Perang Salib Kelima hingga Kedelapan

Upaya Merebut Mesir, Diplomasi Frederick II, Ekspedisi Louis IX dan Kegagalan Mempertahankan Tanah Suci 

Setelah Perang Salib Keempat berakhir dengan penjarahan Konstantinopel pada 1204, gerakan Perang Salib memasuki fase baru.

Yerusalem masih berada di bawah kekuasaan Muslim.

Negara-negara Salibis di Levant masih bertahan, tetapi semakin lemah dan terisolasi.

Para pemimpin Eropa kemudian kembali merencanakan ekspedisi untuk merebut kembali Tanah Suci.

Namun, strategi mereka mengalami perubahan.

Jika sebelumnya Yerusalem sering menjadi target utama, para pemimpin Perang Salib berikutnya semakin menyadari bahwa kekuatan politik dan ekonomi dunia Islam tidak dapat dikalahkan hanya dengan menyerang Palestina.

Muncullah strategi baru:

Menyerang Mesir terlebih dahulu.

Mesir dianggap sebagai pusat kekuatan utama yang menopang kekuasaan Muslim di kawasan.

Jika Damietta dan wilayah Delta Nil dapat dikuasai, pasukan Salibis berharap dapat memaksa penguasa Muslim menyerahkan Yerusalem.

Strategi ini menjadi inti dari Perang Salib Kelima (1217–1221).

Namun, ekspedisi tersebut gagal.

Beberapa tahun kemudian, Frederick II memilih pendekatan berbeda.

Ia menggunakan diplomasi.

Pada 1229, ia berhasil memperoleh Yerusalem melalui perjanjian tanpa pertempuran besar.

Namun, keberhasilan tersebut hanya berlangsung sementara.

Setelah itu, konflik kembali terjadi.

Pada pertengahan abad ke-13, Louis IX dari Prancis memimpin dua ekspedisi besar.

Perang Salib Ketujuh menyerang Mesir.

Perang Salib Kedelapan diarahkan ke Tunis.

Keduanya berakhir dengan kegagalan.

Sementara itu, kekuatan Muslim semakin terkonsolidasi.

Muncul Kesultanan Mamluk yang kemudian secara bertahap menghancurkan negara-negara Salibis.

Pada 1291, Akka jatuh.

Peristiwa tersebut menandai berakhirnya kekuasaan politik utama Kristen Latin di Tanah Suci.

Dengan demikian, rangkaian Perang Salib Kelima hingga Kedelapan memperlihatkan perubahan besar:

dari perang terbuka menuju diplomasi, dari serangan langsung ke Yerusalem menuju strategi menyerang Mesir, dan akhirnya menuju perjuangan mempertahankan sisa-sisa negara Salibis yang semakin terdesak.


1. Kondisi Dunia Setelah Perang Salib Keempat

Pada awal abad ke-13, situasi politik sangat kompleks.

Di dunia Kristen Latin, tidak ada satu kekuatan tunggal yang mampu mengendalikan seluruh gerakan Perang Salib.

Para raja Eropa memiliki kepentingan masing-masing.

Sementara itu, negara-negara Salibis di Timur menghadapi masalah:

  • wilayah yang terbatas
  • jumlah penduduk yang relatif kecil
  • ketergantungan terhadap bantuan Eropa
  • persaingan antarbangsawan
  • ancaman dari kekuatan Muslim

Di sisi lain, dunia Islam juga mengalami perubahan.

Dinasti Ayyubiyah masih berkuasa di Mesir dan Suriah.

Namun, terdapat persaingan internal di antara anggota keluarga penguasa Ayyubiyah.

Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh pasukan Salibis.

Mereka melihat Mesir sebagai titik lemah yang dapat diserang.


2. Perang Salib Kelima (1217–1221)

Perang Salib Kelima dimulai dengan tujuan strategis yang jelas.

Bukan langsung menyerang Yerusalem.

Melainkan:

Menguasai Mesir.

Logikanya sederhana.

Mesir adalah pusat kekuasaan dan kekayaan penting dunia Islam.

Jika Mesir jatuh, penguasa Muslim mungkin akan terpaksa melakukan pertukaran:

Mesir ditukar dengan Yerusalem.

Strategi ini secara teori sangat masuk akal.

Namun, pelaksanaannya jauh lebih sulit.


3. Seruan Paus Innocentius III

Paus Innocentius III kembali mendorong Perang Salib.

Namun, ia meninggal pada 1216 sebelum ekspedisi benar-benar berjalan.

Penggantinya:

Paus Honorius III

melanjutkan seruan tersebut.

Para bangsawan dan ksatria dari Eropa mulai berdatangan.

Salah satu tokoh penting adalah:

John dari Brienne, Raja Yerusalem.

Ia memiliki kepentingan langsung.

Kerajaan Yerusalem yang dipimpinnya telah kehilangan kota suci tersebut.

Maka, ia mendukung strategi menyerang Mesir.


4. Serangan ke Damietta

Target utama pasukan Salibis adalah:

Damietta.

Kota ini terletak di Delta Nil.

Damietta memiliki posisi strategis.

Menguasainya berarti mendapatkan akses ke Mesir bagian utara.

Pada 1218, pasukan Salibis mengepung kota tersebut.

Pengepungan berlangsung lama.

Pasukan Salibis harus menghadapi:

  • pertahanan kota
  • sungai
  • benteng
  • penyakit
  • logistik

Namun, pada 1219, Damietta akhirnya jatuh.

Ini merupakan kemenangan besar.

Pasukan Salibis kini memiliki posisi strategis di Mesir.


5. Kesempatan untuk Menyerang Kairo

Setelah Damietta jatuh, muncul perdebatan.

Apa langkah berikutnya?

Sebagian ingin segera bergerak menuju:

Kairo.

Sebagian lainnya ingin menunggu.

Perbedaan pendapat menjadi masalah besar.

Pasukan Salibis kehilangan momentum.

Sementara itu, penguasa Ayyubiyah:

al-Kamil

berusaha mencari solusi.

Ia menawarkan negosiasi.

Bahkan, terdapat proposal yang memungkinkan pasukan Salibis mendapatkan Yerusalem sebagai imbalan atas penarikan mereka dari Mesir.

Namun, situasi politik membuat kesepakatan sulit tercapai.


6. Kesalahan Strategis di Mesir

Pada 1221, pasukan Salibis bergerak menuju wilayah yang lebih jauh di sepanjang Sungai Nil.

Namun, mereka tidak memahami sepenuhnya kondisi geografis Mesir.

Ketika banjir Sungai Nil terjadi, posisi mereka menjadi sangat sulit.

Air menggenangi wilayah sekitar.

Jalur pasokan terganggu.

Pasukan terjebak.

Al-Kamil memanfaatkan keadaan.

Pasukan Salibis akhirnya berada dalam posisi yang sangat lemah.


7. Kekalahan Perang Salib Kelima

Pasukan Salibis akhirnya terpaksa bernegosiasi.

Mereka menyerahkan:

Damietta.

Sebagai gantinya, mereka memperoleh keselamatan bagi pasukan mereka.

Perang Salib Kelima berakhir.

Hasilnya sangat jelas:

Pasukan Salibis gagal merebut Mesir.

Strategi untuk menukar Mesir dengan Yerusalem juga gagal.

Kegagalan ini menunjukkan bahwa kekuatan militer saja tidak cukup.

Masalah utama pasukan Salibis adalah:

  • perpecahan kepemimpinan
  • ketidaksepakatan strategi
  • masalah logistik
  • kegagalan memahami kondisi lokal

8. Munculnya Frederick II

Setelah kegagalan Perang Salib Kelima, muncul tokoh yang sangat berbeda:

Frederick II, Kaisar Romawi Suci.

Frederick merupakan salah satu penguasa paling menarik dalam sejarah abad pertengahan.

Ia menguasai berbagai bahasa.

Ia memiliki hubungan dengan dunia Muslim.

Ia juga memiliki kepentingan politik di Italia dan Jerman.

Berbeda dari banyak pemimpin Perang Salib sebelumnya, Frederick tidak selalu melihat perang sebagai satu-satunya jalan.

Ia memilih:

Diplomasi.


9. Perang Salib Keenam (1228–1229)

Frederick II sebenarnya telah berjanji untuk mengikuti Perang Salib.

Namun, keberangkatannya tertunda.

Hal ini menyebabkan konflik dengan kepausan.

Paus bahkan menjatuhkan ekskomunikasi terhadap Frederick.

Namun, Frederick tetap berangkat ke Timur pada 1228.

Ia tiba di wilayah Kerajaan Yerusalem.

Namun, ia tidak memimpin ekspedisi besar untuk menyerang Mesir atau Suriah.

Sebaliknya, ia melakukan negosiasi dengan:

al-Kamil, Sultan Ayyubiyah di Mesir.


10. Diplomasi Frederick II dan al-Kamil

Hubungan antara Frederick dan al-Kamil merupakan salah satu episode paling unik dalam sejarah Perang Salib.

Kedua tokoh memiliki kepentingan masing-masing.

Frederick ingin memperoleh Yerusalem.

Al-Kamil sedang menghadapi konflik politik dengan anggota keluarga Ayyubiyah lainnya.

Keduanya kemudian mencapai kesepakatan.

Melalui Perjanjian Jaffa pada 1229, Yerusalem diserahkan kepada penguasa Kristen Latin.

Selain Yerusalem, beberapa wilayah lain juga diberikan.

Namun, penguasaan Kristen terhadap Yerusalem memiliki keterbatasan.

Masjid al-Aqsa dan Kubah Batu tetap berada di bawah pengelolaan Muslim.


11. Yerusalem Direbut Tanpa Pertempuran Besar

Peristiwa ini sangat unik.

Frederick berhasil mendapatkan Yerusalem:

tanpa pengepungan besar.

Tidak ada pertempuran besar seperti Hattin.

Tidak ada pembantaian seperti pada 1099.

Yerusalem kembali berada di bawah kekuasaan Kristen Latin melalui diplomasi.

Namun, keberhasilan ini tidak diterima semua pihak.

Para pemimpin gereja dan sebagian bangsawan tidak menyukai Frederick.

Ia dianggap terlalu dekat dengan dunia Muslim.

Selain itu, ia masih berada dalam konflik dengan kepausan.


12. Keberhasilan yang Rapuh

Penguasaan Yerusalem oleh Frederick II tidak bertahan lama.

Kota tersebut tidak memiliki sistem pertahanan yang kuat.

Selain itu, kekuatan politik Kerajaan Yerusalem masih lemah.

Pada 1244, Yerusalem kembali jatuh ke tangan pasukan Muslim.

Kali ini, kota tersebut dikuasai oleh kekuatan Khwarazmian yang bersekutu dengan penguasa Ayyubiyah.

Dengan demikian, hasil diplomasi Frederick hanya bertahan sekitar 15 tahun.

Namun, Perang Salib Keenam tetap penting.

Ia menunjukkan bahwa:

diplomasi dapat menghasilkan sesuatu yang tidak selalu dapat dicapai oleh perang.


13. Perang Salib Ketujuh

Pada 1244, kekalahan besar kembali menimpa pasukan Kristen Latin.

Yerusalem hilang.

Selain itu, pasukan Kristen mengalami kekalahan dalam:

Pertempuran La Forbie.

Situasi ini mendorong seruan Perang Salib baru.

Tokoh utama yang muncul adalah:

Louis IX dari Prancis.

Ia dikenal sebagai raja yang sangat religius.

Louis percaya bahwa merebut kembali Tanah Suci merupakan tanggung jawab spiritual.

Ia kemudian memimpin:

Perang Salib Ketujuh (1248–1254).


14. Louis IX Menyerang Mesir

Louis IX mengadopsi strategi yang mirip dengan Perang Salib Kelima.

Ia menyerang:

Mesir.

Pada 1249, pasukan Salibis berhasil merebut Damietta.

Awalnya, ekspedisi tampak sukses.

Namun, sejarah kembali berulang.

Pasukan Salibis kemudian bergerak menuju:

Mansurah.

Di sinilah mereka menghadapi perlawanan berat.


15. Pertempuran Mansurah

Mansurah menjadi medan pertempuran besar.

Pasukan Salibis berusaha menembus pertahanan Mesir.

Namun, mereka menghadapi pasukan Muslim yang kuat.

Di tengah pertempuran, pasukan Salibis mengalami kesulitan.

Mereka tidak dapat mempertahankan jalur logistik.

Penyakit menyebar.

Persediaan makanan berkurang.

Situasi semakin buruk.


16. Louis IX Ditawan

Pada 1250, pasukan Louis IX mengalami kekalahan.

Louis sendiri ditangkap.

Peristiwa ini menjadi salah satu penghinaan terbesar bagi seorang raja Eropa dalam sejarah Perang Salib.

Untuk mendapatkan kebebasannya, Louis harus membayar tebusan besar.

Ia juga menyerahkan Damietta.

Perang Salib Ketujuh praktis gagal.


17. Louis IX Tetap di Timur

Meskipun mengalami kekalahan, Louis tidak langsung pulang.

Ia tinggal di wilayah Levant selama beberapa tahun.

Ia berusaha:

  • memperkuat benteng
  • memperbaiki pertahanan
  • melakukan diplomasi
  • mempertahankan wilayah Salibis

Namun, ia tidak mampu mengembalikan Yerusalem.

Pada akhirnya, ia kembali ke Prancis.


18. Munculnya Kesultanan Mamluk

Sementara itu, dunia Islam mengalami perubahan besar.

Dinasti Ayyubiyah mulai melemah.

Di Mesir, muncul kekuatan baru:

Mamluk.

Mamluk pada awalnya merupakan tentara budak militer yang menjadi bagian penting dari struktur kekuasaan.

Namun, mereka kemudian mengambil alih pemerintahan.

Salah satu tokoh paling penting adalah:

Sultan Baybars.

Ia menjadi salah satu musuh paling berbahaya bagi negara-negara Salibis.


19. Baybars dan Serangan terhadap Negara Salibis

Baybars memahami bahwa negara-negara Salibis semakin lemah.

Ia kemudian melancarkan serangkaian serangan.

Sasarannya meliputi:

  • benteng
  • kota
  • pusat perdagangan
  • wilayah pedalaman

Satu demi satu wilayah Salibis jatuh.

Pasukan Mamluk menggunakan kombinasi:

  • perang pengepungan
  • serangan cepat
  • diplomasi
  • tekanan ekonomi

Mereka secara bertahap mempersempit wilayah Kristen Latin.


20. Perang Salib Kedelapan

Pada 1270, Louis IX kembali memimpin Perang Salib.

Ini menjadi:

Perang Salib Kedelapan.

Namun, kali ini targetnya bukan langsung Yerusalem.

Louis menuju:

Tunis di Afrika Utara.

Alasan pemilihan Tunis masih diperdebatkan oleh para sejarawan.

Namun, salah satu faktor penting adalah harapan untuk mengubah penguasa lokal menjadi sekutu Kristen atau membuka jalan menuju kampanye lebih lanjut.


21. Kematian Louis IX

Ekspedisi tersebut mengalami bencana.

Wabah penyakit menyebar di antara pasukan.

Louis IX sendiri jatuh sakit.

Pada 1270, ia meninggal di dekat Tunis.

Kematian Louis menjadi pukulan besar.

Pasukan Salibis kemudian mengakhiri ekspedisi.

Perang Salib Kedelapan berakhir tanpa mencapai tujuan utama.


22. Apakah Ada Perang Salib Kesembilan?

Perang Salib Kesembilan sering dianggap sebagai ekspedisi terakhir yang terkait erat dengan rangkaian Perang Salib besar ke Tanah Suci.

Ekspedisi ini dipimpin oleh:

Pangeran Edward dari Inggris, yang kemudian menjadi Raja Edward I.

Edward tiba di Timur pada 1271.

Ia bekerja sama dengan pasukan lokal Kristen.

Namun, kekuatan yang tersedia sangat terbatas.

Ia tidak mampu melakukan perubahan besar.

Edward akhirnya kembali ke Eropa.


23. Baybars Melanjutkan Serangan

Setelah Edward pergi, Baybars terus memperkuat kekuasaannya.

Ia merebut berbagai kota dan benteng.

Negara-negara Salibis semakin terdesak.

Pada akhir abad ke-13, wilayah Kristen Latin hanya tersisa di beberapa kota pesisir.

Kekuatan mereka tidak lagi seperti pada abad ke-12.


24. Akka: Benteng Terakhir

Akka menjadi pusat utama negara Salibis.

Kota ini sangat penting.

Ia memiliki:

  • pelabuhan
  • benteng
  • populasi besar
  • jaringan perdagangan

Namun, pada 1291, Sultan Mamluk:

al-Ashraf Khalil

melancarkan serangan besar.

Pasukan Mamluk mengepung Akka.

Pertahanan kota berlangsung sengit.

Namun, pada akhirnya:

Akka jatuh.


25. Jatuhnya Akka pada 1291

Jatuhnya Akka menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Perang Salib.

Setelah kota itu jatuh, sebagian besar kekuasaan politik Kristen Latin di Levant berakhir.

Beberapa benteng dan wilayah kecil masih bertahan untuk sementara.

Namun, era negara Salibis di Tanah Suci secara efektif berakhir.

Dengan demikian, rangkaian panjang Perang Salib yang dimulai pada 1096 mengalami perubahan besar.


26. Mengapa Negara Salibis Gagal Bertahan?

Ada beberapa faktor.

Pertama: Ketergantungan terhadap Eropa

Negara Salibis membutuhkan bantuan dari luar.

Namun, bantuan tidak selalu datang.

Kedua: Perpecahan Internal

Para bangsawan sering berselisih.

Ketiga: Kurangnya Sumber Daya

Wilayah mereka relatif kecil.

Keempat: Kebangkitan Kekuatan Muslim

Zengi.

Nur ad-Din.

Salahuddin.

Baybars.

Dan para penguasa Mamluk.

Mereka secara bertahap membangun kekuatan yang semakin besar.

Kelima: Perubahan Politik Eropa

Para raja Eropa memiliki kepentingan lain.

Mereka juga menghadapi perang di benua Eropa.

Keenam: Strategi Militer Muslim

Kekuatan Muslim semakin terorganisasi.

Mereka mempelajari kelemahan negara Salibis.


27. Perubahan Strategi Perang Salib

Dari Perang Salib Kelima hingga Kedelapan terlihat perubahan strategi.

Perang Salib Kelima

Menyerang Mesir.

Perang Salib Keenam

Menggunakan diplomasi.

Perang Salib Ketujuh

Kembali menyerang Mesir.

Perang Salib Kedelapan

Menyerang Tunis.

Ekspedisi Edward

Berusaha mempertahankan sisa kekuatan Salibis.

Namun, semuanya gagal mengembalikan kekuasaan permanen atas Yerusalem.


28. Diplomasi Frederick II

Perang Salib Keenam memiliki pelajaran penting.

Frederick II membuktikan bahwa diplomasi dapat menghasilkan kemenangan tanpa perang besar.

Namun, diplomasi juga memiliki keterbatasan.

Kesepakatan politik dapat berubah.

Penguasa dapat meninggal.

Kekuatan baru dapat muncul.

Karena itu, Yerusalem yang diperoleh Frederick pada 1229 akhirnya kembali hilang pada 1244.


29. Louis IX: Kesalehan dan Kegagalan

Louis IX berbeda dari Frederick.

Jika Frederick menggunakan diplomasi, Louis percaya pada ekspedisi militer.

Ia menganggap Perang Salib sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaannya.

Namun, kesalehan tidak menjamin keberhasilan militer.

Ia dua kali gagal dalam ekspedisi besar.

Pertama:

Mesir.

Kedua:

Tunis.

Ia bahkan meninggal dalam Perang Salib Kedelapan.


30. Perubahan Keseimbangan Kekuatan

Pada akhir abad ke-13, keseimbangan kekuatan telah berubah.

Pada abad ke-12, negara Salibis masih memiliki beberapa wilayah luas.

Pada abad ke-13, wilayah mereka semakin menyusut.

Sementara itu, Mamluk menjadi kekuatan regional yang sangat kuat.

Mereka memiliki:

  • tentara profesional
  • kemampuan pengepungan
  • pusat pemerintahan kuat
  • sumber daya Mesir
  • kontrol atas Suriah

Keunggulan tersebut membuat mereka mampu menghancurkan satu per satu benteng Salibis.


31. Akhir Negara Salibis

Setelah Akka jatuh pada 1291, sebagian orang Kristen Latin melarikan diri ke:

  • Siprus
  • Eropa
  • wilayah Mediterania lainnya

Beberapa benteng masih bertahan sementara.

Namun, tidak ada lagi negara Salibis besar di daratan Levant.

Era yang dimulai dengan penaklukan Yerusalem pada 1099 telah berakhir.


32. Apakah Perang Salib Berakhir pada 1291?

Secara umum, 1291 dianggap sebagai akhir negara-negara Salibis utama di Tanah Suci.

Namun, gagasan Perang Salib tidak langsung menghilang.

Di Eropa, seruan Perang Salib masih digunakan untuk berbagai konflik.

Istilah tersebut bahkan digunakan dalam konteks:

  • perang melawan kekuatan Muslim
  • konflik politik
  • perang melawan kelompok yang dianggap musuh gereja

Namun, era ekspedisi besar untuk menguasai Yerusalem secara efektif telah berakhir.


33. Dampak terhadap Dunia Islam

Kemenangan Mamluk memiliki dampak besar.

Mereka berhasil:

  • mengusir pasukan Salibis dari wilayah utama
  • menguasai Mesir dan Suriah
  • memperkuat legitimasi politik
  • menjadi pelindung kota-kota suci Islam

Kemenangan atas negara Salibis menjadi salah satu sumber legitimasi penting bagi pemerintahan Mamluk.


34. Dampak terhadap Eropa

Kegagalan Perang Salib tidak berarti Eropa tidak memperoleh apa-apa.

Kontak panjang dengan dunia Timur meningkatkan:

  • perdagangan
  • pertukaran budaya
  • pengetahuan
  • hubungan diplomatik

Pelabuhan-pelabuhan Italia seperti:

  • Venesia
  • Genoa

mendapat keuntungan besar dari perdagangan Mediterania.

Ironisnya, perang yang bertujuan merebut wilayah Timur juga memperluas hubungan ekonomi antara Timur dan Barat.


35. Dampak terhadap Hubungan Antaragama

Perang Salib meninggalkan warisan yang kompleks.

Bagi sebagian masyarakat Eropa abad pertengahan, Perang Salib dianggap sebagai perjuangan religius.

Bagi banyak masyarakat Muslim, Perang Salib dikenang sebagai invasi dari Barat.

Bagi masyarakat Bizantium, terutama setelah 1204, orang Latin dikenang sebagai pihak yang pernah menghancurkan Konstantinopel.

Karena itu, warisan Perang Salib berbeda-beda tergantung perspektif sejarah.


36. Pelajaran dari Perang Salib Kelima hingga Kedelapan

Ada beberapa pola penting.

Pertama

Menyerang Mesir ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Kedua

Diplomasi dapat memberikan hasil yang lebih cepat daripada perang.

Ketiga

Kemenangan sementara tidak selalu menghasilkan kekuasaan permanen.

Keempat

Negara Salibis sangat bergantung pada bantuan luar.

Kelima

Kekuatan Muslim semakin terorganisasi.

Keenam

Perpecahan internal menjadi salah satu kelemahan utama dunia Kristen Latin di Timur.


37. Kesimpulan

Perang Salib Kelima hingga Kedelapan merupakan fase terakhir dari perjuangan besar untuk mempertahankan atau merebut kembali Tanah Suci.

Perang Salib Kelima (1217–1221) berusaha menguasai Mesir.

Pasukan Salibis berhasil merebut Damietta, tetapi gagal mempertahankan keuntungan tersebut dan akhirnya harus menyerahkan kota itu kembali.

Perang Salib Keenam (1228–1229) dipimpin oleh Frederick II.

Berbeda dari ekspedisi sebelumnya, Frederick menggunakan diplomasi.

Ia berhasil memperoleh Yerusalem melalui perjanjian dengan al-Kamil.

Namun, penguasaan tersebut tidak bertahan lama.

Perang Salib Ketujuh (1248–1254) dipimpin oleh Louis IX.

Ia menyerang Mesir, tetapi mengalami kekalahan di Mansurah dan bahkan ditawan.

Perang Salib Kedelapan (1270) kembali dipimpin Louis IX.

Kali ini ekspedisi diarahkan ke Tunis.

Namun, Louis meninggal akibat penyakit.

Kemudian, ekspedisi Edward pada 1271–1272 menjadi salah satu upaya terakhir untuk mempertahankan kekuasaan Kristen Latin di Timur.

Namun, kekuatan Mamluk terus berkembang.

Di bawah pemimpin seperti Baybars dan al-Ashraf Khalil, negara-negara Salibis semakin terdesak.

Pada 1291, Akka jatuh.

Dengan jatuhnya Akka, kekuasaan politik utama Kristen Latin di Tanah Suci berakhir.

Sejarah Perang Salib yang berlangsung hampir dua abad memperlihatkan sebuah perubahan besar.

Pada awalnya, pasukan Salibis berhasil mendirikan kerajaan dan menguasai Yerusalem.

Namun, seiring berjalannya waktu, dunia Islam mengalami konsolidasi.

Dari Zengi dan Nur ad-Din, kemudian Salahuddin, hingga para penguasa Mamluk, kekuatan Muslim semakin terorganisasi.

Sementara itu, negara-negara Salibis semakin bergantung pada bantuan dari Eropa.

Ketika bantuan tersebut berkurang dan kekuatan Muslim semakin kuat, posisi negara Salibis menjadi semakin sulit dipertahankan.

Pada akhirnya, sejarah Perang Salib bukan sekadar kisah tentang kemenangan dan kekalahan.

Ia merupakan sejarah panjang tentang:

agama, kekuasaan, perdagangan, diplomasi, politik dinasti, identitas, dan peradaban.

Perang Salib juga meninggalkan warisan yang bertahan jauh setelah 1291.

Ingatan tentang konflik tersebut terus memengaruhi hubungan antara dunia Kristen dan Muslim selama berabad-abad.

Dan meskipun negara-negara Salibis telah lenyap, gagasan tentang Perang Salib terus hidup dalam politik dan budaya Eropa hingga zaman modern.


Sumber Rujukan
  1. Christopher Tyerman, God’s War: A New History of the Crusades. Harvard University Press.
  2. Jonathan Riley-Smith, The Crusades: A History. Yale University Press.
  3. Jonathan Phillips, The Crusades: 1095–1204. Routledge.
  4. Thomas Asbridge, The Crusades: The Authoritative History of the War for the Holy Land. Ecco.
  5. Steven Runciman, A History of the Crusades, Volume III: The Kingdom of Acre and the Later Crusades. Cambridge University Press.
  6. Carole Hillenbrand, The Crusades: Islamic Perspectives. Edinburgh University Press.
  7. Malcolm C. Lyons dan D. E. P. Jackson, Saladin: The Politics of the Holy War. Cambridge University Press.
  8. Anne-Marie Eddé, Saladin. Harvard University Press.
  9. René Grousset, Histoire des Croisades et du Royaume Franc de Jérusalem. Plon.
  10. John France, The Crusades and the Expansion of Catholic Christendom, 1000–1714. Routledge.
  11. Thomas F. Madden, The Concise History of the Crusades. Rowman & Littlefield.
  12. David Abulafia, Frederick II: A Medieval Emperor. Oxford University Press.
  13. Jean Richard, The Crusades, c. 1071–c. 1291. Cambridge University Press.
  14. William of Tyre, A History of Deeds Done Beyond the Sea. Sumber primer penting mengenai sejarah Kerajaan Yerusalem.
  15. Matthew Paris, Chronica Majora. Sumber abad pertengahan mengenai berbagai peristiwa Perang Salib.
  16. Ibn al-Athir, The Chronicle of Ibn al-Athir for the Crusading Period from al-Kamil fi’l-Ta’rikh. Sumber primer dari perspektif Islam.
  17. Abu Shama, The Book of the Two Gardens. Sumber sejarah penting mengenai periode Ayyubiyah.
  18. Peter Jackson, The Seventh Crusade, 1248–1254: Sources and Documents. Ashgate.
  19. John Gillingham, Richard I. Yale University Press.
  20. R. C. Smail, Crusading Warfare, 1097–1193. Cambridge University Press.

Sumber : https://adajuga.com/perang-salib-12/

.