Perang Salib : Jatuhnya Akka 1291 Kondisi Terakhir Negara Salibis, Sultan al-Ashraf Khalil, Pengepungan Akka, Jatuhnya Kota, Berakhirnya Kekuasaan Salibis di Levant, dan Reaksi Dunia Muslim Tahun 1291 merupakan salah satu titik akhir paling penting dalam sejarah Perang Salib di Timur Tengah. Setelah hampir dua abad sejak pasukan Franka menaklukkan Yerusalem pada tahun 1099, kota pelabuhan Akka (Acre/Akka)—benteng terbesar dan ibu kota de facto Kerajaan Yerusalem yang tersisa—jatuh ke tangan Kesultanan Mamluk. Peristiwa ini mengakhiri keberadaan negara-negara Salibis di Levant dan menutup babak panjang dominasi politik Latin di pesisir Syam. Dalam perspektif sumber-sumber Islam, kemenangan ini merupakan kelanjutan dari perjuangan yang dimulai oleh Imad ad-Din Zengi, diteruskan oleh Nur ad-Din, diperkuat oleh Salahuddin al-Ayyubi, dan disempurnakan oleh para sultan Mamluk. Dari sudut pandang historiografi Barat, jatuhnya Akka menandai berakhirnya proyek negara-negara Salib di Tanah Suci, meskipun semangat Perang Salib masih muncul dalam ekspedisi-ekspedisi berikutnya. 1. Negara Salibis Menjelang Akhir Abad ke-13 Setelah kampanye Sultan Baybars dan penerusnya, wilayah kekuasaan Latin menyusut drastis. Negara-negara Salibis telah kehilangan: Antiokhia (1268), Krak des Chevaliers (1271), sebagian besar benteng pedalaman, banyak kota penting di Palestina dan Suriah. Yang tersisa hanyalah beberapa kota pelabuhan seperti: Akka, Tirus (Tyre), Sidon, Beirut, Haifa, Tortosa, serta beberapa pulau kecil di lepas pantai. Akka menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, dan pertahanan terakhir kaum Franka di Levant. 2. Akka sebagai Ibu Kota Terakhir Setelah Yerusalem jatuh kepada Salahuddin pada tahun 1187, pusat pemerintahan Kerajaan Yerusalem berpindah ke Akka. Kota ini berkembang menjadi: pusat perdagangan Laut Tengah, markas Ordo Templar, markas Ordo Hospitaller, pusat aktivitas para pedagang Italia dari Venesia, Genoa, dan Pisa. Akka juga menjadi pelabuhan utama bagi bala bantuan dari Eropa. 3. Kondisi Internal Negara Salibis Meskipun Akka masih makmur, kondisi politik di dalamnya tidak stabil. Berbagai kelompok memiliki kepentingan yang berbeda, antara lain: bangsawan Kerajaan Yerusalem, Ordo Templar, Ordo Hospitaller, Ordo Teutonik, pedagang Venesia, pedagang Genoa, pedagang Pisa. Persaingan ekonomi dan politik sering melemahkan koordinasi pertahanan kota. 4. Kesultanan Mamluk Setelah Baybars Setelah wafatnya Baybars, para penerusnya melanjutkan kebijakan menghancurkan negara-negara Salibis. Sultan Qalawun (Al-Mansur Qalawun) berhasil merebut beberapa kota penting, termasuk Tripoli pada tahun 1289. Ketika Qalawun meninggal pada tahun 1290, putranya Sultan al-Ashraf Khalil melanjutkan rencana menyerang Akka. 5. Sultan al-Ashraf Khalil Al-Ashraf Khalil ibn Qalawun (memerintah 1290–1293) dikenal sebagai penguasa yang tegas dan bertekad mengakhiri keberadaan negara-negara Salibis. Ia mewarisi tentara yang kuat, administrasi yang stabil, dan pengalaman militer dari pemerintahan ayahnya. Tujuan utamanya adalah merebut Akka dan menghapus basis terakhir kekuasaan Latin di Levant. 6. Alasan Penyerangan Akka Menurut sumber-sumber Muslim dan Latin, salah satu pemicu langsung adalah insiden pada tahun 1290 ketika sekelompok tentara dan peziarah Latin yang baru tiba di Akka menyerang dan membunuh sejumlah pedagang Muslim. Qalawun menuntut agar para pelaku diserahkan untuk diadili, tetapi tuntutan tersebut tidak dipenuhi. Peristiwa ini menjadi alasan bagi Mamluk untuk melancarkan kampanye besar. 7. Persiapan Pengepungan Pada awal tahun 1291, Sultan al-Ashraf Khalil mengumpulkan pasukan dari: Mesir, Suriah, Palestina. Pasukan tersebut dilengkapi dengan: trebuchet berukuran besar, mangonel, menara pengepung, pasukan pemanah, pasukan berkuda Mamluk. Berbagai sumber menyebut bahwa ini merupakan salah satu operasi militer terbesar Mamluk pada abad ke-13. 8. Pertahanan Akka Di dalam kota, pertahanan dipimpin oleh: Ordo Templar, Ordo Hospitaller, Ordo Teutonik, pasukan Kerajaan Yerusalem, sukarelawan dari Eropa. Benteng dan tembok Akka termasuk yang terkuat di kawasan Mediterania. Namun, jumlah pasukan bertahan jauh lebih sedikit dibandingkan kekuatan Mamluk. 9. Jalannya Pengepungan Pengepungan dimulai pada April 1291. Pasukan Mamluk terus membombardir tembok kota menggunakan trebuchet dan mesin pelontar batu. Sementara itu, pasukan Franka berusaha melakukan serangan balasan dan memperbaiki bagian tembok yang rusak. Pertempuran berlangsung hampir setiap hari. 10. Tembok Kota Runtuh Setelah berminggu-minggu diserang, sebagian tembok pertahanan berhasil ditembus. Pasukan Mamluk memasuki kota melalui beberapa titik. Pertempuran berubah menjadi pertempuran jalanan yang sengit. 11. Jatuhnya Akka Pada 18 Mei 1291, Akka akhirnya jatuh. Sebagian besar pasukan Latin bertempur hingga akhir. Sebagian lainnya berhasil melarikan diri menggunakan kapal menuju Siprus. Dengan jatuhnya Akka, pusat pemerintahan terakhir negara Salibis di Levant berakhir. 12. Nasib Penduduk Sebagaimana lazim terjadi dalam pengepungan besar pada Abad Pertengahan, jatuhnya Akka diikuti oleh penjarahan, penawanan, dan korban jiwa di kalangan kombatan maupun sebagian penduduk sipil. Sumber-sumber Muslim dan Latin memberikan angka korban yang berbeda-beda, sehingga jumlah pastinya masih diperdebatkan oleh para sejarawan. 13. Runtuhnya Benteng Templar Salah satu pertempuran terakhir terjadi di benteng Ordo Templar. Para ksatria bertahan selama beberapa hari setelah kota utama jatuh. Ketika benteng akhirnya runtuh, perlawanan terorganisasi kaum Franka di Akka pun berakhir. 14. Akhir Negara Salibis Setelah Akka direbut, kota-kota Latin yang masih tersisa tidak mampu bertahan. Dalam beberapa bulan berikutnya, Mamluk menguasai: Tirus, Sidon, Beirut, Haifa, Tortosa, Athlit. Sebagian besar wilayah tersebut ditinggalkan atau dievakuasi oleh pasukan Latin tanpa perlawanan besar. 15. Berakhirnya Kekuasaan Salibis di Levant Tahun 1291 secara umum dipandang sebagai akhir dari negara-negara Salibis di daratan Levant. Meskipun beberapa pulau seperti Siprus masih diperintah oleh dinasti Latin dan beberapa ekspedisi Perang Salib tetap dilancarkan pada masa berikutnya, tidak ada lagi kerajaan Latin yang berkuasa di Palestina dan Suriah. 16. Reaksi Dunia Muslim Dalam historiografi Islam, kemenangan di Akka dipandang sebagai pencapaian besar. Para sejarawan seperti Ibn al-Furat, Al-Maqrizi, dan Ibn Kathir menggambarkan jatuhnya Akka sebagai berakhirnya ancaman politik Franka di pesisir Syam. Peristiwa ini dipahami sebagai hasil perjuangan panjang yang telah dimulai sejak masa Zengi dan Nur ad-Din, dilanjutkan oleh Salahuddin, kemudian disempurnakan oleh para sultan Mamluk. 17. Reaksi Dunia Latin Di Eropa, jatuhnya Akka menimbulkan duka dan kekhawatiran. Berbagai kerajaan dan Paus kembali menyerukan Perang Salib baru. Namun, konflik internal di Eropa, perubahan prioritas politik, dan besarnya biaya ekspedisi membuat upaya merebut kembali Tanah Suci tidak pernah mencapai skala seperti pada abad ke-12. 18. Dampak bagi Mamluk Kemenangan di Akka menjadikan Kesultanan Mamluk sebagai kekuatan dominan di Timur Tengah. Mereka menguasai: Mesir, Suriah, Palestina, Hijaz. Selain itu, Mamluk berhasil mengamankan jalur perdagangan penting antara Laut Tengah, Laut Merah, dan Samudra Hindia. 19. Penilaian Sejarawan Modern Sejarawan seperti Thomas Asbridge, Jonathan Phillips, Carole Hillenbrand, Peter Thorau, dan Peter Lock menilai jatuhnya Akka sebagai akhir simbolis dan politik dari era negara-negara Salibis di Levant. Namun, mereka juga menekankan bahwa proses kemunduran negara Salibis berlangsung secara bertahap selama beberapa dekade, dipengaruhi oleh melemahnya dukungan Eropa, kekuatan militer Mamluk, serta perubahan geopolitik di kawasan setelah ancaman Mongol mereda. Kesimpulan Jatuhnya Akka pada tahun 1291 merupakan penutup dari hampir dua abad keberadaan negara-negara Salibis di Levant. Setelah kehilangan sebagian besar wilayahnya akibat kampanye Baybars dan para penerusnya, Akka menjadi benteng terakhir sekaligus pusat pemerintahan Kerajaan Yerusalem. Di bawah kepemimpinan Sultan al-Ashraf Khalil, Kesultanan Mamluk melancarkan pengepungan besar yang berakhir dengan jatuhnya kota pada 18 Mei 1291. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan politik Latin di Palestina dan Suriah. Meskipun semangat Perang Salib masih hidup di Eropa dan beberapa ekspedisi baru tetap direncanakan, tidak ada lagi negara Salibis yang mampu berdiri kembali di Levant. Dalam perspektif sejarah Islam, kemenangan di Akka dipandang sebagai puncak perjuangan panjang yang dimulai oleh Zengi, diperkuat oleh Nur ad-Din, mencapai titik balik pada masa Salahuddin, dan diselesaikan oleh Kesultanan Mamluk. Dalam kajian sejarah modern, jatuhnya Akka dipahami sebagai hasil dari kombinasi kekuatan militer Mamluk, kepemimpinan yang efektif, serta kemunduran bertahap negara-negara Salibis akibat persoalan internal dan berkurangnya dukungan dari Eropa. Sumber Rujukan Ibn al-Furat, Tarikh al-Duwal wa al-Muluk. Al-Maqrizi, Al-Suluk li Ma’rifat Duwal al-Muluk. Ibn Kathir, Al-Bidaya wa al-Nihaya. Abu al-Fida, Al-Mukhtasar fi Akhbar al-Bashar. Baybars al-Mansuri, Zubdat al-Fikra fi Tarikh al-Hijra. Sumber Primer Latin Templar of Tyre, Chronicle. Marino Sanudo Torsello, Liber Secretorum Fidelium Crucis. *Gestes des Chiprois. Kajian Modern Thomas Asbridge, The Crusades: The Authoritative History of the War for the Holy Land. Jonathan Phillips, Holy Warriors: A Modern History of the Crusades. Carole Hillenbrand, The Crusades: Islamic Perspectives. Peter Thorau, The Lion of Egypt: Sultan Baybars I and the Near East in the Thirteenth Century. Peter Lock, The Routledge Companion to the Crusades. Paul M. Cobb, The Race for Paradise: An Islamic History of the Crusades. Sumber: https://adajuga.com/perang-salib-islam-25/ . Navigasi pos Perang Salib : Baybars dan Penghancuran Negara Salibis Perang Salib : Kehidupan Masyarakat di Tengah Perang