Perang Salib Keempat : Ketika Konstantinopel Dijarah

Perubahan Tujuan Perang, Peran Venesia, Jatuhnya Konstantinopel pada 1204 dan Kehancuran Hubungan Latin–Bizantium 

Perang Salib Keempat merupakan salah satu episode paling kontroversial dalam sejarah Perang Salib.

Jika Perang Salib Pertama bertujuan merebut Yerusalem, Perang Salib Ketiga berusaha mengembalikan Kota Suci ke tangan Kristen Latin, maka Perang Salib Keempat justru berakhir dengan sebuah tragedi yang sangat ironis:

pasukan Salibis Kristen Barat menyerang dan menjarah Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium yang juga merupakan negara Kristen.

Peristiwa ini terjadi pada 1204.

Konstantinopel merupakan salah satu kota terbesar dan terkaya di dunia abad pertengahan.

Kota tersebut menjadi pusat Kekaisaran Bizantium, pewaris Kekaisaran Romawi Timur.

Penduduknya mayoritas beragama Kristen Ortodoks.

Sementara para peserta Perang Salib Keempat berasal dari dunia Kristen Latin atau Katolik Barat.

Secara teori, mereka adalah sesama umat Kristen.

Namun, persaingan politik, perbedaan agama, kepentingan ekonomi, utang, dan perebutan kekuasaan membuat ekspedisi yang awalnya direncanakan menuju Mesir akhirnya berubah arah.

Pasukan Salibis kemudian menyerang Konstantinopel.

Pada April 1204, mereka berhasil merebut kota tersebut.

Apa yang terjadi setelahnya menjadi salah satu tragedi terbesar dalam sejarah hubungan antara Kristen Latin dan Kristen Ortodoks.

Konstantinopel dijarah.

Gereja-gereja dirampok.

Harta benda dibawa pergi.

Relik-relik suci dipindahkan ke Eropa Barat.

Kekaisaran Bizantium terpecah.

Kemudian didirikan sebuah negara baru:

Kekaisaran Latin Konstantinopel.

Meskipun Kekaisaran Bizantium akhirnya berhasil merebut kembali Konstantinopel pada 1261, kehancuran politik dan ekonomi akibat 1204 sangat sulit dipulihkan.

Lebih dari itu, peristiwa tersebut meninggalkan luka mendalam dalam hubungan antara Kristen Barat dan Kristen Timur.

Perang Salib Keempat menjadi simbol dari bagaimana konflik agama dapat berubah menjadi perebutan kepentingan politik dan ekonomi.


1. Dunia Setelah Perang Salib Ketiga

Image

Image

Image

Image

Setelah Perjanjian Ramla pada 1192, Perang Salib Ketiga berakhir.

Richard I kembali ke Eropa.

Salahuddin meninggal pada 1193.

Namun, Yerusalem tetap berada di bawah kekuasaan Muslim.

Keadaan ini membuat sebagian kalangan Kristen Latin masih menginginkan ekspedisi baru.

Muncullah gagasan:

Perang Salib Keempat.

Kali ini, strategi yang dipilih berbeda.

Para pemimpin Perang Salib menyadari bahwa perjalanan langsung menuju Yerusalem sangat sulit.

Karena itu, mereka mencari cara untuk menyerang pusat kekuatan Muslim terlebih dahulu.

Target yang dipilih adalah:

Mesir.

Mesir dianggap sebagai pusat kekuatan ekonomi dan militer dunia Muslim.

Jika Mesir dapat ditaklukkan, maka pasukan Salibis berharap dapat menggunakan wilayah tersebut sebagai basis untuk menyerang Palestina.

Namun, rencana ini segera menghadapi masalah besar.


2. Seruan Paus Innocentius III

Salah satu tokoh utama yang mendorong Perang Salib Keempat adalah:

Paus Innocentius III.

Ia menjadi paus pada 1198.

Innocentius III memiliki visi besar mengenai kepemimpinan kepausan.

Ia ingin dunia Kristen Latin bersatu.

Ia juga menginginkan ekspedisi besar untuk merebut kembali Tanah Suci.

Paus kemudian menyerukan Perang Salib.

Namun, berbeda dengan ekspedisi sebelumnya, para penguasa besar Eropa tidak memimpin langsung.

Tidak ada tokoh seperti:

  • Richard I
  • Philip II
  • Frederick Barbarossa

Sebagai gantinya, banyak bangsawan Prancis dan Italia mengambil peran.


3. Pemimpin Perang Salib Keempat

Salah satu tokoh penting adalah:

Boniface dari Montferrat.

Ia dipilih sebagai pemimpin ekspedisi.

Tokoh lainnya adalah:

Baldwin dari Flandria.

Selain itu terdapat bangsawan dari Prancis dan wilayah Eropa Barat lainnya.

Namun, mereka menghadapi satu masalah besar:

bagaimana membawa pasukan dalam jumlah besar ke Timur?

Mereka membutuhkan armada.

Dan armada terbesar yang tersedia berada di tangan:

Republik Venesia.


4. Venesia: Kekuatan Maritim Mediterania

Venesia merupakan salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Laut Tengah.

Republik ini terkenal karena:

  • perdagangan
  • armada laut
  • pelabuhan
  • jaringan komersial
  • hubungan dengan Timur

Venesia memiliki hubungan dagang dengan berbagai wilayah.

Termasuk:

  • Kekaisaran Bizantium
  • Mesir
  • Levant

Karena itu, Venesia memiliki kepentingan besar dalam perdagangan Timur.

Keterlibatan mereka dalam Perang Salib Keempat kemudian menjadi faktor yang sangat menentukan.


5. Perjanjian dengan Venesia

Para pemimpin Perang Salib melakukan kesepakatan dengan Venesia.

Venesia setuju menyediakan:

  • kapal
  • transportasi
  • makanan
  • perlengkapan

Untuk membawa pasukan ke Timur.

Namun, biaya yang harus dibayar sangat besar.

Masalah muncul ketika jumlah peserta Perang Salib ternyata lebih sedikit daripada yang diperkirakan.

Akibatnya:

pasukan Salibis tidak mampu membayar utang kepada Venesia.

Situasi ini menjadi titik balik.


6. Utang kepada Venesia

Venesia telah menginvestasikan sumber daya besar.

Mereka membangun kapal.

Menyiapkan makanan.

Menghentikan sebagian aktivitas perdagangan.

Namun, para peserta Perang Salib tidak mampu membayar seluruh biaya.

Doge Venesia:

Enrico Dandolo

kemudian memainkan peran penting.

Ia menawarkan solusi:

Pasukan Salibis dapat membayar utang dengan membantu Venesia merebut kembali kota:

Zara (Zadar).

Zara merupakan kota di pesisir Adriatik yang berada dalam konflik dengan Venesia.

Masalahnya:

Zara merupakan kota Kristen.

Penduduknya juga beragama Kristen.

Namun, pada 1202, pasukan Salibis menyerang dan merebut kota tersebut.

Ini menjadi tanda pertama bahwa Perang Salib Keempat telah menyimpang dari tujuan awalnya.


7. Reaksi Paus

Paus Innocentius III tidak menyetujui serangan terhadap Zara.

Ia telah menyerukan perang melawan umat Islam.

Namun, pasukan Salibis justru menyerang kota Kristen.

Paus kemudian mengecam tindakan tersebut.

Namun, situasi sudah terlanjur berubah.

Pasukan Salibis berada dalam hubungan ketergantungan dengan Venesia.

Mereka membutuhkan armada Venesia.

Dan mereka masih memiliki utang.

Mereka juga belum memiliki jalur yang jelas menuju Mesir.


8. Munculnya Alexios Angelos

Di tengah situasi tersebut, muncul seorang tokoh:

Alexios Angelos.

Ia adalah putra mantan Kaisar Bizantium:

Isaac II Angelos.

Isaac telah digulingkan dan dipenjarakan.

Alexios melarikan diri dan mencari bantuan dari dunia Barat.

Ia kemudian bertemu dengan para pemimpin Perang Salib.

Alexios menawarkan sesuatu yang sangat menarik.

Jika pasukan Salibis membantu mengembalikan ayahnya ke takhta Konstantinopel, maka ia menjanjikan:

  • uang
  • pasukan
  • dukungan logistik
  • bantuan untuk ekspedisi ke Tanah Suci
  • penyatuan gereja secara politik dengan Roma

Tawaran tersebut sangat menggoda.

Pasukan Salibis memiliki masalah keuangan.

Venesia memiliki kepentingan politik dan ekonomi.

Alexios membutuhkan tentara.

Ketiga kepentingan tersebut bertemu.


9. Perubahan Tujuan

Awalnya:

Target Perang Salib Keempat adalah Mesir.

Kemudian:

Zara.

Setelah itu:

Konstantinopel.

Perubahan tujuan ini merupakan hasil dari kombinasi:

  • utang
  • politik
  • perdagangan
  • perebutan kekuasaan
  • kepentingan Venesia

Perang Salib secara perlahan berubah menjadi ekspedisi politik.

Dan akhirnya:

menjadi perang saudara dalam dunia Kristen.


10. Mengapa Konstantinopel Begitu Penting?

Konstantinopel merupakan salah satu kota terbesar di dunia.

Kota tersebut memiliki:

  • tembok pertahanan yang sangat kuat
  • pelabuhan strategis
  • kekayaan besar
  • gereja megah
  • istana
  • pusat perdagangan

Kota ini juga merupakan ibu kota Kekaisaran Bizantium.

Bagi dunia Kristen Ortodoks, Konstantinopel memiliki arti yang sangat penting.

Namun, bagi Venesia, kota tersebut juga merupakan pusat ekonomi.

Menguasai atau melemahkan Konstantinopel berarti mengubah keseimbangan perdagangan di Laut Tengah.

Karena itu, kepentingan agama dan ekonomi bercampur.


11. Serangan Pertama ke Konstantinopel

Pada 1203, pasukan Salibis dan Venesia tiba di Konstantinopel.

Mereka menuntut agar Isaac II dikembalikan ke takhta.

Tekanan militer diberikan.

Akhirnya, pemerintahan Konstantinopel mengalami perubahan.

Isaac II dikembalikan.

Putranya:

Alexios IV Angelos

menjadi kaisar bersama.

Namun, masalah baru muncul.

Alexios telah menjanjikan pembayaran besar kepada pasukan Salibis.

Tetapi ia tidak mampu memenuhi semua janji tersebut.

Kas negara kosong.

Masyarakat Konstantinopel tidak puas.

Hubungan antara penduduk kota dan pasukan Salibis memburuk.


12. Krisis Alexios IV

Alexios IV menghadapi tekanan besar.

Ia harus memenuhi janji kepada:

  • pasukan Salibis
  • Venesia

Namun, rakyat Konstantinopel tidak menerima kehadiran pasukan asing.

Kota mengalami kerusuhan.

Ketegangan agama juga meningkat.

Penduduk Bizantium adalah Kristen Ortodoks.

Pasukan Salibis berasal dari Kristen Latin.

Perbedaan antara kedua tradisi Kristen semakin terlihat.


13. Kebencian Latin dan Bizantium

Hubungan antara Kristen Latin dan Bizantium telah lama mengalami ketegangan.

Perbedaan agama menjadi salah satu faktor.

Namun, politik juga berperan.

Kedua pihak memiliki:

  • bahasa berbeda
  • budaya berbeda
  • kepentingan politik berbeda

Bizantium sering melihat orang Latin sebagai bangsa yang kasar dan agresif.

Sementara orang Latin sering menganggap Bizantium licik dan tidak dapat dipercaya.

Stereotip tersebut memperburuk hubungan.


14. Kudeta di Konstantinopel

Pada 1204, terjadi perubahan kekuasaan.

Alexios IV digulingkan.

Kemudian ia dibunuh.

Kaisar baru:

Alexios V Doukas

mengambil alih.

Ia menolak memenuhi tuntutan pasukan Salibis.

Konflik menjadi tidak terhindarkan.

Pasukan Salibis dan Venesia kemudian memutuskan untuk menyerang Konstantinopel.


15. Pengepungan Konstantinopel

Konstantinopel memiliki pertahanan luar biasa.

Tembok Theodosian terkenal sebagai salah satu sistem pertahanan paling kuat di dunia.

Namun, pasukan Salibis memiliki keunggulan:

armada laut Venesia.

Mereka menyerang dari sisi laut.

Kapal-kapal Venesia membawa pasukan dan mesin pengepungan.

Pertempuran berlangsung sengit.

Pasukan Bizantium berusaha mempertahankan kota.

Namun, pertahanan akhirnya runtuh.


16. Jatuhnya Konstantinopel

Pada April 1204, pasukan Salibis berhasil menembus pertahanan.

Konstantinopel jatuh.

Namun, apa yang terjadi setelahnya menjadi salah satu tragedi terbesar dalam sejarah abad pertengahan.

Pasukan Salibis melakukan:

penjarahan besar-besaran.

Harta benda dirampas.

Gereja dijarah.

Bangunan dihancurkan.

Relik suci dipindahkan.

Banyak karya seni dirusak atau dibawa pergi.


17. Penjarahan Konstantinopel

Penjarahan berlangsung selama beberapa hari.

Para sejarawan menggambarkannya sebagai salah satu penjarahan kota terbesar dalam sejarah abad pertengahan.

Banyak harta dari Konstantinopel dibawa ke:

  • Venesia
  • Prancis
  • wilayah Eropa Barat lainnya

Patung.

Emas.

Perhiasan.

Relik.

Benda-benda seni.

Semuanya menjadi bagian dari hasil rampasan.


18. Gereja Hagia Sophia

Salah satu tempat paling terkenal yang mengalami penjarahan adalah:

Hagia Sophia.

Bangunan ini merupakan salah satu gereja terbesar dunia Kristen.

Namun, setelah Konstantinopel jatuh, Hagia Sophia dijarah dan kemudian digunakan sebagai pusat kekuasaan gereja Latin.

Bagi masyarakat Bizantium, peristiwa tersebut merupakan penghinaan besar.

Simbol keagamaan mereka telah direbut oleh sesama umat Kristen.


19. Relik dan Harta Konstantinopel

Banyak relik Kristen dibawa ke Eropa.

Sebagian besar kemudian berada di:

  • Venesia
  • Roma
  • Paris
  • kota-kota Eropa lainnya

Salah satu contoh paling terkenal adalah:

Kuda Perunggu San Marco di Venesia.

Patung tersebut diyakini berasal dari dunia klasik dan kemudian dibawa dari Konstantinopel.

Peristiwa ini menunjukkan bagaimana penjarahan 1204 mengubah kekayaan budaya Eropa.

Namun, dari perspektif Bizantium, ini merupakan kehilangan besar.


20. Berdirinya Kekaisaran Latin

Setelah Konstantinopel jatuh, para pemimpin Perang Salib mendirikan negara baru:

Kekaisaran Latin Konstantinopel.

Penguasa pertamanya adalah:

Baldwin I dari Flandria.

Wilayah Bizantium kemudian terpecah.

Sebagian wilayah dikuasai oleh:

  • Kekaisaran Latin
  • Venesia
  • kerajaan-kerajaan lokal
  • negara-negara penerus Bizantium

Tiga pusat utama kekuatan Bizantium yang bertahan adalah:

Kekaisaran Nicea

Kekaisaran Trebizond

Kepangeranan Epirus

Mereka semua mengklaim sebagai penerus Kekaisaran Bizantium.


21. Kekaisaran Nicea

Salah satu negara penerus paling kuat adalah:

Kekaisaran Nicea.

Negara ini kemudian menjadi pusat kebangkitan Bizantium.

Para penguasa Nicea berusaha merebut kembali Konstantinopel.

Setelah beberapa dekade, usaha tersebut berhasil.

Pada 1261, Konstantinopel direbut kembali oleh:

Michael VIII Palaiologos.

Kekaisaran Bizantium kembali berdiri.

Namun, tidak pernah benar-benar pulih seperti sebelum 1204.


22. Mengapa 1204 Sangat Merusak Bizantium?

Kekaisaran Bizantium telah mengalami tekanan selama berabad-abad.

Namun, penaklukan Konstantinopel menjadi pukulan besar.

Kekaisaran kehilangan:

  • kekayaan
  • populasi
  • wilayah
  • kekuatan ekonomi
  • infrastruktur

Lebih buruk lagi, wilayahnya terpecah.

Ketika Konstantinopel akhirnya direbut kembali pada 1261, kekaisaran yang muncul jauh lebih lemah.


23. Dampak terhadap Perdagangan

Venesia memperoleh keuntungan besar.

Republik tersebut mendapatkan:

  • pelabuhan
  • wilayah perdagangan
  • hak istimewa
  • akses ekonomi

Venesia menjadi salah satu pemenang utama dari Perang Salib Keempat.

Kekuatan dagangnya semakin besar.

Namun, keberhasilan ini juga menimbulkan persaingan dengan:

Genoa.

Persaingan antara Venesia dan Genoa kemudian berlangsung selama berabad-abad.


24. Apakah Perang Salib Keempat Gagal?

Jika dilihat dari tujuan awal:

ya.

Tujuan awal adalah:

merebut kembali Tanah Suci.

Namun, pasukan Salibis tidak mencapai Yerusalem.

Mereka bahkan tidak sampai menaklukkan Mesir.

Sebaliknya, mereka menyerang sesama umat Kristen.

Namun, jika dilihat dari kepentingan Venesia:

ekspedisi tersebut menghasilkan keuntungan besar.

Jika dilihat dari sejarah Bizantium:

1204 merupakan bencana.

Jika dilihat dari hubungan Kristen Latin dan Ortodoks:

1204 merupakan titik kehancuran kepercayaan.


25. Hubungan Latin dan Bizantium Setelah 1204

Sebelum 1204, hubungan antara Kristen Latin dan Bizantium memang sudah tegang.

Namun, masih ada kemungkinan kerja sama.

Setelah penjarahan Konstantinopel, hubungan tersebut berubah secara mendalam.

Bagi banyak orang Bizantium:

orang Latin bukan lagi sekadar saudara seiman yang berbeda tradisi.

Mereka dianggap sebagai penjajah.

Pengalaman 1204 meninggalkan trauma kolektif.


26. Dampak terhadap Skisma Kristen

Perpecahan antara:

Gereja Katolik Roma

dan

Gereja Ortodoks Timur

semakin dalam.

Secara resmi, Skisma Besar terjadi pada 1054.

Namun, peristiwa 1204 membuat perpecahan tersebut jauh lebih sulit disembuhkan.

Ketika Kekaisaran Bizantium berada dalam ancaman Ottoman berabad-abad kemudian, upaya penyatuan gereja kembali dilakukan.

Namun, masyarakat Bizantium sangat mencurigai dunia Latin.

Pengalaman 1204 menjadi salah satu alasan utama ketidakpercayaan tersebut.


27. Dampak terhadap Perang Salib

Perang Salib Keempat menunjukkan bahwa gerakan Perang Salib telah berubah.

Pada awalnya:

tujuan utama adalah Yerusalem.

Kemudian:

kepentingan politik dan ekonomi semakin dominan.

Perang Salib menjadi alat yang dapat digunakan untuk:

  • perebutan kekuasaan
  • perdagangan
  • politik dinasti
  • kepentingan negara

Akibatnya, semangat religius yang menjadi dasar gerakan tersebut semakin bercampur dengan kepentingan duniawi.


28. Peran Venesia dalam Perubahan Arah

Venesia memainkan peran yang sangat besar.

Namun, penting untuk tidak menyederhanakan sejarah dengan mengatakan bahwa Venesia sendirian merencanakan seluruh penjarahan.

Perubahan arah terjadi karena kombinasi:

  • utang pasukan Salibis
  • kepentingan perdagangan Venesia
  • konflik politik Bizantium
  • perebutan takhta
  • kelemahan pemerintahan Konstantinopel
  • ketegangan agama

Venesia memanfaatkan situasi tersebut.

Namun, para pemimpin Salibis juga mengambil keputusan sendiri.

Karena itu, tanggung jawab sejarah harus dilihat sebagai hasil interaksi berbagai pihak.


29. Paus Innocentius III dan Perang Salib Keempat

Paus Innocentius III awalnya mendukung ekspedisi untuk merebut Tanah Suci.

Ia tidak menginginkan serangan terhadap umat Kristen.

Ia bahkan mengecam serangan terhadap Zara.

Setelah Konstantinopel jatuh, ia juga menyatakan ketidakpuasan.

Namun, pada akhirnya, realitas politik membuat situasi sulit dikendalikan.

Perang Salib telah bergerak jauh di luar kendali tujuan awal kepausan.


30. Konstantinopel dan Dunia Islam

Ironisnya, kehancuran Konstantinopel tidak langsung menguntungkan dunia Islam.

Pasukan Salibis tidak menyerang Mesir.

Tidak menyerang Damaskus.

Tidak menyerang Yerusalem.

Sebaliknya, mereka menghabiskan sumber daya untuk menghancurkan Kekaisaran Bizantium.

Dalam jangka panjang, melemahnya Bizantium memang menciptakan kondisi yang kemudian dimanfaatkan oleh berbagai kekuatan regional.

Namun, pada saat itu, penjarahan Konstantinopel terutama merupakan konflik internal dunia Kristen.


31. Dampak Jangka Panjang terhadap Kekaisaran Bizantium

Setelah 1204, Kekaisaran Bizantium tidak pernah sepenuhnya pulih.

Meskipun Konstantinopel direbut kembali pada 1261, kekaisaran sudah jauh lebih lemah.

Wilayahnya semakin menyusut.

Ekonominya terganggu.

Venesia dan Genoa memperoleh pengaruh besar.

Sementara itu, kekuatan baru muncul di Anatolia.

Salah satunya adalah:

Kesultanan Utsmaniyah.

Pada 1453, Konstantinopel akhirnya jatuh ke tangan Ottoman.

Meskipun jatuhnya kota pada 1453 terjadi lebih dari dua abad setelah 1204, kelemahan Bizantium setelah Perang Salib Keempat menjadi salah satu faktor penting dalam sejarah panjang kemundurannya.


32. Hubungan 1204 dan 1453

Sejarawan tidak seharusnya menyederhanakan hubungan ini.

Kekaisaran Bizantium memiliki banyak masalah sebelum 1204.

Ada konflik internal.

Ada tekanan militer.

Ada masalah ekonomi.

Namun, 1204 memperburuk semuanya.

Dapat dikatakan:

1204 bukan satu-satunya penyebab jatuhnya Konstantinopel pada 1453.

Namun:

1204 merupakan salah satu titik balik terbesar yang melemahkan fondasi Kekaisaran Bizantium.


33. Warisan Budaya Penjarahan

Ironisnya, penjarahan Konstantinopel membawa banyak benda seni Bizantium ke Eropa Barat.

Sebagian karya tersebut kemudian menjadi bagian dari warisan budaya Eropa.

Namun, dari perspektif sejarah Bizantium, peristiwa tersebut tetap merupakan kehilangan besar.

Banyak karya seni yang hilang.

Banyak manuskrip yang rusak.

Banyak relik dipindahkan.

Banyak bangunan mengalami kerusakan.

Warisan budaya sebuah peradaban menjadi korban perang.


34. Sebuah Paradoks Sejarah

Perang Salib Keempat memiliki paradoks besar.

Para peserta berangkat dengan tujuan:

membebaskan Tanah Suci dari kekuasaan Muslim.

Namun, mereka justru:

menghancurkan salah satu negara Kristen terbesar di dunia.

Mereka ingin merebut Yerusalem.

Namun, mereka menjarah Konstantinopel.

Mereka ingin memperkuat dunia Kristen.

Namun, tindakan mereka justru memperdalam perpecahan antara Kristen Barat dan Timur.

Karena itu, Perang Salib Keempat menjadi contoh penting tentang bagaimana tujuan awal sebuah gerakan dapat berubah secara drastis ketika kepentingan politik dan ekonomi mengambil alih.


35. Kesimpulan

Perang Salib Keempat merupakan salah satu bab paling kontroversial dalam sejarah Perang Salib.

Dimulai dengan tujuan untuk merebut kembali Tanah Suci, ekspedisi tersebut berubah arah akibat kombinasi berbagai faktor.

Para peserta Perang Salib memiliki utang besar kepada Venesia.

Venesia kemudian membantu mereka menyerang Zara.

Setelah itu, muncul tawaran dari Alexios Angelos untuk membantu mengembalikan ayahnya ke takhta Bizantium.

Pasukan Salibis kemudian bergerak menuju Konstantinopel.

Setelah terjadi perubahan politik dan kudeta di kota tersebut, konflik semakin membesar.

Pada April 1204, Konstantinopel akhirnya jatuh.

Pasukan Salibis menjarah kota.

Gereja-gereja dirampok.

Harta benda dibawa ke Eropa.

Relik dan karya seni dipindahkan.

Kekaisaran Bizantium terpecah.

Kemudian didirikan:

Kekaisaran Latin Konstantinopel.

Meskipun Bizantium berhasil merebut kembali Konstantinopel pada 1261, kekaisaran tersebut tidak pernah sepenuhnya pulih.

Lebih penting lagi, Perang Salib Keempat menghancurkan kepercayaan antara Kristen Latin dan Kristen Ortodoks.

Jika Perang Salib Pertama menciptakan negara-negara Salibis di Timur, maka Perang Salib Keempat justru menciptakan sebuah paradoks:

pasukan yang berangkat untuk berperang melawan dunia Islam justru menghancurkan sesama kekuatan Kristen.

Peristiwa 1204 memperlihatkan bahwa Perang Salib bukan hanya sejarah konflik agama.

Di dalamnya terdapat:

iman, politik, ekonomi, perdagangan, dinasti, ambisi pribadi, dan perebutan kekuasaan.

Perang Salib Keempat juga menunjukkan bahwa ketika kepentingan-kepentingan tersebut bertemu, sebuah ekspedisi yang awalnya memiliki tujuan religius dapat berubah menjadi konflik yang sama sekali berbeda.

Namun, kisah Perang Salib masih berlanjut.

Setelah 1204, ekspedisi-ekspedisi baru kembali diarahkan ke Timur.

Ada yang menargetkan Mesir.

Ada yang menyerang wilayah Muslim.

Bahkan ada ekspedisi yang melibatkan anak-anak dalam sebuah gerakan yang dikenal sebagai Perang Salib Anak-anak.

Kemudian, dunia Islam kembali menghadapi serangkaian Perang Salib baru.

Muncul kekuatan-kekuatan seperti:

Dinasti Ayyubiyah

dan kemudian:

Kesultanan Mamluk.

Sementara negara-negara Salibis perlahan semakin terdesak.

Maka, bab berikutnya akan membahas:

Bagian 12 — Perang Salib Kelima dan Perang Salib Anak-Anak

Serangan ke Mesir, Damietta, kegagalan strategi Salibis, dan kisah kontroversial tentang Perang Salib Anak-Anak tahun 1212


Sumber Rujukan
  1. Jonathan Phillips, The Fourth Crusade and the Sack of Constantinople. Penguin Books.
  2. Christopher Tyerman, God’s War: A New History of the Crusades. Harvard University Press.
  3. Jonathan Phillips, The Crusades: 1095–1204. Routledge.
  4. Thomas F. Madden, The Fourth Crusade: The Conquest of Constantinople. University of Pennsylvania Press.
  5. Donald E. Queller dan Thomas F. Madden, The Fourth Crusade: The Conquest of Constantinople, 1201–1204. University of Pennsylvania Press.
  6. Geoffrey de Villehardouin, The Conquest of Constantinople. Sumber primer penting dari perspektif salah satu pemimpin Perang Salib Keempat.
  7. Robert de Clari, The Conquest of Constantinople. Sumber primer mengenai pengalaman peserta Perang Salib Keempat.
  8. Niketas Choniates, The Sack of Constantinople. Sumber primer utama dari perspektif Bizantium.
  9. Alice-Mary Talbot, ed., The Oxford Dictionary of Byzantium. Oxford University Press.
  10. John Julius Norwich, A Short History of Byzantium. Vintage.
  11. Steven Runciman, A History of the Crusades, Volume III: The Kingdom of Acre and the Later Crusades. Cambridge University Press.
  12. Jonathan Riley-Smith, The Crusades: A History. Yale University Press.
  13. Carole Hillenbrand, The Crusades: Islamic Perspectives. Edinburgh University Press.
  14. Thomas Asbridge, The Crusades: The Authoritative History of the War for the Holy Land. Ecco.
  15. Christopher MacEvitt, The Crusades and the Christian World of the East: Rough Tolerance. University of Pennsylvania Press.

Sumber : https://adajuga.com/perang-salib-11/

.