika yang dilakukan di berbagai wilayah negara kita, sejauh ini 131 kota telah terdampak dan sangat disayangkan, 555 rekan senegara kita telah gugur,” ungkap kelompok kemanusiaan tersebut dalam sebuah unggahan di Telegram. (alarabiya)

***

Iran Dikeroyok, Prancis-Jerman-Inggris Ikut Perang AS-Israel di Arab

Iran bakal dikeroyok negara lain, selain Amerika Serikat (AS) dan Israel. Minggu, tiga negara Eropa, Prancis-Jerman-Inggris mengatakan siap untuk membela kepentingan mereka dan sekutu di Teluk jika perlu dengan mengambil “tindakan defensif” terhadap Iran.

Bendera Jerman, Israel, Uni Eropa

Para pemimpin ketiga negara tersebut mengaku terkejut dengan serangan rudal tanpa pandang bulu dan tidak proporsional yang diluncurkan oleh Iran terhadap negara-negara di kawasan itu. Termasuk negara-negara yang tidak terlibat dalam operasi militer awal AS dan Israel. (cnbc)

***

Pejabat tinggi Iran menyatakan bahwa Teheran “tidak akan bernegosiasi” dengan AS

Ali Larijani, Kepala Dewan Keamanan

Iran ‘tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat,’ kata Ali Larijani, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Teheran yang berpengaruh, pada hari Senin.”

Ledakan telah terdengar di kota-kota termasuk Dubai, Abu Dhabi, dan Doha, setelah pejabat tinggi Iran menyatakan bahwa Teheran “tidak akan bernegosiasi” dengan AS. Presiden Donald Trump sebelumnya memperingatkan akan adanya lebih banyak korban dari pihak AS setelah tiga warga Amerika tewas. (cnn)

****

Iran menyerang Eropa untuk pertama kalinya, hantam pangkalan Inggris di Siprus

Drone menghantam RAF Akrotiri beberapa jam setelah rudal Iran menargetkan pulau tersebut, merusak pusat militer utama Inggris dan meningkatkan pertaruhan dalam perang yang meluas melibatkan Israel, Iran, dan pasukan Barat.

RAF Akrotiri base in Cyprus

Iran menyerang sebuah negara Eropa untuk pertama kalinya pada Senin malam, dengan apa yang diyakini oleh pejabat Inggris sebagai drone Iran yang menghantam pangkalan udara utama Angkatan Udara Kerajaan (RAF) di Siprus, beberapa jam setelah Teheran meluncurkan dua rudal ke arah pulau tersebut.

Ledakan kuat terdengar sekitar tengah malam di RAF Akrotiri setelah “ancaman keamanan” dinyatakan, menurut pejabat Inggris. Pangkalan yang menampung sekitar 2.000 personel beserta keluarga mereka tersebut mengalami “kerusakan terbatas,” menurut otoritas Siprus, namun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. (ynetnews)

***

Israel membom Beirut setelah Hizbullah meluncurkan serangan roket

02/03/2026 – Pesawat jet Israel telah membom ibu kota Lebanon, Beirut, setelah Hizbullah meluncurkan apa yang dikatakannya sebagai serangan roket dan drone terhadap pangkalan militer di dekat Haifa, Israel utara.

Beirut Lebanon

Kelompok bersenjata Lebanon yang bersekutu dengan Iran tersebut menyatakan pada Senin pagi bahwa serangan itu merupakan pembalasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, “demi membela Lebanon dan rakyatnya,” serta “sebagai tanggapan atas agresi Israel yang berulang kali”.

***

Hizbullah Masuk ke Pusaran Perang Iran, Tembakkan Salvo Rudal ke Israel

02/03/2026 – Tentara Israel menyatakan bahwa pihaknya menargetkan kelompok yang didukung Iran tersebut di seluruh wilayah Lebanon.

Roket Hizbullah

Kelompok Hizbullah Lebanon secara resmi memasuki konflik terbaru di kawasan tersebut pada Minggu malam, dengan menembakkan rudal dan drone ke arah Israel. Mereka mengeklaim aksi ini sebagai pembalasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran.

Militer Israel dengan cepat melancarkan serangan terhadap target-target Hizbullah di seluruh negeri, termasuk di pinggiran selatan Beirut.

Hizbullah menyatakan bahwa mereka menyerang Israel “sebagai pembalasan atas darah suci” Ali Khamenei, “demi membela Lebanon dan rakyatnya, serta sebagai tanggapan atas serangan Israel yang berulang kali terjadi.” (alarabiya)

***

IRGC: Rudal Balistik Iran Hantam Kapal Induk USS Lincoln

01/03/2025 21:55 – Pentagon melansir tiga tentara AS tewas dan lima luka parah – Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) mengatakan pada Ahad bahwa mereka telah menyerang kapal induk USS Abraham Lincoln di Teluk. Balasan ini setelah serangan AS dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi negara tersebut.

“Kapal induk AS Abraham Lincoln diserang oleh empat rudal balistik,” kata Garda Revolusi dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media lokal. Garda memperingatkan bahwa “darat dan laut akan semakin menjadi kuburan para agresor teroris.”

Kapal Induk USS Lincoln

USS Abraham Lincoln adalah salah satu kapal induk bertenaga nuklir Amerika, yang oleh Angkatan Laut disebut sebagai “kapal perang terbesar di dunia.” Kapal ini merupakan sepuluh kapal induk bertenaga nuklir di AS, yang dikenal sebagai kelas Nimitz.

Kapal induk kelas Nimitz memiliki panjang 333 meter, dapat mengangkut sekitar 100.000 ton peralatan, termasuk 65 pesawat dan beberapa rudal, menurut Angkatan Laut AS. (republika)

***

Serangan Iran Tewaskan 6 Orang di Israel

01/03/2025 20:40 – Serangan terbaru Iran di Israel menewaskan sedikitnya enam orang. Iran melancarkan balasan ke Israel Tengah, sejak berita kematian Khamenei diumum kan.

Serangan Iran ke Beit Shemesh

“Layanan darurat telah memperingatkan adanya korban jiwa di Beit Shemesh, termasuk seorang gadis muda,” tulis laman AFP.

“Kabar kematian tersebut muncul setelah Garda Revolusi Iran mengumumkan gelombang serangan baru terhadap musuh,” tambahnya.

Iran Bantah Targetkan Tetangga Arab

Kepala keamanan Iran membantah bahwa Teheran menargetkan negara-negara tetangganya di kawasan itu, Minggu. Ia menegaskan bahwa pembalasannya ditujukan pada pangkalan-pangkalan AS.

Meskipun demikian, di UEA, pembalasan Iran telah menyebabkan tiga orang meninggal sementara 58 orang terluka. UEA merupakan tempat basis militer AS, dan sekutu Israel di Arab.

Sementara Kementerian Luar Negeri Arab Saudi telah memanggil duta besar Iran. Serangan Iran juga menargetkan kerajaan tersebut dan sejumlah negara sahabat lain.

Eskalasi ini membuat negara-negara Teluk mengadakan pertemuan pada Minggu malam ini untuk membahas tanggapan terpadu terhadap serangan Iran. Pertemuan tersebut akan dilakukan secara daring karena penutupan bandara.

Kapal Tanker Minyak Tenggelam

Sebuah kapal tanker minyak tenggelam setelah dihantam rudal Iran saat mencoba melewati Selat Hormuz. Perairan itu, yang dilalui seperempat dari minyak dunia dan seperlima dari seluruh gas alam cair bumi, kini diancam akan ditutup oleh pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC).

Laporan dikatakan television Iran. Namun tak jelas detik soal kapal tersebut.

OPEC Umumkan Peningkatan Produksi Minyak

Delapan negara OPEC+ mengumumkan peningkatan kuota produksi minyak kartel yang lebih besar dari perkiraan. Yaitu sebesar 206.000 barel per hari.

Kelompok tersebut, yang mencakup Arab Saudi dan Rusia, tidak secara eksplisit menyebutkan pecahnya konflik Iran. Tetapi menyebutkan “prospek ekonomi global yang stabil dan fundamental pasar yang sehat saat ini” sebagai alasan peningkatan tersebut.

Inggris Beri Warning ke Warga

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Inggris mendesak warga negaranya di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan UEA untuk berlindung. Mereka diminta tidak meninggalkan tempat.

‘Kami sekarang menyarankan untuk menghindari semua perjalanan kecuali perjalanan penting ke Bahrain, Kuwait, Qatar, dan UEA,” katanya di X dalam pembaruan terbarunya.

Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengatakan Iran telah melakukan “serangan balasan tanpa pandang bulu”. Dikatakannya pula bahwa “dua rudal balistik yang ditembakkan ke arah Siprus”, meskipun analis menilai kemungkinan besar tidak menargetkan pulau Mediterania tersebut.

Israel Serang Lagi Teheran

Tentara Israel kembali mengumumkan bahwa mereka melancarkan lagi serangan “skala besar” yang menargetkan “jantung Teheran”. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz juga memuji pembunuhan Khamenei sebagai “titik balik dalam perang”.

“Ia memimpin kampanye penghancuran terhadap Negara Israel, ia membangun seluruh poros kejahatan di sekitar kita, dan di dalam Iran sendiri ia mengejar garis tanpa kompromi terhadap Negara Israel,” kata Katz.

Iran Tunjuk Pemimpin Tertinggi Sementara

Ayatollah Alireza Arafi

Iran menunjuk Ayatollah Alireza Arafi sebagai Pemimpin Tertinggi Sementara. Ini menjadi sebuah langkah penting dalam transisi kepemimpinan negara tersebut setelah kematian pemimpin lama Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan AS-Israel di Teheran pada Sabtu.

Arafi adalah seorang ulama senior. Ia orang dalam Khamenei yang sudah lama berkecimpung dalam hierarki agama dan politik Iran.

Pembunuhan Khamenei adalah Perang Terhadap Muslim

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan pembunuhan Khamenei adalah deklarasi perang terhadap Muslim. Ia bahkan bersumpah akan membalas dendam.

Kepala keamanan Iran Ali Larijani kemudian berjanji akan menyerang AS dan Israel dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebelumnya, militer Iran mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka menargetkan pangkalan AS di wilayah Kurdistan Irak dan di Teluk sebagai tanggapan atas serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel.

AS Cegat Drone di Irak

Sistem pertahanan AS mencegat setidaknya dua drone pada hari Minggu, di atas kota Erbil di Irak utara. Sementara sirene berbunyi dari konsulat Amerika di sana.

Para pejabat AS juga memperingatkan warga di Bahrain untuk menghindari hotel di ibu kota Manama. Di sisi lain staf di kedutaan AS di Yordania diberitahu untuk menghindari kompleks kedutaan, dengan alasan risiko serangan.

Protes Meletus Dukung Iran Balas AS Bunuh Khamenei

Kerumunan dilaporkan berkumpul di selatan Iran untuk menyerukan pembalasan setelah pembunuhan Khamenei dalam serangan AS dan Israel. Pertemuan serupa terjadi di tempat lain di Iran termasuk di Teheran dan kota Yazd di bagian tengah.

Ratusan demonstran di Irak, yang secara resmi menyatakan tiga hari berkabung untuk Khamenei, juga mencoba menyerbu Zona Hijau di Baghdad. Ini merupakan tempat kedutaan AS berada.

Di Pakistan, sembilan orang tewas ketika ratusan demonstran mencoba menyerbu konsulat AS di kota besar Karachi, kata layanan penyelamatan setempat.

Ribuan Muslim Syiah bergabung dalam demonstrasi di Kashmir yang dikelola India, banyak di antaranya meneriakkan slogan anti-Israel dan anti-AS.

Badan Nuklir PBB akan Bertemu

Badan nuklir PBB akan mengadakan pertemuan luar biasa tentang Iran pada hari Senin. Dalam sebuah pernyataan pada Sabtu malam, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang berbasis di Wina mengatakan pertemuan itu atas permintaan Rusia, sekutu utama Teheran. (cnbcindonesia)

***

Iran meluncurkan gelombang serangan baru terhadap Israel dan pangkalan AS pasca kematian Khamenei

Iran meluncurkan gelombang baru serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) pada hari Minggu yang menargetkan pangkalan militer AS di kawasan tersebut serta Israel, demikian lapor media pemerintah, sebagai balasan atas serangan besar-besaran yang menewaskan pemimpin tertinggi Ali Khamenei.

Sebanyak dua puluh tujuh pangkalan AS di kawasan itu, serta markas besar militer Israel dan kompleks industri pertahanan di Tel Aviv, termasuk di antara target serangan tersebut, lapor TV pemerintah Iran.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengatakan sebelumnya pada hari Minggu bahwa mereka akan meluncurkan operasi “paling ganas” dalam sejarah melawan Israel dan pangkalan-pangkalan AS.

“Operasi ofensif paling ganas dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan dimulai kapan saja sekarang,” tulis Garda Revolusi melalui saluran Telegram mereka.

***

Proses transisi Khamenei dimulai hari ini, kata pejabat keamanan Iran

Kepala keamanan Iran, Ali Larijani, menyatakan bahwa proses transisi menyusul terbunuhnya pemimpin tertinggi Ali Khamenei akan dimulai pada hari Minggu.

“Dewan kepemimpinan sementara akan segera dibentuk. Presiden, kepala peradilan, dan seorang pakar hukum dari Dewan Garda akan memegang tanggung jawab hingga terpilihnya pemimpin berikutnya,” ujar Larijani, kepala badan keamanan tertinggi Iran, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, yang juga merupakan penasihat Khamenei.

“Dewan ini akan dibentuk sesegera mungkin. Kami sedang berupaya untuk membentuknya paling cepat hari ini,” katanya dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh televisi pemerintah. (alarabiya)

***

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dipastikan tewas akibat serangan Israel dan AS 

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dipastikan tewas akibat serangan Israel dan AS, menurut konfirmasi televisi pemerintah Iran. Pengumuman tersebut disampaikan pada hari Minggu, 1 Maret 2026. (alarabiya)

***

Seorang Wanita Tewas, 22 Luka-luka Akibat Serangan Langsung di Tel Aviv Setelah Sirene Terlambat Berbunyi

01/03/2026 – Tim darurat menyatakan bahwa di antara para korban luka terdapat seorang pria yang terluka parah akibat serpihan peluru; seluruh korban telah dievakuasi ke rumah sakit terdekat sementara tim terus menyisir bangunan yang rusak untuk mencari kemungkinan adanya korban tambahan.

Seorang wanita tewas dan sedikitnya 22 orang lainnya luka-luka dalam serangan langsung ke sebuah gedung hunian saat rentetan serangan yang menargetkan Tel Aviv pada Sabtu malam. Salah satu korban luka dilaporkan dalam kondisi serius, satu lainnya dalam kondisi sedang, dan sisanya mengalami luka ringan.

Tim penyelamat sedang menyisir lokasi kejadian, di mana terbentuk sebuah kawah besar, karena kekhawatiran adanya orang lain yang mungkin terjebak atau terluka.

Untuk alasan yang masih belum jelas, sirene tidak memberikan waktu standar satu setengah menit bagi penduduk untuk mencapai ruang pelindung, sehingga mereka memiliki waktu yang lebih sedikit dari yang seharusnya, meskipun sudah ada peringatan dini mengenai antisipasi peluncuran serangan tersebut. Pihak IDF menolak berkomentar untuk saat ini terkait laporan keterlambatan aktivasi sirene tersebut. (ynetnews)

***

Setidaknya satu orang luka parah dalam serangan rudal di Tel Aviv

01/03/2026 04:08 – Setidaknya satu orang terluka parah akibat hantaman rudal balistik Iran di Tel Aviv, menurut layanan ambulans Magen David Adom (MDA). Pria berusia 40-an tersebut sedang dibawa ke rumah sakit.

MDA menyatakan bahwa mereka terus menyisir lokasi untuk mencari kemungkinan adanya korban luka lainnya di tempat kejadian.

***

Ledakan terus berlanjut di langit Doha

01/03/2026 03:55 – Intersepsi yang terlihat kini dapat disaksikan dan terdengar di langit ibu kota Qatar tersebut.

Ledakan telah terdengar sepanjang hari, namun rekan-rekan kami di lapangan mengatakan bahwa gelombang terbaru ini adalah yang paling keras sejauh ini.

***

Laporan Reuters dan media Israel: Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tewas 

01/03/2026 03:10 – Kantor berita Reuters dan media Israel melaporkan tewasnya Khamenei dengan mengutip pejabat “senior” Israel yang tidak disebutkan namanya.

Kepala hubungan masyarakat di kantor Pemimpin Tertinggi Iran menuduh musuh-musuh negara tersebut melakukan “perang mental” (perang urat saraf) menyusul laporan Israel bahwa Ayatollah Ali Khamenei telah tewas, demikian dilaporkan media pemerintah Iran.

***

Iran Mulai Tutup Selat Hormuz

28/02/2026 23:27 – IRGC mengirim pesan, “tidak ada kapal yang boleh melintasi Selat Hormuz”.

Seorang pejabat dari misi kelautan European Union, Aspides, dilaporkan Reuters pada Sabtu (28/2/2026), mengatakan bahwa kapal-kapal telah menerima transmisi pesan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang mengatakan, “tidak ada kapal yang boleh melintasi Selat Hormuz”. Pesan dari IRGC itu diterima kapal-kapal di tengah gelombang serangan balasan Iran terhadap agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Selat Hormuz diketahui menjadi salah satu rute perdagangan minyak paling vital di dunia, yang menghubungkan negara-negara raksasa pemroduksi minyak di Teluk Persia seperti Arab Saudi, Iran, Irak dan Uni Emirat Arab dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Lebih dari 21 juta barel minyak melintas di Selat Hormuz setiap harinya, atau 37 persen dari lalu lintas perdagangan minyak di dunia. (republika)

***

Amukan Iran Berlanjut, 14 Pangkalan Militer AS di Tujuh Negara Jadi Sasaran

28/02/2026 23:11 – Republika Islam Iran tak main-main dengan janjinya menyerang semua pangkalan militer AS di kawasan jika mereka diserang lebih dulu. media Iran melaporkan, sejauh ini sudah 14 pangkalan militer AS di seantero Asia Barat dihajar rudal-rudal Iran.

Kantor Berita Tasnim melaporkan, sumber di militer Iran menyatakan belasan pangkalan militer itu sudah disasar Iran.  Behnam Saeedi, Sekretaris Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri di Dewan Syura Iran, juga mengkonfirmasi hari ini bahwa Angkatan Bersenjata Iran telah menargetkan tujuh pangkalan militer AS di tujuh negara.

Saeedi menambahkan bahwa tanggapan Republik Islam terhadap agresi tersebut bersifat langsung dan apa yang telah dilakukan sejauh ini barulah semacam latihan, bukan tanggapan yang tegas. Iran sebelumnya telah bersumpah bahwa pangkalan militer Washington di wilayah tersebut akan diserang jika Republik Islam menjadi sasarannya.

AS memiliki delapan pangkalan militer permanen di Asia Barat, yang terletak di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Selain itu, mereka memiliki akses ke sekitar belasan fasilitas militer lainnya di kawasan ini, termasuk lokasi di Mesir, Irak, Yordania, Oman, Arab Saudi, dan Suriah. (republika)

***

Ledakan lebih lanjut terdengar di Abu Dhabi, Manama, Doha

Warga dan koresponden AFP di ibu kota Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain mendengar ledakan lebih lanjut, saat Iran meluncurkan gelombang serangan balasan di Teluk menyusul serangan AS dan Israel.

Seorang koresponden AFP di Manama mendengar setidaknya dua ledakan, sementara jurnalis di Qatar melaporkan gelombang ledakan baru. Warga di Abu Dhabi juga mendengar suara ledakan.

Dua saksi mata mengatakan kepada AFP bahwa mereka melihat asap membubung dari pangkalan Al Dhafra di Abu Dhabi, yang menampung pasukan AS. (timesofisrael)

***

Iran Tegaskan Serangan Balasan terhadap AS-Israel Akan Terus Berlanjut Tanpa Henti

28/02/2025 20:47 – Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan telah meluncurkan “gelombang pertama” serangan balasan berupa rudal dan drone terhadap Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Dalam pernyataannya, IRGC juga menyebut seluruh pangkalan, aset, dan kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah sebagai target sah militer Iran.

“Semua pangkalan Israel dan AS di kawasan telah dihantam oleh pukulan kuat rudal Iran,” demikian pernyataan tersebut, dikutip dari Channel News Asia.

IRGC menambahkan bahwa operasi militer tersebut akan terus berlanjut tanpa henti hingga musuh “dikalahkan secara menentukan.”

Pernyataan ini menandai eskalasi besar konflik, dengan Iran secara terbuka memperluas target serangan tidak hanya ke Israel, tetapi juga ke kepentingan Amerika Serikat di kawasan.

Serangan balasan Iran dilakukan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap sejumlah target di Iran, yang memicu konfrontasi langsung antara kedua pihak.

Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik menjadi perang regional yang melibatkan banyak negara di Timur Tengah.

Sebelumnya, sejumlah negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Yordania, mencegat rudal Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, dengan beberapa fasilitas yang terkait dengan militer AS dilaporkan menjadi sasaran. (metrotvnews)

***

Sirene berbunyi di Israel tengah, IDF berupaya mencegat rudal

28/02/2026 20:45 – Sirene berbunyi di Tel Aviv dan di seluruh wilayah Israel tengah di tengah serangan rudal balistik terbaru dari Iran.

IDF (Pasukan Pertahanan Israel) menyatakan bahwa mereka sedang berupaya untuk menembak jatuh rudal-rudal tersebut. (timesofisrael)

***

Iran Balas Serang Pangkalan AS di Qatar, Kuwait, UEA, dan Bahrain

Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan telah melancarkan serangan balasan terhadap empat pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah pada Sabtu (28/2).

Langkah tersebut diambil sebagai respons langsung atas gempuran udara AS dan Israel ke Teheran serta kota-kota lain di Iran pada hari yang sama.

Berdasarkan laporan media pemerintah Iran, seperti dikutip dari CNN, IRGC mengonfirmasi rentetan serangan rudal tersebut menargetkan titik-titik strategis militer AS di wilayah Teluk.

Titik-titik itu adalah Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Pangkalan Udara Al Salem di Kuwait, Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab (UEA), serta Markas Armada Kelima AS (US Fifth Fleet) di Bahrain.

Kondisi tersebut sejalan dengan peringatan keras Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang sebelumnya menyatakan bahwa kekuatan militer terkuat di dunia sekalipun dapat dipukul hingga jatuh.

Laporan serangan tersebut juga menjelaskan penyebab terdengarnya ledakan keras di Qatar (Doha), Uni Emirat Arab (Abu Dhabi), dan Kuwait (Kuwait City) sebelumnya.

Kementerian Pertahanan Qatar sebelumnya telah mengonfirmasi upaya pencegatan (intercept) terhadap rudal-rudal yang mengarah ke wilayah mereka.

Sementara itu, sebelumnya dilaporkan sirine peringatan terus meraung di Kuwait seiring dengan meningkatnya aktivitas sistem pertahanan udara di kawasan tersebut.

Dengan keterlibatan langsung pangkalan di Qatar, Kuwait, dan UEA, konflik yang dipicu “operasi besar-besaran” Presiden AS Donald Trump kini resmi berubah menjadi perang regional yang melibatkan banyak negara.

Situasi tersebut juga telah membuat Qatar, Kuwait, dan UEA menutup wilayah udara mereka bagi penerbangan sipil karena wilayah tersebut kini menjadi zona pertempuran aktif antara rudal Iran dan sistem pertahanan udara AS. (cnn)

***

Iran Serang Pangkalan Militer AS di Bahrain; Ledakan Terdengar di Seluruh Kawasan Teluk

Video menunjukkan kepulan asap membubung setelah Iran menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain, menyusul serangan Israel–AS di berbagai wilayah Iran. Dua rudal berhasil dicegat di atas Qatar, sementara ledakan dilaporkan terdengar di Abu Dhabi, Kuwait, dan Arab Saudi. (aljazeera)

***

Peluncuran rudal baru Iran terdeteksi; sirene bersiap berbunyi di wilayah selatan

17:34 – IDF (Pasukan Pertahanan Israel) menyatakan telah mendeteksi peluncuran baru rudal balistik dari Iran.

Sirene diperkirakan akan berbunyi di Israel selatan dalam beberapa menit ke depan.

Warga Israel yang mendapatkan peringatan diperintahkan untuk segera memasuki bungker perlindungan bom. (timesofisrael)

***

Serangan Israel Targetkan Khamenei dan Pezeshkian, Kata Pejabat Israel; Hasilnya Saat Ini Belum Jelas

Serangan Israel pagi ini di Iran menargetkan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian, demikian pernyataan seorang pejabat Israel.

Hasil dari serangan tersebut saat ini belum jelas, kata pejabat itu.

Sebelumnya, kantor berita Tasnim Iran melaporkan bahwa Pezeshkian berada dalam “kondisi sehat sepenuhnya.”

Beberapa menit yang lalu, mengutip sumber Israel yang tidak disebutkan namanya, Saluran 12 Israel (Channel 12) menyatakan bahwa Israel menilai serangan terhadap Iran sejauh ini telah mencapai “keberhasilan yang sangat tinggi” dalam tujuan melenyapkan kepemimpinan Iran.

Laporan tersebut mengatakan penilaian itu berkaitan dengan para komandan senior, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Lebih lanjut disebutkan bahwa “tidak jelas apakah [Pemimpin Tertinggi Iran Ali] Khamenei tidak mengalami peristiwa dramatis.” (timesofisrael)

***

Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke wilayah pendudukan Israel

Feb 28, 2026 13:18 – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah mengumumkan peluncuran serangan besar-besaran menggunakan rudal dan drone yang menargetkan wilayah pendudukan Israel sebagai respons atas agresi terhadap Iran baru-baru ini.

Menurut pernyataan yang dirilis oleh kantor hubungan masyarakat IRGC, gelombang pertama serangan telah dimulai.

Pengumuman ini menyusul serangan udara di wilayah Teheran pusat pada Sabtu pagi.

Reporter IRNA menyaksikan serangan yang terus berlangsung dan beberapa ledakan di Teheran pusat dan timur sekitar tengah hari. Tembakan antipesawat juga terdengar di atas ibu kota. (irna)

***

Trump Konfirmasi Serangan Militer AS ke Iran Dimulai

Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa operasi militer AS terhadap Teheran, Iran, resmi dimulai. Melalui video yang diunggah ke media sosial, Trump menjelaskan itu langkah defensif melindungi kepentingan nasional AS.

“Tujuan kami adalah untuk membela rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman langsung dari rezim Iran, sekelompok orang yang kejam, sangat keras dan mengerikan,” kata Trump dalam video yang dikutip dari CNN, Sabtu (28/2).

Trump menilai aktivitas Iran selama ini secara langsung membahayakan pasukan, pangkalan militer AS di luar negeri, serta para sekutu di seluruh dunia.Ia menyoroti rekam jejak panjang rezim tersebut yang ia anggap terus menebar ancaman selama hampir lima dekade.

“Selama 47 tahun, rezim Iran telah meneriakkan ‘kematian bagi Amerika’ dan melancarkan kampanye pertumpahan darah serta pembunuhan massal yang tiada henti, dengan menargetkan Amerika Serikat, pasukan kami, dan warga tak bersalah di banyak negara,” tuturnya.

Israel Serang Iran, Ledakan Terdengar di Ibu Kota Teheran

Israel meluncurkan sejumlah serangan rudal ke ibu kota Teheran, Iran, pada Sabtu (28/2). Laporan media Iran menyebut beberapa rudal menghancurkan jalan di daerah Jomhouri di Teheran.

Ledakan di Teheran Iran

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengakui telah melancarkan serangan pendahuluan terhadap Iran.

“Israel telah melancarkan serangan pendahuluan terhadap Iran, untuk menghilangkan ancaman terhadap Israel,” kata Katz, dikutip Times of Israel.

Usai serangan, Israel langsung menyatakan keadaan darurat di seluruh wilayah. Serangan Israel dilakukan di tengah meningkatnya kehadiran militer Amerika Serikat selama lebih dari sepekan terakhir.

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran usai serangan Israel. (CNN)