Pidato Paus Urbanus II : Seruan Perang Salib yang Mengubah Sejarah Dunia

Pidato Paus Urbanus II pada Konsili Clermont tahun 1095 merupakan salah satu pidato paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Dari pidato inilah lahir Perang Salib Pertama (First Crusade), sebuah konflik yang mengubah hubungan antara dunia Kristen dan dunia Islam selama berabad-abad.

Namun, naskah pidato tersebut tidak pernah ditulis secara langsung saat Paus Urbanus II berbicara. Yang dikenal saat ini merupakan rekonstruksi dari beberapa penulis abad pertengahan, salah satunya adalah Robertus Monachus (Robert the Monk). Versi Robertus Monachus merupakan versi yang paling terkenal dan paling sering dikutip dalam berbagai buku sejarah.

Info Belanja 100 Produk Terlaris di Shopee Minggu Ini

1. Latar Belakang Sejarah

Pada akhir abad ke-11, Kekaisaran Bizantium mengalami tekanan besar akibat ekspansi Dinasti Seljuk Turki.

Tahun 1071, pasukan Bizantium mengalami kekalahan besar dalam Pertempuran Manzikert. Sebagian besar wilayah Anatolia jatuh ke tangan Seljuk.

Kaisar Bizantium Alexios I Komnenos kemudian meminta bantuan kepada Paus Urbanus II.

Di sisi lain, Gereja Katolik Barat juga memiliki kepentingan politik:

  • memperkuat kepemimpinan paus
  • menyatukan para bangsawan Eropa yang sering berperang satu sama lain
  • memperluas pengaruh Gereja
  • membantu Bizantium
  • merebut kembali Yerusalem.

Karena itulah Paus Urbanus II mengadakan Konsili Clermont di Prancis pada November 1095.

Sejarah Dunia
2. Siapa Robertus Monachus?

Robertus Monachus atau Robert the Monk adalah seorang biarawan Benediktin asal Prancis.

Sekitar tahun 1107–1120, ia menulis karya berjudul Historia Iherosolimitana.

Di dalam buku tersebut ia menuliskan versi pidato Paus Urbanus II yang menurut pengakuannya didasarkan pada kesaksian orang-orang yang hadir dalam Konsili Clermont.

Versi inilah yang kemudian menjadi naskah paling populer mengenai pidato tersebut.

3. Apakah Robert Menulis Kata-Kata Asli Paus?

Mayoritas sejarawan menjawab: Tidak sepenuhnya. Tidak ada rekaman pidato asli. Tidak ada stenografer pada tahun 1095.

Robert menulis lebih dari sepuluh tahun setelah peristiwa berlangsung.

Karena itu, para ahli menganggap teks Robert merupakan: rekonstruksi, penyusunan ulang, atau interpretasi.

Meski demikian, hampir semua sejarawan sepakat bahwa isi pokok pidatonya memang mencerminkan pesan yang disampaikan Paus Urbanus II.

4. Isi Pidato Paus Urbanus II versi Robertus Monachus

1. Pembukaan dan Latar Belakang

Teks Bahasa Latin :

Factum est autem, dum dominus Urbanus papa apud Clarum Montem concilium celebraret, et de statu ecclesiarum multisque negotiis tractaret, ut de liberatione ecclesiae Orientalis et civitatis sanctae Hierusalem sermonem ad populum faceret.

Cum ergo infinita multitudo clericorum et laicorum convenisset, surrexit papa in medio concilii, et, silentio facto, ita coepit loqui:

“O gens Francorum, gens transmontana, gens a Deo dilecta et electa, sicut manifestum est in multis operibus vestris, et a cunctis gentibus propter fidem catholicam, propter honorem sanctae Ecclesiae, propter strenuitatem armorum vestrorum discreta atque gloriosa: ad vos sermo noster dirigitur; vobis loquimur, quibus Deus tantam prae ceteris gentibus gloriam contulit.”

Terjemahan : 

Ketika Paus Urbanus sedang menyelenggarakan Konsili di Clermont dan membahas keadaan Gereja serta berbagai urusan lainnya, ia menyampaikan pidato kepada rakyat mengenai pembebasan Gereja Timur dan Kota Suci Yerusalem.

Setelah sejumlah besar rohaniwan dan kaum awam berkumpul, Paus berdiri di tengah sidang. Setelah suasana menjadi hening, ia mulai berbicara:

“Wahai bangsa Frank, bangsa dari seberang pegunungan, bangsa yang dikasihi dan dipilih oleh Allah, sebagaimana tampak dalam banyak perbuatan kalian, serta dikenal di antara segala bangsa karena iman Katolik, penghormatan kepada Gereja yang Kudus, dan keberanian dalam peperangan; kepada kalianlah kami mengarahkan perkataan ini. Kepada kalian kami berbicara, sebab Allah telah menganugerahkan kepada kalian kemuliaan yang besar melebihi banyak bangsa lainnya.”

2. Keadaan Gereja Timur dan Permintaan Bantuan

“Ex finibus Hierosolymitanis et urbe Constantinopolitana relatio gravis ad nos pervenit, et saepe iam perlata est, quia gens Persarum, regnum Turcorum, gens alienigena, gens a Deo prorsus aversa, terram Christianorum invasit atque ferro, rapinis et incendiis vastavit.”

Terjemahan :  

“Dari wilayah Yerusalem dan dari kota Konstantinopel telah sampai kepada kami laporan yang sangat menyedihkan, bahkan telah berulang kali disampaikan, bahwa bangsa Persia, yaitu kerajaan Turki, suatu bangsa asing, suatu bangsa yang berpaling dari Allah, telah menyerbu negeri orang-orang Kristen serta menghancurkannya dengan pedang, penjarahan, dan api.”

***

“Ecclesias Dei destruxerunt; regnum Dei depopulati sunt; altaria polluerunt; Christianos aut occiderunt aut captivos abduxerunt.”

Terjemahan : 

“Mereka telah menghancurkan gereja-gereja Allah, merusak wilayah kerajaan Allah, menajiskan altar-altar, dan membunuh atau membawa orang-orang Kristen sebagai tawanan.”

***

“Quosdam gladio trucidant, quosdam in servitutem redigunt; ecclesias vel destruunt vel suis ritibus profanant.”

Terjemahan : 

“Sebagian mereka bunuh dengan pedang, sebagian lagi mereka jadikan budak; gereja-gereja mereka hancurkan atau mereka cemari dengan tata ibadah mereka sendiri.”

***

“Terra illa, quam Dominus adventu suo illustravit, quam passione consecravit, quam resurrectione glorificavit, nunc in manibus inimicorum tenetur.”

Terjemahan :

“Tanah yang diterangi oleh kedatangan Tuhan, yang dikuduskan oleh penderitaan-Nya, dan dimuliakan oleh kebangkitan-Nya, kini berada di tangan musuh-musuh.”

***

“Sancta civitas Hierusalem, quae est umbilicus mundi, servituti subiecta est.”

Terjemahan :

“Kota Suci Yerusalem, yang disebut sebagai pusat dunia, kini berada dalam keadaan tertakluk.”

3. Seruan kepada Bangsa Frank untuk Berangkat ke Tanah Suci

“Vos autem, o fortissimi milites, vos, inquam, filii invictorum patrum, nolite degenerare a virtute maiorum vestrorum; sed recordamini fortitudinis progenitorum vestrorum.”

Terjemahan :

“Adapun kalian, wahai para ksatria yang sangat perkasa, kalian, anak-anak dari para leluhur yang tak terkalahkan, janganlah menyimpang dari keberanian nenek moyang kalian. Ingatlah ketangguhan para pendahulu kalian.”

***

“Ne vos retardet amor patriae, nec cura rerum familiarum, neque cupiditas divitiarum; terra enim quam inhabitatis, undique mari vel montibus circumdata, angusta est multitudini vestrae.”

Terjemahan :

“Janganlah kecintaan kepada tanah air, urusan keluarga, ataupun keinginan akan harta menghalangi kalian. Sebab negeri yang kalian tempati, yang dikelilingi laut dan pegunungan, terlalu sempit bagi jumlah penduduk kalian.”

***

“Nec abundat divitiis; vix cultoribus suis alimenta ministrat. Unde fit ut vos invicem prematis atque consumatis, bella geratis et mutuis vulneribus pereatis.”

Terjemahan :

“Negeri itu juga tidak berlimpah kekayaan; bahkan hampir tidak mampu mencukupi kebutuhan para penghuninya. Karena itulah kalian saling menindas, saling menghancurkan, berperang satu sama lain, dan banyak yang gugur oleh tangan sesama.”

***

“Cessent igitur odia inter vos; sopiantur discordiae; quiescant bella; et omnis simultatum materia conquiescat.”

Terjemahan :

“Karena itu, hendaklah kebencian di antara kalian berhenti; perselisihan diredakan; peperangan dihentikan; dan segala sebab permusuhan disingkirkan.”

***

“Ingredimini viam Sancti Sepulchri; eripite terram illam a gente nefaria atque eam vobis subiugate.”

Terjemahan :

“Tempuhlah jalan menuju Makam Suci; rebutlah negeri itu dari bangsa yang jahat, dan kuasailah negeri tersebut.”

***

“Terra illa, sicut Scriptura dicit, lacte et melle fluit; paradisus deliciarum est, fertilitate omnium bonorum abundans.”

Terjemahan :

“Negeri itu, sebagaimana dikatakan Kitab Suci, mengalir dengan susu dan madu; laksana taman kenikmatan yang berlimpah dengan segala hasil yang baik.”

***

“Hierusalem est umbilicus terrae; terra prae omnibus fructifera, velut alter paradisus deliciarum.”

Terjemahan :

“Yerusalem adalah pusat bumi; sebuah negeri yang sangat subur melebihi negeri-negeri lain, bagaikan firdaus kedua yang penuh kenikmatan.”

5. Janji Pengampunan Dosa, Seruan “Deus Vult” dan Penutup

“Quicumque igitur pro sola devotione, non pro honoris vel pecuniae adeptione, ad liberandam Ecclesiam Dei Hierosolymam profectus fuerit, iter illud ei pro omni paenitentia reputetur.”

Terjemahan :

“Karena itu, barang siapa berangkat untuk membebaskan Gereja Allah di Yerusalem semata-mata karena pengabdian kepada Allah, bukan demi memperoleh kehormatan ataupun harta, maka perjalanan itu akan diperhitungkan baginya sebagai pengganti seluruh penitensi yang seharusnya ia jalani.”

***

“Haec cum dixisset Urbanus pontifex, cuncti qui aderant uno ore conclamaverunt:”

Terjemahan :

“Setelah Paus Urbanus menyampaikan perkataan itu, semua orang yang hadir berseru dengan satu suara:”

***

“Deus vult! Deus vult!”

Terjemahan :

“Allah menghendakinya! Allah menghendakinya!”

***

“Quod cum audisset venerabilis Romanus Pontifex, elevatis ad caelum oculis, Deo gratias egit, et manu silentium indicens ait:”

Terjemahan :

“Ketika Uskup Roma yang mulia mendengar seruan itu, ia mengangkat matanya ke langit, mengucap syukur kepada Allah, lalu mengangkat tangannya meminta semua orang diam dan berkata:”

***

“Carissimi fratres, hodie in vobis manifestatum est quod Dominus in Evangelio promisit: Ubi enim duo vel tres congregati fuerint in nomine meo, ibi sum in medio eorum.”

Terjemahan :

“Saudara-saudara yang terkasih, pada hari ini telah nyata di tengah kalian apa yang dijanjikan Tuhan dalam Injil: ‘Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.'”

***

“Nisi enim Dominus Deus spiritum vestrum inspirasset, una eademque vox ex omnibus non processisset.”

Terjemahan :

“Seandainya Tuhan Allah tidak mengilhami hati kalian, tentu satu seruan yang sama tidak akan keluar dari mulut kalian semua.”

***

“Quamvis enim ex ore plurimorum prolata sit, una tamen fuit vocis origo, quia Deus eam inspiravit.”

Terjemahan :

“Meskipun seruan itu keluar dari banyak orang, asalnya tetap satu, sebab Allah sendirilah yang mengilhamkannya.”

***

“Sit ergo vobis hoc in bello clamor: Deus vult! Deus vult!”

Terjemahan :

“Karena itu, biarlah seruan perang kalian adalah: ‘Allah menghendakinya! Allah menghendakinya!'”

***

“Quando igitur contra inimicos proceditis, unus idemque clamor ab exercitu Dei exaltetur: Deus vult!”

Terjemahan :

“Maka apabila kalian maju menghadapi musuh, biarlah satu seruan yang sama bergema dari bala tentara Allah: ‘Allah menghendakinya!'”

***

Sumber: Robertus Monachus (Robert the Monk), Historia Iherosolimitana, rekonstruksi pidato Paus Urbanus II di Konsili Clermont (1095).


Versi pidato Paus Urbanus II yang ditulis oleh Robertus Monachus merupakan salah satu dokumen paling berpengaruh dalam historiografi Perang Salib. Walaupun tidak dapat dipastikan sebagai transkrip asli, naskah ini memberikan gambaran tentang bagaimana seruan tersebut dipahami dan disampaikan kembali kepada masyarakat Eropa pada awal abad ke-12.

Pidato tersebut memadukan ajakan religius, dukungan kepada Kekaisaran Bizantium, semangat pembebasan Yerusalem, dan motivasi spiritual berupa pengampunan dosa. Kombinasi faktor-faktor inilah yang mendorong ribuan orang dari berbagai lapisan masyarakat untuk mengikuti Perang Salib Pertama.

Arya Wiranegara 

Sumber : https://adajuga.com/pidato-paus-urban-ii/

.