Ketika Rakyat Miskin Dijadikan Konten oleh “Gubernur Adsense”, Siapa yang Untung?

Fenomena pejabat publik—khususnya kepala daerah seperti gubernur—yang aktif menjadi kreator konten di YouTube, TikTok, atau Instagram kini bukan lagi hal baru. Menggunakan kamera profesional, tim kreatif khusus, dan penyuntingan video yang dramatis, momen blusukan menemui warga miskin kerap menjadi jualan utama. Berbagai platform ini menghasilkan pundi-pundi uang melalui iklan (Adsense) maupun popularitas digital.

Namun, di balik layar kamera dan musik latar yang menyayat hati, muncul pertanyaan etis dan sistemik: ketika kemiskinan dieksploitasi dalam bentuk digital, siapakah pihak yang benar-benar diuntungkan?

Terlaris! Termurah 10 Pak Tisu Murah NANO Rp41.000 


Pihak yang Diuntungkan 

1. Gubernur dan Tim Sukses (Keuntungan Elektoral & Citra)

Pencitraan instan: Konten “penyelamat” membangun narasi bahwa sang pemimpin sangat berempati, cepat tanggap, dan merakyat.

Investasi politik: Popularitas digital ini dikonversi langsung menjadi modal elektoral untuk pemilu atau pilkada berikutnya tanpa perlu kampanye konvensional yang mahal.

2. Platform Digital dan Kreator (Keuntungan Finansial)

Monetisasi langsung: Penayangan video (views) yang mencapai jutaan menghasilkan pendapatan Adsense yang besar.

Algoritma platform: Konten emosional memicu interaksi tinggi (likes, comments, shares) yang disukai oleh algoritma YouTube atau TikTok, meningkatkan nilai akun sang pejabat di mata pengiklan.

3. Netizen dan Penonton (Keuntungan Psikologis Instan)

Katarsis emosi: Menonton video bantuan memberikan rasa haru dan kepuasan moral sementara bagi netizen, seolah-olah masalah sosial telah selesai dengan amplop atau bantuan sembako di dalam video tersebut.

Bukan Konten! Beasiswa Berani Cerdas Sulawesi Tengah Tahun 2026 Sebesar Rp351 Miliar Gratiskan Kuliah D3 D4 S1 S2 S3


Pihak yang Dirugikan: Rakyat Miskin dan Publik

1. Rakyat Miskin (Eksploitasi Martabat & Solusi Kosmetik)

Komodifikasi kemiskinan: Penderitaan warga rentan dijadikan bahan tontonan demi meraup pemirsa. Martabat mereka sering kali dikorbankan demi sudut pengambilan gambar (angle) kamera yang dramatis.

Bantuan temporal: Sembako, uang tunai, atau pelunasan utang sesaat dalam video tidak menyelesaikan akar masalah kemiskinan mereka. Ketika kamera mati dan tim kreatif pulang, sistem hidup mereka tetap tidak berubah.

2. Publik dan Daerah (Kerugian Struktural)

Pengabaian kebijakan makro: Gubernur sibuk mengurus kasus perorangan yang viral demi konten, sementara kebijakan pengentasan kemiskinan skala luas (seperti pembukaan lapangan kerja, perbaikan sistem kesehatan, dan pendidikan) terabaikan.

Pengaburan fungsi negara: Mengubah kewajiban konstitusional negara memberikan kesejahteraan menjadi seolah-olah “kebaikan hati” atau filantropi pribadi sang gubernur.


Menuntut Perubahan Paradigma Pemimpin

Ketika kemiskinan dijadikan konten demi Adsense dan popularitas, pihak yang paling diuntungkan adalah elite politik dan sistem platform digital, sedangkan rakyat miskin tetap berada dalam siklus kerentanannya.

Pemimpin daerah digaji oleh pajak rakyat untuk membuat kebijakan struktural yang sistemis, bukan untuk menjadi pembagi bantuan sosial yang menuntut ekspresi haru di depan kamera.

Keberhasilan seorang gubernur harus diukur dari penurunan angka jaring kemiskinan di data BPS, bukan dari jumlah subscribers atau jutaan penayangan di media sosial.


Arya Wiranegara

Sumber : https://adajuga.com/ketika-rakyat-miskin-dijadikan-konten/

#adsense #youtube #tiktok #facebook #instagram